Arsip Tag: kekurangan

Menyoal Kebebasan


Bismillahirrahmanirrahim.

Semenjak awal Otodidak dibuat hingga selesainya Behind The Scene, saya terus berada dalam ruang vakum. Saya berhenti menulis. Sekarang perasaan ingin menulis itu terus menggedor. Lalu jadilah esai ringkas ini. Esai ini dimulai dari pertemuan saya dengan sekian peristiwa di komunitas yang menyandarkan dirinya dengan sesuatu bernama kebebasan. Kebebasan dalam software. Dan mereka –sepertinya– bangga dengan kebebasan itu. Saya ingin menulis tentang itu. Berdasarkan apa yang saya miliki sekarang.

  1. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas membeli hardware? Jika hardware yang dibeli ternyata oh ternyata tidak kompatibel dengan OS yang disandarkan pada kebebasan?
  2. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas mengubah tampilan OS-nya menjadi mirip OS lain, yang secara user experience dia butuhkan? Jika setiap ada pengguna ingin tampilan seperti OS lain, dia diejek?
  3. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas menjalankan aplikasi OS lain di atas compatibility layer? Jika setiap ada pengguna mau melakukan itu, dia diejek juga? Padahal compatibility layer-nya sendiri juga software bebas yang diakui oleh orang-orang itu sebagai bagian dari kebebasan?
  4. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak mendapatkan kemudahan seperti yang dia peroleh di OS lainnya? Jika melakukan instalasi aplikasi saja harus tersambung internet, yang notabene bukan barang bebas di Indonesia? Jika pada akhirnya berbagi installer aplikasi menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan?

Itulah empat hal yang saya temukan berulang-ulang secara rekursif di mana-mana. Saya punya akun di hampir semua komunitas kebebasan itu.

Lalu di mana kebebasan itu?

Perlu waktu bagi kita untuk menjawabnya bersama, karena permasalah ini rumit. Permasalahan ini sama dengan pola dependensi paket-paket saat prajurit seperti apt/zypper/pacman beraksi. Inilah realitas yang kita hadapi di Indonesia ini. Inilah poin-poin yang kita lemah di dalamnya. Inilah security holes yang mesti kita tambal. Mulai dari diri kita, dari hal-hal kecil ini, hari ini juga.

Menyoal Kebebasan 1

Saya dapatkan ini dari peristiwa modem dan VGA. Menginstal OS kebebasan tetapi dia tidak bebas memperoleh fitur dari hardware yang dia miliki. OS itu untuk hardware, agar manfaatnya dapat diambil oleh pemiliknya. Namun justru dengan OS kebebasan ini, si pemilik tidak merasakan manfaat dari modem atau VGA yang dia punya.

Modem: tidak bisa cek pulsa, tidak bisa sms, tidak bisa telepon, mau konek saja butuh internet lainnya, mau konek saja harus setting secara manual ala teknisi UNIX, mau konek saja tidak sederhana (sederhana=sedikit gerak untuk mencapai 1 tujuan). Padahal manfaat dari modem adalah yang paling penting bagi pengguna, yakni internet. Ini bukan kebebasan.

VGA: glitch, watermark, clipping, font rendering jelek, performa kurang, layar error,  padahal VGA-nya mahal lagi canggih. VGA semahal itu jadi tidak berguna dan seakan menjadi mesin rongsokan saja. Lalu di mana kebebasannya? Apalagi jika yang namanya penggerak proprietary dianggap sesuatu yang kontra-kebebasan, padahal pengguna tidak butuh istilah itu. Pengguna hanya butuh VGA dia berjalan dengan semestinya dan bisa di-tweak dengan bebas.

Apa hanya dua benda ini? Tidak. Pikirkan lagi perangkat wifi Broadcom dan teman-temannya. Berapa banyak pengguna yang bertanya soal wifi-nya, padahal OS kebebasan itu selalu butuh internet? Bagaimana dia bisa instal aplikasi pendukung jika internetnya saja tidak jalan di laptop dia? Dan mengunduh satu paket berarti juga harus tahu+mengunduh paket lain yang menjadi dependensinya? Inikah kebebasan? Bukan. Dan karena ada pesan dari salah seorang pengguna komputer yang berkata seperti ini: “ngapain pakai OS kebebasan kalau ujung-ujungnya beli VGA mahal-mahal nggak fungsi?“, saya terinspirasi untuk menyusun esai ini. Ini belum masuk ke hardware lainnya.

Di manakah kebebasan? Kebebasan yang kita umbar sana-sini, kita gembar-gemborkan, dan bahkan tanpa sadar sebagian kita memujinya hampir tanpa henti. Sudah pantaskah sikap kita itu?

Menyoal Kebebasan 2

  1. Apa kesalahan seorang pengguna jika dia ingin OS kebebasan yang dia miliki tampilannya diubah menjadi seperti OS lain? Tidak ada.
  2. Lalu mengapa masih ada ejekan terhadap permintaan/pertanyaan yang demikian di forum-forum? Karena sikap kita yang tidak tepat, atau saya katakan: kita bersikap tanpa mengetahui permasalahan. Salah satu bentuknya, ya, fanatisme.
  3. Lebih jauh, apa salahnya seorang pengguna yang memanfaatkan fasilitas Feature Request dalam wiki, meminta agar user experience design milik OS yang punya wiki dibuat sedemikian mirip dengan OS lain? Tidak ada.
  4. Lalu mengapa sampai ada ejekan terhadap pengguna tersebut? Bukankah dia sudah memberikan kepedulian terhadap OS yang punya wiki? Jawabannya mirip-mirip saja.

Jika ini terjadi pada orang-orang yang baru tahu OS kebebasan tersebut, dan baru memilikinya di laptop mereka, maka ini bukan kebebasan. Si pengejek mengingkari slogan kebebasan yang dia anut sendiri. Dia menjadikannya kosong dan sirna seperti buih di lautan. Lalu di manakah kebebasan?

Menyoal Kebebasan 3

  1. Apakah salah pengguna yang ingin menjalankan aplikasi OS lain semacam Microsoft Office di atas compatibility layer? Tidak.
  2. Apakah compatibility layer-nya adalah software bajakan? Tidak juga.
  3. Apakah compatibility layer-nya bukan software bebas? Tidak sama sekali. Dia software bebas. Dia bagian dari kebebasan.
  4. Lalu mengapa masih ada ejekan terhadap setiap pengguna baru yang membutuhkan compatibility layer tersebut? Lalu bertanya masalah software lain yang diinstal ke dalamnya? Jawabannya sama: sikap kita tidak tepat atau kita bersikap tanpa mengetahui permasalahan.

Itukah yang dinamakan kebebasan? Tidak.

Menyoal Kebebasan 4

  1. Apakah pengguna harus selalu terhubung ke internet setiap ingin menginstal aplikasi? Tidak.
  2. Kenyataannya? Sebaliknya.
  3. Efek buruknya? Boros bandwidth dengan amat sangat. Di sisi pengguna, ini dinamakan repot. Tidak ada mekanisme backup per aplikasi yang bisa disebarkan ke OS di mesin yang lain, sebagaimana sistem EXE di OS yang katanya tidak ada kebebasannya sama sekali.

Inikah kebebasan? Tidak.

Seharusnya Kebebasan 1-2-3-4

  1. Seharusnya pengguna bebas dari kekhawatiran akan tidak kompatibelnya hardware yang dia miliki.
  2. Seharusnya pengguna bebas untuk mengubah tampilan OS dia sebagaimana dia butuhkan, dan bebas mendapatkan jawaban bagaimana cara melakukannya.
  3. Seharusnya pengguna bebas memakai compatibility layer (tentu selama software targetnya legal) dan bebas mendapatkan jawaban bagaimana cara melakukannya.
  4. Seharusnya pengguna bebas memperoleh kemudahan dan kesederhanaan penggunaan suatu OS serta memperoleh kemudahan dan kesederhanaan juga dalam membagikan aplikasi yang sudah dia unduh.

Itulah kebebasan yang saya ingin sampaikan dalam esai ini. Kebebasan yang saya ingin dijaminkan kepada setiap pengguna yang ada, lebih dari atau minimal setara dengan kebebasan ala kita biasanya yang sering kita pertunjukkan pada dunia. Mengapa? Karena inti dari segala revolusi OS, segala macam promosi OS, segala macam marketing aplikasi apa pun, adalah pengguna. Pengguna adalah raja dan segala-galanya bagi marketing ini. Dan karena saya hidup di Indonesia. Saya mendukung pengguna awam dan pemula di Indonesia!

Mengapa-oh-mengapa?

Dua hal. Pertama, saya bayangkan nanti akan ada pertanyaan semacam “Mengapa Anda menulis ini?” maka saya siapkan jawabannya:

  1. Saya sedang ingin menulis.
  2. Saya tidak suka dengan keadaan yang saya temukan. Saya hendak mengubahnya.
  3. Saya ingin OS kebebasan mendapatkan tempat yang selayaknya di tangan-tangan pengguna komputer di seluruh Indonesia, agar mereka semua menikmati kebahagiaan dan manfaat besar yang sama seperti saya sekarang yang juga menggunakannya.

Kedua, saya bayangkan ada pertanyaan “Mengapa tidak dimulai dengan 0?” maka jawabannya:

  1. Saya orang Indonesia.
  2. Saya berpola pikir orang Indonesia.

Realitas?

OS kebebasan kita masih jauh dari empat poin kebebasan ini. Tentulah kebebasan versi saya yang subjektif, yang kecil lagi ringkih pemahamannya. Akan tetapi silakan direnungkan. Mau lari ke mana lagi kalau tidak kepada (minimal) keempat hal ini? Realitas yang ada sungguh masih jauh dari harapan.

Sikap kita? Seringkali kita terlalu cepat senang dan puas dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Kita mungkin merasa teknologi kitalah yang paling hebat. Bahkan merasa bahwa sistem kebebasan ini adalah yang terbaik. Pikirkan kembali, ATM yang ada di sekitar kita menggunakan OS tidak bebas. Sekian banyak BUMN kalau membuka lowongan kerja, akan tampak membutuhkan ahli pada software yang tidak bebas. Pikirkan lagi, rekaman kajian yang ada di http://ilmoe.com itu disediakan dalam mp3, format yang kita kata tidak bebas, akan tetapi telah bermanfaat sangat besarnya kepada sekian banyak kaum muslimin di Indonesia. Pikirkan kembali. Kita tidaklah sempurna.

Realitas yang paling nyata adalah perjuangan masih panjang. Terlalu cepat untuk bersantai. Terlalu murah untuk menyerah. Dan realitas senantiasa kontra-permainan. Realitas selalu mendepak kita dari main-main.

Solusi?

Mungkin bagian yang paling Anda sukai adalah ini. Bagian ini ada agar jangan sampai dikira OS kebebasan tidak memiliki kemanfaatan. Ada kemanfaatannya, bahkan bisa menjadi yang terbesar. Dan saya adalah salah satu anak muda yang dididik dengan paradigma: selalu ada solusi. Siapa yang mendidik? Ya, komunitas kebebasan itu. Ini saya tunjukkan beberapa solusi yang saya temukan dan saya bahagia kala menemukannya.

  • Open Source Driver yang sangat mengagumkan -> bagaimana tidak? Kala sebuah hardware dibuat dengan diskriminasi terhadap OS kebebasan (drivernya tidak dibuat), maka sebagian orang membuatkan drivernya untuk OS kebebasan ini. Ini membuat baterai, beberapa sound card, beberapa VGA dan periferal lain berfungsi di OS kebebasan padahal aslinya mustahil. Ini sangat mengagumkan. Siapa saja yang kagum dengan anak tanpa tangan lalu bisa menulis akan kagum juga, sama seperti saya.
  • Kernel Linux yang luar biasa fleksibel dan boleh dikata ajaib -> bagaimana tidak ajaib kala saya tidak menginstal driver apa pun di mesin komputer ASUS X44C saya ini namun segalanya bekerja dengan lancar? Dan bagaimana tidak ajaib kala modem Huawei EC1261-2 saya langsung dikenali dan konek internet tanpa instal driver dan software apa pun? Bahkan di Windows pun tidak sampai sepraktis itu.
  • Tampilan yang banyak pilihannya -> Compiz, KWin, Mutter, Emerald, Awesome, Openbox, DWM, dan lain-lain dari sisi pengolah tampilan jendela. KDE, GNOME, XFCE, LXDE, Enlightenment, RazorQt, Manokwari, Pantheon, dari sisi pengatur keseluruhan tampilan OS. Sekian ribu tema yang tersedia di macam-macam web siap diunduh gratis untuk mengubah tampilan. Belum termasuk pernak-pernik macam Conky yang betul-betul indah, Dock seperti Cairo Dock dan AWN, *let/Widget yang jadi default di DE besar macam KDE dan Cinnamon, serta banyak lagi hal yang menjadi permen-mata bagi tampilan OS. Dan sungguh telah tersedia peralatan beserta manualnya, untuk mengubah total tampilan OS kebebasan kita ini menjadi OS lain. Sesuai dengan user experience betulan.
  • Compatibility layer terbaik di dunia yang bernama Wine, menjadikan OS kebebasan kita mendekati sempurna kala si OS sanggup menjalankan aplikasinya sendiri tetapi juga sanggup menjalankan aplikasi yang bukan miliknya, secara baik. Ini semestinya mustahil, akan tetapi sungguh inilah satu daya tarik terbesar OS kebebasan kita. Bagaimana tidak ajaib?
  • Adanya solusi luar biasa bernama Mintbackup dari Linux Mint yang mampu melakukan backup aplikasi yang sudah diunduh/diinstal, dengan kebebasan di sisi pengguna untuk memilih mana yang mau di-backup. Bagian yang saya tebalkan dan garis bawahi adalah yang terpenting. Lalu bisa di-restore kapan saja pengguna butuh. Bahkan Windows pun (sepengetahuan saya) tidak bisa seperti itu. Sayangnya banyak distribusi di luar Mint seakan kurang peduli terhadap solusi brilian ini sehingga software ini hanya tersedia untuk Mint. Yang lain? Meski tidak sempurna 100%, tidak sepraktis EXE/MSI/DMG, tetapi ada Keryx, apt-web, apt-id, apt-offline, alldeb-maker, alldeb-user, PortableLinuxApps.orgSynaptic script, offline repository in DVD, Zeroinstall, dan lain-lain.

Dan masih sisa sekian banyak solusi bermanfaat yang sudah dirasa manfaatnya oleh banyak pengguna. Akhirnya tidak hanya paradigma selalu ada solusi, melainkan juga solusi itu banyak. Meski begitu, masih teramat luas ladang solusi yang bisa kita garap. Masih sangat lebar kesempatan kita untuk berkarya. Masih sangat besar kesempatan kita untuk membantu orang lain dengan pengetahuan komputer yang kita miliki. Janganlah kita meremehkan hal ini.

Ide dari Mana?

Ya, dari manakah ide untuk menulis esai ini? Sederhana saja. Saya membaca laman ini: http://www.wikivs.com/wiki/Apple_Innovation_vs_Microsoft_Innovation dan paragraf awalnya sangat berkesan buat saya. Ternyata Microsoft sudah menyadari kesusahan-kesusahan seperti yang kita alami jauh hari sebelum kita menikmati GUI yang seperti OS kebebasan kita sekarang. Mereka melobi perusahaan-perusahaan hardware agar dibuatkan driver untuk OS mereka (baca: mereka membela kompatibilitas/kebebasan 1). Hasilnya jelaslah kini OS mereka dipakai oleh semua pengguna komputer destop, dan semua vendor hardware kini tidak usah diminta oleh Microsoft lagi melainkan merekalah yang berinisiatif membuat driver untuk Microsoft. Inilah hal krusial yang tak terpikirkan oleh saya, dan saya yakin banyak teman juga belum tahu mengenai hal ini. Padahal inilah yang terpenting. Di OS kebebasan kita, siapa yang bakal melakukan lobi ini? Ini butuh dana besar. Atau butuh keajaiban. Dari sinilah idenya.

Kesimpulan

  1. Berhenti mengejek pengguna baru, apalagi yang awam.
  2. Software hanya wasilah, bukan tujuan.
  3. Mulailah mengadakan solusi-solusi untuk masalah yang muncul, minimal bagi diri sendiri.
  4. Bersikap atau bertindak dengan didahului berpikir dan pertimbangan matang adalah yang terbaik.

Penutup

Ya, software hanya wasilah. Dia bukan tujuan. Maka dari itu gunakan software sesuai keperluan. Tidak perlu bersikap berlebihan. Selama legal, pakai saja. Buat apa membebani diri lalu membebani orang lain? Sampai sini saya puas sekali. Akhirnya saya menulis esai setelah lama. Terima kasih dari saya untuk asatidzah ahlus sunnah di Indonesia yang memberikan saya ilmu dan inspirasi yang sangat kuat untuk menulis esai ini. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Iklan

Linux Desktop Masih Kurang User Friendly


Bismillahirrahmanirrahim. Saya sangat senang mencari lahan baru. Masih banyak yang bisa digarap. Saya sangat terinspirasi dengan apa yang senantiasa dilakukan para inovator. Mereka senantiasa ingin tahu, senantiasa membuktikan konsep, dan senantiasa membuat sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan orang lain. Yang paling penting, lahan yang mau digarap itu harus bermanfaat nyata bagi banyak orang. Apa yang harus digarap? Banyak sekali. Dan bidang yang akan saya bicarakan adalah GUI. Tulisan ini berbicara mengenai masa depan Linux desktop versi saya. Unduh versi PDF.

Alasan Dikatakan Demikian

Karena Linux desktop saat ini masih kompleks untuk pengguna.

User Friendly itu Apa?

Realitas yang bicara. Sesuatu dikatakan user friendly jika:

  • User hanya butuh sedikit gerak untuk mencapai satu tujuan
  • Ujung-ujungnya hemat waktu, hemat tenaga, dan hemat uang

Untuk Siapa Tulisan Ini

  • Semua orang yang menyadari kekurangan Linux desktop
  • Semua orang yang objektif mengakui kesederhanaan OS lain
  • Nonfanatis OS
  • Semua orang yang mau turut membangun Linux
  • Yang memegang prinsip mesin yang melayani manusia

Bukan Untuk Siapa Tulisan Ini

  • Fanatis Linux
  • Yang merasa Linux desktop tidak usah diperbaiki
  • Yang merasa Linux desktop tidak ada masalah
  • Yang memegang prinsip kebalikan dari mesin yang melayani manusia

Ide Dasar

Saya ingin mempromosikan Linux (desktop) yang bukan Windows kepada pengguna Windows. Minimal, mereka mau dual boot. Semoga OS halal semakin mendominasi pasar OS Indonesia.

Masalah Utama

Linux itu rumit. Linux itu kompleks. Linux (desktop) masih belum user friendly. Saya bisa bilang begini karena saya menggunakan Linux sehari-hari. Jadi, Linux (desktop) harus disederhanakan. Bukan dengan membuat distro baru, tetapi cukup membuatkan aplikasi atau sistem di atas yang sudah ada. Juga bukan dengan membuang kerumitan itu 100% (mustahil), melainkan sekadar berusaha menguranginya.

To Reduce Complexity

Sebelum melaju lebih jauh, ini dulu. Inilah slogan inti yang saya angkat dalam esai ini. Satu kata: sederhana. Membuat sesuatu menjadi sederhana. Artinya adalah mengurangi kerumitan. Prinsip to reduce complexity inilah yang akan membawa sesuatu yang tadinya kompleks/rumit menjadi sederhana. Kalau sederhana, sesuatu itu akan mudah digunakan. Saya beri contoh sebagaimana hasil obrolan saya di kanal #debian-id oleh seorang maintainer Debian internasional yang bernama jonass.

Ada 2 benda. Satu kotak dan satu lingkaran.

Rumus matematika untuk kotak panjang x lebar sedangkan lingkaran 22/7 x pi x r x r

  1. Mana yang lebih kompleks rumusnya? Jawabannya tentu lingkaran.
  2. Mana yang lebih susah kalau digunakan menggelinding? Jawabannya tentu kotak.

Terima kasih untuk jonass atas analogi ini.

Poin 1 menunjukkan bahwa kotak () itu lebih mudah alias lebih sederhana daripada lingkaran () dari sisi developer. Poin 2 menunjukkan bahwa lingkaran () itu, meski rumusnya susah, tetapi sederhana dan mudah digunakan dalam hal menggelinding (digunakan sebagai ban) dari sisi pengguna. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan kalau kompleks itu = lebih banyak gerak untuk mencapai 1 tujuan. Lawan kata kompleks adalah sederhana, jadi sederhana sendiri = sedikit gerak untuk mencapai 1 tujuan. Dan esai ini hanya membahas sederhana untuk poin 2. Sederhana untuk pengguna. Linux desktop itu kompleks. Harus disederhanakan. Dan kesederhanaan untuk pengguna ini bisa dicapai dengan konsep to reduce complexity. Bagaimana melakukannya?

Solusi

GUI.

Penjelasan Solusi

Yang bisa dilakukan adalah memperkaya Linux dengan GUI. Sebelumnya, mari mengenal makhluk apa ini. GUI adalah graphical user interface, sebuah teknologi untuk menerjemahkan bahasa antara pengguna (manusia) dan komputer. Manusia maunya begini, GUI menerjemahkan ke komputer begitu, dan sebaliknya. GUI adalah segala aspek bergambar yang kita lihat di monitor, yang bisa diklik. GUI adalah kesatuan dari tombol, ikon, menu, toolbar, combobox, panel, dan lain-lain untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan di komputer. GUI ini lawan dari CLI (command line interface), teknologi era lama. Di CLI, segalanya dilakukan di layar hitam dengan mengetik perintah-perintah. GUI berjiwakan prinsip click and run yang merupakan bentuk prinsip to reduce complexity. Dari tadinya harus hafal dan ketik perintah-perintah, sekarang cukup klik dan masalah sama-sama selesai. Sampai sini mestinya mudah dipahami. Jika belum, ini saya beri contoh:

  • Mana yang lebih sederhana: menyetir belok kanan di mobil dengan putar setir ke kanan (1 gerakan) atau dengan perintah $ sudo belok –45d –15d –5d kanan (34 gerakan)? Tentu lebih sederhana putar setir.
  • Mana yang lebih sederhana: mendesain poster dengan klik mouse (ratusan klik) atau dengan mengetik perintah-perintah Terminal tanpa mouse (tak hingga)? Tentu masih sederhana klik.
  • Mana yang lebih sederhana: membeli barang dengan bertanya harga-harga terlebih dulu atau membeli dengan sebelumnya melihat daftar harga di depan toko? Tentu lebih sederhana yang kedua.

Contoh Nyata Solusi

Otodidak dibuat dengan harapan to reduce complexity. Apa saja yang dilakukan oleh Otodidak?

  1. Untuk newbie pengguna Windows: tidak usah instal Linux (minus ratusan klik dan puluhan kegagalan) untuk sekadar belajar Linux.
  2. Untuk newbie pengguna Linux: tidak usah banyak browsing/tanya/menunggu lama/usaha untuk sekadar memahami dasar Linux.
  3. Untuk developer/pengayom komunitas: tidak usah repot mengajari newbie cukup katakan ‘cobalah Otodidak’ untuk hal-hal dasar.

Hasilnya adalah penghematan terhadap:

  • jumlah klik,
  • jumlah usaha yang harus dilakukan,
  • jumlah kegagalan yang bisa terjadi,
  • jumlah uang untuk browsing,
  • jumlah bandwidth pribadi yang harus dihabiskan, dan
  • jumlah waktu yang mesti terbuang.

Otodidak dibuat berdasarkan kesadaran bahwa Linux desktop itu rumit. Linux desktop masih kurang user friendly. Maka, minimal harus ada sistem yang mengurangi kerumitan itu. Otodidak adalah proposal untuknya, namun hanya dari sisi pembelajaran. Inilah contoh nyata penerapan to reduce complexity di Linux desktop.

Apa yang bisa dilakukan?

Dua hal saja. Menciptakan aplikasi berbasis GUI dan membuatkan GUI untuk aplikasi yang sudah ada. Jalan pertama contohnya adalah Otodidak dan jalan kedua contohnya apt-get (CLI) dengan front-end-nya, Synaptic Package Manager (GUI). Akan saya jelaskan mulai dari ide-ide untuknya.

Jalan pertama – Membuat Aplikasi GUI

Ternyata banyak sekali lowongan untuk membuat aplikasi GUI di Linux. Lebih mudah dipahami dengan ide.

  1. Internal Cropper untuk Libreoffice/Openoffice
  2. Image Viewer ringan yang bisa crop
  3. Download manager yang persis IDM (katakanlah IDM clone)
  4. Overcloker/underclocker
  5. Pemaket DEB menjadi 1 berkas siap instal (bayangkan EXE)
  6. Folder Protector
  7. Backup Tool yang superlengkap
  8. Customizer untuk desain kaos
  9. Customizer untuk desain sepeda motor/mobil 3D
  10. Perancang stiker otomatis
  11. Perancang undangan nikah otomatis
  12. Sketchup clone
  13. Alarm praktis
  14. Backup Tool yang praktis untuk Firefox/browser lain
  15. Pengingat waktu shalat
  16. Perancang tema WordPress drag and drop
  17. PC Suite serbabisa untuk hape-hape yang beredar di Indonesia
  18. Printer resetter
  19. Printer manager (bisa cleaning)
  20. Backup hape (sms, kontak, dkk.)
  21. Multisim, ISIS, Workbench clone
  22. PC Wizard clone
  23. Speedfan clone
  24. GUI mockup creator
  25. Color picker
  26. Web forum client

Jalan Kedua – Membuatkan GUI dari CLI

GUI untuk aplikasi CLI itu biasanya disebut front-end. Sedangkan CLI-nya disebut back-end. Contoh yang seperti ini adalah apt-get (back-end) yang memiliki GUI Synaptic (front-end). Contoh lainnya axel downloader (back-end) dengan Axel Kapt (front-end). Jalan kedua ini umumnya lebih mudah dari yang pertama karena hanya membuat GUI dari aplikasi yang sudah ada.

  1. Tweak Tool yang serbabisa
  2. Penyimpan DEB dari cache untuk diinstal di komputer lain
  3. System Language Changer yang sekali klik langsung berasa
  4. Proxy manager serbalengkap
  5. Wifi Sharing (seperti ConnectifyMe)
  6. Universal modem installer
  7. Pengecek hash berkas
  8. Show folder size
  9. Nautilus profile saver/loader
  10. Deepfreeze clone
  11. Perancang tema Ubuntu drag and drop
  12. Front-end yang lebih baik untuk axel
  13. Front-end yang lebih baik untuk wget
  14. Front-end yang lebih baik untuk aria2
  15. Front-end yang lebih baik untuk jigdo
  16. Stand alone DownThemAll!
  17. Attribute Changer yang praktis
  18. Switch untuk mematikan tombol suspend/hibernate
  19. Burner yang lebih cantik dari Nero
  20. KajianPlayer (streamer dan downloader untuk ilmoe.com)
  21. Backup flash disk (mirip thumbsuck)
  22. SudoThis! (sudo dpkg -i *.deb dalam klik kanan) untuk Nautilus
  23. Backup rutin isi cache APT
  24. Automatic wallpaper changer
  25. Libreoffice equation editor yang superpraktis
  26. Batch renamer

Sekian dulu ide di sini. Jika Anda ingin memperoleh ide juga, buka saja majalah PC Media atau sebangsanya lalu buka pada bab aplikasi bulan ini. Anda akan memperoleh jauh lebih banyak ide. Ya, jika dari satu orang saja bisa terlihat sekian banyak lowongan GUI di Linux, berapa lagi jika setiap warga KPLI memiliki idenya? Masih sangat luas.

Sedikit Penjelasan Ide

Memang perlu untuk menjelaskan sebagiannya. Misalnya saja USB Modem Installer. Kita tahu hampir semua modem USB bisa dikerjakan dengan bantuan tim wvdial, usbserial, dan usb_modeswitch. Hanya saja, konfigurasinya beda-beda untuk setiap modem dan setiap versi Ubuntu. Bagusnya, semua tutorial konfigurasi telah tersedia. Yang belum ada, satu aplikasi yang menyatukan seluruh tutorial itu menjadi tombol-tombol. Misal saja ada tombol modem Smartfren ZTE AC682. Sekali modem ditancap, langsung dikonfigurasikan otomatis sesuai tutorial. Akan sangat memangkas waktu, biaya, tenaga, dan tentulah makin banyak orang mau menggunakan Linux. Ini hanya contoh ide. Jika ini ada, nilai user frriendly-nya Linux menjadi bertambah satu. Dan kerumitan Linux berkurang sekian poin.

Jembatan Menuju GUI

Di Windows, kita semua kenal Autoit. Ini adalah bahasa pemrograman untuk menciptakan GUI dari perintah-perintah CMD. Sebagai contoh, untuk melakukan assembling .asm, teman saya memakai Turbo Assembler (TASM.exe). Untuk menjadikan .exe, ia menggunakan (TLINK.exe). Setiap ingin membuat exe baru, ia buka CMD dan lakukan pengetikan perintah berulang kali. Anggap ada 10 ketukan kibor untuk melakukannya (sebenarnya lebih). Datanglah teman saya satunya membuatkan GUI dengan Autoit, berdasarkan perintah-perintah TASM/TLINK yang dia pakai. Jadilah cukup klik ASSEMBLING lalu klik LINK untuk membuat exe baru. Lihat, cukup 2 ketukan. Jauh lebih sederhana. Inilah Autoit.

Zenity dan Kdialog adalah Autoit untuk Linux. Ini tidak 100% sama tetapi inilah realitasnya. Kita bisa melihat kegunaan Zenity dalam otomasi perintah-perintah, dari salah satu produk open source buatan seniman, Awoken Icon Theme. Ini icon theme yang sangat canggih. Untuk mengubah warna dan bentuk ikon di seluruh komputer, ia memanfaatkan Zenity. Kita bisa mengubah wujudnya dengan GUI! Dan ini sebenarnya kita melakukan perintah terminal. Hanya saja, kita tidak melakukannya karena sudah dikerjakan oleh Zenity. Kita cuma klik dan jadi. Sangat menarik, bukan? Kdialog pun serupa.

Proyek Besar

Ini kesimpulannya: kita menghadapi proyek besar. Proyek yang sudah dijalankan sekian lamanya di lingkungan Windows, dan sebenarnya juga dilakukan di lingkungan Linux oleh orang seperti Matthias Ettrich sejak lama. Proyek memperkaya OS dengan GUI. Mengurangi kerumitan OS dengan GUI dan otomasi. Orang-orang di luar negeri sana sudah lama memulainya, tetapi sepertinya kita masih santai. Kita bukan meniru-niru mereka, kita hanya berinovasi demi memudahkan diri-diri kita sendiri. Dan sekian banyak manusia kelak. Saya memulai ini dari mencari tutorial Zenity dan Kdialog. Serta dengan menulis esai ini. Dengan ini, saya mengajak pembaca untuk turut membuat aplikasi GUI di Linux.

Otomasi

Ini sedikit uneg-uneg dari saya. Jiwa dari GUI adalah otomasi. Jiwa dari segala aplikasi adalah otomasi. Otomasi inilah yang akan mempermudah Linux. Semakin banyak otomasi, semakin mengecil jumlah usaha yang harus dilakukan demi 1 tujuan. Segala yang manual harus dibuatkan otomasinya. Namun harus tetap dijaga keberadaannya karena kita menyadari, bahwa tidak selamanya GUI adalah raja. Dan kita juga semestinya menyadari, GUI harus mendominasi. Karena sebagian besar pengguna bukanlah sysadmin, bukanlah profesional sekuriti, dan bukan programer.

Penasaran?

Jika Anda merasa terganggu dengan ulasan kekurangan Linux ini, mungkin ada faedahnya saya memperkenalkan diri. Saya adalah anak yang mengenal teknologi informasi dari game development (tidak sebaliknya). Tentulah game development itu adanya di Windows. Saya mulai mengenalnya tahun 2006. Dan hingga kini, saya, tidak bisa melupakan kesederhanaan dan kemudahan Windows dalam membuat game 3D. Saya masih percaya pembuatan software paling sulit adalah game. Dan Windows bisa melakukannya dengan sangat mudah. Dengan drag and drop. Alangkah mudahnya, bayangkan! Pemrograman yang paling susah saja bisa dilakukan dengan sangat mudah. Segalanya GUI. Tanpa saya belajar perintah terminal atau sedikit bahasa skrip sekalipun. HTML pun tidak! Bahkan hampir tidak memakai kode sama sekali. Saya bisa membuat game seperti Counter Strike dalam satu jam. Dan yang seperti ini tidak ada di Linux. Saya melihat prinsipnya, to reduce complexity itu diterapkan secara ekstrem di Windows. Maka sangat mudah bagi saya untuk mengatakan Linux itu kurang user friendly. Linux memang bukan Windows, tetapi kalau kita ingin mempromosikannya kepada pengguna Windows, maka kita mesti membuatnya sederhana.

Nah, apa sih kuncinya? Kuncinya adalah aplikasi pembuat game seperti

Saya dulu menggunakan trial-nya 3D Gamestudio dan sangat menakjubkan. Sangat gampang. Bandingkan jika harus belajar C++, kuasai texturing, kuasai 3D modelling, kuasai HDR, AI, stencil shadow, segalanya. Dengan aplikasi game authoring tersebut, kita tidak perlu belajar dulu. Cukup fokus ke konten game-nya. Ini sangat menyederhanakan kerumitan. Maka prinsip inilah yang saya ambil lalu mau masukkan ke Linux. Bukan dari sisi game development-nya (saya sudah hengkang), tetapi dari sisi aplikasinya. Jika Anda pernah melakukan hal yang sama, maka Anda akan sepakat dengan saya.

Penutup

Kiranya jelas maksud esai pendek ini. Saya ingin mengajak Anda sekalian untuk membuat aplikasi GUI di Linux. Otodidak Behind The Scene belum cukup matang untuk diterbitkan di sini. Sementara itu, mari kita sedikit mengenal Autoit for Linux ini. Ya, Zenity dan Kdialog. Akan sangat menyenangkan jika kelak di Linux kita cukup klik dan komputer berjalan semau kita tanpa repot. Akhirnya, prinsip mesin yang melayani manusia menjadi tidak mustahil terwujud. Semoga ini bermanfaat.

Rujukan Zenity

  1. http://linux.byexamples.com/archives/265/a-complete-zenity-dialog-examples-2/
  2. http://rangers206.blogspot.com/2013/01/membuat-aplikasi-gui-di-linux-dengan.html
  3. http://ugos.ugm.ac.id/wiki/panduan:panduan_membuat_aplikasi_gui_sederhana_menggunakan_zenity
  4. http://bash.cyberciti.biz/guide/Zenity:_Shell_Scripting_with_Gnome
  5. http://nanananana-curhatan.blogspot.com/2011/10/belajar-zenity-shell-script.html
  6. http://linuxlibrary.org/zenity-simple-gui-creation-tool/
  7. http://www.techrepublic.com/blog/opensource/gui-scripting-with-zenity/235
  8. http://jakedth.tumblr.com/post/115232785/festival-zenity-easy-gui-interface
  9. http://www.linuxplanet.com/linuxplanet/tutorials/6838/1
  10. http://www.linuxplanet.com/linuxplanet/tutorials/6838/2
  11. http://tildehash.com/?article=advanced-application-shortcuts-with-zenity

Rujukan Kdialog

  1. http://techbase.kde.org/Development/Tutorials/Shell_Scripting_with_KDE_Dialogs
  2. https://www.bg.bib.de/portale/bes/Scripting/Shell/kdialog/t1.html
  3. http://bash.cyberciti.biz/guide/Kdialog:_Shell_scripting_with_KDE
  4. http://www.wikilearning.com/articulo/shell_scripting_en_kde-kdialog_dialog_types/193-5