Linux Desktop Masih Kurang User Friendly


Bismillahirrahmanirrahim. Saya sangat senang mencari lahan baru. Masih banyak yang bisa digarap. Saya sangat terinspirasi dengan apa yang senantiasa dilakukan para inovator. Mereka senantiasa ingin tahu, senantiasa membuktikan konsep, dan senantiasa membuat sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan orang lain. Yang paling penting, lahan yang mau digarap itu harus bermanfaat nyata bagi banyak orang. Apa yang harus digarap? Banyak sekali. Dan bidang yang akan saya bicarakan adalah GUI. Tulisan ini berbicara mengenai masa depan Linux desktop versi saya. Unduh versi PDF.

Alasan Dikatakan Demikian

Karena Linux desktop saat ini masih kompleks untuk pengguna.

User Friendly itu Apa?

Realitas yang bicara. Sesuatu dikatakan user friendly jika:

  • User hanya butuh sedikit gerak untuk mencapai satu tujuan
  • Ujung-ujungnya hemat waktu, hemat tenaga, dan hemat uang

Untuk Siapa Tulisan Ini

  • Semua orang yang menyadari kekurangan Linux desktop
  • Semua orang yang objektif mengakui kesederhanaan OS lain
  • Nonfanatis OS
  • Semua orang yang mau turut membangun Linux
  • Yang memegang prinsip mesin yang melayani manusia

Bukan Untuk Siapa Tulisan Ini

  • Fanatis Linux
  • Yang merasa Linux desktop tidak usah diperbaiki
  • Yang merasa Linux desktop tidak ada masalah
  • Yang memegang prinsip kebalikan dari mesin yang melayani manusia

Ide Dasar

Saya ingin mempromosikan Linux (desktop) yang bukan Windows kepada pengguna Windows. Minimal, mereka mau dual boot. Semoga OS halal semakin mendominasi pasar OS Indonesia.

Masalah Utama

Linux itu rumit. Linux itu kompleks. Linux (desktop) masih belum user friendly. Saya bisa bilang begini karena saya menggunakan Linux sehari-hari. Jadi, Linux (desktop) harus disederhanakan. Bukan dengan membuat distro baru, tetapi cukup membuatkan aplikasi atau sistem di atas yang sudah ada. Juga bukan dengan membuang kerumitan itu 100% (mustahil), melainkan sekadar berusaha menguranginya.

To Reduce Complexity

Sebelum melaju lebih jauh, ini dulu. Inilah slogan inti yang saya angkat dalam esai ini. Satu kata: sederhana. Membuat sesuatu menjadi sederhana. Artinya adalah mengurangi kerumitan. Prinsip to reduce complexity inilah yang akan membawa sesuatu yang tadinya kompleks/rumit menjadi sederhana. Kalau sederhana, sesuatu itu akan mudah digunakan. Saya beri contoh sebagaimana hasil obrolan saya di kanal #debian-id oleh seorang maintainer Debian internasional yang bernama jonass.

Ada 2 benda. Satu kotak dan satu lingkaran.

Rumus matematika untuk kotak panjang x lebar sedangkan lingkaran 22/7 x pi x r x r

  1. Mana yang lebih kompleks rumusnya? Jawabannya tentu lingkaran.
  2. Mana yang lebih susah kalau digunakan menggelinding? Jawabannya tentu kotak.

Terima kasih untuk jonass atas analogi ini.

Poin 1 menunjukkan bahwa kotak () itu lebih mudah alias lebih sederhana daripada lingkaran () dari sisi developer. Poin 2 menunjukkan bahwa lingkaran () itu, meski rumusnya susah, tetapi sederhana dan mudah digunakan dalam hal menggelinding (digunakan sebagai ban) dari sisi pengguna. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan kalau kompleks itu = lebih banyak gerak untuk mencapai 1 tujuan. Lawan kata kompleks adalah sederhana, jadi sederhana sendiri = sedikit gerak untuk mencapai 1 tujuan. Dan esai ini hanya membahas sederhana untuk poin 2. Sederhana untuk pengguna. Linux desktop itu kompleks. Harus disederhanakan. Dan kesederhanaan untuk pengguna ini bisa dicapai dengan konsep to reduce complexity. Bagaimana melakukannya?

Solusi

GUI.

Penjelasan Solusi

Yang bisa dilakukan adalah memperkaya Linux dengan GUI. Sebelumnya, mari mengenal makhluk apa ini. GUI adalah graphical user interface, sebuah teknologi untuk menerjemahkan bahasa antara pengguna (manusia) dan komputer. Manusia maunya begini, GUI menerjemahkan ke komputer begitu, dan sebaliknya. GUI adalah segala aspek bergambar yang kita lihat di monitor, yang bisa diklik. GUI adalah kesatuan dari tombol, ikon, menu, toolbar, combobox, panel, dan lain-lain untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan di komputer. GUI ini lawan dari CLI (command line interface), teknologi era lama. Di CLI, segalanya dilakukan di layar hitam dengan mengetik perintah-perintah. GUI berjiwakan prinsip click and run yang merupakan bentuk prinsip to reduce complexity. Dari tadinya harus hafal dan ketik perintah-perintah, sekarang cukup klik dan masalah sama-sama selesai. Sampai sini mestinya mudah dipahami. Jika belum, ini saya beri contoh:

  • Mana yang lebih sederhana: menyetir belok kanan di mobil dengan putar setir ke kanan (1 gerakan) atau dengan perintah $ sudo belok –45d –15d –5d kanan (34 gerakan)? Tentu lebih sederhana putar setir.
  • Mana yang lebih sederhana: mendesain poster dengan klik mouse (ratusan klik) atau dengan mengetik perintah-perintah Terminal tanpa mouse (tak hingga)? Tentu masih sederhana klik.
  • Mana yang lebih sederhana: membeli barang dengan bertanya harga-harga terlebih dulu atau membeli dengan sebelumnya melihat daftar harga di depan toko? Tentu lebih sederhana yang kedua.

Contoh Nyata Solusi

Otodidak dibuat dengan harapan to reduce complexity. Apa saja yang dilakukan oleh Otodidak?

  1. Untuk newbie pengguna Windows: tidak usah instal Linux (minus ratusan klik dan puluhan kegagalan) untuk sekadar belajar Linux.
  2. Untuk newbie pengguna Linux: tidak usah banyak browsing/tanya/menunggu lama/usaha untuk sekadar memahami dasar Linux.
  3. Untuk developer/pengayom komunitas: tidak usah repot mengajari newbie cukup katakan ‘cobalah Otodidak’ untuk hal-hal dasar.

Hasilnya adalah penghematan terhadap:

  • jumlah klik,
  • jumlah usaha yang harus dilakukan,
  • jumlah kegagalan yang bisa terjadi,
  • jumlah uang untuk browsing,
  • jumlah bandwidth pribadi yang harus dihabiskan, dan
  • jumlah waktu yang mesti terbuang.

Otodidak dibuat berdasarkan kesadaran bahwa Linux desktop itu rumit. Linux desktop masih kurang user friendly. Maka, minimal harus ada sistem yang mengurangi kerumitan itu. Otodidak adalah proposal untuknya, namun hanya dari sisi pembelajaran. Inilah contoh nyata penerapan to reduce complexity di Linux desktop.

Apa yang bisa dilakukan?

Dua hal saja. Menciptakan aplikasi berbasis GUI dan membuatkan GUI untuk aplikasi yang sudah ada. Jalan pertama contohnya adalah Otodidak dan jalan kedua contohnya apt-get (CLI) dengan front-end-nya, Synaptic Package Manager (GUI). Akan saya jelaskan mulai dari ide-ide untuknya.

Jalan pertama – Membuat Aplikasi GUI

Ternyata banyak sekali lowongan untuk membuat aplikasi GUI di Linux. Lebih mudah dipahami dengan ide.

  1. Internal Cropper untuk Libreoffice/Openoffice
  2. Image Viewer ringan yang bisa crop
  3. Download manager yang persis IDM (katakanlah IDM clone)
  4. Overcloker/underclocker
  5. Pemaket DEB menjadi 1 berkas siap instal (bayangkan EXE)
  6. Folder Protector
  7. Backup Tool yang superlengkap
  8. Customizer untuk desain kaos
  9. Customizer untuk desain sepeda motor/mobil 3D
  10. Perancang stiker otomatis
  11. Perancang undangan nikah otomatis
  12. Sketchup clone
  13. Alarm praktis
  14. Backup Tool yang praktis untuk Firefox/browser lain
  15. Pengingat waktu shalat
  16. Perancang tema WordPress drag and drop
  17. PC Suite serbabisa untuk hape-hape yang beredar di Indonesia
  18. Printer resetter
  19. Printer manager (bisa cleaning)
  20. Backup hape (sms, kontak, dkk.)
  21. Multisim, ISIS, Workbench clone
  22. PC Wizard clone
  23. Speedfan clone
  24. GUI mockup creator
  25. Color picker
  26. Web forum client

Jalan Kedua – Membuatkan GUI dari CLI

GUI untuk aplikasi CLI itu biasanya disebut front-end. Sedangkan CLI-nya disebut back-end. Contoh yang seperti ini adalah apt-get (back-end) yang memiliki GUI Synaptic (front-end). Contoh lainnya axel downloader (back-end) dengan Axel Kapt (front-end). Jalan kedua ini umumnya lebih mudah dari yang pertama karena hanya membuat GUI dari aplikasi yang sudah ada.

  1. Tweak Tool yang serbabisa
  2. Penyimpan DEB dari cache untuk diinstal di komputer lain
  3. System Language Changer yang sekali klik langsung berasa
  4. Proxy manager serbalengkap
  5. Wifi Sharing (seperti ConnectifyMe)
  6. Universal modem installer
  7. Pengecek hash berkas
  8. Show folder size
  9. Nautilus profile saver/loader
  10. Deepfreeze clone
  11. Perancang tema Ubuntu drag and drop
  12. Front-end yang lebih baik untuk axel
  13. Front-end yang lebih baik untuk wget
  14. Front-end yang lebih baik untuk aria2
  15. Front-end yang lebih baik untuk jigdo
  16. Stand alone DownThemAll!
  17. Attribute Changer yang praktis
  18. Switch untuk mematikan tombol suspend/hibernate
  19. Burner yang lebih cantik dari Nero
  20. KajianPlayer (streamer dan downloader untuk ilmoe.com)
  21. Backup flash disk (mirip thumbsuck)
  22. SudoThis! (sudo dpkg -i *.deb dalam klik kanan) untuk Nautilus
  23. Backup rutin isi cache APT
  24. Automatic wallpaper changer
  25. Libreoffice equation editor yang superpraktis
  26. Batch renamer

Sekian dulu ide di sini. Jika Anda ingin memperoleh ide juga, buka saja majalah PC Media atau sebangsanya lalu buka pada bab aplikasi bulan ini. Anda akan memperoleh jauh lebih banyak ide. Ya, jika dari satu orang saja bisa terlihat sekian banyak lowongan GUI di Linux, berapa lagi jika setiap warga KPLI memiliki idenya? Masih sangat luas.

Sedikit Penjelasan Ide

Memang perlu untuk menjelaskan sebagiannya. Misalnya saja USB Modem Installer. Kita tahu hampir semua modem USB bisa dikerjakan dengan bantuan tim wvdial, usbserial, dan usb_modeswitch. Hanya saja, konfigurasinya beda-beda untuk setiap modem dan setiap versi Ubuntu. Bagusnya, semua tutorial konfigurasi telah tersedia. Yang belum ada, satu aplikasi yang menyatukan seluruh tutorial itu menjadi tombol-tombol. Misal saja ada tombol modem Smartfren ZTE AC682. Sekali modem ditancap, langsung dikonfigurasikan otomatis sesuai tutorial. Akan sangat memangkas waktu, biaya, tenaga, dan tentulah makin banyak orang mau menggunakan Linux. Ini hanya contoh ide. Jika ini ada, nilai user frriendly-nya Linux menjadi bertambah satu. Dan kerumitan Linux berkurang sekian poin.

Jembatan Menuju GUI

Di Windows, kita semua kenal Autoit. Ini adalah bahasa pemrograman untuk menciptakan GUI dari perintah-perintah CMD. Sebagai contoh, untuk melakukan assembling .asm, teman saya memakai Turbo Assembler (TASM.exe). Untuk menjadikan .exe, ia menggunakan (TLINK.exe). Setiap ingin membuat exe baru, ia buka CMD dan lakukan pengetikan perintah berulang kali. Anggap ada 10 ketukan kibor untuk melakukannya (sebenarnya lebih). Datanglah teman saya satunya membuatkan GUI dengan Autoit, berdasarkan perintah-perintah TASM/TLINK yang dia pakai. Jadilah cukup klik ASSEMBLING lalu klik LINK untuk membuat exe baru. Lihat, cukup 2 ketukan. Jauh lebih sederhana. Inilah Autoit.

Zenity dan Kdialog adalah Autoit untuk Linux. Ini tidak 100% sama tetapi inilah realitasnya. Kita bisa melihat kegunaan Zenity dalam otomasi perintah-perintah, dari salah satu produk open source buatan seniman, Awoken Icon Theme. Ini icon theme yang sangat canggih. Untuk mengubah warna dan bentuk ikon di seluruh komputer, ia memanfaatkan Zenity. Kita bisa mengubah wujudnya dengan GUI! Dan ini sebenarnya kita melakukan perintah terminal. Hanya saja, kita tidak melakukannya karena sudah dikerjakan oleh Zenity. Kita cuma klik dan jadi. Sangat menarik, bukan? Kdialog pun serupa.

Proyek Besar

Ini kesimpulannya: kita menghadapi proyek besar. Proyek yang sudah dijalankan sekian lamanya di lingkungan Windows, dan sebenarnya juga dilakukan di lingkungan Linux oleh orang seperti Matthias Ettrich sejak lama. Proyek memperkaya OS dengan GUI. Mengurangi kerumitan OS dengan GUI dan otomasi. Orang-orang di luar negeri sana sudah lama memulainya, tetapi sepertinya kita masih santai. Kita bukan meniru-niru mereka, kita hanya berinovasi demi memudahkan diri-diri kita sendiri. Dan sekian banyak manusia kelak. Saya memulai ini dari mencari tutorial Zenity dan Kdialog. Serta dengan menulis esai ini. Dengan ini, saya mengajak pembaca untuk turut membuat aplikasi GUI di Linux.

Otomasi

Ini sedikit uneg-uneg dari saya. Jiwa dari GUI adalah otomasi. Jiwa dari segala aplikasi adalah otomasi. Otomasi inilah yang akan mempermudah Linux. Semakin banyak otomasi, semakin mengecil jumlah usaha yang harus dilakukan demi 1 tujuan. Segala yang manual harus dibuatkan otomasinya. Namun harus tetap dijaga keberadaannya karena kita menyadari, bahwa tidak selamanya GUI adalah raja. Dan kita juga semestinya menyadari, GUI harus mendominasi. Karena sebagian besar pengguna bukanlah sysadmin, bukanlah profesional sekuriti, dan bukan programer.

Penasaran?

Jika Anda merasa terganggu dengan ulasan kekurangan Linux ini, mungkin ada faedahnya saya memperkenalkan diri. Saya adalah anak yang mengenal teknologi informasi dari game development (tidak sebaliknya). Tentulah game development itu adanya di Windows. Saya mulai mengenalnya tahun 2006. Dan hingga kini, saya, tidak bisa melupakan kesederhanaan dan kemudahan Windows dalam membuat game 3D. Saya masih percaya pembuatan software paling sulit adalah game. Dan Windows bisa melakukannya dengan sangat mudah. Dengan drag and drop. Alangkah mudahnya, bayangkan! Pemrograman yang paling susah saja bisa dilakukan dengan sangat mudah. Segalanya GUI. Tanpa saya belajar perintah terminal atau sedikit bahasa skrip sekalipun. HTML pun tidak! Bahkan hampir tidak memakai kode sama sekali. Saya bisa membuat game seperti Counter Strike dalam satu jam. Dan yang seperti ini tidak ada di Linux. Saya melihat prinsipnya, to reduce complexity itu diterapkan secara ekstrem di Windows. Maka sangat mudah bagi saya untuk mengatakan Linux itu kurang user friendly. Linux memang bukan Windows, tetapi kalau kita ingin mempromosikannya kepada pengguna Windows, maka kita mesti membuatnya sederhana.

Nah, apa sih kuncinya? Kuncinya adalah aplikasi pembuat game seperti

Saya dulu menggunakan trial-nya 3D Gamestudio dan sangat menakjubkan. Sangat gampang. Bandingkan jika harus belajar C++, kuasai texturing, kuasai 3D modelling, kuasai HDR, AI, stencil shadow, segalanya. Dengan aplikasi game authoring tersebut, kita tidak perlu belajar dulu. Cukup fokus ke konten game-nya. Ini sangat menyederhanakan kerumitan. Maka prinsip inilah yang saya ambil lalu mau masukkan ke Linux. Bukan dari sisi game development-nya (saya sudah hengkang), tetapi dari sisi aplikasinya. Jika Anda pernah melakukan hal yang sama, maka Anda akan sepakat dengan saya.

Penutup

Kiranya jelas maksud esai pendek ini. Saya ingin mengajak Anda sekalian untuk membuat aplikasi GUI di Linux. Otodidak Behind The Scene belum cukup matang untuk diterbitkan di sini. Sementara itu, mari kita sedikit mengenal Autoit for Linux ini. Ya, Zenity dan Kdialog. Akan sangat menyenangkan jika kelak di Linux kita cukup klik dan komputer berjalan semau kita tanpa repot. Akhirnya, prinsip mesin yang melayani manusia menjadi tidak mustahil terwujud. Semoga ini bermanfaat.

Rujukan Zenity

  1. http://linux.byexamples.com/archives/265/a-complete-zenity-dialog-examples-2/
  2. http://rangers206.blogspot.com/2013/01/membuat-aplikasi-gui-di-linux-dengan.html
  3. http://ugos.ugm.ac.id/wiki/panduan:panduan_membuat_aplikasi_gui_sederhana_menggunakan_zenity
  4. http://bash.cyberciti.biz/guide/Zenity:_Shell_Scripting_with_Gnome
  5. http://nanananana-curhatan.blogspot.com/2011/10/belajar-zenity-shell-script.html
  6. http://linuxlibrary.org/zenity-simple-gui-creation-tool/
  7. http://www.techrepublic.com/blog/opensource/gui-scripting-with-zenity/235
  8. http://jakedth.tumblr.com/post/115232785/festival-zenity-easy-gui-interface
  9. http://www.linuxplanet.com/linuxplanet/tutorials/6838/1
  10. http://www.linuxplanet.com/linuxplanet/tutorials/6838/2
  11. http://tildehash.com/?article=advanced-application-shortcuts-with-zenity

Rujukan Kdialog

  1. http://techbase.kde.org/Development/Tutorials/Shell_Scripting_with_KDE_Dialogs
  2. https://www.bg.bib.de/portale/bes/Scripting/Shell/kdialog/t1.html
  3. http://bash.cyberciti.biz/guide/Kdialog:_Shell_scripting_with_KDE
  4. http://www.wikilearning.com/articulo/shell_scripting_en_kde-kdialog_dialog_types/193-5

30 thoughts on “Linux Desktop Masih Kurang User Friendly

  1. tedytirta

    Masalah yang saya sering dapati saat membantu seseorang migrasi ke Linux adalah soal kemudahan/ketersediaan/performance driver sebuah perangkat. Contoh paling sering adalah printer. Soal printing ini memang gampang-gampang susah. Banyak distro sekarang sudah “canggih” dengan sekali colok langsung mendeteksi & menginstallkan drivernya. Tapi performance cups masih kalah dengan native driver dari CD bawaan printernya. Printing dengan Linux bisa terasa sangat lambat bila dibandingkan dengan printing dengan Windows/Mac.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Ini pengetahuan baru untuk saya, Pak. Jadi demikian? Masalah pada kecepatan cups yang masih kalah.

      Saya pernah baca bahwa Microsoft melobi para pembuat hardware untuk Windows. Agar Windows itu kompatibel dengan semua hardware (http://www.wikivs.com/wiki/Apple_Innovation_vs_Microsoft_Innovation). Sekarang saya paham bagaimana seharusnya langkah pertama Linux harusnya dipasarkan. Harus ada yang melobi produsen hardware agar membuat drivernya untuk Linux juga. Namun ini sangat mahal. Dan siapa yang mau melakukan ini?

      Terima kasih atas ilmu baru dari bapak ini.

      Balas
      1. tedytirta

        coba saja lakukan printing head to head Windows, Mac, Linux. Lihat mana yang paling cepat :-) (lihat pula kualitas warna yang dihasilkan) . Nanti kalau Anda temukan solusi dengan CUPSnya, ajari saya ya. Thanks

  2. Herbiejago

    Ane juga mau rencana remaster debian. DEnya make KDE, tapi ane bikin gak ribet dulu :D . yang masih di terminal, dibikin GUI. Yang GUInya ribet, disimpelkan tanpa mengurangi fungsinya :D . Siapa tau bisa ngetop kaya ubuntu :D . Kalo akang mau ikut juga boleh :D

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Terima kasih banyak, Kang. Akang telah menyumbang energi yang besar.

      Ini bagus. Kalau memang Linux mau maju, semua Teminalisasi harus dibuat GUI. Akang menyadarinya rupanya. Saya pribadi memegang prinsip tidak mau ada distro baru. Namun selama akang bisa buktikan konsep akang, dan itu benar-benar brilian, maka saya mendukung. Saya tidak akan terjun ke sana sekarang.

      Saya hanya sarankan, akang buat sistem akang itu dalam wujud aplikasi saja. Atau akang buat sebuah DE. Lalu masukkan ke repo resmi Ubuntu. Lebih baik akang buat aplikasinya saja bukan OS-nya karena itu memakan biaya dan waktu yang teramat banyak. Kalau mau baca lebih lanjut, silakan: https://malsasa.wordpress.com/2012/11/02/kalau-linux-mau-maju/.

      Terima kasih atas antusiasme dan kedatangan akang di sini.

      Balas
  3. noveri22

    ma’af mas kemaren saya lupa kasih saran :oops: , tapi menurut saya esai ini udah bagus jadi ga perlu saran lagi :D

    Balas
  4. Prisoner Love W.D.A (@eko_sality)

    karena keseringan pake linux di kampus, temen saya malah jadi ikut-ikutan pengen pake linux, katanya sih pengen kyak saya bang, gak ush pake anti virus (dualboot). .

    tapi ya gtu, dia masih suka nanya-nanya, padahal sudah saya kasih panduannya. saya pengen banget bilang “tidak usah repot mengajari newbie cukup katakan ‘cobalah Otodidak’ untuk hal-hal dasar” tapi gak tega. .

    hhe. .

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Terima kasih telah datang, Kang. Senangnya mendengar ada mahasiswa datang ke sini. Iya, pasti dia akan banyak tanya. Jawabannya adalah karena ada akang (https://malsasa.wordpress.com/2012/11/27/apa-yang-sebenarnya-pengguna-butuhkan/). Kalaupun akang tidak tega melakukannya, tidak mengapa. Memang tingkat penangkapan orang terhadap pemakaian Linux sangat beragam. Tidak harus dipaksakan.

      Kalaupun dengan Otodidak pengguna baru masih juga kesulitan, kita nantikan Otodidak lain dari teman-teman yang lebih user friendly. Yang jenius, yang jika dipakai orang awam langsung dipahami.

      Terima kasih, Kang.

      Balas
  5. arhsa

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Jika Mas Malsasa berkenan, saya mau minta tolong, saya ini pengguna Maktabah Syamilah, Namun di Linux susah menggunakanya. Via Wine tidak sempurna. Menggunakan Virtualbox sangat sempurna, namun sayang harus instal Windows.

    Permintaan pertama saya, Mas Malsasa menambahkan support Bahasa Arab di Wine, atau menunjukan kepada saya caranya biar saya belajar juga. Saya sudah coba Thawab, El-Kirtasse juga, tapi belum bisa membuat hati ini berpaling dari Syamilah hehehe.. kebetulan minggu kemarin dapat DVD asli versi 2 (3.4.8).
    Sekarang saya masih Memakai Windows di kantor, nanti Insya Alloh kalau sedah ada rezeki punya laptop Insya Alloh saya install Sabily, Linux Mint, Ubuntu dan test distro yang lain (skrng baru beres download Pear Linux, PCLOS minime, Deepin Linux, Bodhi dan yang lain -koleksi ISO ada 55GB, maklum masih mencari yang pas-)

    Permintaan kedua, Saya menggunakan usb (wifi receiver) Edimax EW7811UN, ini susah untuk konek menggunakan Linux, hanya Sabily 11.04 yang berhasil, namun sayang belum terdokumentasikan. Bodhi linux 2.1.0 bisa konek otomatis saat live (versi 2.3.0 yang baru di download malah tidak terdeteksi sama sekali), tapi setelah diinstal tidak bisa konek dan monitor saya terbelah dua (vga-nya AMD catalyst, kalau tidak salah). Di distro-distro terbaru Linux Mint 14, Ubuntu 12.04, Fedora 17 bisa terdeteksi tapi tetap tidak mau konek. Jadi, saya mohon bantuannya, mungkin bisa masuk ke Otodidak seperti modem saya yang sedah nangkring disana, CE682.

    ‘Ala kulli hal, jazakumulloh khoiron ya akhi.
    Mohon maaf sudah mengganggu Antum.

    “Teruslah berkarya melewati batas usia. Teruslah berbagi karena berbagi tidak mengurangi, justru menyebabkan kematangan diri.”

    {وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} [التوبة: 105]
    {قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا} [الإسراء: 84]

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Seumur hidup, baru ini saya mendapat komentar yang berisi ayat al-Qur’an. Saya beruntung sekali.

      Untuk masalah hardware akh, ana sebetulnya tidak mampu berbuat banyak. Ana hanya bisa gugling. Dan ana senang sekali antum seperti ilmuwan yang bereksperimen segitu banyak distro. Ana tidak pernah sampai seperti itu. Namun ana tidak suka kalau waktu antum habis hanya untuk itu. Sementara jika antum nyaman dengan Windows, gunakanlah Windows dulu, Akh. Antum fokus ke pelajaran agama di Syamilah. Itu lebih baik daripada antum habis waktunya untuk konfigurasi sistem. Antum bayangkan saja Imam Syafi’i kalau hidup di zaman ini, beliau apa mau habis waktunya untuk selain ilmu? Ana hanya khawatir waktu antum habis untuk konfigurasi.

      Untuk permintaan antum, ana merasa berdosa karena memang ana tidak sanggup melakukan apa-apa. Syamilah memang gagal dijalankan via Wine, Akh. Ana sendiri belum pernah coba dan hanya melihat review ikhwan kita. Hasilnya memang tidak bisa jalan di Linux. Jalan satu-satunya hanya meminta pihak developer Syamilah untuk membuat versi Linux. Mereka muslim, jadi ana kira akan lebih mudah. Afwan, ana tidak mampu berbuat banyak. Ana harus mengecewakan antum.

      Untuk masalah Edimax, selain ana tidak ada perangkatnya, ana pun tidak pernah memahami cara kerja jaringan. Untuk saat ini, ana tidak bisa membantu antum. Aduh, afwan lagi, Akh.

      Namun ana bahagia bisa memiliki ikhwan seperti antum. Barakallahu fiikum, Akh.

      Balas
      1. arhsa

        Jazakallohu khoiron.
        Komentar saya mendapat jawaban pun sudah merupakan kebahagiaan buat pemula seperti saya. Saya sudah suka sama Sabily, Linux Mint (komputer tua di rumah juga pake linux mint dan istri saya juga suka) pilihan kedua untuk mengajak kawan-kawan mengenal Linux, Al-hamdulillah seumur mengenal Linux ada satu kawan paling dekat saya langsung antusias dan langsung minta diinstal Kubuntu 12.10 akhir tahun kemarin.

        Mungkin nanti saya akan mengakrabkan diri dengan Elkirtasse dan .bok melalui thawab. Kalo ada dana ingin membeli XP/Windows asli biar berkah dan menghormati kreatifitas intelektual pembuatnya.

        Akhir tahun 2011 saya pernah mengirim permohonan kepada admin shamella.ws untuk membuat versi Linux minimal .deb dan .rpm. Mereka menjawab inya Allah namun tidak berjanji, dan saya apresiasi mereka karena dua minggu setelah saya kirim email, winrar yang asalnya mereka rekomendasikan di bagian bawah situs telah berganti menjadi 7zip. DVD Versi resmi 2 (3.4.8) yang kemarin saya dapat ternyata juga kompresinya menggunakan 7zip. Itu artinya mereka ada perhatian (pada open source dan saran pengguna) namun untuk membuat satu aplikasi dengan bahasa pemrograman berbeda pada OS yang berbeda tentu bukan perkara gampang dan singkat. Saya mau membuat jendela baru setelah mengklik tombol saja ternyata susah, Mas Malsasa tentu lebih faham.

      2. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

        Ternyata antum ini sudah berusaha sekian banyaknya. Inilah semestinya seorang muslim berusaha! Ana salut, Akh! Sungguh bahagia teman antum itu ya, bisa kenal sama antum. Eh, istri antum juga.

        Iya, antum benar. Memang bukan perkara mudah mengubah sistem yang telanjur dibuat. Ini sulit, tetapi bukan mustahil. Masih ada jalan terbentang, Akh.

        Kalau ana boleh tahu, apa kesulitan antum dengan Elkirtasse? Kalau ana, satu-satunya kesulitan hanyalah ana tidak bisa baca tulisan Arab.

      3. arhsa

        Masalah saya dengan elkirtasse karena sekarng pindah tempat tugas sejak juni 2012, jadi pegang komputer kantor, mau buka Linux paling dari hardisk eksternal, itupun kalau lagi kosong. Dua bulan kemarin pebruar-maret tidak pegang Linux sama sekali, baru sekarang akhir april agak bisa.

        Dulu pernah seting-seting kendalanya versi elkirtas dan kitab-kitab belum begitu matcing, urutannya, nomor sekian harusnya di sub ini malah ke sub itu. download kitab satu-satu payah me masukannya satu persatu. Sebetulnya bukunya sudah saya downloat sedikit-sedikit, sudah lebih satu giga. Download yang di dropbox yang kitab full tidak berhasil, gagal terus. Mungkin nanti saya coba lagi. Kalau sudah ada netbook hehe…

  6. Ping balik: Linux Desktop Masih Kurang User Friendly | Balikpapan Linux

  7. Ping balik: Pemasaran Sistem Operasi Linux | Ade Malsasa Akbar

  8. Ping balik: [Pemrograman Qt 7 - Menjalankan Perintah Linux dari GUI C++ dengan Mudah Menggunakan system()] | Ade Malsasa Akbar

  9. Ping balik: Pemrograman Qt 7 – Menjalankan Perintah Linux dari GUI C++ dengan Mudah Menggunakan system() | VedroXiDe

  10. Ping balik: Gratis tapi harus bayar??? (linux)

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s