Mengapa Otodidak Dibuat? (1/2)


Bismillahirrahmanirrahim.

Saya harap tulisan ini bermanfaat bagi komunitas Linux di Indonesia. Sejujurnya, alasan saya satu-satunya membuat Otodidak hanyalah kekecewaan saya kepada komunitas Blankon. Saya sebagai orang awam tentulah senang melihat kemajuan rakyat Indonesia membuat sistem operasi sendiri. Apalagi melihat sendiri ada segudang teknologi yang dibangun sendiri di komunitasnya. Akan tetapi, saya menjadi kecewa saat merasakan sendiri adanya segelintir manusia di dalamnya yang menurut saya terlampau kasar dalam menyikapi orang awam seperti saya ini dan beberapa pengguna baru lainnya. Inilah aslinya alasan saya menulis esai permohonan kemarin, serta kemudian membuat Otodidak: untuk ikut membangun komunitas Blankon. Sebenarnya tulisan ini ingin langsung saya terbitkan setelah esai itu, tetapi akhirnya saya putuskan setelah Otodidak rilis saja. Tentu saja. Kalau tidak, apa yang bisa saya berikan selain tulisan? Minimal-lah, ada nilai tambah yang bisa saya kontribusikan. Insya Allah.

Pertama, alhamdulillah, akhirnya saya sadar, sepatutnya saya alihkan niat hanya untuk mengharap keridhaan Allah semata. Alhamdulillah, dari beberapa kajian yang saya ikuti, saya menjadi tersadar akan hal paling penting ini. Kami kaum muslimin diajari untuk mengikhlaskan niat hanya untuk Allah semata, tidak untuk mengharap dunia ini sedikit pun. Namun, esai ini tetap saya tulis sebagai hadiah untuk komunitas Blankon.

Kedua, saya tegaskan bahwa tidak seluruh anggota komunitas seperti itu. Malah masih banyak yang ramah terhadap pengguna baru, alhamdulillah. Namun sedikit saja sikap yang kasar ini mengenai saya, saya jadi skeptis akan majunya komunitas ini nanti. Ini saya simpulkan dari esai yang saya kirim ke laman komunitasnya, yang kemudian salah satunya membalas dengan (menurut saya) sangat tidak pantas. Entah, barangkali seluruh singgungan saya di esai itu (karena memang aslinya untuk komunitas mereka) betul mengena ke hati, entah bagaimana. Sehingga tak satu ucapan terima kasih pun terucap. Bukannya saya mengemis, tetapi bukankah kita di Indonesia ini sudah sering sekali mengatakan ‘kritik dan saran pembaca kami nantikan‘? Sekarang ada orang awam yang mengirim esai untuk mengkritik kalian, apa yang kalian katakan? Bahkan balasan pertama mereka adalah ‘omong doang’ kemudian ‘ini curhat‘. Masya Allah, bukankah kalian sendiri merasa komunitas kalian jauh dari sempurna? Apa salahnya buka mata sedikit menjadi lebih ramah? Komentar-komentar mereka sungguh membuat saya sedih (membayangkan larinya orang-orang awam dari mereka) dan sampai terucap kalimat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya ‘saya bersedia didepak dari komunitas‘.

Sudah saya tegaskan di dalam esai itu, saya takkan lari sekasar apa pun komunitas. Namun dengan segelintir orang yang sikapnya tak ramah ini, saya jadi berpikir kembali. Apa mungkin orang-orang seperti ayah saya, seperti tetangga saya, guru sekolah saya, yang instal aplikasi saja tak mengerti caranya, akan mau menggunakan Blankon? Kalau cara menjawab pertanyaan dari pengguna awamnya saja ‘ya begitu itu orang Indonesia asal coba tanpa mau baca dulu‘ (tidak pantas, bukan?). Padahal saya merasa cuma Blankon di Indonesia ini yang paling menonjol. Bagaimana mereka ingin masyarakat menggunakan Blankon padahal sebagian mereka (maaf-maaf saja) amat kasar dalam menjawab penggunanya? Sungguh ironis. Bacalah laman ini http://www.darussalaf.or.id/nasehat/akhlak-islami-hiasan-indah-dalam-sebuah-kehidupan/ agar jelas maksud dari tulisan ini.

Pesan Saya

Jadilah komunitas yang paling ramah terhadap pengguna. Jadilah insan-insan yang berakhlak mulia. Sebagai pembuka, silakan unduh MP3 akhlak mulia berikut. Barakallahu fiikum, yaa Akhii…

Penutup

Saya tak takut andai tulisan ini berakhir seperti kasus Ibu Prita, insya Allah. Karena kalau sampai benar terjadi, maka benar dugaan saya rakyat Indonesia masih antikritik, dan tidak mau konsisten terhadap apa yang sering diikrarkannya sendiri ‘kritik dan saran pembaca kami nantikan‘. Sungguh hanya dukungan positif yang saya berikan dalam esai ini untuk komunitas Blankon. Ini adalah hadiah yang pahit bagi saya ‘tuk menulisnya dan barangkali pahit juga bagi yang membacanya. Namun ini mesti ada. Dari seorang awam yang antusias terhadap Blankon dan teknologi-teknologinya. Saya tak suka kalau komunitas Blankon yang sudah mulai solid jadi bubar seperti distro-distro lain yang entah ke mana pengembangnya. Saya senang dengan hadirnya Blankon Sajadah. Dan bukankah lebih bagus andai apa yang tercantum di dalam Blankon Sajadah itu (salah satunya akhlak mulia) diterapkan dalam bermasyarakat baik di komunitas ataupun di dunia nyata? Iya, bukan? Barakallahu fiikum.

8 thoughts on “Mengapa Otodidak Dibuat? (1/2)

  1. rotyyu

    Menurut pendapat saya, keadaan seperti itu terjadi di BlankOn karena isi dari milis (semoga asumsi ini benar) komunitas dengan milis pengembang itu sama saja orangnya. Tentu saja cara menghadapi manusia para geek itu sangat berbeda dengan orang awam. Seharusnya milis komunitas/pengguna BlankOn itu diisi oleh para pengguna awam yg tentunya dan seharusnya juga lebih mengerti bagaimana berurusan dengan sesama pengguna awam. Semoga sampean tidak jera menggunakan BlankOn dan menyebarkan semangatnya ke khalayak ramai.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Tidak, akang salah. Justru yang mengisi forum/milis Blankon itu harusnya para ahli, para geek, dengan kemampuan untuk memahami para newbie. Seperti Prudential, seperti Idwebhost. Nah, kalau sama-sama newbie, masalah tidak bisa usai.

      Saya tidak akan berhenti mendukung teknologi Blankon. Akang jangan khawatir, saya bukan orang yang menolak adanya Blankon. Saya saat ini sedang menanti gebrakan baru anak-anak muda untuk Blankon. Sementara itu, saya rehat dari komunitas Blankon.

      Komunitas Blankon juga mempertemukan kita berdua, bukan? :D

      Terima kasih banyak, Kang. Akang telah begitu banyak membantu saya.

      Balas
  2. i'm an alien (@gsembilan)

    saya mengetahui ada Otodidak saat baca forum internal di kantor. sangat bagus buat pemula linux. terima kasih sudah menghadirkan hal besar untuk pengguna awam linux. dan berharap akan ada versi otodidak selanjutnya yg _jikalau_bisa_ lebih independen tidak mengacu kepada salah satu distro saja. oh ya.. satu lagi yg luput dari Otodidak versi 1, mungkin bisa ditambahkan konsep root dan user (atau sudah ada?), saya lihat di bagian terminal ada perintah sudo rm /bin/File.txt, yang jika tidak berhati-hati ditakutkan user akan menghapus file sembarangan pada folder /bin atau diluar folder /home/user-nya yang mungkin akan berakibat fatal pada sistem, CMIIW. Barakallahu fik ya akhi…

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Masya Allah, ana sangat gembira bahwa sampai ada kabar seperti ini ana terima. Masya Allah, sungguh Allah hadiahkan kebahagiaan yang agung untuk ana. Terima kasih kembali telah mengabarkan nikmat Allah ini, Akh. Ana senang.

      Antum benar. Otodidak jauh dari baik. Masih banyak fitur yang kurang dan ana memang sengaja fokuskan pada Ubuntu. Ana inginnya dengan Otodidak, anak-anak Indonesia membuat aplikasi sendiri. Ana harap ada kelak yang seperti Otodidak ini tapi khusus Blankon, Fedora, atau openSUSE. Otodidak hanyalah picu, Akh. Namun ana tak sangka sampai masuk forum kantor antum. Ana tak sangka.

      Antum benar. Konsep root ini sangat perlu. Kesalahan ana mungkin saat itu ana hanya berpikir just GUI. Just click less rooting. Jadi ana condong menampakkan Terminal itu nggak sulit, kok. Jazakumullahu khairan, Akhii. Setiap feedback adalah mutiara berharga. Ana terima.

      Ana masih belum tahu, apakah bisa ana buat versi 2. Ana hanya bisa doakan kebaikan untuk antum sekeluarga. Waiyyakum, Akhii.

      Balas
  3. Ping balik: Mengapa Otodidak Dibuat? (1/2) | Balikpapan Linux

  4. Ping balik: Pemasaran Sistem Operasi Linux | Ade Malsasa Akbar

  5. Ping balik: The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear | Ade Malsasa Akbar

  6. Ping balik: Kumpulan Esai Kritik Saya | RESTAVA

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s