Arsip Kategori: Pengalaman

Beberapa Perkakas Menarik dari Google Webmaster Tools


Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Tulisan ini lanjutan dari tulisan Google Sandbox sebelumnya. Karena mencoba-coba, akhirnya saya mengaktifkan kembali akun Webmaster saya yang lama mati. Sangat mudah digunakan seperti biasa. Langsung saja berikut yang saya temukan di dalamnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Google Sandbox, Chromium PageRank Status, dan Revisi Revitalisasi


Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Segala peristiwa mengandung hikmah Allah Yang Mahatinggi. Sekarang justru saya mendapatkan Google Chrome Extension bernama PageRank Status. Ekstensi ini persis seperti PageRank Toolbar di Firefox hanya saja ia lebih canggih. Selain menayangkan bar nilai, jika bar itu diklik, maka akan muncul menu yang komprehensif sekali soal SEO. Ada daftar penilaian dari berbagai mesin pencari raksasa dunia, jumlah inside dan outside links, bahkan page speed meter dan HTML analyzer juga ada. Lengkap betul. Tentu saja saya menginstal ekstensi ini tidak pada Google Chrome tetapi di Chromium, browser favorit saya. Semoga kelak muncul tulisan kumpulan ekstensi Chrome yang bagus di Chromium. Semoga tulisan ini bermanfaat. Baca lebih lanjut

Membuat Peta Situs (Sitemap) di WordPress.com


Bismillahirrahmanirrahim.

Sangat mudah. Ketik saja archives (diapit tanda kurung siku) di dalam HTML mode pada suatu halaman. Buktinya adalah peta situs blog ini.

petasitus1

Saya melihat banyak SERP berbahasa Indonesia tetapi kurang informatif judul-judulnya. Akhirnya saya putuskan langsung buat sendiri dengan tambahan .com karena saya cuma butuh peta situs untuk blog WordPress.com saya. Semoga bermanfaat.

Sumber inspirasihttp://myzandi.wordpress.com/2010/08/17/membuat-sitemap-di-wordpress-membuat-daftar-isi-otomatis/

Memusuhi Distraksi!


Sudah lama tidak menulis bebas. Sebenarnya sesaat setelah esai Menyoal Kebebasan diterbitkan, saya ingin langsung menulis esai ini. Namun saya lupa apa yang mau ditulis. Baru jam 00.24 ini saya ingat. Ya, saya harus menulis tentang distraksi. Tentang satu kata yang menggugah selera berpikir saya semenjak saya tahu ada kata ini dalam Bahasa Inggris. Kapan? Sejak 4 bulan lalu saya mengunjungi laman ini: http://blog.sudobits.com/2012/07/14/distraction-free-writing-applicationstools-for-ubuntu-12-04/. Saya sangat tergugah dan bersemangat gara-gara tahu kata distraksi ini. Akhirnya saya ke sana kemari cari artinya sampai tersasar di Wikipedia dan memperoleh buku berbahasa Indonesia yang membahas distraksi secara psikologis. Luar biasa dampaknya!

Apa itu Distraksi?

Saya menganggap distraksi adalah pengalih perhatian. Perusak fokus. Penarik hati kepada sesuatu yang tidak perlu. Itu definisi distraksi versi saya. Ada versi Wikipedia yang demikian:

Distraction is the divided attention of an individual or group from the chosen object of attention onto the source of distraction. Distraction is caused by: the lack of ability to pay attention; lack of interest in the object of attention; or the great intensity, novelty or attractiveness of something other than the object of attention. Distractions come from both external sources, and internal sources.

Kalau diterjemahkan bebas:

Distraksi adalah perhatian yang terbagi dari sebuah atau kelompok objek yang dipilih untuk diperhatikan kepada sumber dari distraksi. Distraksi disebabkan oleh: lemahnya kemampuan untuk memerhatikan; lemahnya ketertarikan terhadap objek yang diperhatikan; atau intensitas yang kuat, keunikan, atau keelokan dari sesuatu yang lain daripada objek yang diperhatikan. Distraksi datang baik dari sumber luar dan sumber dalam.

Ide Tulisan Ini

Saya asing membaca judul “distraction free” pada posting Sudobits tersebut. Saat itu muncul di benak saya “Apa itu distraksi? Mengapa orang-orang sudah lebih dulu menyadarinya? Dan mengapa sampai dibela-bela membuat software-nya segala? Ah, pasti distraction free ini sesuatu yang sangat penting dilihat dari respon programernya“. Ternyata terjawab secara visual dengan skrinsot di bawahnya. Luar biasa. Ternyata distraction free yang dimaksud adalah bebas dari distraksi dalam menulis. Layar dihalau oleh satu warna saja, semua tombol hilang, hanya ada teks. Oh, luar biasa. Ternyata itulah langkah menghilangkan distraksi yang diimplementasikan programer ke dalam aplikasinya. Akhirnya saya paham maksudnya. Agar pengguna fokus pada bidangnya.

Ada Apa dengan Distraksi?

Distraksi adalah musuh setiap pelajar. Musuh setiap penulis. Musuh setiap programer. Musuh setiap packager. Musuh setiap maintainer. Dan pokoknya musuh bagi setiap orang yang ingin fokus, meski mereka tidak tahu bahwa mereka butuh fokus. Distraksi adalah segala aspek gangguan yang mengalihkan perhatian kita kala berkonsentrasi.

Yang saya mau bahas dalam esai ini adalah distraksi di dalam bidang:

  1. Linux (desktop)
  2. Kehidupan sehari-hari

Kejelekan Distraksi

Distraksi mengakibatkan:

  1. kerjaan Anda tidak kunjung selesai,
  2. waktu terbuang,
  3. tenaga terbuang,
  4. Anda menjadi pelupa,
  5. kemampuan konsentrasi Anda menurun,
  6. sebuah sistem bekerja tidak semestinya,
  7. Anda mendapat nilai jelek di sekolah,
  8. Anda terjangkit sifat plin-plan.

SATU :: Distraksi di Linux (Desktop)

Ada apa dengan Linux dan distraksi? Saya akhirnya menemukan satu hal yang menarik mengenai jawaban. Ya, mengenai bagaimana dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial soal Linux (desktop).

  • Mengapa Linux tidak disukai? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa Linux dihindari oleh banyak pengguna komputer? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa pengguna awam bingung dengan Linux? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Apa contoh distraksi di Linux? Terminal, konfigurasi teknis, jumlah distro, jumlah varian destop dalam satu distro, kecepatan rilis distro, dependensi paket, dan komunitas yang sebagiannya tidak mengerti cara menjawab pertanyaan orang.
  • Apa alasan orang kembali kepada Windows setelah menggunakan Linux? Karena orang menghindari distraksi.

Cantik sekali pengetahuan tentang distraksi ini. Sekali tahu, saya langsung bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut. Alhamdulillah, sekarang jadi mudah sekali menjawabnya.  Nah, bagi yang belum paham, mungkin bertanya: “…apa alasan Anda menyatakan hal-hal tersebut sebagai distraksi?” Maka mudah menjawabnya: karena pengguna hanya butuh fungsionalitas sebuah OS (baca: fokus). Maka dari itu Anda akan sering sekali melihat marketing…this x just work..“. Ya, mereka yang marketing dengan dua kata just work memahami bahwa pengguna butuh OS yang langsung kerja, pengguna tidak butuh distraksi. Yah, walaupun yang marketing sendiri paham OS dia tidak betul-betul just work. Namun dua kata just work inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh pengguna. Oleh karena itu janganlah Anda heran jika ada pengguna baru yang beralih pandang dari Ubuntu ke Linux Mint. Alasannya adalah mencari OS yang just work. Dia menghindari distraksi.

Oleh karena itu juga,

  • janganlah Anda heran atau malah marah-marah kalau orang meninggalkan Linux. Ya, meninggalkan OS yang Anda sukai dan Anda promosikan ke mana-mana.
  • Janganlah Anda heran betapa pengguna Windows sangat protektif dengan sistem mereka, yakni dengan meminta cara instalasi lewat WUBI kepada Anda.
  • Janganlah Anda heran juga jika banyak pengguna Linux dan Windows, bahkan developer Linux, menggunakan Mac OS X. Sebuah OS yang dinilai paling less distraction alias the most just work OS di dunia ini.
  • Dan jangan heran pula apalagi sampai menyindir orang sana-sini jika orang meninggalkan OS racikan Anda jika OS tersebut tidaklah lebih less distraction daripada Windows atau OS lainnya.

Mengapa OS Harus Less Distraction?

Jawaban yang sama dengan mengapa saya pakai keterangan (desktop) di atas. Jawabannya adalah semua pengguna OS di Indonesia adalah pengguna OS desktop. Maka, kalau mau memberikan OS alternatif kepada mereka, OS tersebut harus dibuat lebih less distraction dibandingkan OS yang banyak dipakai pengguna OS desktop (baca: Windows). Tidak pada tempatnya jika memberikan solusi alternatif dengan OS yang bukan untuk desktop, yang aslinya dibuat untuk server, yang distraksi ala servernya masih tersisa. Jika suatu OS memiliki terlalu banyak distraksi, maka tujuan asli pengguna memakai OS tersebut tidak tercapai. Hasilnya di antaranya:

  • Menghapus OS tersebut.
  • Menggantinya dengan Windows.
  • Beralih ke Mac OS X meskipun harus mengeluarkan uang banyak.

Lebih Jauh Soal Distraksi Linux

Bagaimana menjelaskan jawabannya? Apakah kita jawab begitu saja lalu kita biarkan? Tidak. Ini penjelasannya.

  • Kondisi dasar psikis pengguna: ingin komputernya berfungsi semestinya. Yakni bisa mengetik, mendengar suara, memutar video, internetan, dan membaca teks. Kita batasi dahulu pada 5 hal ini.
  • Kaidah dasar 1: pengguna tidak pernah butuh OS, mereka hanya butuh aplikasi.
  • Kaidah dasar 2: pengguna menggunakan 1 OS dalam 1 komputer.
  • Kondisi lapangan: semua pengguna komputer Indonesia membeli komputer dengan prainstal Windows beserta aplikasi lengkap di dalamnya. Artinya, OS sudah diinstalkan oleh orang lain dan dia just work saja dengan OS yang ada (dia menyebutnya: komputer).
  • Kondisi pengguna Linux tahap 1: dia harus menginstal OS-nya sendiri. Masalah sudah timbul. Kenyataannya, pengguna sudah bingung kala melihat halaman unduh ISO Linux yang bejibun banyak berkas teknis. Ketika ingin menginstal, dia masih harus tanya bagaimana menggunakan ISO yang akan diunduh. Lalu masih harus bingung memilih media instalasi: CD/DVD/FDD/HDD. Lihat saja banyak orang tanya soal menginstal Linux dari flash disk drive (FDD). Dari sini sudah terlihat sekali alangkah banyak distraksinya. Ingat, sebagian besar pengguna tidak suka hal-hal teknis apalagi instalasi OS. Mereka jenis pengguna yang memiliki kekhawatiran besar. Mereka lebih senang menyerahkan masalah teknis pada ahlinya.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 2: dia harus menyelesaikan instalasinya. Ingat, bagian ini sungguh terpisah dari tahap 1. Karena semua pengguna pada awal menggunakan Linux selalu dual boot, atau menggunakan WUBI minimalnya, maka dia ada kemungkinan besar gagal dalam instalasinya. Gagal instal ini macam-macam. Yang paling parah seluruh data pada semua partisi hilang termasuk skripsi dan data RT/RW (sudah terjadi di hadapan saya dan orangnya langsung bersedih hati). Yang tidak seberapa paling-paling Windows dia tidak bisa booting, atau si Linux dia yang gagal booting. Pada kondisi gagal, dia pasti mencari bantuan. Kondisi bertambah buruk saat dia bertanya di internet dan dijawab oleh orang-orang yang tidak tahu cara menjawab. Dia merasa dipermainkan atau paling tidak merasa diejek. Tidak usah menyangkalnya, terjadi di hadapan saya juga. Lihat, distraksi semakin bertambah. Padahal belum menggunakan.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 3: setelah instalasi berhasil (bagaimana pun caranya), dia harus melakukan konfigurasi. Ini pasti terjadi (pengecualian untuk saya yang *beruntung* tidak pakai instal driver apa-apa). Kenyataannya, sangat banyak pengguna yang punya hardware mahal, eh setelah instal Linux hardware dia tidak dikenali. Harus internetan dulu. Internetan tidak segampang yang kita kira (baca: tidak segampang di Windows) karena modem AC682/CE682 yang dimilikinya jelas tidak bisa internetan di Linux tanpa konfigurasi. Dan konfigurasi tak mungkin diketahui tanpa internet. Masalah yang rekursif, bukan? Akhirnya dia tetap berusaha memecahkan masalah dengan warnet. Akhirnya dia bolak-balik ke warnet jika gagal. Anggap saja berhasil, belum tentu dia bisa dapatkan OS yang just work sendirian. Entah masalah kodek, masalah upgrade, masalah internetnya, masalah tampilan yang tiba-tiba hilang, masalah GRUB error, dan lain sebagainya. Perhatikan, tahap ini termasuk yang sangat berat karena distraksinya keterlaluan kalau misalnya dia gagal di modemnya dan tidak ada solusi eksternal. Distraksi semakin menjadi.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 4: setelah dia dapatkan destop yang just work, masih ada Terminal yang harus dia pakai setiap hari. Baca kondisi dasar psikis pengguna kembali di atas. Apalagi setelah dia coba sendiri mengunduh tarball dan dia kompilasi sendiri. Sangat membingungkan dan bikin waktu terbuang. Apa? Dependency hells! Ini distraksi besar. Ini membuat Linux tidak cocok digunakan orang yang bukan teknikal, orang yang tidak coba-coba.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 5: setelah dia bisa menggunakan Linux, dan sudah merasa nyaman, dia bingung dengan jadwal upgrade yang kelewat canggih: 6 bulan sekali. Upgrade pun meragukan: berhasil dengan baik atau malah error? Distraksi masih bertambah.
  • Di luar 5 kondisi tersebut: pengguna masih didistraksikan oleh pilihan 300 lebih jumlah Linux yang ada. Masih ditambah distraksi oleh jumlah varian dalam 1 rilis distro. Misalnya ada Mint Debian Edition, Mint Cinnamon, Mint Mate, Mint KDE, Mint XFCE, itu semua dikalikan 2 dengan jenis arsitekturnya. Betapa banyak yang harus dihafal oleh pengguna untuk sekadar ingin OS saja. Jelas bahwa distraksinya terlalu banyak?

Oh iya, jika ada pengguna yang lolos dari keenam tahap distraksi ini, maka dia survive menjadi pengguna Linux. Namun itu tidak menjamin dia akan betah dengan Linux. Jangan sombong. Sang pencipta GNOME, sang hacker yang sesungguhnya (bukan yang abal-abal seperti di Indonesia), telah berhenti menggunakan Linux untuk beralih total ke Mac. Siapa dia? Ya, dialah Miguel de Icaza. Tidak tanggung-tanggung, ini orang pencipta GNOME. Destop yang Anda sekarang pakai itu. Destop yang oleh Ubuntu dimodifikasi menjadi Unity, oleh Mint jadi Cinnamon dan MATE, oleh Zorin menjadi Zorin DE. Pemahaman sistem dia tidak sebanding dengan newbie seperti kita, apalagi kemampuan pemrogramannya. Orang seperti dia saja tidak tahan dengan distraksinya Linux. Tidak bisa disalahkan, itu sudah hak dia mutlak. Dan itu malah menjadi pertanda besar sekali bahwa Linux masih belum sempurna. Linux (desktop) haus penyederhanaan dan fokus.

Mungkinkah Lepas…

…dari distraksi? Tidak bisa. Distraksi tidak dapat dibuang 100%. Distraksi hanya bisa dikurangi. Windows pun memiliki banyak distraksi. Namun Linux memilikinya lebih banyak, setidaknya hingga hari ini. Sampai kapan pun Linux tidak mungkin menjadi mainstream jika distraksinya tidak dipangkas hingga menjadi lebih kecil dibanding lawannya. Terlihat, bukan? Dengan wawasan tentang distraksi, ekspresi yang sulit macam ini akan mudah dilakukan.

Windows vs Linux

Bagaimana menjawab setiap header Windows vs Linux di dunia maya? Dan setiap pertanyaan pemula yang sama? Bagaimana agar objektif? Tawaran saya sederhana sekali. Bandingkan saja distraksinya. Mana yang lebih banyak, maka itu yang kalah. Yang sedikit distraksinya, maka itu yang menang. Itulah OS yang bakal dipilih oleh pengguna.

Haruskah Distraksi Dikurangi dari Linux? Bisakah?

Ya. Jawabannya tegas: ya. Jika kita ingin di masa depan teman dan adik kita semua menikmati Linux juga. Dan itu bisa dilakukan selama para developer sadar Linux ada kekurangan. Maka tulisan semacam ini atau yang lebih baik harus ada dan dibiarkan berkembang. Tidaklah mungkin  ayah dan ibu kita menggunakan Linux jika distraksinya masih juga seperti sekarang. Linux harus disederhanakan dan dibuang distraksi-distraksinya jauh-jauh.

Apa contohnya? Android. Tidakkah Anda yang mempromosikan Linux ke mana-mana cemburu dengan kesuksesan Android? Tidakkah Anda berusaha mencari sebab kesuksesannya? Di antaranya adalah Android mengurangi distraksi Linux dengan sangat ekstrem. Satu bukti nyatanya adalah APK. Nikmat sekali bukan, instalasi aplikasi hanya dari satu buah berkas saja? Seperti EXE? Lantas mengapa ini tidak juga ditiru oleh pemilik Linux desktop? Mengapa-oh-mengapa, ini hanyalah satu contoh. Yang lainnya bisa Anda pikirkan sendiri. Yang jelas, di dunia Linux sekalipun, distraksi adalah musuh. Camkan, distraksi adalah musuh!

DUA :: Distraksi di Kehidupan Sehari-Hari

Seringkah Anda merasa bahwa kerjaan Anda tidak kunjung selesai? Penyebab paling besarnya adalah distraksi. Entah sumber distraksinya adalah teman Anda yang mengajak bercanda, entah anak Anda lucu, entah apa lagi. Banyak sekali distraksi dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita lalai dari tujuan. Karena kehidupan sehari-hari itu luas, maka saya batasi hanya pada 3 hal ini:

  • Orang yang sederhana
  • Orang yang fokus
  • Orang yang to the point

karena sebenarnya inti pada poin distraksi kedua ini adalah kekaguman. Seperti pendapat saya dulu: Anda baru bisa memahami kehebatan orang ketika Anda sudah sehebat dia atau minimal Anda tahu pasti letak kehebatannya.

Mengenai Orang yang Sederhana

Baik dalam harta, dalam kuasa, dan dalam bicara. Sungguh luar biasa orang yang sederhana itu. Orang yang sederhana betul-betul biasanya paham bahwa harta, kuasa, dan banyak bicara adalah distraksi. Orang yang sederhana itu tidaklah banyak bicara. Namun yang dia lakukan luar biasa. Orang yang sederhana itu tidak mempermasalahkan dirinya jikalau dia tidak berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak memasukkan harta ke dalam hatinya kala dia berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak neka-neka kelakuannya. Cukup berjalan pada garisnya. Orang yang sederhana itu sungguh orang yang berilmu. Saya ingat kutipan dari Willibrordus Surendra bahwa kekuatan sebuah puisi terletak pada kesederhanaannya. Wow, simplicity is everywhere! Bahkan orang dan sastra pun akan baik jika sederhana. To be simple is difficult.

Mengenai Orang yang Fokus

Susah menjadi orang yang fokus. Apalagi bagi seorang otodidak. Distraksi di mana-mana. Ingin belajar ini, ingin belajar itu, besok ada bahasa pemrograman baru pengen, ada software baru pengen, dan lain-lain. Sayangnya realitas berkata bahwa orang yang bersinar selalu orang yang fokus. Orang yang menjadi ahli dalam satu bidang dan pikiran dia tidak bercabang. Sulit untuk menjadi orang seperti itu. Akan tetapi mau tidak mau kita akan menuju ke sana. Tidaklah mungkin menjadi seorang generalis, karena Anda hanya bisa ada di satu tempat dalam satu waktu. Sedangkan orang yang fokus telah mengalahkan distraksinya. Luar biasa orang-orang yang fokus.

Mengenai Orang yang To The Point

Barangkali kita tak suka orang yang demikian. Akan tetapi, renungkan kembali. Seringkali justru karenanya motivasi kita bangkit. Karena orang macam ini berusaha menghilangkan distraksi dari orang lain. Sebenarnya orang yang to the point adalah model dari orang sederhana. Cuma, di sini saya eksklusifkan. Tidak hanya pada orang lain. Orang yang to the point bisa langsung mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Namanya juga to the point. Dan orang macam ini sedikit jumlahnya. Kebanyakan orang terkalahkan oleh distraksi. Entah karena dia ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin main-main. Luar biasa sulit. Sungguh luar biasa orang yang to the point.

Kesimpulan

Sederhana saja. Esai ini hanya nasihat.

  1. Distraksi adalah musuh.
  2. Jadilah orang yang memusuhi distraksi.
  3. Jadilah orang yang memusuhi distraksi bagi orang lain.
  4. Mari membuang distraksi-distraksi di Linux (desktop).

Semoga bermanfaat.

Banyak Yang Berubah di Dunia Linux


Apa yang harus saya tulis?

Kutipan di atas adalah kalimat yang biasa saya tulis ketika tidak tahu harus menulis apa. Sudah sekian lama saya tidak memutakhirkan isi blog ini. Padahal blog ini adalah Teknoplasma sekaligus Malsasa.tk saya. Total postingnya saja 100, angka yang besar bagi saya. Namun saya lama membengkalainya karena sibuk dengan kerjaan lain. Saya tersibukkan dengan blog-blog baru saya baik yang tujuannya komersil maupun murni komunitas. Ada juga satu kesibukan lain. Namun saya tetap ingin mengisi blog ini. Karena blog ini catatan Linux saya.

Apa yang diisi? Saya ingin menuliskan apa yang mengusik saya saja. Baru-baru ini saya mulai tertarik dengan yang namanya memutakhirkan berita. Entah dari omgubuntu, ubuntuvibes, atau lainnya. Hal-hal yang menarik perhatian saya adalah:

1. GNOME 3

2. Unity

3. Kontroversi di antara keduanya.

4. Modem USB

5. Pemrograman GUI

6. Seluk beluk Ubuntu

Hal ini dikarenakan adanya koneksi internet yang sangat cepat dan gratis. Saya jadi bisa lebih sering menggapai berita Linux. Menarik sekali bagi saya. Saya senang. Padahal dulu tidak karena belum ada internet.

Yang ingin saya tuliskan adalah banyaknya hal baru di dunia Linux terjadi. Mulai dari desktop environment baru, aplikasi baru, intrik baru (misal: isu Ubuntu Tweak), Ubuntu versi baru, ide-ide baru, tema Gnome Shell baru, dan lain-lain. Ah, menyenangkan. Saya akan mulai tuliskan hal-hal yang menarik saya selama meninggalkan blog ini.

Tentang Unity dan GNOME 3

Saya sangat tertarik dengan Graphical User Interface. Saya suka desktop environment. Sebelumnya saya menyukai KDE dan masih mantap dengannya. Hal baru yang sangat mengejutkan saya adalah tombol Win berfungsi total di Unity dan GNOME 3. Ini mungkin kecil tapi bagi saya perubahan besar! Saya paham hacker sana pasti mudah memfungsikan Win untuk Menu, tapi pertanyaan saya: “kok nggak dari dulu” gitu lho :) Kok ya baru sekarang Gnome/Unity bisa Win? :) Namun, menariknya, ternyata 2 desktop environment baru ini dicerca banyak penggunanya secara langsung. Wow. Sangat membuat saya kaget. Saya kaget karena Linux user biasanya mengajak Windows user untuk beralih. Sekarang, gantian Linux yang berubah tampilan sedikit, eh reaksinya sama persis dengan Windows user. Ah, ternyata sama saja :) Menarik sekali.

Tentang Ubuntu Tweak

Pengembang mengumumkan berhenti mengembangkan Ubuntu Tweak selamanya. Namun tiga hari berikutnya, dia membatalkannya. Dia katakan berubah pikiran. Ubuntu Tweak akan tetap dikembangkan. Lalu esoknya, Ubuntu Tweak versi berikutnya keluar. Hahaha, lucu sekali. Tapi menariknya, bacalah pada pengumuman pemberhentian pengembangan. Betapa ratusan pengguna menyayangkan pengembang memutuskan berhenti. Sekian manusia merasa kehilangan. Di web-web lain malah dibuat semacam berita duka. Banyak yang meminta pengembang berubah pikiran. Beberapa yang menyatakan memaklumi keputusan pengembang, termasuk saya. Apa ini? Bagi saya maknanya demikian. Alangkah Graphical User Interface, alangkah simplicity, alangkah all-in-one concept itu, paling dibutuhkan pengguna. Mirip pengguna Windows, bukan? Menarik sekali. Sungguh, saya terkejut melihat komentar bersedia membayar untuk Ubuntu Tweak andai dikomersialkan (menunjukkan absolut butuhnya pengguna akan simplicity). Wow. Ini karena Ubuntu Tweak adalah tool yang menyederhanakan segala pengaturan Ubuntu. Bayangkan kalau semua pengaturan Terminal, diganti dengan click-n-run saja. Enak sekali, bukan? Itulah yang ditawarkan oleh Ubuntu Tweak. Ini salah satu kisah unik dunia open source. Menariknya, saya jadi sangat terinspirasi kisah mengharukan Ubuntu Tweak ini.

Tentang Cinnamon dan Mate

Mengapa saya bedakan dengan GNOME 3? Karena dua hal ini adalah inovasi baru. Unity dan GNOME 3 meski baru, tapi banyak dibenci pengguna lamanya. Namun MATE dan Cinnamon, dua inovasi dari satu pengembang Linux Mint. Inovatif! Sangat menarik perhatian saya. Sebelumnya saya tidak paham apa itu Mate. Tapi setelah mencari penjelasan, saya akhirnya simpulkan Mate = GNOME 2. Ia sebetulnya GNOME 2 yang diganti namanya saja. Sedangkan Cinnamon, ia adalah makhluk baru. Diciptakan dari GNOME 3 tapi diubah ulang seluruh tampilannya menyerupai Windows. Tapi wow, keren punya si Cinnamon ini. Pantas banyak orang langsung suka Cinnamon saat kontroversi Unity/GNOME 3 berlangsung. Saya sih tak terpengaruh, tapi saya juga suka Cinnamon :) Menariknya, siapa yang mampu menyajikan antarmuka paling sederhana, dia yang menang.

Tentang GNOME Shell Theme

Istimewa, nih. Saya tak ada masalah dengan GNOME 3. Ia masih nangkring di pilihan desktop saya. Aneh, banyak pengguna GNOME lama bahkan yang sudah level tinggi sekalipun, membencinya. Aneh sekali. Namun untuk saya, melihat betapa indah presentasi GNOME Shell Theme, serta setelah temanya diinstal betulan, saya sangat terinspirasi. Malah Dreambox saya dibuat gara-gara terkesima presentasi GNOME Shell Theme itu. Menariknya, ide baru muncul darinya. Ide marketing. Mulai merambah daerah yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Wow. Perubahan yang sangat menarik bagi saya dari dunia Linux.

bersambung…

Berlemah Lembutlah, Komunitasku…


Saya memahami keinginan komunitas yang menginginkan kerapian yakni bersihnya forum dari pertanyaan yang berulang-ulang padahal pertanyaan itu sudah terjawab sebelumnya, dan siapa pun dapat langsung memperolehnya dari sedikit usaha mencari. Kalau saya, saya mau saja cari sampai berjam-jam baru tanya soalnya buat saya kegiatan mencari itu menyenangkan sekali. Namun yang tidak dapat saya pahami ketika saudara-saudara saya menghadapi awam, mereka -dengan segala hormat- malah menyuruh si awam itu untuk mencari sendiri. Saya heran dan tak dapat saya terima sampai hari ini. Kaidahnya sederhana: jika Anda ingin mencari pahala dari membantu saudara sendiri, mengapa Anda tidak memberitahunya langsung jawabannya demikian dan demikian? Jika Anda ingin pahala ilmu yang tak putus, mengapa harus ikut aturan forum jika memberitahunya tidak akan menjadikan Anda di-ban? Mengapa Anda malah menyuruh dia yang memang tidak tahu apa-apa dalam masalah ini mencarinya sendiri? Pahamilah kalau dia memang 100% tidak tahu, tidak pengalaman, tidak mengerti, sehingga dia percaya kepada Anda dan bertanya. Dia belum bisa mencari sendiri. Trustment, Man! Karena tidak tahu itulah dia bertanya, ingatlah. Percayalah padaku dia takkan bisa tanpa bantuanmu. Bantulah dia, lagipula hanya beberapa kata, beberapa byte, tidak sampai ukuran TB. Dan niatkanlah yang ikhlas agar Anda memperoleh pahala. Ingatlah kalau trustment (kepercayaan) itu penting sekali. Sudah dipercaya kok malah memberatkan? Orang akan lari darimu dan kamu juga takkan suka. Sungguh aneh kalau sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas mencari pahala dan bagi-bagi ilmu ketika ada orang tanya kepada kita. Itu kesempatan besar yang mungkin terakhir dalam hidup kita! Ini nasihat khusus saya untuk saudara-saudaraku yang aktif di komunitas.

Satu lagi. Sepertinya komunitas Linux pada umumnya perlu belajar dari kisah-kisah ulama Islam. Anda yang telah mengenal jenius luar biasa yang akhlaknya sangat mulia seperti Imam Syafi’i, bisakah membayangkan ketika ada seseorang tua renta baru masuk Islam bertanya kepada seorang ‘alim ulama “Wahai Imam, bagaimanakah cara wudhu?” lantas sang ‘alim menjawab “Wah, baca buku ini dulu, Pak.” atau “Wah usahamu mana, Pak? Baca buku dulu dong. Baru kalau mentok, tanya ke saya.”? Apa-apaan itu? Mustahil orang berilmu mengatakan kata-kata yang sangat tidak menyenangkan itu. Jika memang Anda tahu ilmunya, maka sampaikan. Kalau mustahil lewat muka, coba saja lewat e-mail atau private message. Mungkin tidak enak kalau saya beri contohnya ulama Islam begini, tetapi saya hanya ingin memberi contoh. Ya susah orang belajar Linux kalau akhlak komunitasnya kurang menyenangkan. Kalau Anda tahu, maka usahakanlah memberi tahu awam yang bertanya.

Yakinlah, jika dengan akhlak yang baik, akan banyak sekali awam yang mau menggunakan Linux. Dan Anda akan menambah teman. Justru mungkin bukan karena dia melihat keunggulan Linux, melainkan karena dia kagum dengan akhlak yang mulia. Siapa tidak senang? Jadilah manusia yang lembut kepada orang lain, entah apa pun sistem Anda. Dan jadilah pengguna Linux yang ramah senyum, jawablah yang bisa Anda jawab, mudah-mudahan banyak orang jadi mau mengambil manfaat Linux gara-gara kebaikan hati Anda. Percayalah, mudah!