Arsip Bulanan: Juni 2013

Pemasaran Sistem Operasi Linux 2


Bismillahirrahmanirrahim.

Setelah esai ini seri pertama yang berisi masalah-masalah pemasaran, sekarang waktunya saya tuliskan kesalahan-kesalahan umum pemasaran. Untuk membahas solusi, itu tersendiri pada esai berikutnya. Saya asumsikan Anda telah menerima bagaimana saja masalah-masalah umum pemasaran Linux. Maka insya Allah Anda akan mudah memahami esai kedua ini. Sebelum masuk ke mana-mana, saya utarakan dulu satu kutipan yang sangat cocok untuk pemasaran Linux.

People_Ignore_Design_that_Ingnores_People_Frank_Chimero

People ignore design that ignores people. Terjemahan bebasnya orang acuh tak acuh dengan desain yang acuh tak acuh kepada orang. Atau, bisa diterjemahkan orang mengabaikan desain yang mengabaikan orang. Saya dapat gambar ini dari Google Plus grup desain beberapa hari lalu yang saat itu juga saya langsung simpan untuk esai serial ini. Anda yang jeli akan mudah menangkap maksud kutipan ini pada esai ini.

Kesalahan Umum Pemasaran 1

Menyombongkan diri di hadapan newbie/master. Sombong itu kriterianya dua saja: menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Bagaimana bisa ini saya katakan kesalahan? Tentu karena sebab inilah calon pengguna Linux menjadi enggan menggunakan Linux. Ini contohnya.

  1. Menyatakan bahwa FOSS adalah yang paling baik, walau tidak dengan kata-kata. Bahkan saya temukan di Indonesia ini ada yang menyatakannya sebagai agama TI terbaik. Wal’iyyadzubillah.
  2. Merendahkan (dengan cara apa pun) newbie yang bertanya.
  3. Merendahkan pengguna Windows dengan menyatakan mereka adalah pemalas di hadapan newbie.
  4. Merendahkan newbie yang mengeluhkan kerusakan sistemnya karena dia tidak tahu, dengan alasan dasar bodoh atau dasar orang Indonesia atau dasar orang yang tidak membaca atau pernyataan yang senada.
  5. Menggugurkan kemanfaatan software selain FOSS (walaupun sama gratisnya) di hadapan newbie. Baik dengan cara mengolok-olok (FUD) kepada aplikasinya maupun orang yang menggunakannya atau membanggakan diri yang tidak memakai selain FOSS.
  6. Menantang para master baik dengan ucapan atau perbuatan di hadapan umum. Parahnya, ketika ditanya hal dasar dia tidak tahu. Aneh dan lucu banget, tetapi saya pernah menjumpai yang seperti ini. Yang melakukannya biasanya anak-anak kecil yang belum bisa menempatkan dirinya. Jelas-jelas salah.

Jika Anda masih juga penasaran mengapa bisa terjadi kesombongan di pemasaran, maka jawabannya sederhana saja: memang setiap orang yang memahami sistem itu keren. Sebagian orang tertarik untuk disebut keren dengan cara memahami sistem lalu mereka tampakkan di muka umum kalau mereka bisa. Ini lho saya bisa gini, ini lho saya bisa gitu. Padahal disimpan saja sudah cukup. Kalau ada orang yang butuh, di situ baru dikeluarkan seperlunya saja tanpa keinginan untuk dipuji. Sudah cukuplah.

Counter Attack 

Sebenarnya sederhana sekali untuk membuktikan ini adalah kesombongan yakni melontarkan pertanyaan yang berlawanan.

  1. Apa niat Anda untuk menjawab/membantu setiap orang yang bertanya di forum? Kalau karena Allah, maka saya lanjutkan ke pertanyaan 2. Tetapi kalau bukan, apalagi kalau memang tujuan Anda menjawab pertanyaan di forum adalah pujian orang, agar Anda dilihat orang, agar Anda disukai orang, maka cukup sampai pertanyaan 1 ini saja.
  2. Kalau memang Anda melakukan itu karena Allah, di manakah letak kesulitan untuk memahami orang yang bertanya? Kalau jawaban Anda “ngapain mahami orang? Udah gak jaman, Gan!“, maka saya jawab “Lalu mengapa Anda menjawab pertanyaan di forum? Mengapa Anda tidak keluar saja dari forum?”. Kalau jawaban Anda “saya tidak menyadari dan tidak habis pikir mengapa ini salah” maka jawaban saya adalah “silakan baca dulu laman ini http://asysyariah.com/membantu-kebutuhan-seorang-muslim/, semoga Anda mendapatkan pahalanya yang besar apalagi sebentar lagi Ramadhan datang”.
  3. Kalau 2 poin di atas tidak masuk kepada pribadi Anda, maka saya tanyakan juga: “menurut Anda, adakah orang akan mau membeli suatu produk jika cara marketing-nya demikian?”. Jika jawaban Anda tidak, maka saya tidak melanjutkan. Namun jika jawabannya ya, maka bagaimana nurani dan akal sehat Anda bisa beranggapan demikian?

Kesalahan Umum Pemasaran 2

Kasar kepada newbie. Sebenarnya terlalu jelaslah bagi siapa saja yang punya akal. Sejelas matahari di siang bolong. Aneh sekali kalau ada orang bilang “hm, saya masih ragu” ketika ditanya “apakah matahari sedang bersinar terik sekarang? ” saat siang hari. Sama anehnya dengan orang yang meragukan bahwa ini kesalahan.

  1. Menghardik (dengan cara apa pun) newbie yang menanyakan soal apa nama driver yang terinstal di distro yang kita bikin. Marketing macam apa itu?
  2. Menyuruh googling untuk setiap newbie yang bertanya, dengan cara yang menyakitkan hati penanya. Sebenarnya perintah googling itu sendiri, sudah sangat tidak pantas untuk marketing. Bayangkan, andai Apple Genius (kalau nggak tahu, kebangetan) menyuruh googling untuk setiap pelanggan Apple yang datang kepada mereka. Sono gugling dulu, baru ke sini! Marketing macam apa itu? Kalaupun harus menyuruh googling, seharusnya bisa dengan cara yang sopan dan lemah lembut. Dan harus tahu siapa yang dihadapi. Misalnya orang kayak saya yang blognya isinya Linux semua, ya bolehlah disuruh googling sendiri karena memang sehari-harinya dengan Linux. Namun kalau disamaratakan untuk segala jenis penanya, segala jenis newbie, maka dzalim (tidak pada tempatnya) dan salah. Bayangkan saja seandainya ada seorang ustadz yang kebetulan bertanya di komunitas soal Linux, lalu dijawab: “kamu ini malas sekali, sih? Googling dulu sanah!“. Memangnya siapa kita? Sayangnya, yang seperti ini terus menerus terjadi. Makanya saya katakan seperti orang ditanya ini matahari sedang terik atau tidak. Saya terpaksa mengarahkan poin 2 ini kepada solusi (mestinya nanti dulu) karena urgent.

Counter Attack

Sama persis dengan Counter Attack pada Kesalahan Umum Pemasaran 1. Tambahan satu hal:

Kalau Anda katakan “lho, wajar dong, kami suruh googling? Kan support kami sudah gratis? Jangan bandingkan dengan dukungan teknis Apple atau Microsoft atau Red Hat yang berbayar!” atau yang senada dengannya, maka saya jawab “itulah sebab orang meninggalkan marketing Anda karena Anda tidak mau memahami mereka”. Satu jawaban lagi biar puas: “kalau Anda bilang gratis, kalau Anda bilang jangan bandingkan, maka mengapa Anda sanggah setiap newbie yang berpikir open source = gratis? Wong ujung-ujungnya Anda sendiri pas ditanya menjawab dengan kata gratis?  Dan mengapa Anda membangga-banggakan FOSS Anda kalau ‘jangan bandingkan’?”.

Semoga tepat sasaran.

Kesalahan Pemasaran 3

anim7

Memberi solusi tidak pada tempatnya. Ini sering diremehkan. Harusnya, kalau memang ingin memasarkan, maka kita bisa memberikan solusi yang tepat sasaran (walaupun ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di Linux). Dan ini mustahil tanpa memahami pengguna.

  1. Menyuruh gugling (dengan cara apa pun) untuk orang yang memang tidak bisa gugling. Lihat kondisi penanya. Kadang dia memang tidak bisa gugling. Entah karena tidak tahu kata kuncinya, pulsa, entah karena 0.facebook.com, DNS terblokir, dan kemungkinan lainnya. Orang yang belum paham Google, tidak bisa dipaksa. Harus diajari. Kalau mau menyuruh gugling itu lihat kondisi orangnya.
  2. Menganggap mudah instalasi modem USB di Linux. Ini sangat krusial karena kelemahan Linux itu sendiri yang berputar rekursif pada dirinya. Bayangkan. Linux mutlak butuh internet untuk instal dan update aplikasi. Namun untuk tersambung ke internet, pengguna wajib menginstal aplikasi modem. Sementara aplikasi modem itu sendiri tidak bisa diinstal kecuali ada internet. Mbulet, bukan? Sikap sebagian orang saat ditanya soal modem yang si penanya sendiri sudah mencobanya sampai berminggu-minggu, adalah memastikan bisa diinstal di Linux. Ini tidak sesuai dengan realitas yang dihadapi pengguna. Mengapa tidak jujur saja mengatakan modem ada 3 klasifikasi di Linux? Maka pantas kalau sikap meremehkan instalasi modem di Linux adalah salah dalam marketing. Kalau kita bersikap demikian, orang akan tertipu karena menganggap mudah eh ternyata susahnya luar biasa. Marketing tidak boleh ada unsur bohong. Maka dari itu muncullah blog ModemLinux untuk mengumpulkan daftar modem yang memang mudah (dan itu sedikit) dan mana yang memang susah (banyak).

Kesalahan Umum Pemasaran 4

Ketiadaan leadership. Inilah masalah terbesar yang seandainya solved, maka seluruh masalah sebelumnya dan yang saya tulis di esai pertama akan ikut solved. Segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu mutlak membutuhkan kepemimpinan yang terpusat. Sudah, tidak usah berdebat lagi. Kebaikan yang tidak dipimpin akan dikalahkan oleh kejahatan yang dipimpin dengan rapi. LIhat Android. Bagaimana bisa berhasil sampai dukungan vendor software-nya begitu? Bahkan sampai pengguna Windows semua suka Android (walau mereka tidak tahu Android = Linux)? Bahkan, semua developer berlomba-lomba untuk membuat aplikasi Android. Bahkan lagi, lihat vendor hardware di dunia. Mengarah ke Android tanpa perlu banyak struggle. Apakah jika hal yang sama terjadi pada Linux desktop (katakanlah Ubuntu), Anda senang? Jika iya, mengapa Anda masih belum mengakui perlunya leadership untuk distro Anda? Leadership adalah shortcut sempurna untuk memasarkan Linux.

Satu hal yang wajib saya ingatkan. Dalam pemasaran distro Linux di Indonesia, kita tidak boleh mencela pemerintah kita. Ingat hal ini: http://www.darussalaf.or.id/manhaj/hubungan-antara-rakyat-dan-pemerintah-dalam-pandangan-islam/. Leadership pemerintah adalah yang paling sempurna untuk memperbesar jumlah pengguna Linux di Indonesia, walau jumlah aplikasi Linux itu sedikit dan kualitasnya masih ada yang kalah. Benar, karena pemerintah punya kekuasaan, wibawa, dan dilihat orang. Namun kita tidak boleh mencela pemerintah (baik sendirian maupun di depan umum) karena mereka tidak melakukannya di Indonesia ini. Dan walau mereka menandatangani MOU dengan Microsoft.

Kesalahan Umum Pemasaran 5

Menganggap tidak ada masalah dengan Linux atau dengan HCI antara Linux dan pengguna. Inilah sebab utama yang melandasi terjadinya kesalahan-kesalahan di atas. Untuk bisa memasarkan Linux secara tepat, maka kita mesti tahu kalau ada kekurangan. Baik kekurangan di sisi pemasaran itu sendiri maupun di sisi teknis Linux-nya. Ini sama dengan Bugtrack/Bugzilla. Kalau sebuah software tidak diketahui bug-nya, maka tidak bisa diperbaiki/di-patch. Kalau sebuah marketing tidak diketahui kesalahannya, maka tidak akan bisa maju. Ini bug kita.

  1. Anda hanya belum terbiasa saja!” Ini kesalahan (jika dikatakan pada seluruh jenis pengguna) karena yang namanya pengguna itu multiverse. Ada pengguna dari kalangan berpendidikan formal, ada yang tidak. Ada pengguna yang dari kalangan usia muda sampai usia tua. Ada pengguna yang dari kalangan korporat, ada yang dari kalangan rumahan. Ada pengguna yang jarang memegang komputer, ada yang tidak. Macam-macam. Dan yang namanya kebiasaan itu tidak bisa dipaksakan. Tidak mungkin seorang menteri negara kita minta untuk mempelajari Linux beserta konfigurasinya. Tidak mungkin juga bapak-bapak yang waktunya habis untuk bekerja di ladang kita minta untuk membiasakan diri dengan Linux. Harusnya kita bisa melihat kondisi pengguna dan berikan langsung jawaban pertanyaan dia. Intinya, mempelajari suatu sistem adalah bukan kerjaan semua orang melainkan orang-orang tertentu saja. Tidak bisa diglobalkan.
  2. Menyarankan untuk mempelajari sistem lebih mendalam pada semua pengguna. Ini jelas tidak pada tempatnya. Seorang penulis buku motivasi tentu tidak mau disibukkan dengan sistem komputer. Bagaimana kalau ada seribu orang macam itu bertanya dan semuanya dijawab dengan jawaban yang sama? Maka ini bug dalam pemasaran.

HCI adalah Human-Computer Interaction. Saya ambilkan definisi Wikipedia ID:

Interaksi manusia dan komputer (bahasa Inggris: human–computer interaction, HCI) adalah disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan komputer yang meliputi perancangan, evaluasi, dan implementasi antarmuka pengguna komputer agar mudah digunakan oleh manusia.

Perhatikan, agar mudah digunakan oleh manusia.

Kesalahan Umum Pemasaran 6

Tidak menerima feedback dari pengguna. Yang namanya pemasaran itu pasti punya target. Dan si target pasti memiliki persepsi terhadap pemasaran kita. Kita, dalam memasarkan, atau jujur-jujuranlah branding,  pasti membutuhkan kontrol persepsi. Sedangkan kalau kita tidak bisa menghargai feedback dari pengguna kita, maka persepsi pengguna adalah buruk untuk pemasaran kita.

  1. Menolak setiap orang yang mengeluhkan kelemahan-kelemahan Linux (insya Allah akan datang esai khususnya). Bahkan menghardiknya (dengan cara apa pun). Mudahnya, kalau Anda tidak belajar di mana kelemahan Anda, bagaimana Anda bisa memperbaikinya?
  2. Memperumit (dengan cara apa pun) pengguna yang memberikan saran kepada distro yang kita buat atau kita pasarkan.
  3. Menganggap kritik terhadap Linux dari pengguna Linux sendiri adalah pesimisme. Kurang dalam wawasan kita kalau menganggap sebuah kritik dari pengguna Linux adalah pesimisme. Kritik itu penting untuk membangun suatu struktur yang kokoh. Andai kita sedang membangun rumah tapi miring. Sedangkan kita tidak sadar miringnya, lalu ada orang tahu miringnya dan dia mengkritik kita “Mas, bangunan sampean miring. Benerin, dong!”, bagaimana sikap kita? Ya berterima kasih, dong. Lain dengan sebagian orang yang marah atau sedih kalau Linux dikritik. Do not seek for praise, seek criticismdontseekpraise
  4. Membuat sistem feedback yang merepotkan pengguna. Nah, kalau ini, sudah mulai menjurus ke teknis. Lihatlah Bugzilla. Lihat juga milis developer Ubuntu. Bandingkan dengan blog Ubuntu Tweak. Mana kira-kira yang lebih mudah untuk pengguna menyampaikan keluhan/saran/kritik? Tentu jawabannya adalah blog. Entah mengapa developer suka sekali dengan yang namanya milis. Mengapa sih, untuk sekadar melakukan feature request di GIMP kita harus join milis developer-nya? Mengapa tidak dibuatkan satu blog saja yang khusus untuk pengguna melaporkan bug atau minta fitur baru? Buatlah sistem feedback yang ramah pengguna. Saya lebih senang dengan caranya developer IGOS Nusantara yang membebaskan feature request dari pengguna hanya dari fesbuk mereka. Wow, sangat dekat kepada pengguna apalagi di Indonesia. Jujur saja, meski tidak cocok dengan fesbuk, saya akui ini cara yang bagus. Mudah untuk pengguna, mudah juga untuk developer agar tahu mana yang perlu diperbaiki. Mengapa masih banyak developer yang kukuh dengan kerumitannya?

Paling jelek, kita semestinya menghargai feedback negatif dari pengguna. Jangan seperti sebagian developer yang marah kepada penggunanya yang melaporkan kesulitan di dalam penggunaan.

Garis Besar Esai Kedua

Kesalahan-kesalahan umum dalam pemasaran kita adalah:

  1. Sikap sombong atau pamer.
  2. Kasar.
  3. Solusi tidak pada tempatnya.
  4. Ketiadaan leadership.
  5. Menganggap tidak ada masalah HCI.
  6. Menolak feedback.

Penutup Esai Kedua

Sekiranya ini dulu. Mungkin kalau saya nemu lagi yang lain, saya akan tambahkan.

Rujukan

Iklan

Pemasaran Sistem Operasi Linux


Bismillahirrahmanirrahim.

Pagi ini saya membuat satu kategori baru berjudul Marketing. Sulit bagi saya untuk membuat satu kategori baru. Jadi kalau ada, maka itu sangat penting. Apa pentingnya marketing (pemasaran) dan apa pentingnya untuk Linux? Mengapa tidak pemasaran yang lain seperti barang atau jasa? Inilah bagian dari diri saya yakni bakat yang baru saja saya sadari terpendam dan menanti untuk saya gali sendiri. Dulu ketika pertama kali saya melihat laman pengembang Blankon, saya sebenarnya juga membaca adanya bagian pemasaran tetapi saya tidak meliriknya sama sekali dan merasa memang itu bukan bidang apalagi minat saya. Ternyata kenyataan hari ini kebalikan dari pikiran saya kala itu.

Tentang Esai Ini

Kembalinya hasrat saya menulis membuat saya berpikir lalu membuka dashboard. Saya ingin membuat kategori baru Marketing lalu menulis di dalam kategori itu semua pikiran saya mengapa kok begini dan mengapa kok begitu dalam menulis tentang Linux akhir-akhir ini (baca: marketing). Intinya, saya ingin menulis mengenai bagaimana strategi saya dalam memasarkan Linux mulai posting ini. Selain menambah jumlah posting, bisa jadi esai ini akan dipakai kelak di pengembangan OS lokal macam IGN dan Blankon. Semoga saya mendapat pahala dengannya. Pada esai ini, saya hanya akan bicara soal masalah-masalah pemasaran secara rinci sedangkan solusi dan lain-lain akan datang pada esai selanjutnya. Insya Allahu taala.

Mengapa Linux Butuh Pemasaran?

Pertanyaan ini jawabannya sama dengan pertanyaan “mengapa saya memasarkan Linux?” yakni karena Islam dan kaum muslimin. Lingkup batasan saya sederhana saja: cuma se-Indonesia. Luar negeri saya tidak peduli sama sekali. Permasalahan nomor satunya adalah pembajakan sistem operasi dan software di Indonesia. Ini hal buruk untuk kaum muslimin. Cara mengubahnya ada banyak. Salah satunya yang saya mampu insya Allah adalah memasarkan Linux. Pemasaran itu luas, termasuk pula memahamkan pengguna soal pembajakan, soal Linux itu sendiri, soal FOSS, dan banyak lagi. Jadi sebenarnya bukan masalah Linux, tetapi masalah berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin. Banyak saudara kita belum tahu. Jadi mengapa kita yang tahu tidak memberikan pelayanan terbaik agar mereka tahu dan mendapat ganti yang lebih baik? Dan kalau bisa untuk kaum muslimin, maka perintah berbuat baik secara umum untuk semua orang juga berlaku bagi saya dalam rangka Islam rahmatan lil ‘alamin. Kaum muslimin harus menjadi rahmat di manapun mereka berada. Maka dari itu saya memasarkan Linux.

Mengapa Harus Linux?

Coba katakan kepada saya satu OS yang legal (tidak ada syubhat dalam izin penggunaan), gratis, open source, memenuhi secara keseluruhan kebutuhan desktop dan server, antarmuka tampilannya sangat bervariasi, selain Linux. Ada? Jika ada, maka saya ingin mengunduhnya saat itu juga. Karena sifat Linux yang demikianlah saya ingin menjadikannya alternatif untuk pengguna komputer di Indonesia terutama untuk kaum muslimin.

Mengapa Melakukan Ini?

http://al-atsariyyah.com/keutamaan-memenuhi-kebutuhan-kaum-muslimin.html

Definisi Pemasaran

Supaya terarah, berikut saya nukilkan definisi pemasaran dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran):

Pemasaran (bahasa Inggrismarketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang ataujasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.

Pentingnya definisi ini adalah membatasi kita agar tidak keluar dari lingkup pemasaran yakni apa-apa saja yang dilakukan dalam pemasaran. Dalam hal ini, dari definisi Wikipedia dan halamannya, saya batasi pemasaran Linux pada tindakan-tindakan berikut:

  1. Mempromosikan.
  2. Memberikan dukungan teknis (baca: memberi solusi).
  3. Mengadakan barang.

Meski cuma tiga poin, tetapi ini luar biasa luas. Insya Allah akan saya jabarkan nanti. Yang penting ketahui dulu apa yang kita promosikan.

  1. Produk yang mau dipasarkan: Linux.
  2. Benarkah Linux itu produk? Ya.
  3. Barang atau jasa? Barang, tepatnya barang tak berwujud.
  4. Apa alasannya? Dia adalah OS yang Microsoft Windows pun juga merupakan OS. Sama-sama produk walau sebagian orang mengingkari Linux adalah produk. Kita marketer jadi kita menganggap Linux sebagai produk. 

Target Pemasaran

Pengguna komputer di Indonesia secara umum. Siapa mereka? Tentu kaum mayoritas yakni mereka yang tidak memahami sistem secara mendalam. Berbeda dengan Anda dan saya yang kebetulan memang sering ngoprek dan sudah hafal ratusan perintah bash. Ini termasuk ayah, ibu, adik, kakak, tetangga, nenek, murid SMA, bahkan istri dan orang-orang terdekat kita. Yang paling penting, semua dari mereka pasti menggunakan sistem operasi Windows sebelum mengenal yang lain. Intinya, kita akan memasarkan Linux kepada semua pengguna Windows di Indonesia. Ini harus ditekankan dahulu sebelum beranjak jauh.

Tujuan Pemasaran

Tujuan beda dengan target. Kalau target itu maksudnya khithab, orang atau objek yang dipasari. Targetnya adalah pengguna Windows sedangkan tujuannya sebagai berikut.

  1. Pengguna mengetahui Linux secara detail dan kita selaku pemasar menyediakan semua permintaan pengguna dari segi OS maupun software aplikasi.
  2. Pemasar bisa menjelaskan secara detail apa itu Linux, desainnya, promosinya, iklan-iklannya, bisa berkomunikasi dengan pengguna, sampai bagaimana Linux bisa digunakan langsung oleh pengguna.
  3. Mengenal dan memahami pengguna sedemikian rupa sehingga cocok dengannya dan Linux dapat tersampaikan dengan baik kepadanya.

Tujuan yang paling penting dan harus diutamakan adalah poin nomor 3 ini. Poin 3 inilah kekurangan kita semua dan inilah yang sedang saya usahakan untuk angkat dengan esai-esai saya. Semoga Allah menjadikan niat saya ikhlas.

Siapa Pihak Pemasar?

  1. Developer Linux termasuk Canonical, Novell, Red Hat, YPLI, LIPI, dan lain-lain.
  2. Komunitas pengguna sampai Anda dan saya.
  3. Perusahaan yang berbisnis dengan Linux semacam InfoLINUX, Linux Format, Google, Github, Inc., Samsung, dan lain-lain.
  4. Institusi yang berurusan dengan Linux semacam UI, UGM, Gunadarma, dan lain-lain.

Jadi, kalau Anda adalah salah satunya, atau dobel, dan melakukan salah satu tindakan pemasaran Linux, maka Anda adalah pemasar Linux. Dalam tulisan ini, saya akan banyak menyinggung pemasar nomor 2.

Pemikiran Paling Mendasar

Memudahkan pengguna. Linux yang kita sebarkan harus memudahkan pengguna dan bukan sebaliknya. Ini pemikiran mendasar saya yang saya terapkan di setiap promosi saya. Kenyataan berkata Linux memang rumit tetapi apa usaha kita untuk menyederhanakannya. That’s the main point. Jika Linux tidak memudahkan pengguna, maka upaya menolong sesama muslim dan semua orang dalam hal ini tidak tercapai. Ini tidak saya inginkan. Maka dari itu, esai ini nanti isinya berkutat pada hal kemudahan untuk pengguna. Pengguna harus diistimewakan dan dinomorsatukan. Dan pengguna tidak boleh disalahkan atas ketidaktahuan/ketidakbiasaan/ketidakbisaan/kebingungan mereka. Ini harus dicamkan.

Perbedaan Pemasaran Kita dengan Mereka

  1. Kita tidak menjual Linux dan FOSS. Mereka menjual OS dan software mereka.
  2. Kita tidak selalu berafiliasi dengan dana. Mereka selalu mengaitkan segalanya dengan dana.
  3. Pengguna selalu kita anggap sebagai pengguna (oleh karenanya kita sering semena-mena kepada mereka). Pengguna selalu mereka anggap sebagai konsumen.

Itulah perbedaan antara pemasaran kita dengan mereka. Kalau ingin menyaingi mereka (dan selalu kita tampak ingin menyaingi mereka), maka ambil cara mereka dalam poin 3. Istimewakanlah pengguna dan nomor satukan mereka. Jangan pernah remehkan poin 3 ini. Oleh karena kita sadar pengguna = konsumen, maka otomatis kita = produsen. Maka kita adalah >< mereka dari sisi sama-sama produsen dan sama-sama marketer. Maka carilah strategi pemasaran yang sama dengan mereka atau lebih baik. Nah, dalam esai ini, saya memilih opsi pertama saja. Sesuai dengan saya yang masih belajar.

Masalah-Masalah Pemasaran

Baik, masuk ke inti esai ini. Agar pemasaran merata dan mengena, maka masalah-masalah pemasaran harus diselesaikan. Sebelum itu, masalah-masalah pemasaran harus disadari keberadaannya dan diidentifikasi dahulu. Apa saja masalah-masalah pemasaran itu? Saya coba klasifikasikan jadi 4 dulu.

  1. Ketidaktahuan akan adanya masalah dalam pemasaran. Jangan remehkan poin satu ini sedikit pun. Ini sumber dari segala sumber masalah pemasaran.
  2. Keterbatasan di sisi pengguna/target pemasaran dari 4 segi yaitu waktu, biaya, tenaga, dan daya otak. Saya tegaskan lagi, pengguna harus diistimewakan dan dinomorsatukan. Mengapa? Karena ini marketing.
  3. Keterbatasan di sisi pemasar dari banyak segi di antaranya ketersediaan dukungan teknis (technical support), jangka waktu dukungan, ketersediaan human touch, kepastian sikap pemasar, waktu pemasar, daya jangkau pemasar,
  4. Keterbatasan di sisi Linux itu sendiri dari sangat banyak segi. Di antaranya sudah saya tuliskan panjang lebar di posting sebelumnya. Sebagiannya adalah ketiadaan sistem backup aplikasi yang sudah diinstal dan ketiadaan sistem instalasi single offline installer. Linux mewajibkan internet maka dari itu ini masalah terbesar Linux untuk dipasarkan di Indonesia.

Sementara itu dulu. Saya ingin esai pertama ini membahas khusus masalah-masalah ini dulu sampai habis.

Masalah Pemasaran Pertama

Pemasar (marketer)  tidak sadar akan adanya masalah. Ada macam-macam bentuk ketidaksadaran pemasar. Di antaranya tidak sadar akan keterbatasan pengguna, tidak sadar akan kelemahan-kelemahan Linux itu sendiri, dan tidak sadar akan keterbatasan dirinya sendiri. Apa akibatnya? Banyak orang lari dari menggunakan Linux dan bahkan ada yang lari dari komunitas karena masalah pertama ini. Dampak terburuk adalah yang dimiliki oleh masalah ketidaktahuan ini. Oleh karena itu, saya meletakkannya di posisi satu. Saya coba breakdown apa saja masalahnya.

Masalah yang paling umum adalah sering marketer tidak menyadari dirinya sedang melakukan marketing. Sering kita tidak sadar bahwa diri kita sedang melakukan pemasaran Linux. Sering kita tidak menyadari kekuatan lawan marketing kita yakni Microsoft dan Apple. Sering kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan adalah menentang dominasi Microsoft Windows di Indonesia.

Contohnya

Saya berikan skenario agar mengena kepada setiap pribadi.

  1. Kita mempromosikan Linux kepada orang-orang awam yang mereka semua menggunakan Windows.
  2. Lalu mereka bingung dengan Linux karena harus menghafal sekian banyak perintah.
  3. Lalu kita mengejek mereka karena ketidakbisaan mereka dengan alasan: Anda hanya belum terbiasa saja. Tentu dengan sejuta alasan lainnya.

Permasalahannya

Siapa Anda? Siapa saya? Pengguna Linux adalah minoritas. Anda ini sedang melakukan marketing. Kalau cara marketing Anda seperti ini, maka tidak mungkin ada orang mau menggunakan Linux. Menurut akhlak ya jelek, menurut adab jelek, menurut norma masyarakat juga tidak sopan. Bahkan akal sehat pun tidak bisa menerima adanya orang mau memasarkan produk kok malah mengejek penggunanya. Terang-terangan pula di hadapan publik (sering demikian). Siapa Anda? Anda harus menyadari bahwa Anda hanyalah minoritas yang berusaha melawan arus Microsoft Windows. Anda tidak bisa membodoh-bodohkan pengguna Windows hanya soal mereka tidak terbiasa. Anda harus sadar kalau Anda sedang melawan Microsoft, Anda harus sadar siapa Microsoft. Mereka punya kekuatan yang besar bahkan bisa mencengkeram negara. Anda bisa apa? Makanya, marketing ini harus memiliki strategi dan tidak asal bicara.  Insya Allah akan datang solusi untuk masalah-masalah ini.

Masalah Pemasaran Kedua

Masalah yang juga besar dan yang terbesar dibanding 2 masalah sesudahnya adalah keterbatasan pengguna. Pemasar harus sadar bahwa pengguna itu terbatas. Keterbatasan pengguna itu bertingkat-tingkat bukan hanya satu tingkat saja. Ini akan panjang. Saya di sini akan batasi klasifikasi keterbatasan pengguna menjadi 4 besar saja yakni waktu, biaya, tenaga, dan daya otak. Tenang, pembahasan seperti apa pun tidak pernah lolos dari 4 hal ini. Saya akan breakdown sedikit.

Pertama: Waktu

Ini yang saya tunggu sejak lama untuk sampaikan kepada Anda. Saya ingin mengutip kalimat bagus dari seorang ahli Linux senior di Indonesia yang bernama Taufan Lubis. Saya dapat kalimat ini dari balasan surel beliau setelah saya bertanya. Ini sangat bagus untuk Anda:

Linux itu susah diterapkan kecuali orang itu iseng dan banyak waktu, memang materi sekolah atau kuliah atau memang senang linux.

agar kita semua sadar letak permasalahan promosi kita. Kalimat ini saya ambil dari paragraf ketiga surel balasan beliau yang pertama. Agar Anda tahu, Pak Taufan ini pemilik blog Linux Indonesia yang hits blognya lebih dari satu juta. Mungkin di Indonesia blog macam ini satu-satunya. Untuk keseluruhan surel-surel kami, Anda bisa mengunduh salinannya di sini (hanya 20 KB).

Pengguna di Indonesia kebanyakannya tidak memiliki waktu untuk melayani distraksi bersama OS. Mereka inginnya just work OS. Pengguna yang senang ngoprek OS hanya segelintir saja. Maka mereka mesti dipahami. Mereka akan enggan menggunakan Linux karena waktu. Karena itu pahamilah jika ada banyak pengguna yang tidak mau meluangkan waktunya untuk menggunakan Linux. Jika Anda sadar akan hal ini, maka tanpa membaca esai saya selanjutnya, Anda bisa membuat solusi-solusi untuk hal ini sendiri. Mungkin dengan membuat software atau yang lain.
Kedua: Biaya

Jangan pernah heran apalagi sampai marah-marah kalau orang yang Anda pasari meninggalkan Linux dan mengejeknya karena dia merasa Linux boros bandwidth untuk update, untuk instal aplikasi, untuk reinstall aplikasi, dan untuk menyelesaikan masalah-masalah. Memangnya Anda hidup di mana? Anda hidup di Indonesia yang semua manusia tahu ini negara berkembang. Banyak warganya miskin dan tidak ada uang untuk mengurusi OS. Justru mestinya OS menghasilkan uang untuk warga tersebut. Anda harus tahu kondisi target Anda sebelum memasarkan.
Ketiga: Tenaga

Jangan heran juga kalau banyak orang akan menyerah menggunakan Linux karena tenaga mereka yang terbatas. Bayangkan saja seorang awam harus bolak-balik ke warnet untuk sekadar update atau instal wvdial, atau untuk melihat komputer temannya, atau harus berulang kali melakukan konfigurasi yang sebenarnya tidak perlu kalau ada otomasi, dan lain-lain. Tidak semua orang seperti kita yang powerful untuk ngoprek, powerful untuk menatap monitor, dan lain-lain. Malah lebih banyak lagi orang seperti ayah-ayah kita, ibu-ibu kita, dan lain-lain. Tidak mungkin mereka diharuskan untuk senantiasa melakukan konfigurasi.
Keempat: Daya otak

Ini yang paling penting untuk diperhatikan. Daya otak setiap orang itu terbatas. Artinya, ada batasan-batasan psikis seseorang untuk berpikir lama. Setiap orang memiliki batas lelah dalam berpikir. Inilah yang sering dilewatkan oleh pemasar-pemasar kita. Kenyataan bahwa target kita adalah terbatas dari segi daya otaknya. Terbatas ini maksudnya terbatas dalam segi mengingat, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Apa saja sih, penguras daya otak yang pantas dinobatkan sebagai masalah di sini?

  1. Kesederhanaan nama distro.
  2. Kesederhanaan nomor versi.
  3. Kesederhanaan jadwal rilis.
  4. Konsistensi user experience design dari satu versi ke versi lainnya.

Ini global dulu. Insya Allah penjabarannya akan datang nanti. Pokoknya harus dicamkan masalah-masalah ini adalah sangat penting dalam marketing, yakni dari segi branding-nya. Contoh paling gampang? Bandingkanlah skema penomoran versi CorelDRAW dengan Inkscape. CorelDRAW 7 dengan Inkscape 0.48.3. Berapa angka untuk satu versi? CorelDRAW jelas lebih sederhana oleh karena itu lebih gampang diingat oleh pengguna dan karenanya kita mengakuinya memiliki strategi marketing yang lebih baik. Sampai sini akan mulai menarik apalagi nanti kita akan menjabarkan masalah-masalah daya otak ini.

Masalah Pemasaran Keempat

Inilah sebuah kesadaran yang mengilhami beberapa esai saya sebelumnya yang isinya penuh bocoran kekurangan-kekurangan Linux. Kalau ingin membaca keseluruhannya, Anda bisa merujuk lagi ke laman berikut.

Dan kritik saya dalam Bahasa Inggris,

http://linuxdreambox.wordpress.com/2012/10/21/what-kind-of-application-packaging/

Sebagai informasi, andai kita anggap semua masalah di Linux sudah selesai, maka tautan terakhir inilah satu-satunya masalah paling besar yang menjadi beban pikiran akhir-akhir ini. Inilah kelemahan Linux terbesar yang membuatnya sangat tidak sesuai untuk kondisi pengguna Indonesia. Ini masalah, dan ini serius. Sering sekali saya temukan pemasar kita guyon dalam masalah tautan terakhir ini. Padahal khithab pemasarannya jelas-jelas orang Indonesia. Tanda yang terang bahwa pemasar kita belum mengerti strategi  pemasaran yang baik. Bagaimana solusinya? Sebagian sudah saya jabarkan dalam tautan-tautan yang saya sebut. Namun akan saya ulang dan saya kumpulkan jadi satu dalam satu posting, insya Allah. Karena permasalahan tautan terakhir ini sangat krusial dan membutuhkan energi besar developer untuk mewujudkannya. Sedikit bocoran, andai saja permasalahan tautan terakhir ini terselesaikan dan berhasil dipromosikan, maka orang Indonesia akan berduyun-duyun ingin menggunakan Linux. Dari mana saya bisa beranggapan demikian? Nanti insya Allah saya jabarkan.

Intinya, ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh Linux. Kekurangan yang ada itulah yang membuatnya tidak diterima dan tidak akan diterima oleh orang Indonesia. Energi nuklir pun percuma untuk promosi selama ini tidak diatasi. Ini yang pemasar harus sadari betul-betul lalu diadakan solusi, bukan malah menyalahkan pengguna karena ada Pemikiran Paling Mendasar di atas.

Garis Besar Esai Pertama

Bisa dianggap sebagai kesimpulan kecil. Berikut ringkasnya.

  1. Kita mempromosikan Linux berarti kita adalah marketer.
  2. Kita mempromosikan Linux berarti kita menentang dominasi bisnis Microsoft dan Apple baik diakui maupun tidak.
  3. Kalau kita menentang Microsoft dan Apple, berarti secara otomatis kita masuk ke ranah bisnis sistem operasi walau tidak kita menjual Linux/FOSS dan walau sebagian kita tidak mengakuinya.
  4. Kalau kita masuk ranah bisnis, maka cara promosi Linux kita juga harus disesuaikan dengan bisnis sebagaimana normalnya.
  5. Salah satu poin penting bisnis ini adalah mengistimewakan dan menomorsatukan pengguna.
  6. Kita menganggap pengguna sebagai konsumen yang tidak boleh disalahkan apalagi diejek karena ketidaktahuan/ketidakbisaan/ketidakbiasaan mereka.
  7. Tanpa kesadaran marketing ini maka niat kita untuk mempromosikan Linux kepada pengguna komputer Indonesia tidak tercapai atau sia-sia belaka.

Penutup Esai Pertama

Esai ini saya tulis sejak 19 Juni kemarin dan baru terselesaikan sekarang. Saya harap bisa menyusun esai-esai berikutnya yang berisi jabaran contoh-contoh kesalahan umum dalam pemasaran kita kemudian solusi-solusi pemasaran serta janji saya pada esai ini. Saya harap Anda puas dengan esai pertama ini dan siap membuat solusi sebelum esai kedua. Saya mohon maaaf jika ada kesalahan. Semoga esai ini bermanfaat.

Membuat Server File Sharing/Mirror Sendiri 20 GB (Bisa Direct Link, SSH, FTP, dan Web Hosting)


Bismillahirrahmanirrahim.

Ingin memiliki Mediafire Anda sendiri yang bisa dikontrol sekehendak Anda? Gratis, ukuran penyimpanan besar, bandwidth besar, bisa direct link, bisa membuat folder, bisa me-mirror server lain, bisa mengunduh berkas dari server lain, bisa FTP, ada shell-nya (termasuk perintah wget), dan bisa juga difungsikan sebagai hosting web Anda?  Dan jika Anda bingung dengan paparan teknis di atas, maka gampangnya: maukah Anda memiliki sendiri fasilitas server untuk backup/sharing data Anda sendiri atau membantu orang lain dengan me-mirror berkas seperti ISO/ebook/program dari server lain? Jika iya, maka Anda bisa membuatnya sendiri dengan sangat mudah. Mendaftarlah gratis di 2freehosting.com ((http://api.2freehosting.com/redir/787511) pranala ini adalah referral dari saya). Saya sudah mendaftar dan jadilah server mirror saya http://otodidak.freeserver.me.

Perkenalan Singkat

Sebelum beranjak ke teknis, saya tunjukkan dulu apa manfaat membuat server ini dari pengalaman saya dengan server otodidak.freeserver.me (OFE):

ofe-iso-mirror7

  1. saya bisa membantu orang lain agar mereka bisa mengunduh aplikasi portabel Linux dengan sekali klik atau dengan IDM, secara gratis lagi bebas. Server OFE didedikasikan untuk itu (awalnya) -> contohnya laman utama OFE;
  2. saya bisa membantu orang agar dia bisa mengunduh ISO dengan IDM dari server saya. Karena tidak sopan mengunduh dari server komunitas dengan IDM, maka saya buatkan saja server pribadi yang saya bebaskan pengunduhnya untuk memakai IDM -> contohnya http://otodidak.freeserver.me/iso/
  3. saya bisa membantu orang bersama tutorial yang saya tulis, dengan dukungan aplikasi/berkas lain yang tersebut dalam tutorial itu sehingga direct download untuk pembaca (tidak usah ada iklan/klik tambahan) -> contohnya http://otodidak.freeserver.me/tarball/;
  4. saya bisa membantu orang lain agar mereka bisa mengunduh buku-buku gratis dengan IDM dari server saya. Caranya ya saya suruh saja server OFE untuk mengunduh ke server lain yang ada bukunya ATAU saya sendiri yang mengunggah ke sana lewat FTP (pakai FIlezilla) -> contohnya http://otodidak.freeserver.me/teks/;
  5. untuk diri saya sendiri, saya bisa menyimpan software buatan saya di sana dan memberikannya kepada orang yang saya tanya soal software tersebut. Contohnya -> http://otodidak.freeserver.me/tarball/proyek_qt_creator/.

Harapan saya yang belum tercapai adalah menjadikan server ini sebagai mirror kecil dari http://ilmoe.com, sebuah server yang isinya penuh mp3 rekaman kajian Islam ilmiyyah ustadz dan masyayikh ahlus sunnah. (MUTAKHIR 23 Februari 2014: saya sementara meninggalkan ilmoe.com karena nasihat Syaikh Rabi’. Sebagai gantinya, Anda bisa me-mirror server ahlus sunnah yang baru http://radiorasyid.com.). Semoga apa yang saya tulis ini dapat Anda manfaatkan untuk kebaikan. Jangan gunakan cara ini untuk hal-hal maksiat.

Kecepatan Unduh Server Ini Gila!

server-tfh-cepat-300MBps

Lihat? Ini skrinsot saat saya me-mirror server PortableLinuxApps.org. Kecepatannya 268 MB/s. Bukan KB/s, tetapi MB/s.

Membuat Mirror Satu ISO dari Server Kambing

  1. Masuk CPanel -> Advanced -> SSH Client.
  2. cd public_html
  3. wget -c http://kambing.ui.ac.id/iso/fedora/17/Fedora/i386/iso/Fedora-17-i386-DVD.iso (tergantung ingin me-mirror berkas apa asal Anda tahu URL-nya).
  4. Tunggu sampai selesai. Cepat, kok.

Ini mirror yang berhasil saya buat.

ofe-iso-mirror

Membuat Mirror MP3 Kajian dari Ilmoe.com (Kecil-Kecilan)

Saya ingin sebetulnya bisa sempurna menggunakan wget untuk mengunduh secara semau saya apa pun yang saya pilih dari server http://ilmoe.com maupun http://ilmoe.net. Ternyata hal ini tidak mudah walau saya sudah mengikuti tutorial terbaik di Indonesia ini: http://www.master.web.id/mwmag/issue/04/content/hack-wget/hack-wget.html. Demi mempersingkat waktu, saya akhirnya menyerah dengan membuat mirror kecil-kecilan dulu.

Caranya:

  1. Dapatkan dahulu URL yang ingin di-mirror dari server ilmoe (boleh server mana saja) misalnya ini: http://statics.ilmoe.com//kajian/fiqh/Tata_Cara_Shalat/Cara_Sholat_Rasulullah_AlUstadzLuqmanBaabduh_1.mp3.
  2. Sebaiknya buat sebuah folder baru khusus mp3 di folder public_html pada server kita. Misal kita beri nama mp3: mkdir mp3
  3. wget -c http://statics.ilmoe.com//kajian/fiqh/Tata_Cara_Shalat/Cara_Sholat_Rasulullah_AlUstadzLuqmanBaabduh_1.mp3
  4. Tunggu sebentar, maka satu buah mp3 dari ilmoe sudah ditransfer ke dalam server kita, pada folder mp3/. Alhamdulillah.
  5. Cara membagikannya ke orang lain adalah kopi alamat server kita yang ada nama foldernya. Karena tadi kita beri nama foldernya mp3, maka alamatnya http://otodidak.freeserver.me/mp3. Berikan alamat ini ke teman yang membutuhkan. Atau bisa langsung ke mp3-nya dengan klik kanan pada link pada halaman tersebut, lalu berikan. Nanti alamatnya akan jadi seperti ini: http://otodidak.freeserver.me/mp3/Cara_Sholat_Rasulullah_AlUstadzLuqmanBaabduh_1.mp3. Alhamdulillah, kita telah memiliki sendiri mirror ilmoe.com. Semoga kita mendapat pahala yang besar dari apa yang kita usahakan ini.

ofe-iso-mirror6

Menjadikan Server Ini Backup Data Kita

Terlepas dari reliable atau tidak, yang penting bisa dipakai. Gunakan FTP client semisal Filezilla untuk mengunggah data kita ke server. Pokoknya Anda harus tahu username dan password-nya. Ada kok, di halaman login 2freehosting. Ini saya contohkan mengunggah buku panduan Debian:

1. Pilih data lalu klik kanan > Upload.

ofe-iso-mirror4

2. Proses mengunggah. Pastikan diunggah ke folder yang tepat. Semenara saya punya 4 subfolder utama yakni teks, tarball, iso, dan mp3 saja. Yang saya pakai di sini folder teks karena ini PDF.
ofe-iso-mirror3

3. Hasil unggahan.

ofe-iso-mirror5

4. Kalau ingin memberikan tautan unduhnya, cukup klik kanan > Copy URL to clipboard. Maka jadinya nanti seperti ini ftp://u861838735@otodidak.freeserver.me/public_html/teks/debian/Bab%205%20Linux%20Shell.pdf. Ubah setiap URL yang dikopi dari Filezilla ini menjadi begini http://otodidak.freeserver.me/teks/debian/Bab%205%20Linux%20Shell.pdf yakni hilangkan public_html dan ubah ftp menjadi http. Kalau tidak diubah begini, orang tidak bisa mengunduhnya. Insya Allah gampang. Atau dengan cara kunjungi foldernya melalui browser lalu Copy Link dari klik kanan. Mudah sekali.

Rangkuman

Pokoknya, dengan memiliki server ini, kita bisa:

  1. Berbuat baik untuk diri sendiri lebih-lebih orang lain.
  2. Me-mirror server lain.
  3. Menggunakannya sebagai server unduhan (leecher) dari berkas yang berasal dari server yang tidak bisa diunduh pakai IDM/semisalnya, agar jadi bisa diunduh pakai IDM/semisalnya.
  4. Menggunakannya sebagai tempat backup.
  5. Menggunakannya untuk keperluan file sharing seperlu kita.
  6. Belajar bagaimana mengurus server sendiri melalui ssh.
  7. Belajar wget dan opsi-opsinya terutama kalau ingin praktikkan laman Masterweb di atas.

Pertanyaan? Keluhan?

Silakan tuliskan di kolom komentar. Semoga ini bermanfaat.

Cara Instal JRE untuk Berbagai Distro Linux


Bismillahirrahmanirrahim.

Menanggapi saran yang baik dari seorang teman bernama alisoftware, saya putuskan untuk membuat posting tersendiri mengenai cara instalasi Java Runtime Environment (JRE) di berbagai distro. Mengapa? Demi memudahkan pengguna yang ingin menggunakan Otodidak. Aplikasi Otodidak dibuat dengan Java sehingga selalu membutuhkan JRE kalau kita ingin menjalankannya. Anda tidak memerlukan JDK kalau hanya ingin menjalankan Otodidak, karena JDK itu lebih besar dan khusus untuk programer. Oh iya, tidak hanya Otodidak. Dengan menginstal JRE satu kali, kita sudah dapat menjalankan aplikasi-aplikasi Java lainnya tanpa kesulitan. Berikut caranya.

Secara Global

Semua OS termasuk Windows dan Mac OS, bisa mengunduh JRE secara manual dari http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/index.html. Biasanya berkasnya berukuran 50 MB ke atas. Dan nama berkasnya biasanya seperti ini: jre-7u21-linux-i586.rpm. Ambil yang i586 untuk komputer 32 bit atau yang x64 untuk komputer 64 bit.

Secara Khusus

Tutorial ini saya berikan dalam wujud perintah-perintah Terminal agar mudah ditulis. Setiap kesulitan dapat langsung didiskusikan melalui komentar.

Ubuntu

sudo apt-get install default-jre

Fedora

rpm -ivh jre-7u21-linux-i586.rpm

openSUSE

Unduh berkas JRE dengan format .bin saja biar mudah instalasinya.

  1. chmod +x jre-6u29-linux-x64-rpm.bin
  2. ./jre-6u29-linux-x64-rpm.bin

Arch

pacman -S jre7-openjdk

Rujukan Penting

Qt Creator – Pemrograman Aplikasi GUI di Linux


Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini tidak lain ingin memaparkan bagaimana membuat aplikasi GUI dasar dengan mudah menggunakan Qt Creator. Aplikasinya sederhana, hanya menunjukkan fungsi dasar tombol dan label (untuk gambar). Jika tombol pertama diklik, maka gambar A muncul. Jika tombol kedua diklik, maka gambar B muncul. Hanya itu saja sudah cukup untuk memahami cara pakai 2 dasar terpenting memrogram dengan Qt Creator yakni signal dan slot. Tutorial ini dibuat di Linux dan aplikasinya untuk Linux.

SATU :: Menyiapkan Proyek

1. Buka Qt Creator dan buat proyek baru. Pilih Qt Widget Project > Qt GUI Application. Selalu pilih ini untuk proyek yang akan datang.qtproject

2. Beri nama Double karena kita hanya akan membuat program dengan 2 tombol. Selanjutnya Next.

qtproject2

3. Next terus sampai pada bagian Class Information, berikan nama Double pada Main Class maka semuanya akan mengikuti secara otomatis.

qtproject3

4. Finish, maka tampilan Qt Creator Anda akan seperti ini.

qtproject4

5. Perhatikan, dalam proyek ini Anda 5 berkas penting secara otomatis:

                        • Double.pro (berkas proyek Qt Creator yang bisa dipakai di OS mana pun)
                        • double.cpp (berkas kode inti tempat signal dan slot dituliskan)
                        • double.h (berkas header)
                        • double.ui (berkas GUI)
                        • main.cpp (berkas berisi fungsi yang selalu ada dalam semua program C/C++ yakni main())

Selalu seperti ini jika Anda membuat proyek GUI baru.

DUA :: Sedikit Pengaturan Qt Creator

Klik pada ikon Filter Tree > Simplify Tree. Maka kerumitan folder yang tadinya begini:

 qtproject5  qtproject7

menjadi sederhana begini:

qtproject6

TIGA :: Membuat Aplikasi

1. Buka double.ui ini adalah berkas XML yang mengatur GUI. Kalau diklik, maka GUI Builder milik Qt Creator akan langsung muncul. Di sini letak enaknya memrogram dengan Qt Creator. Bisa drag and drop dan jadi GUI langsung seperti di Microsoft Visual Basic. Cari elemen GUI bernama Push Button. Tempelkan dua biji. Di bawahnya, tempelkan Label. Jadinya seperti ini.

qtproject8

2. Buang teks asli dari Label sehingga kosong. Lalu ganti teks Push Button dengan SATU dan DUA. Lihat ini. Pastikan Label masih terpilih.

qtproject9

3. Berikan nama objek untuk Label ini pada Property Panel di samping kanan. Di situ, di bagian atas sendiri ada QObject, di bawahnya pas ada objectName. Pas di situ, ganti tulisan label dengan Gambar. Ingat-ingat nama objek ini.

qtproject10

4. Sekarang ganti juga nama objek dari tombol SATU dan DUA menjadi SATU dan DUA.

5. Sekarang klik kanan tombol SATU > Go To Slot. Di sinilah Anda akan berjumpa 2 inti Qt Creator, signal dan slot. Lihat jendela yang muncul. Yang ada di situ semuanya adalah signal. Apa itu signal? Anggap saja sekarang, signal = nama fungsi ketika terjadi sesuatu pada tombol SATU. Kebetulan yang harus kita pilih adalah signal bernama clicked(). Anda tidak usah perhatikan kolom sebelah kanan. Tekan OK saja.

qtproject11

5. Hasil dari signal terpilih adalah slot, yakni satu fungsi baru yang kosong pada berkas double.cpp. Perhatikan, Anda sedang menyunting double.cpp. Dan perhatikan pula, nama objek SATU menjadi nama fungsinya. Apa sih, yang sedang kita kerjakan ini? Intinya, kita membuat jalan (signal) bagi tombol SATU, agar jika diklik (clicked), dia mengganti isi (slot) dari objek Gambar. Anda hanya akan fokus pada fungsi kosong ini.

qtproject12

6. Karena akan butuh dua buah berkas gambar (JPG/PNG), maka kita impor gambar dulu sebelum menuliskan kodenya ke dalam slot void Double::on_SATU_Clicked() yang baru jadi. Ini caranya mengimpor gambar. Klik kanan proyek kita > Add New > Qt > Qt Resource File. Ini akan membuat sebuah berkas baru berformat .qrc dalam proyek kita. Beri nama citra (karena tadi sudah ada nama Gambar), dan alamat foldernya sudah biarkan saja default pada proyek kita.

qtproject13

qtproject14

7. Tampilan Qt Creator Anda akan seperti demikian. Ini sebenarnya Qt Creator sedang menyunting isi dari citra.qrc yang baru saja dibuat.

qtproject158. Klik Add > Add Prefix. Pasti hasilnya /new/prefix1. Sekarang Klik Add > Add Files. Pilih gambar apa saja dari sistem Anda. Kalau ada peringatan, oke-oke saja. Yang penting nanti harus ada 2 gambar seperti ini. Ingat nama berkas gambarnya.

qtproject16

9. Kembali ke double.cpp. Isikan kode C++ berikut pada slot yang sudah dibuat.

QImage bingkai;
bingkai.load(":/new/prefix/desktopfungsional-3a.jpg");
ui->Gambar->setPixmap(QPixmap::fromImage(bingkai));

PENTING! Ubah nama berkas gambar Anda sesuai berkasnya. Misalnya satu.png, maka ganti desktopfungsional-3a.jpg dengan satu.png. Saya hanya memberi contoh global.

10. Lakukan hal yang sama dari poin 5 agar tombol DUA juga memiliki fungsi untuk memanggil gambar pada Label. Pokoknya bedakan gambar untuk SATU dengan yang untuk DUA.

11. Jika sudah, maka keseluruhan kode double.cpp Anda akan menjadi seperti ini.

qtproject17

12. Sudah cukup. Sekarang klik tombol segitiga hijau (Run | Ctrl+R). Program Anda akan berjalan. Dia pasti bisa ganti gambar setiap klik tombol. Sampai sini, program Anda sudah berhasil. Selamat, aplikasi pertama Anda baru saja tercipta!

qtproject18

qtproject19

EMPAT :: Publikasi

Anda ingin agar aplikasi buatan Anda ini digunakan orang lain? Mudah. Lakukan saja Build maka sebuah eksekutabel (mirip EXE) akan tercipta dan ini bisa Anda jalankan di Linux lainnya. Klik saja tombol palu (Ctrl+B). Maka pada folder QtProject kita, akan muncul folder baru bernama Double-build-desktop-Qt_4_8_1_in_PATH__System__Release. Dalam Ubuntu saya, folder ini berada di /home/master/Publik/QtProject. Ya, berdampingan dengan folder Double dan bukan di dalam Double. Buka folder ini dan Anda pasti temukan satu berkas bernama Double. Coba jalankan. Pasti aplikasi Anda muncul. Pindahkan saja berkas Double ini ke Ubuntu teman Anda dan jalankan. Berkas lainnya abaikan saja. Selamat, Anda telah berhasil membuat aplikasi selayaknya aplikasi buatan para programer!

qtproject20

qtproject21

PERINGATAN

Saya menduga build yang dilakukan Qt Creator pada kondisi default-nya adalah dynamic linking yang artinya aplikasi buatan Anda ini tidak mandiri di komputer orang lain. Dia tidak bisa sendirian sebagaimana EXE di Windows sehingga butuh suatu pustaka tambahan yang mesti diinstal duluan di komputer lain sebelum dia dijalankan. Pustaka itu adalah Qt. Ini sebabnya aplikasi buatan kita ini bisa berjalan mulus di sesama Ubuntu (karena Ubuntu prainstal sudah ada Qt-nya). Lakukan perintah ldd Double untuk mengetahui apa saja pustaka yang diperlukan oleh aplikasi Anda ini. Puaskan rasa ingin tahu Anda.

Penutup

Saya butuh fokus. Ketika menulis ini, sungguh rasanya saya bebas dari distraksi yang lama mengekang saya untuk menulis soal Qt. Alhamdulillah. Saya harap ini cocok untuk membuka pintu Anda memrogram Qt atau membuat aplikasi GUI di Linux. Semoga ini bermanfaat.

Memusuhi Distraksi!


Sudah lama tidak menulis bebas. Sebenarnya sesaat setelah esai Menyoal Kebebasan diterbitkan, saya ingin langsung menulis esai ini. Namun saya lupa apa yang mau ditulis. Baru jam 00.24 ini saya ingat. Ya, saya harus menulis tentang distraksi. Tentang satu kata yang menggugah selera berpikir saya semenjak saya tahu ada kata ini dalam Bahasa Inggris. Kapan? Sejak 4 bulan lalu saya mengunjungi laman ini: http://blog.sudobits.com/2012/07/14/distraction-free-writing-applicationstools-for-ubuntu-12-04/. Saya sangat tergugah dan bersemangat gara-gara tahu kata distraksi ini. Akhirnya saya ke sana kemari cari artinya sampai tersasar di Wikipedia dan memperoleh buku berbahasa Indonesia yang membahas distraksi secara psikologis. Luar biasa dampaknya!

Apa itu Distraksi?

Saya menganggap distraksi adalah pengalih perhatian. Perusak fokus. Penarik hati kepada sesuatu yang tidak perlu. Itu definisi distraksi versi saya. Ada versi Wikipedia yang demikian:

Distraction is the divided attention of an individual or group from the chosen object of attention onto the source of distraction. Distraction is caused by: the lack of ability to pay attention; lack of interest in the object of attention; or the great intensity, novelty or attractiveness of something other than the object of attention. Distractions come from both external sources, and internal sources.

Kalau diterjemahkan bebas:

Distraksi adalah perhatian yang terbagi dari sebuah atau kelompok objek yang dipilih untuk diperhatikan kepada sumber dari distraksi. Distraksi disebabkan oleh: lemahnya kemampuan untuk memerhatikan; lemahnya ketertarikan terhadap objek yang diperhatikan; atau intensitas yang kuat, keunikan, atau keelokan dari sesuatu yang lain daripada objek yang diperhatikan. Distraksi datang baik dari sumber luar dan sumber dalam.

Ide Tulisan Ini

Saya asing membaca judul “distraction free” pada posting Sudobits tersebut. Saat itu muncul di benak saya “Apa itu distraksi? Mengapa orang-orang sudah lebih dulu menyadarinya? Dan mengapa sampai dibela-bela membuat software-nya segala? Ah, pasti distraction free ini sesuatu yang sangat penting dilihat dari respon programernya“. Ternyata terjawab secara visual dengan skrinsot di bawahnya. Luar biasa. Ternyata distraction free yang dimaksud adalah bebas dari distraksi dalam menulis. Layar dihalau oleh satu warna saja, semua tombol hilang, hanya ada teks. Oh, luar biasa. Ternyata itulah langkah menghilangkan distraksi yang diimplementasikan programer ke dalam aplikasinya. Akhirnya saya paham maksudnya. Agar pengguna fokus pada bidangnya.

Ada Apa dengan Distraksi?

Distraksi adalah musuh setiap pelajar. Musuh setiap penulis. Musuh setiap programer. Musuh setiap packager. Musuh setiap maintainer. Dan pokoknya musuh bagi setiap orang yang ingin fokus, meski mereka tidak tahu bahwa mereka butuh fokus. Distraksi adalah segala aspek gangguan yang mengalihkan perhatian kita kala berkonsentrasi.

Yang saya mau bahas dalam esai ini adalah distraksi di dalam bidang:

  1. Linux (desktop)
  2. Kehidupan sehari-hari

Kejelekan Distraksi

Distraksi mengakibatkan:

  1. kerjaan Anda tidak kunjung selesai,
  2. waktu terbuang,
  3. tenaga terbuang,
  4. Anda menjadi pelupa,
  5. kemampuan konsentrasi Anda menurun,
  6. sebuah sistem bekerja tidak semestinya,
  7. Anda mendapat nilai jelek di sekolah,
  8. Anda terjangkit sifat plin-plan.

SATU :: Distraksi di Linux (Desktop)

Ada apa dengan Linux dan distraksi? Saya akhirnya menemukan satu hal yang menarik mengenai jawaban. Ya, mengenai bagaimana dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial soal Linux (desktop).

  • Mengapa Linux tidak disukai? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa Linux dihindari oleh banyak pengguna komputer? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa pengguna awam bingung dengan Linux? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Apa contoh distraksi di Linux? Terminal, konfigurasi teknis, jumlah distro, jumlah varian destop dalam satu distro, kecepatan rilis distro, dependensi paket, dan komunitas yang sebagiannya tidak mengerti cara menjawab pertanyaan orang.
  • Apa alasan orang kembali kepada Windows setelah menggunakan Linux? Karena orang menghindari distraksi.

Cantik sekali pengetahuan tentang distraksi ini. Sekali tahu, saya langsung bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut. Alhamdulillah, sekarang jadi mudah sekali menjawabnya.  Nah, bagi yang belum paham, mungkin bertanya: “…apa alasan Anda menyatakan hal-hal tersebut sebagai distraksi?” Maka mudah menjawabnya: karena pengguna hanya butuh fungsionalitas sebuah OS (baca: fokus). Maka dari itu Anda akan sering sekali melihat marketing…this x just work..“. Ya, mereka yang marketing dengan dua kata just work memahami bahwa pengguna butuh OS yang langsung kerja, pengguna tidak butuh distraksi. Yah, walaupun yang marketing sendiri paham OS dia tidak betul-betul just work. Namun dua kata just work inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh pengguna. Oleh karena itu janganlah Anda heran jika ada pengguna baru yang beralih pandang dari Ubuntu ke Linux Mint. Alasannya adalah mencari OS yang just work. Dia menghindari distraksi.

Oleh karena itu juga,

  • janganlah Anda heran atau malah marah-marah kalau orang meninggalkan Linux. Ya, meninggalkan OS yang Anda sukai dan Anda promosikan ke mana-mana.
  • Janganlah Anda heran betapa pengguna Windows sangat protektif dengan sistem mereka, yakni dengan meminta cara instalasi lewat WUBI kepada Anda.
  • Janganlah Anda heran juga jika banyak pengguna Linux dan Windows, bahkan developer Linux, menggunakan Mac OS X. Sebuah OS yang dinilai paling less distraction alias the most just work OS di dunia ini.
  • Dan jangan heran pula apalagi sampai menyindir orang sana-sini jika orang meninggalkan OS racikan Anda jika OS tersebut tidaklah lebih less distraction daripada Windows atau OS lainnya.

Mengapa OS Harus Less Distraction?

Jawaban yang sama dengan mengapa saya pakai keterangan (desktop) di atas. Jawabannya adalah semua pengguna OS di Indonesia adalah pengguna OS desktop. Maka, kalau mau memberikan OS alternatif kepada mereka, OS tersebut harus dibuat lebih less distraction dibandingkan OS yang banyak dipakai pengguna OS desktop (baca: Windows). Tidak pada tempatnya jika memberikan solusi alternatif dengan OS yang bukan untuk desktop, yang aslinya dibuat untuk server, yang distraksi ala servernya masih tersisa. Jika suatu OS memiliki terlalu banyak distraksi, maka tujuan asli pengguna memakai OS tersebut tidak tercapai. Hasilnya di antaranya:

  • Menghapus OS tersebut.
  • Menggantinya dengan Windows.
  • Beralih ke Mac OS X meskipun harus mengeluarkan uang banyak.

Lebih Jauh Soal Distraksi Linux

Bagaimana menjelaskan jawabannya? Apakah kita jawab begitu saja lalu kita biarkan? Tidak. Ini penjelasannya.

  • Kondisi dasar psikis pengguna: ingin komputernya berfungsi semestinya. Yakni bisa mengetik, mendengar suara, memutar video, internetan, dan membaca teks. Kita batasi dahulu pada 5 hal ini.
  • Kaidah dasar 1: pengguna tidak pernah butuh OS, mereka hanya butuh aplikasi.
  • Kaidah dasar 2: pengguna menggunakan 1 OS dalam 1 komputer.
  • Kondisi lapangan: semua pengguna komputer Indonesia membeli komputer dengan prainstal Windows beserta aplikasi lengkap di dalamnya. Artinya, OS sudah diinstalkan oleh orang lain dan dia just work saja dengan OS yang ada (dia menyebutnya: komputer).
  • Kondisi pengguna Linux tahap 1: dia harus menginstal OS-nya sendiri. Masalah sudah timbul. Kenyataannya, pengguna sudah bingung kala melihat halaman unduh ISO Linux yang bejibun banyak berkas teknis. Ketika ingin menginstal, dia masih harus tanya bagaimana menggunakan ISO yang akan diunduh. Lalu masih harus bingung memilih media instalasi: CD/DVD/FDD/HDD. Lihat saja banyak orang tanya soal menginstal Linux dari flash disk drive (FDD). Dari sini sudah terlihat sekali alangkah banyak distraksinya. Ingat, sebagian besar pengguna tidak suka hal-hal teknis apalagi instalasi OS. Mereka jenis pengguna yang memiliki kekhawatiran besar. Mereka lebih senang menyerahkan masalah teknis pada ahlinya.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 2: dia harus menyelesaikan instalasinya. Ingat, bagian ini sungguh terpisah dari tahap 1. Karena semua pengguna pada awal menggunakan Linux selalu dual boot, atau menggunakan WUBI minimalnya, maka dia ada kemungkinan besar gagal dalam instalasinya. Gagal instal ini macam-macam. Yang paling parah seluruh data pada semua partisi hilang termasuk skripsi dan data RT/RW (sudah terjadi di hadapan saya dan orangnya langsung bersedih hati). Yang tidak seberapa paling-paling Windows dia tidak bisa booting, atau si Linux dia yang gagal booting. Pada kondisi gagal, dia pasti mencari bantuan. Kondisi bertambah buruk saat dia bertanya di internet dan dijawab oleh orang-orang yang tidak tahu cara menjawab. Dia merasa dipermainkan atau paling tidak merasa diejek. Tidak usah menyangkalnya, terjadi di hadapan saya juga. Lihat, distraksi semakin bertambah. Padahal belum menggunakan.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 3: setelah instalasi berhasil (bagaimana pun caranya), dia harus melakukan konfigurasi. Ini pasti terjadi (pengecualian untuk saya yang *beruntung* tidak pakai instal driver apa-apa). Kenyataannya, sangat banyak pengguna yang punya hardware mahal, eh setelah instal Linux hardware dia tidak dikenali. Harus internetan dulu. Internetan tidak segampang yang kita kira (baca: tidak segampang di Windows) karena modem AC682/CE682 yang dimilikinya jelas tidak bisa internetan di Linux tanpa konfigurasi. Dan konfigurasi tak mungkin diketahui tanpa internet. Masalah yang rekursif, bukan? Akhirnya dia tetap berusaha memecahkan masalah dengan warnet. Akhirnya dia bolak-balik ke warnet jika gagal. Anggap saja berhasil, belum tentu dia bisa dapatkan OS yang just work sendirian. Entah masalah kodek, masalah upgrade, masalah internetnya, masalah tampilan yang tiba-tiba hilang, masalah GRUB error, dan lain sebagainya. Perhatikan, tahap ini termasuk yang sangat berat karena distraksinya keterlaluan kalau misalnya dia gagal di modemnya dan tidak ada solusi eksternal. Distraksi semakin menjadi.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 4: setelah dia dapatkan destop yang just work, masih ada Terminal yang harus dia pakai setiap hari. Baca kondisi dasar psikis pengguna kembali di atas. Apalagi setelah dia coba sendiri mengunduh tarball dan dia kompilasi sendiri. Sangat membingungkan dan bikin waktu terbuang. Apa? Dependency hells! Ini distraksi besar. Ini membuat Linux tidak cocok digunakan orang yang bukan teknikal, orang yang tidak coba-coba.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 5: setelah dia bisa menggunakan Linux, dan sudah merasa nyaman, dia bingung dengan jadwal upgrade yang kelewat canggih: 6 bulan sekali. Upgrade pun meragukan: berhasil dengan baik atau malah error? Distraksi masih bertambah.
  • Di luar 5 kondisi tersebut: pengguna masih didistraksikan oleh pilihan 300 lebih jumlah Linux yang ada. Masih ditambah distraksi oleh jumlah varian dalam 1 rilis distro. Misalnya ada Mint Debian Edition, Mint Cinnamon, Mint Mate, Mint KDE, Mint XFCE, itu semua dikalikan 2 dengan jenis arsitekturnya. Betapa banyak yang harus dihafal oleh pengguna untuk sekadar ingin OS saja. Jelas bahwa distraksinya terlalu banyak?

Oh iya, jika ada pengguna yang lolos dari keenam tahap distraksi ini, maka dia survive menjadi pengguna Linux. Namun itu tidak menjamin dia akan betah dengan Linux. Jangan sombong. Sang pencipta GNOME, sang hacker yang sesungguhnya (bukan yang abal-abal seperti di Indonesia), telah berhenti menggunakan Linux untuk beralih total ke Mac. Siapa dia? Ya, dialah Miguel de Icaza. Tidak tanggung-tanggung, ini orang pencipta GNOME. Destop yang Anda sekarang pakai itu. Destop yang oleh Ubuntu dimodifikasi menjadi Unity, oleh Mint jadi Cinnamon dan MATE, oleh Zorin menjadi Zorin DE. Pemahaman sistem dia tidak sebanding dengan newbie seperti kita, apalagi kemampuan pemrogramannya. Orang seperti dia saja tidak tahan dengan distraksinya Linux. Tidak bisa disalahkan, itu sudah hak dia mutlak. Dan itu malah menjadi pertanda besar sekali bahwa Linux masih belum sempurna. Linux (desktop) haus penyederhanaan dan fokus.

Mungkinkah Lepas…

…dari distraksi? Tidak bisa. Distraksi tidak dapat dibuang 100%. Distraksi hanya bisa dikurangi. Windows pun memiliki banyak distraksi. Namun Linux memilikinya lebih banyak, setidaknya hingga hari ini. Sampai kapan pun Linux tidak mungkin menjadi mainstream jika distraksinya tidak dipangkas hingga menjadi lebih kecil dibanding lawannya. Terlihat, bukan? Dengan wawasan tentang distraksi, ekspresi yang sulit macam ini akan mudah dilakukan.

Windows vs Linux

Bagaimana menjawab setiap header Windows vs Linux di dunia maya? Dan setiap pertanyaan pemula yang sama? Bagaimana agar objektif? Tawaran saya sederhana sekali. Bandingkan saja distraksinya. Mana yang lebih banyak, maka itu yang kalah. Yang sedikit distraksinya, maka itu yang menang. Itulah OS yang bakal dipilih oleh pengguna.

Haruskah Distraksi Dikurangi dari Linux? Bisakah?

Ya. Jawabannya tegas: ya. Jika kita ingin di masa depan teman dan adik kita semua menikmati Linux juga. Dan itu bisa dilakukan selama para developer sadar Linux ada kekurangan. Maka tulisan semacam ini atau yang lebih baik harus ada dan dibiarkan berkembang. Tidaklah mungkin  ayah dan ibu kita menggunakan Linux jika distraksinya masih juga seperti sekarang. Linux harus disederhanakan dan dibuang distraksi-distraksinya jauh-jauh.

Apa contohnya? Android. Tidakkah Anda yang mempromosikan Linux ke mana-mana cemburu dengan kesuksesan Android? Tidakkah Anda berusaha mencari sebab kesuksesannya? Di antaranya adalah Android mengurangi distraksi Linux dengan sangat ekstrem. Satu bukti nyatanya adalah APK. Nikmat sekali bukan, instalasi aplikasi hanya dari satu buah berkas saja? Seperti EXE? Lantas mengapa ini tidak juga ditiru oleh pemilik Linux desktop? Mengapa-oh-mengapa, ini hanyalah satu contoh. Yang lainnya bisa Anda pikirkan sendiri. Yang jelas, di dunia Linux sekalipun, distraksi adalah musuh. Camkan, distraksi adalah musuh!

DUA :: Distraksi di Kehidupan Sehari-Hari

Seringkah Anda merasa bahwa kerjaan Anda tidak kunjung selesai? Penyebab paling besarnya adalah distraksi. Entah sumber distraksinya adalah teman Anda yang mengajak bercanda, entah anak Anda lucu, entah apa lagi. Banyak sekali distraksi dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita lalai dari tujuan. Karena kehidupan sehari-hari itu luas, maka saya batasi hanya pada 3 hal ini:

  • Orang yang sederhana
  • Orang yang fokus
  • Orang yang to the point

karena sebenarnya inti pada poin distraksi kedua ini adalah kekaguman. Seperti pendapat saya dulu: Anda baru bisa memahami kehebatan orang ketika Anda sudah sehebat dia atau minimal Anda tahu pasti letak kehebatannya.

Mengenai Orang yang Sederhana

Baik dalam harta, dalam kuasa, dan dalam bicara. Sungguh luar biasa orang yang sederhana itu. Orang yang sederhana betul-betul biasanya paham bahwa harta, kuasa, dan banyak bicara adalah distraksi. Orang yang sederhana itu tidaklah banyak bicara. Namun yang dia lakukan luar biasa. Orang yang sederhana itu tidak mempermasalahkan dirinya jikalau dia tidak berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak memasukkan harta ke dalam hatinya kala dia berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak neka-neka kelakuannya. Cukup berjalan pada garisnya. Orang yang sederhana itu sungguh orang yang berilmu. Saya ingat kutipan dari Willibrordus Surendra bahwa kekuatan sebuah puisi terletak pada kesederhanaannya. Wow, simplicity is everywhere! Bahkan orang dan sastra pun akan baik jika sederhana. To be simple is difficult.

Mengenai Orang yang Fokus

Susah menjadi orang yang fokus. Apalagi bagi seorang otodidak. Distraksi di mana-mana. Ingin belajar ini, ingin belajar itu, besok ada bahasa pemrograman baru pengen, ada software baru pengen, dan lain-lain. Sayangnya realitas berkata bahwa orang yang bersinar selalu orang yang fokus. Orang yang menjadi ahli dalam satu bidang dan pikiran dia tidak bercabang. Sulit untuk menjadi orang seperti itu. Akan tetapi mau tidak mau kita akan menuju ke sana. Tidaklah mungkin menjadi seorang generalis, karena Anda hanya bisa ada di satu tempat dalam satu waktu. Sedangkan orang yang fokus telah mengalahkan distraksinya. Luar biasa orang-orang yang fokus.

Mengenai Orang yang To The Point

Barangkali kita tak suka orang yang demikian. Akan tetapi, renungkan kembali. Seringkali justru karenanya motivasi kita bangkit. Karena orang macam ini berusaha menghilangkan distraksi dari orang lain. Sebenarnya orang yang to the point adalah model dari orang sederhana. Cuma, di sini saya eksklusifkan. Tidak hanya pada orang lain. Orang yang to the point bisa langsung mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Namanya juga to the point. Dan orang macam ini sedikit jumlahnya. Kebanyakan orang terkalahkan oleh distraksi. Entah karena dia ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin main-main. Luar biasa sulit. Sungguh luar biasa orang yang to the point.

Kesimpulan

Sederhana saja. Esai ini hanya nasihat.

  1. Distraksi adalah musuh.
  2. Jadilah orang yang memusuhi distraksi.
  3. Jadilah orang yang memusuhi distraksi bagi orang lain.
  4. Mari membuang distraksi-distraksi di Linux (desktop).

Semoga bermanfaat.

Menyoal Kebebasan


Bismillahirrahmanirrahim.

Semenjak awal Otodidak dibuat hingga selesainya Behind The Scene, saya terus berada dalam ruang vakum. Saya berhenti menulis. Sekarang perasaan ingin menulis itu terus menggedor. Lalu jadilah esai ringkas ini. Esai ini dimulai dari pertemuan saya dengan sekian peristiwa di komunitas yang menyandarkan dirinya dengan sesuatu bernama kebebasan. Kebebasan dalam software. Dan mereka –sepertinya– bangga dengan kebebasan itu. Saya ingin menulis tentang itu. Berdasarkan apa yang saya miliki sekarang.

  1. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas membeli hardware? Jika hardware yang dibeli ternyata oh ternyata tidak kompatibel dengan OS yang disandarkan pada kebebasan?
  2. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas mengubah tampilan OS-nya menjadi mirip OS lain, yang secara user experience dia butuhkan? Jika setiap ada pengguna ingin tampilan seperti OS lain, dia diejek?
  3. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas menjalankan aplikasi OS lain di atas compatibility layer? Jika setiap ada pengguna mau melakukan itu, dia diejek juga? Padahal compatibility layer-nya sendiri juga software bebas yang diakui oleh orang-orang itu sebagai bagian dari kebebasan?
  4. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak mendapatkan kemudahan seperti yang dia peroleh di OS lainnya? Jika melakukan instalasi aplikasi saja harus tersambung internet, yang notabene bukan barang bebas di Indonesia? Jika pada akhirnya berbagi installer aplikasi menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan?

Itulah empat hal yang saya temukan berulang-ulang secara rekursif di mana-mana. Saya punya akun di hampir semua komunitas kebebasan itu.

Lalu di mana kebebasan itu?

Perlu waktu bagi kita untuk menjawabnya bersama, karena permasalah ini rumit. Permasalahan ini sama dengan pola dependensi paket-paket saat prajurit seperti apt/zypper/pacman beraksi. Inilah realitas yang kita hadapi di Indonesia ini. Inilah poin-poin yang kita lemah di dalamnya. Inilah security holes yang mesti kita tambal. Mulai dari diri kita, dari hal-hal kecil ini, hari ini juga.

Menyoal Kebebasan 1

Saya dapatkan ini dari peristiwa modem dan VGA. Menginstal OS kebebasan tetapi dia tidak bebas memperoleh fitur dari hardware yang dia miliki. OS itu untuk hardware, agar manfaatnya dapat diambil oleh pemiliknya. Namun justru dengan OS kebebasan ini, si pemilik tidak merasakan manfaat dari modem atau VGA yang dia punya.

Modem: tidak bisa cek pulsa, tidak bisa sms, tidak bisa telepon, mau konek saja butuh internet lainnya, mau konek saja harus setting secara manual ala teknisi UNIX, mau konek saja tidak sederhana (sederhana=sedikit gerak untuk mencapai 1 tujuan). Padahal manfaat dari modem adalah yang paling penting bagi pengguna, yakni internet. Ini bukan kebebasan.

VGA: glitch, watermark, clipping, font rendering jelek, performa kurang, layar error,  padahal VGA-nya mahal lagi canggih. VGA semahal itu jadi tidak berguna dan seakan menjadi mesin rongsokan saja. Lalu di mana kebebasannya? Apalagi jika yang namanya penggerak proprietary dianggap sesuatu yang kontra-kebebasan, padahal pengguna tidak butuh istilah itu. Pengguna hanya butuh VGA dia berjalan dengan semestinya dan bisa di-tweak dengan bebas.

Apa hanya dua benda ini? Tidak. Pikirkan lagi perangkat wifi Broadcom dan teman-temannya. Berapa banyak pengguna yang bertanya soal wifi-nya, padahal OS kebebasan itu selalu butuh internet? Bagaimana dia bisa instal aplikasi pendukung jika internetnya saja tidak jalan di laptop dia? Dan mengunduh satu paket berarti juga harus tahu+mengunduh paket lain yang menjadi dependensinya? Inikah kebebasan? Bukan. Dan karena ada pesan dari salah seorang pengguna komputer yang berkata seperti ini: “ngapain pakai OS kebebasan kalau ujung-ujungnya beli VGA mahal-mahal nggak fungsi?“, saya terinspirasi untuk menyusun esai ini. Ini belum masuk ke hardware lainnya.

Di manakah kebebasan? Kebebasan yang kita umbar sana-sini, kita gembar-gemborkan, dan bahkan tanpa sadar sebagian kita memujinya hampir tanpa henti. Sudah pantaskah sikap kita itu?

Menyoal Kebebasan 2

  1. Apa kesalahan seorang pengguna jika dia ingin OS kebebasan yang dia miliki tampilannya diubah menjadi seperti OS lain? Tidak ada.
  2. Lalu mengapa masih ada ejekan terhadap permintaan/pertanyaan yang demikian di forum-forum? Karena sikap kita yang tidak tepat, atau saya katakan: kita bersikap tanpa mengetahui permasalahan. Salah satu bentuknya, ya, fanatisme.
  3. Lebih jauh, apa salahnya seorang pengguna yang memanfaatkan fasilitas Feature Request dalam wiki, meminta agar user experience design milik OS yang punya wiki dibuat sedemikian mirip dengan OS lain? Tidak ada.
  4. Lalu mengapa sampai ada ejekan terhadap pengguna tersebut? Bukankah dia sudah memberikan kepedulian terhadap OS yang punya wiki? Jawabannya mirip-mirip saja.

Jika ini terjadi pada orang-orang yang baru tahu OS kebebasan tersebut, dan baru memilikinya di laptop mereka, maka ini bukan kebebasan. Si pengejek mengingkari slogan kebebasan yang dia anut sendiri. Dia menjadikannya kosong dan sirna seperti buih di lautan. Lalu di manakah kebebasan?

Menyoal Kebebasan 3

  1. Apakah salah pengguna yang ingin menjalankan aplikasi OS lain semacam Microsoft Office di atas compatibility layer? Tidak.
  2. Apakah compatibility layer-nya adalah software bajakan? Tidak juga.
  3. Apakah compatibility layer-nya bukan software bebas? Tidak sama sekali. Dia software bebas. Dia bagian dari kebebasan.
  4. Lalu mengapa masih ada ejekan terhadap setiap pengguna baru yang membutuhkan compatibility layer tersebut? Lalu bertanya masalah software lain yang diinstal ke dalamnya? Jawabannya sama: sikap kita tidak tepat atau kita bersikap tanpa mengetahui permasalahan.

Itukah yang dinamakan kebebasan? Tidak.

Menyoal Kebebasan 4

  1. Apakah pengguna harus selalu terhubung ke internet setiap ingin menginstal aplikasi? Tidak.
  2. Kenyataannya? Sebaliknya.
  3. Efek buruknya? Boros bandwidth dengan amat sangat. Di sisi pengguna, ini dinamakan repot. Tidak ada mekanisme backup per aplikasi yang bisa disebarkan ke OS di mesin yang lain, sebagaimana sistem EXE di OS yang katanya tidak ada kebebasannya sama sekali.

Inikah kebebasan? Tidak.

Seharusnya Kebebasan 1-2-3-4

  1. Seharusnya pengguna bebas dari kekhawatiran akan tidak kompatibelnya hardware yang dia miliki.
  2. Seharusnya pengguna bebas untuk mengubah tampilan OS dia sebagaimana dia butuhkan, dan bebas mendapatkan jawaban bagaimana cara melakukannya.
  3. Seharusnya pengguna bebas memakai compatibility layer (tentu selama software targetnya legal) dan bebas mendapatkan jawaban bagaimana cara melakukannya.
  4. Seharusnya pengguna bebas memperoleh kemudahan dan kesederhanaan penggunaan suatu OS serta memperoleh kemudahan dan kesederhanaan juga dalam membagikan aplikasi yang sudah dia unduh.

Itulah kebebasan yang saya ingin sampaikan dalam esai ini. Kebebasan yang saya ingin dijaminkan kepada setiap pengguna yang ada, lebih dari atau minimal setara dengan kebebasan ala kita biasanya yang sering kita pertunjukkan pada dunia. Mengapa? Karena inti dari segala revolusi OS, segala macam promosi OS, segala macam marketing aplikasi apa pun, adalah pengguna. Pengguna adalah raja dan segala-galanya bagi marketing ini. Dan karena saya hidup di Indonesia. Saya mendukung pengguna awam dan pemula di Indonesia!

Mengapa-oh-mengapa?

Dua hal. Pertama, saya bayangkan nanti akan ada pertanyaan semacam “Mengapa Anda menulis ini?” maka saya siapkan jawabannya:

  1. Saya sedang ingin menulis.
  2. Saya tidak suka dengan keadaan yang saya temukan. Saya hendak mengubahnya.
  3. Saya ingin OS kebebasan mendapatkan tempat yang selayaknya di tangan-tangan pengguna komputer di seluruh Indonesia, agar mereka semua menikmati kebahagiaan dan manfaat besar yang sama seperti saya sekarang yang juga menggunakannya.

Kedua, saya bayangkan ada pertanyaan “Mengapa tidak dimulai dengan 0?” maka jawabannya:

  1. Saya orang Indonesia.
  2. Saya berpola pikir orang Indonesia.

Realitas?

OS kebebasan kita masih jauh dari empat poin kebebasan ini. Tentulah kebebasan versi saya yang subjektif, yang kecil lagi ringkih pemahamannya. Akan tetapi silakan direnungkan. Mau lari ke mana lagi kalau tidak kepada (minimal) keempat hal ini? Realitas yang ada sungguh masih jauh dari harapan.

Sikap kita? Seringkali kita terlalu cepat senang dan puas dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Kita mungkin merasa teknologi kitalah yang paling hebat. Bahkan merasa bahwa sistem kebebasan ini adalah yang terbaik. Pikirkan kembali, ATM yang ada di sekitar kita menggunakan OS tidak bebas. Sekian banyak BUMN kalau membuka lowongan kerja, akan tampak membutuhkan ahli pada software yang tidak bebas. Pikirkan lagi, rekaman kajian yang ada di http://ilmoe.com itu disediakan dalam mp3, format yang kita kata tidak bebas, akan tetapi telah bermanfaat sangat besarnya kepada sekian banyak kaum muslimin di Indonesia. Pikirkan kembali. Kita tidaklah sempurna.

Realitas yang paling nyata adalah perjuangan masih panjang. Terlalu cepat untuk bersantai. Terlalu murah untuk menyerah. Dan realitas senantiasa kontra-permainan. Realitas selalu mendepak kita dari main-main.

Solusi?

Mungkin bagian yang paling Anda sukai adalah ini. Bagian ini ada agar jangan sampai dikira OS kebebasan tidak memiliki kemanfaatan. Ada kemanfaatannya, bahkan bisa menjadi yang terbesar. Dan saya adalah salah satu anak muda yang dididik dengan paradigma: selalu ada solusi. Siapa yang mendidik? Ya, komunitas kebebasan itu. Ini saya tunjukkan beberapa solusi yang saya temukan dan saya bahagia kala menemukannya.

  • Open Source Driver yang sangat mengagumkan -> bagaimana tidak? Kala sebuah hardware dibuat dengan diskriminasi terhadap OS kebebasan (drivernya tidak dibuat), maka sebagian orang membuatkan drivernya untuk OS kebebasan ini. Ini membuat baterai, beberapa sound card, beberapa VGA dan periferal lain berfungsi di OS kebebasan padahal aslinya mustahil. Ini sangat mengagumkan. Siapa saja yang kagum dengan anak tanpa tangan lalu bisa menulis akan kagum juga, sama seperti saya.
  • Kernel Linux yang luar biasa fleksibel dan boleh dikata ajaib -> bagaimana tidak ajaib kala saya tidak menginstal driver apa pun di mesin komputer ASUS X44C saya ini namun segalanya bekerja dengan lancar? Dan bagaimana tidak ajaib kala modem Huawei EC1261-2 saya langsung dikenali dan konek internet tanpa instal driver dan software apa pun? Bahkan di Windows pun tidak sampai sepraktis itu.
  • Tampilan yang banyak pilihannya -> Compiz, KWin, Mutter, Emerald, Awesome, Openbox, DWM, dan lain-lain dari sisi pengolah tampilan jendela. KDE, GNOME, XFCE, LXDE, Enlightenment, RazorQt, Manokwari, Pantheon, dari sisi pengatur keseluruhan tampilan OS. Sekian ribu tema yang tersedia di macam-macam web siap diunduh gratis untuk mengubah tampilan. Belum termasuk pernak-pernik macam Conky yang betul-betul indah, Dock seperti Cairo Dock dan AWN, *let/Widget yang jadi default di DE besar macam KDE dan Cinnamon, serta banyak lagi hal yang menjadi permen-mata bagi tampilan OS. Dan sungguh telah tersedia peralatan beserta manualnya, untuk mengubah total tampilan OS kebebasan kita ini menjadi OS lain. Sesuai dengan user experience betulan.
  • Compatibility layer terbaik di dunia yang bernama Wine, menjadikan OS kebebasan kita mendekati sempurna kala si OS sanggup menjalankan aplikasinya sendiri tetapi juga sanggup menjalankan aplikasi yang bukan miliknya, secara baik. Ini semestinya mustahil, akan tetapi sungguh inilah satu daya tarik terbesar OS kebebasan kita. Bagaimana tidak ajaib?
  • Adanya solusi luar biasa bernama Mintbackup dari Linux Mint yang mampu melakukan backup aplikasi yang sudah diunduh/diinstal, dengan kebebasan di sisi pengguna untuk memilih mana yang mau di-backup. Bagian yang saya tebalkan dan garis bawahi adalah yang terpenting. Lalu bisa di-restore kapan saja pengguna butuh. Bahkan Windows pun (sepengetahuan saya) tidak bisa seperti itu. Sayangnya banyak distribusi di luar Mint seakan kurang peduli terhadap solusi brilian ini sehingga software ini hanya tersedia untuk Mint. Yang lain? Meski tidak sempurna 100%, tidak sepraktis EXE/MSI/DMG, tetapi ada Keryx, apt-web, apt-id, apt-offline, alldeb-maker, alldeb-user, PortableLinuxApps.orgSynaptic script, offline repository in DVD, Zeroinstall, dan lain-lain.

Dan masih sisa sekian banyak solusi bermanfaat yang sudah dirasa manfaatnya oleh banyak pengguna. Akhirnya tidak hanya paradigma selalu ada solusi, melainkan juga solusi itu banyak. Meski begitu, masih teramat luas ladang solusi yang bisa kita garap. Masih sangat lebar kesempatan kita untuk berkarya. Masih sangat besar kesempatan kita untuk membantu orang lain dengan pengetahuan komputer yang kita miliki. Janganlah kita meremehkan hal ini.

Ide dari Mana?

Ya, dari manakah ide untuk menulis esai ini? Sederhana saja. Saya membaca laman ini: http://www.wikivs.com/wiki/Apple_Innovation_vs_Microsoft_Innovation dan paragraf awalnya sangat berkesan buat saya. Ternyata Microsoft sudah menyadari kesusahan-kesusahan seperti yang kita alami jauh hari sebelum kita menikmati GUI yang seperti OS kebebasan kita sekarang. Mereka melobi perusahaan-perusahaan hardware agar dibuatkan driver untuk OS mereka (baca: mereka membela kompatibilitas/kebebasan 1). Hasilnya jelaslah kini OS mereka dipakai oleh semua pengguna komputer destop, dan semua vendor hardware kini tidak usah diminta oleh Microsoft lagi melainkan merekalah yang berinisiatif membuat driver untuk Microsoft. Inilah hal krusial yang tak terpikirkan oleh saya, dan saya yakin banyak teman juga belum tahu mengenai hal ini. Padahal inilah yang terpenting. Di OS kebebasan kita, siapa yang bakal melakukan lobi ini? Ini butuh dana besar. Atau butuh keajaiban. Dari sinilah idenya.

Kesimpulan

  1. Berhenti mengejek pengguna baru, apalagi yang awam.
  2. Software hanya wasilah, bukan tujuan.
  3. Mulailah mengadakan solusi-solusi untuk masalah yang muncul, minimal bagi diri sendiri.
  4. Bersikap atau bertindak dengan didahului berpikir dan pertimbangan matang adalah yang terbaik.

Penutup

Ya, software hanya wasilah. Dia bukan tujuan. Maka dari itu gunakan software sesuai keperluan. Tidak perlu bersikap berlebihan. Selama legal, pakai saja. Buat apa membebani diri lalu membebani orang lain? Sampai sini saya puas sekali. Akhirnya saya menulis esai setelah lama. Terima kasih dari saya untuk asatidzah ahlus sunnah di Indonesia yang memberikan saya ilmu dan inspirasi yang sangat kuat untuk menulis esai ini. Semoga bermanfaat dan terima kasih.