Memusuhi Distraksi!


Sudah lama tidak menulis bebas. Sebenarnya sesaat setelah esai Menyoal Kebebasan diterbitkan, saya ingin langsung menulis esai ini. Namun saya lupa apa yang mau ditulis. Baru jam 00.24 ini saya ingat. Ya, saya harus menulis tentang distraksi. Tentang satu kata yang menggugah selera berpikir saya semenjak saya tahu ada kata ini dalam Bahasa Inggris. Kapan? Sejak 4 bulan lalu saya mengunjungi laman ini: http://blog.sudobits.com/2012/07/14/distraction-free-writing-applicationstools-for-ubuntu-12-04/. Saya sangat tergugah dan bersemangat gara-gara tahu kata distraksi ini. Akhirnya saya ke sana kemari cari artinya sampai tersasar di Wikipedia dan memperoleh buku berbahasa Indonesia yang membahas distraksi secara psikologis. Luar biasa dampaknya!

Apa itu Distraksi?

Saya menganggap distraksi adalah pengalih perhatian. Perusak fokus. Penarik hati kepada sesuatu yang tidak perlu. Itu definisi distraksi versi saya. Ada versi Wikipedia yang demikian:

Distraction is the divided attention of an individual or group from the chosen object of attention onto the source of distraction. Distraction is caused by: the lack of ability to pay attention; lack of interest in the object of attention; or the great intensity, novelty or attractiveness of something other than the object of attention. Distractions come from both external sources, and internal sources.

Kalau diterjemahkan bebas:

Distraksi adalah perhatian yang terbagi dari sebuah atau kelompok objek yang dipilih untuk diperhatikan kepada sumber dari distraksi. Distraksi disebabkan oleh: lemahnya kemampuan untuk memerhatikan; lemahnya ketertarikan terhadap objek yang diperhatikan; atau intensitas yang kuat, keunikan, atau keelokan dari sesuatu yang lain daripada objek yang diperhatikan. Distraksi datang baik dari sumber luar dan sumber dalam.

Ide Tulisan Ini

Saya asing membaca judul “distraction free” pada posting Sudobits tersebut. Saat itu muncul di benak saya “Apa itu distraksi? Mengapa orang-orang sudah lebih dulu menyadarinya? Dan mengapa sampai dibela-bela membuat software-nya segala? Ah, pasti distraction free ini sesuatu yang sangat penting dilihat dari respon programernya“. Ternyata terjawab secara visual dengan skrinsot di bawahnya. Luar biasa. Ternyata distraction free yang dimaksud adalah bebas dari distraksi dalam menulis. Layar dihalau oleh satu warna saja, semua tombol hilang, hanya ada teks. Oh, luar biasa. Ternyata itulah langkah menghilangkan distraksi yang diimplementasikan programer ke dalam aplikasinya. Akhirnya saya paham maksudnya. Agar pengguna fokus pada bidangnya.

Ada Apa dengan Distraksi?

Distraksi adalah musuh setiap pelajar. Musuh setiap penulis. Musuh setiap programer. Musuh setiap packager. Musuh setiap maintainer. Dan pokoknya musuh bagi setiap orang yang ingin fokus, meski mereka tidak tahu bahwa mereka butuh fokus. Distraksi adalah segala aspek gangguan yang mengalihkan perhatian kita kala berkonsentrasi.

Yang saya mau bahas dalam esai ini adalah distraksi di dalam bidang:

  1. Linux (desktop)
  2. Kehidupan sehari-hari

Kejelekan Distraksi

Distraksi mengakibatkan:

  1. kerjaan Anda tidak kunjung selesai,
  2. waktu terbuang,
  3. tenaga terbuang,
  4. Anda menjadi pelupa,
  5. kemampuan konsentrasi Anda menurun,
  6. sebuah sistem bekerja tidak semestinya,
  7. Anda mendapat nilai jelek di sekolah,
  8. Anda terjangkit sifat plin-plan.

SATU :: Distraksi di Linux (Desktop)

Ada apa dengan Linux dan distraksi? Saya akhirnya menemukan satu hal yang menarik mengenai jawaban. Ya, mengenai bagaimana dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial soal Linux (desktop).

  • Mengapa Linux tidak disukai? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa Linux dihindari oleh banyak pengguna komputer? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa pengguna awam bingung dengan Linux? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Apa contoh distraksi di Linux? Terminal, konfigurasi teknis, jumlah distro, jumlah varian destop dalam satu distro, kecepatan rilis distro, dependensi paket, dan komunitas yang sebagiannya tidak mengerti cara menjawab pertanyaan orang.
  • Apa alasan orang kembali kepada Windows setelah menggunakan Linux? Karena orang menghindari distraksi.

Cantik sekali pengetahuan tentang distraksi ini. Sekali tahu, saya langsung bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut. Alhamdulillah, sekarang jadi mudah sekali menjawabnya.  Nah, bagi yang belum paham, mungkin bertanya: “…apa alasan Anda menyatakan hal-hal tersebut sebagai distraksi?” Maka mudah menjawabnya: karena pengguna hanya butuh fungsionalitas sebuah OS (baca: fokus). Maka dari itu Anda akan sering sekali melihat marketing…this x just work..“. Ya, mereka yang marketing dengan dua kata just work memahami bahwa pengguna butuh OS yang langsung kerja, pengguna tidak butuh distraksi. Yah, walaupun yang marketing sendiri paham OS dia tidak betul-betul just work. Namun dua kata just work inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh pengguna. Oleh karena itu janganlah Anda heran jika ada pengguna baru yang beralih pandang dari Ubuntu ke Linux Mint. Alasannya adalah mencari OS yang just work. Dia menghindari distraksi.

Oleh karena itu juga,

  • janganlah Anda heran atau malah marah-marah kalau orang meninggalkan Linux. Ya, meninggalkan OS yang Anda sukai dan Anda promosikan ke mana-mana.
  • Janganlah Anda heran betapa pengguna Windows sangat protektif dengan sistem mereka, yakni dengan meminta cara instalasi lewat WUBI kepada Anda.
  • Janganlah Anda heran juga jika banyak pengguna Linux dan Windows, bahkan developer Linux, menggunakan Mac OS X. Sebuah OS yang dinilai paling less distraction alias the most just work OS di dunia ini.
  • Dan jangan heran pula apalagi sampai menyindir orang sana-sini jika orang meninggalkan OS racikan Anda jika OS tersebut tidaklah lebih less distraction daripada Windows atau OS lainnya.

Mengapa OS Harus Less Distraction?

Jawaban yang sama dengan mengapa saya pakai keterangan (desktop) di atas. Jawabannya adalah semua pengguna OS di Indonesia adalah pengguna OS desktop. Maka, kalau mau memberikan OS alternatif kepada mereka, OS tersebut harus dibuat lebih less distraction dibandingkan OS yang banyak dipakai pengguna OS desktop (baca: Windows). Tidak pada tempatnya jika memberikan solusi alternatif dengan OS yang bukan untuk desktop, yang aslinya dibuat untuk server, yang distraksi ala servernya masih tersisa. Jika suatu OS memiliki terlalu banyak distraksi, maka tujuan asli pengguna memakai OS tersebut tidak tercapai. Hasilnya di antaranya:

  • Menghapus OS tersebut.
  • Menggantinya dengan Windows.
  • Beralih ke Mac OS X meskipun harus mengeluarkan uang banyak.

Lebih Jauh Soal Distraksi Linux

Bagaimana menjelaskan jawabannya? Apakah kita jawab begitu saja lalu kita biarkan? Tidak. Ini penjelasannya.

  • Kondisi dasar psikis pengguna: ingin komputernya berfungsi semestinya. Yakni bisa mengetik, mendengar suara, memutar video, internetan, dan membaca teks. Kita batasi dahulu pada 5 hal ini.
  • Kaidah dasar 1: pengguna tidak pernah butuh OS, mereka hanya butuh aplikasi.
  • Kaidah dasar 2: pengguna menggunakan 1 OS dalam 1 komputer.
  • Kondisi lapangan: semua pengguna komputer Indonesia membeli komputer dengan prainstal Windows beserta aplikasi lengkap di dalamnya. Artinya, OS sudah diinstalkan oleh orang lain dan dia just work saja dengan OS yang ada (dia menyebutnya: komputer).
  • Kondisi pengguna Linux tahap 1: dia harus menginstal OS-nya sendiri. Masalah sudah timbul. Kenyataannya, pengguna sudah bingung kala melihat halaman unduh ISO Linux yang bejibun banyak berkas teknis. Ketika ingin menginstal, dia masih harus tanya bagaimana menggunakan ISO yang akan diunduh. Lalu masih harus bingung memilih media instalasi: CD/DVD/FDD/HDD. Lihat saja banyak orang tanya soal menginstal Linux dari flash disk drive (FDD). Dari sini sudah terlihat sekali alangkah banyak distraksinya. Ingat, sebagian besar pengguna tidak suka hal-hal teknis apalagi instalasi OS. Mereka jenis pengguna yang memiliki kekhawatiran besar. Mereka lebih senang menyerahkan masalah teknis pada ahlinya.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 2: dia harus menyelesaikan instalasinya. Ingat, bagian ini sungguh terpisah dari tahap 1. Karena semua pengguna pada awal menggunakan Linux selalu dual boot, atau menggunakan WUBI minimalnya, maka dia ada kemungkinan besar gagal dalam instalasinya. Gagal instal ini macam-macam. Yang paling parah seluruh data pada semua partisi hilang termasuk skripsi dan data RT/RW (sudah terjadi di hadapan saya dan orangnya langsung bersedih hati). Yang tidak seberapa paling-paling Windows dia tidak bisa booting, atau si Linux dia yang gagal booting. Pada kondisi gagal, dia pasti mencari bantuan. Kondisi bertambah buruk saat dia bertanya di internet dan dijawab oleh orang-orang yang tidak tahu cara menjawab. Dia merasa dipermainkan atau paling tidak merasa diejek. Tidak usah menyangkalnya, terjadi di hadapan saya juga. Lihat, distraksi semakin bertambah. Padahal belum menggunakan.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 3: setelah instalasi berhasil (bagaimana pun caranya), dia harus melakukan konfigurasi. Ini pasti terjadi (pengecualian untuk saya yang *beruntung* tidak pakai instal driver apa-apa). Kenyataannya, sangat banyak pengguna yang punya hardware mahal, eh setelah instal Linux hardware dia tidak dikenali. Harus internetan dulu. Internetan tidak segampang yang kita kira (baca: tidak segampang di Windows) karena modem AC682/CE682 yang dimilikinya jelas tidak bisa internetan di Linux tanpa konfigurasi. Dan konfigurasi tak mungkin diketahui tanpa internet. Masalah yang rekursif, bukan? Akhirnya dia tetap berusaha memecahkan masalah dengan warnet. Akhirnya dia bolak-balik ke warnet jika gagal. Anggap saja berhasil, belum tentu dia bisa dapatkan OS yang just work sendirian. Entah masalah kodek, masalah upgrade, masalah internetnya, masalah tampilan yang tiba-tiba hilang, masalah GRUB error, dan lain sebagainya. Perhatikan, tahap ini termasuk yang sangat berat karena distraksinya keterlaluan kalau misalnya dia gagal di modemnya dan tidak ada solusi eksternal. Distraksi semakin menjadi.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 4: setelah dia dapatkan destop yang just work, masih ada Terminal yang harus dia pakai setiap hari. Baca kondisi dasar psikis pengguna kembali di atas. Apalagi setelah dia coba sendiri mengunduh tarball dan dia kompilasi sendiri. Sangat membingungkan dan bikin waktu terbuang. Apa? Dependency hells! Ini distraksi besar. Ini membuat Linux tidak cocok digunakan orang yang bukan teknikal, orang yang tidak coba-coba.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 5: setelah dia bisa menggunakan Linux, dan sudah merasa nyaman, dia bingung dengan jadwal upgrade yang kelewat canggih: 6 bulan sekali. Upgrade pun meragukan: berhasil dengan baik atau malah error? Distraksi masih bertambah.
  • Di luar 5 kondisi tersebut: pengguna masih didistraksikan oleh pilihan 300 lebih jumlah Linux yang ada. Masih ditambah distraksi oleh jumlah varian dalam 1 rilis distro. Misalnya ada Mint Debian Edition, Mint Cinnamon, Mint Mate, Mint KDE, Mint XFCE, itu semua dikalikan 2 dengan jenis arsitekturnya. Betapa banyak yang harus dihafal oleh pengguna untuk sekadar ingin OS saja. Jelas bahwa distraksinya terlalu banyak?

Oh iya, jika ada pengguna yang lolos dari keenam tahap distraksi ini, maka dia survive menjadi pengguna Linux. Namun itu tidak menjamin dia akan betah dengan Linux. Jangan sombong. Sang pencipta GNOME, sang hacker yang sesungguhnya (bukan yang abal-abal seperti di Indonesia), telah berhenti menggunakan Linux untuk beralih total ke Mac. Siapa dia? Ya, dialah Miguel de Icaza. Tidak tanggung-tanggung, ini orang pencipta GNOME. Destop yang Anda sekarang pakai itu. Destop yang oleh Ubuntu dimodifikasi menjadi Unity, oleh Mint jadi Cinnamon dan MATE, oleh Zorin menjadi Zorin DE. Pemahaman sistem dia tidak sebanding dengan newbie seperti kita, apalagi kemampuan pemrogramannya. Orang seperti dia saja tidak tahan dengan distraksinya Linux. Tidak bisa disalahkan, itu sudah hak dia mutlak. Dan itu malah menjadi pertanda besar sekali bahwa Linux masih belum sempurna. Linux (desktop) haus penyederhanaan dan fokus.

Mungkinkah Lepas…

…dari distraksi? Tidak bisa. Distraksi tidak dapat dibuang 100%. Distraksi hanya bisa dikurangi. Windows pun memiliki banyak distraksi. Namun Linux memilikinya lebih banyak, setidaknya hingga hari ini. Sampai kapan pun Linux tidak mungkin menjadi mainstream jika distraksinya tidak dipangkas hingga menjadi lebih kecil dibanding lawannya. Terlihat, bukan? Dengan wawasan tentang distraksi, ekspresi yang sulit macam ini akan mudah dilakukan.

Windows vs Linux

Bagaimana menjawab setiap header Windows vs Linux di dunia maya? Dan setiap pertanyaan pemula yang sama? Bagaimana agar objektif? Tawaran saya sederhana sekali. Bandingkan saja distraksinya. Mana yang lebih banyak, maka itu yang kalah. Yang sedikit distraksinya, maka itu yang menang. Itulah OS yang bakal dipilih oleh pengguna.

Haruskah Distraksi Dikurangi dari Linux? Bisakah?

Ya. Jawabannya tegas: ya. Jika kita ingin di masa depan teman dan adik kita semua menikmati Linux juga. Dan itu bisa dilakukan selama para developer sadar Linux ada kekurangan. Maka tulisan semacam ini atau yang lebih baik harus ada dan dibiarkan berkembang. Tidaklah mungkin  ayah dan ibu kita menggunakan Linux jika distraksinya masih juga seperti sekarang. Linux harus disederhanakan dan dibuang distraksi-distraksinya jauh-jauh.

Apa contohnya? Android. Tidakkah Anda yang mempromosikan Linux ke mana-mana cemburu dengan kesuksesan Android? Tidakkah Anda berusaha mencari sebab kesuksesannya? Di antaranya adalah Android mengurangi distraksi Linux dengan sangat ekstrem. Satu bukti nyatanya adalah APK. Nikmat sekali bukan, instalasi aplikasi hanya dari satu buah berkas saja? Seperti EXE? Lantas mengapa ini tidak juga ditiru oleh pemilik Linux desktop? Mengapa-oh-mengapa, ini hanyalah satu contoh. Yang lainnya bisa Anda pikirkan sendiri. Yang jelas, di dunia Linux sekalipun, distraksi adalah musuh. Camkan, distraksi adalah musuh!

DUA :: Distraksi di Kehidupan Sehari-Hari

Seringkah Anda merasa bahwa kerjaan Anda tidak kunjung selesai? Penyebab paling besarnya adalah distraksi. Entah sumber distraksinya adalah teman Anda yang mengajak bercanda, entah anak Anda lucu, entah apa lagi. Banyak sekali distraksi dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita lalai dari tujuan. Karena kehidupan sehari-hari itu luas, maka saya batasi hanya pada 3 hal ini:

  • Orang yang sederhana
  • Orang yang fokus
  • Orang yang to the point

karena sebenarnya inti pada poin distraksi kedua ini adalah kekaguman. Seperti pendapat saya dulu: Anda baru bisa memahami kehebatan orang ketika Anda sudah sehebat dia atau minimal Anda tahu pasti letak kehebatannya.

Mengenai Orang yang Sederhana

Baik dalam harta, dalam kuasa, dan dalam bicara. Sungguh luar biasa orang yang sederhana itu. Orang yang sederhana betul-betul biasanya paham bahwa harta, kuasa, dan banyak bicara adalah distraksi. Orang yang sederhana itu tidaklah banyak bicara. Namun yang dia lakukan luar biasa. Orang yang sederhana itu tidak mempermasalahkan dirinya jikalau dia tidak berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak memasukkan harta ke dalam hatinya kala dia berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak neka-neka kelakuannya. Cukup berjalan pada garisnya. Orang yang sederhana itu sungguh orang yang berilmu. Saya ingat kutipan dari Willibrordus Surendra bahwa kekuatan sebuah puisi terletak pada kesederhanaannya. Wow, simplicity is everywhere! Bahkan orang dan sastra pun akan baik jika sederhana. To be simple is difficult.

Mengenai Orang yang Fokus

Susah menjadi orang yang fokus. Apalagi bagi seorang otodidak. Distraksi di mana-mana. Ingin belajar ini, ingin belajar itu, besok ada bahasa pemrograman baru pengen, ada software baru pengen, dan lain-lain. Sayangnya realitas berkata bahwa orang yang bersinar selalu orang yang fokus. Orang yang menjadi ahli dalam satu bidang dan pikiran dia tidak bercabang. Sulit untuk menjadi orang seperti itu. Akan tetapi mau tidak mau kita akan menuju ke sana. Tidaklah mungkin menjadi seorang generalis, karena Anda hanya bisa ada di satu tempat dalam satu waktu. Sedangkan orang yang fokus telah mengalahkan distraksinya. Luar biasa orang-orang yang fokus.

Mengenai Orang yang To The Point

Barangkali kita tak suka orang yang demikian. Akan tetapi, renungkan kembali. Seringkali justru karenanya motivasi kita bangkit. Karena orang macam ini berusaha menghilangkan distraksi dari orang lain. Sebenarnya orang yang to the point adalah model dari orang sederhana. Cuma, di sini saya eksklusifkan. Tidak hanya pada orang lain. Orang yang to the point bisa langsung mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Namanya juga to the point. Dan orang macam ini sedikit jumlahnya. Kebanyakan orang terkalahkan oleh distraksi. Entah karena dia ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin main-main. Luar biasa sulit. Sungguh luar biasa orang yang to the point.

Kesimpulan

Sederhana saja. Esai ini hanya nasihat.

  1. Distraksi adalah musuh.
  2. Jadilah orang yang memusuhi distraksi.
  3. Jadilah orang yang memusuhi distraksi bagi orang lain.
  4. Mari membuang distraksi-distraksi di Linux (desktop).

Semoga bermanfaat.

Iklan

13 thoughts on “Memusuhi Distraksi!

  1. Alakulihal

    Luar tulisan kang Malsasa yang ini, hanya orang yang mementingkan psikologis dan marketing yang bisa menulis ini. Alangkah baiknya para developer memahami hal ini, karena kita bukan robot.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Marketing dan psikologi, dua hal yang saya baru sadari sebagai bakat terpendam saya. Hanya saja psikologi lebih dulu. Ya alhamdulillah, saya bersyukur akan itu.

      Namun, sepertinya ada kontradiksi dari pernyataan akang. Developer tidak akan sadar karena mereka adalah developer. Hanya orang yang menekuni marketing yang bisa mengatur para programer, dalam satu visi yang jelas. Dan hanya orang yang dekat pemahamannya dengan psikologi, yang bisa memahami pengguna akhir. Maka itu Microsoft dan Apple bisa laris dagangannya walau mahal. Ya, leadership dan careness itu sangat penting.

      FOSS?

      Balas
  2. senosuke

    Saya sudah merasakan hal ini cukup lama, itulah mengapa saya pindah dari Ubuntu ke LinuxMint Debian Edition persis seperti argumen yang Kade Malsasa sampaikan…
    Coba-coba distro malah bikin pusing dan ga fokus…
    Mantap tulisannya

    Keep posting

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Benar, semua orang yang masih juga mencari-cari distro, pada dasarnya dia belum menentukan tujuan menggunakan Linux. Ide tulisan ini salah satunya adalah email dari Taufan Lubis yang menyatakan bahwa orang yang menggunakan Linux itu, ada dua macam :

      1) orang yang iseng,
      2) orang yang banyak waktu.

      Saya nyatakan benarlah yang Bapak Taufan Lubis katakan. Mulai dari email dari Bapak taufan Lubis ini pengetahuan saya mulai merambah distraksi sedikit demi sedikit, dan itu enak sekali. Dan gara-gara Bang Berly saya mendapat banyak wawasan soal Mac OS. Ya, sebuah OS selayaknya bebas dari distraksi. Sampai hari ini saya masih menantikan revolusi besar di bagian sistem instalasi aplikasi di Linux.

      Soal LMDE akang, itu adalah hak mutlak akang sendiri. Saya tidak bakal mengganggunya. Hanya saja, dalam rekomendasi, saya selalu merekomendasikan Ubuntu sebagai awal. Masalah nomor satu di OS mana pun adalah hardware. Jika LMDE memperlancar kinerja akang secara keseluruhan, maka jangan ganti OS. Saya khawatir itu akan menurunkan produktivitas.

      Pembicaraan kita berdua ini, saya rasa, adalah pembicaraan yang sewajarnya. Sewajarnya karena selama ini kita di komunitas seringkali tidak wajar dalam mendayagunakan komputer yang ada (baca: merangkul distraksi). Terima kasih atas tambahan wawasan dari akang.

      Balas
  3. Ping balik: Desain Sederhana Menggunakan Fotografi dan Eksplorasi Tipografi | Tutorial Desain Inkscape

  4. Andika

    Trims ilmunya Bang…
    saya bayangkan sbuah OS yg secure, stabil, mudah dicustom sprti Linux tpi juga easy to use, gampang skali dipelajari, sistem yg serba mudah serta ekosistem aplikasi sprti Windows…
    Mungkin Android jika dibuat versi dekstop, habislah Windows…

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Ilmu yang saya tulis di sini tidak ada apa-apanya kok, Kang. Beneran. Adapun keinginan akang, logis dan saya pun juga berpikir seperti itu. Sayang sekali banyak pengguna Linux Indonesia tidak bisa berpikir logis dan objektif seperti akang ini :)

      Balas
  5. Adam

    Tulisan yang mencerahkan, kang
    ternyata selama ini terlalu banyak distraksi yang saya alami dalam hidup saya yg akibatnya kerjaan lama selesai, goal tidak tercapai …

    syukron nih

    Balas
  6. Ping balik: The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear | Ade Malsasa Akbar

  7. Ping balik: Kumpulan Esai Kritik Saya | RESTAVA

  8. alfaalkaafkaaf

    Bagus tulisannya (udah kayak paper, komprehensif) :D . temen saya yang bawa saya kesini soalnya abis debat mengenai pembuatan os dari remastering. Dia bilang kalo itu salah satu distraksi, dia bilang kalo sama aja pake distro awal terus install aja aplikasi yang baru.

    nah setelah saya pikir-pikir. sepertinya distraksi merupakan dampak dari open-source. semua orang bebas mengembangkan, bebas membuat versinya tersendiri, bebas melakukan apapun dengan yang dia buat, hal tersebut yang buat linux makin banyak distraksi.

    Android merupakan pemangkasan distraksi? saya pikir tidak. cuman pindah platform aja dari desktop menjadi mobile. sekali lagi, android juga open-source, walaupun secara tidak resmi namun legal, android punya custom-rom yang tidak kalah banyaknya dengan distro linux. untuk pengguna yang android advance dan ingin fokus tentu ini akan menjadi distraksi. Android untuk pc? sudah ada. tinggal masalah waktu dan minat saja hingga para pendistraksi keluar dan makin banyak.

    “Rumput liar sangat cepat di tanah yang subur. Membasminya yaitu dengan cara membuat tandus tanahnya”

    Saya kira cara tepat untuk menghilangkan distraksi linux yang bejibun yaitu mengubahnya menjadi closed-source. penggunaan source code untuk pengembangan sendiri terbatas ataupun tidak ada. lisensi diubah menjadi berbayar.

    Sekian semoga menjadi bahan pemikiran yang bermanfaat :D

    Balas

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s