Pemasaran Sistem Operasi Linux


Bismillahirrahmanirrahim.

Pagi ini saya membuat satu kategori baru berjudul Marketing. Sulit bagi saya untuk membuat satu kategori baru. Jadi kalau ada, maka itu sangat penting. Apa pentingnya marketing (pemasaran) dan apa pentingnya untuk Linux? Mengapa tidak pemasaran yang lain seperti barang atau jasa? Inilah bagian dari diri saya yakni bakat yang baru saja saya sadari terpendam dan menanti untuk saya gali sendiri. Dulu ketika pertama kali saya melihat laman pengembang Blankon, saya sebenarnya juga membaca adanya bagian pemasaran tetapi saya tidak meliriknya sama sekali dan merasa memang itu bukan bidang apalagi minat saya. Ternyata kenyataan hari ini kebalikan dari pikiran saya kala itu.

Tentang Esai Ini

Kembalinya hasrat saya menulis membuat saya berpikir lalu membuka dashboard. Saya ingin membuat kategori baru Marketing lalu menulis di dalam kategori itu semua pikiran saya mengapa kok begini dan mengapa kok begitu dalam menulis tentang Linux akhir-akhir ini (baca: marketing). Intinya, saya ingin menulis mengenai bagaimana strategi saya dalam memasarkan Linux mulai posting ini. Selain menambah jumlah posting, bisa jadi esai ini akan dipakai kelak di pengembangan OS lokal macam IGN dan Blankon. Semoga saya mendapat pahala dengannya. Pada esai ini, saya hanya akan bicara soal masalah-masalah pemasaran secara rinci sedangkan solusi dan lain-lain akan datang pada esai selanjutnya. Insya Allahu taala.

Mengapa Linux Butuh Pemasaran?

Pertanyaan ini jawabannya sama dengan pertanyaan “mengapa saya memasarkan Linux?” yakni karena Islam dan kaum muslimin. Lingkup batasan saya sederhana saja: cuma se-Indonesia. Luar negeri saya tidak peduli sama sekali. Permasalahan nomor satunya adalah pembajakan sistem operasi dan software di Indonesia. Ini hal buruk untuk kaum muslimin. Cara mengubahnya ada banyak. Salah satunya yang saya mampu insya Allah adalah memasarkan Linux. Pemasaran itu luas, termasuk pula memahamkan pengguna soal pembajakan, soal Linux itu sendiri, soal FOSS, dan banyak lagi. Jadi sebenarnya bukan masalah Linux, tetapi masalah berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin. Banyak saudara kita belum tahu. Jadi mengapa kita yang tahu tidak memberikan pelayanan terbaik agar mereka tahu dan mendapat ganti yang lebih baik? Dan kalau bisa untuk kaum muslimin, maka perintah berbuat baik secara umum untuk semua orang juga berlaku bagi saya dalam rangka Islam rahmatan lil ‘alamin. Kaum muslimin harus menjadi rahmat di manapun mereka berada. Maka dari itu saya memasarkan Linux.

Mengapa Harus Linux?

Coba katakan kepada saya satu OS yang legal (tidak ada syubhat dalam izin penggunaan), gratis, open source, memenuhi secara keseluruhan kebutuhan desktop dan server, antarmuka tampilannya sangat bervariasi, selain Linux. Ada? Jika ada, maka saya ingin mengunduhnya saat itu juga. Karena sifat Linux yang demikianlah saya ingin menjadikannya alternatif untuk pengguna komputer di Indonesia terutama untuk kaum muslimin.

Mengapa Melakukan Ini?

http://al-atsariyyah.com/keutamaan-memenuhi-kebutuhan-kaum-muslimin.html

Definisi Pemasaran

Supaya terarah, berikut saya nukilkan definisi pemasaran dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran):

Pemasaran (bahasa Inggrismarketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang ataujasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.

Pentingnya definisi ini adalah membatasi kita agar tidak keluar dari lingkup pemasaran yakni apa-apa saja yang dilakukan dalam pemasaran. Dalam hal ini, dari definisi Wikipedia dan halamannya, saya batasi pemasaran Linux pada tindakan-tindakan berikut:

  1. Mempromosikan.
  2. Memberikan dukungan teknis (baca: memberi solusi).
  3. Mengadakan barang.

Meski cuma tiga poin, tetapi ini luar biasa luas. Insya Allah akan saya jabarkan nanti. Yang penting ketahui dulu apa yang kita promosikan.

  1. Produk yang mau dipasarkan: Linux.
  2. Benarkah Linux itu produk? Ya.
  3. Barang atau jasa? Barang, tepatnya barang tak berwujud.
  4. Apa alasannya? Dia adalah OS yang Microsoft Windows pun juga merupakan OS. Sama-sama produk walau sebagian orang mengingkari Linux adalah produk. Kita marketer jadi kita menganggap Linux sebagai produk. 

Target Pemasaran

Pengguna komputer di Indonesia secara umum. Siapa mereka? Tentu kaum mayoritas yakni mereka yang tidak memahami sistem secara mendalam. Berbeda dengan Anda dan saya yang kebetulan memang sering ngoprek dan sudah hafal ratusan perintah bash. Ini termasuk ayah, ibu, adik, kakak, tetangga, nenek, murid SMA, bahkan istri dan orang-orang terdekat kita. Yang paling penting, semua dari mereka pasti menggunakan sistem operasi Windows sebelum mengenal yang lain. Intinya, kita akan memasarkan Linux kepada semua pengguna Windows di Indonesia. Ini harus ditekankan dahulu sebelum beranjak jauh.

Tujuan Pemasaran

Tujuan beda dengan target. Kalau target itu maksudnya khithab, orang atau objek yang dipasari. Targetnya adalah pengguna Windows sedangkan tujuannya sebagai berikut.

  1. Pengguna mengetahui Linux secara detail dan kita selaku pemasar menyediakan semua permintaan pengguna dari segi OS maupun software aplikasi.
  2. Pemasar bisa menjelaskan secara detail apa itu Linux, desainnya, promosinya, iklan-iklannya, bisa berkomunikasi dengan pengguna, sampai bagaimana Linux bisa digunakan langsung oleh pengguna.
  3. Mengenal dan memahami pengguna sedemikian rupa sehingga cocok dengannya dan Linux dapat tersampaikan dengan baik kepadanya.

Tujuan yang paling penting dan harus diutamakan adalah poin nomor 3 ini. Poin 3 inilah kekurangan kita semua dan inilah yang sedang saya usahakan untuk angkat dengan esai-esai saya. Semoga Allah menjadikan niat saya ikhlas.

Siapa Pihak Pemasar?

  1. Developer Linux termasuk Canonical, Novell, Red Hat, YPLI, LIPI, dan lain-lain.
  2. Komunitas pengguna sampai Anda dan saya.
  3. Perusahaan yang berbisnis dengan Linux semacam InfoLINUX, Linux Format, Google, Github, Inc., Samsung, dan lain-lain.
  4. Institusi yang berurusan dengan Linux semacam UI, UGM, Gunadarma, dan lain-lain.

Jadi, kalau Anda adalah salah satunya, atau dobel, dan melakukan salah satu tindakan pemasaran Linux, maka Anda adalah pemasar Linux. Dalam tulisan ini, saya akan banyak menyinggung pemasar nomor 2.

Pemikiran Paling Mendasar

Memudahkan pengguna. Linux yang kita sebarkan harus memudahkan pengguna dan bukan sebaliknya. Ini pemikiran mendasar saya yang saya terapkan di setiap promosi saya. Kenyataan berkata Linux memang rumit tetapi apa usaha kita untuk menyederhanakannya. That’s the main point. Jika Linux tidak memudahkan pengguna, maka upaya menolong sesama muslim dan semua orang dalam hal ini tidak tercapai. Ini tidak saya inginkan. Maka dari itu, esai ini nanti isinya berkutat pada hal kemudahan untuk pengguna. Pengguna harus diistimewakan dan dinomorsatukan. Dan pengguna tidak boleh disalahkan atas ketidaktahuan/ketidakbiasaan/ketidakbisaan/kebingungan mereka. Ini harus dicamkan.

Perbedaan Pemasaran Kita dengan Mereka

  1. Kita tidak menjual Linux dan FOSS. Mereka menjual OS dan software mereka.
  2. Kita tidak selalu berafiliasi dengan dana. Mereka selalu mengaitkan segalanya dengan dana.
  3. Pengguna selalu kita anggap sebagai pengguna (oleh karenanya kita sering semena-mena kepada mereka). Pengguna selalu mereka anggap sebagai konsumen.

Itulah perbedaan antara pemasaran kita dengan mereka. Kalau ingin menyaingi mereka (dan selalu kita tampak ingin menyaingi mereka), maka ambil cara mereka dalam poin 3. Istimewakanlah pengguna dan nomor satukan mereka. Jangan pernah remehkan poin 3 ini. Oleh karena kita sadar pengguna = konsumen, maka otomatis kita = produsen. Maka kita adalah >< mereka dari sisi sama-sama produsen dan sama-sama marketer. Maka carilah strategi pemasaran yang sama dengan mereka atau lebih baik. Nah, dalam esai ini, saya memilih opsi pertama saja. Sesuai dengan saya yang masih belajar.

Masalah-Masalah Pemasaran

Baik, masuk ke inti esai ini. Agar pemasaran merata dan mengena, maka masalah-masalah pemasaran harus diselesaikan. Sebelum itu, masalah-masalah pemasaran harus disadari keberadaannya dan diidentifikasi dahulu. Apa saja masalah-masalah pemasaran itu? Saya coba klasifikasikan jadi 4 dulu.

  1. Ketidaktahuan akan adanya masalah dalam pemasaran. Jangan remehkan poin satu ini sedikit pun. Ini sumber dari segala sumber masalah pemasaran.
  2. Keterbatasan di sisi pengguna/target pemasaran dari 4 segi yaitu waktu, biaya, tenaga, dan daya otak. Saya tegaskan lagi, pengguna harus diistimewakan dan dinomorsatukan. Mengapa? Karena ini marketing.
  3. Keterbatasan di sisi pemasar dari banyak segi di antaranya ketersediaan dukungan teknis (technical support), jangka waktu dukungan, ketersediaan human touch, kepastian sikap pemasar, waktu pemasar, daya jangkau pemasar,
  4. Keterbatasan di sisi Linux itu sendiri dari sangat banyak segi. Di antaranya sudah saya tuliskan panjang lebar di posting sebelumnya. Sebagiannya adalah ketiadaan sistem backup aplikasi yang sudah diinstal dan ketiadaan sistem instalasi single offline installer. Linux mewajibkan internet maka dari itu ini masalah terbesar Linux untuk dipasarkan di Indonesia.

Sementara itu dulu. Saya ingin esai pertama ini membahas khusus masalah-masalah ini dulu sampai habis.

Masalah Pemasaran Pertama

Pemasar (marketer)  tidak sadar akan adanya masalah. Ada macam-macam bentuk ketidaksadaran pemasar. Di antaranya tidak sadar akan keterbatasan pengguna, tidak sadar akan kelemahan-kelemahan Linux itu sendiri, dan tidak sadar akan keterbatasan dirinya sendiri. Apa akibatnya? Banyak orang lari dari menggunakan Linux dan bahkan ada yang lari dari komunitas karena masalah pertama ini. Dampak terburuk adalah yang dimiliki oleh masalah ketidaktahuan ini. Oleh karena itu, saya meletakkannya di posisi satu. Saya coba breakdown apa saja masalahnya.

Masalah yang paling umum adalah sering marketer tidak menyadari dirinya sedang melakukan marketing. Sering kita tidak sadar bahwa diri kita sedang melakukan pemasaran Linux. Sering kita tidak menyadari kekuatan lawan marketing kita yakni Microsoft dan Apple. Sering kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan adalah menentang dominasi Microsoft Windows di Indonesia.

Contohnya

Saya berikan skenario agar mengena kepada setiap pribadi.

  1. Kita mempromosikan Linux kepada orang-orang awam yang mereka semua menggunakan Windows.
  2. Lalu mereka bingung dengan Linux karena harus menghafal sekian banyak perintah.
  3. Lalu kita mengejek mereka karena ketidakbisaan mereka dengan alasan: Anda hanya belum terbiasa saja. Tentu dengan sejuta alasan lainnya.

Permasalahannya

Siapa Anda? Siapa saya? Pengguna Linux adalah minoritas. Anda ini sedang melakukan marketing. Kalau cara marketing Anda seperti ini, maka tidak mungkin ada orang mau menggunakan Linux. Menurut akhlak ya jelek, menurut adab jelek, menurut norma masyarakat juga tidak sopan. Bahkan akal sehat pun tidak bisa menerima adanya orang mau memasarkan produk kok malah mengejek penggunanya. Terang-terangan pula di hadapan publik (sering demikian). Siapa Anda? Anda harus menyadari bahwa Anda hanyalah minoritas yang berusaha melawan arus Microsoft Windows. Anda tidak bisa membodoh-bodohkan pengguna Windows hanya soal mereka tidak terbiasa. Anda harus sadar kalau Anda sedang melawan Microsoft, Anda harus sadar siapa Microsoft. Mereka punya kekuatan yang besar bahkan bisa mencengkeram negara. Anda bisa apa? Makanya, marketing ini harus memiliki strategi dan tidak asal bicara.  Insya Allah akan datang solusi untuk masalah-masalah ini.

Masalah Pemasaran Kedua

Masalah yang juga besar dan yang terbesar dibanding 2 masalah sesudahnya adalah keterbatasan pengguna. Pemasar harus sadar bahwa pengguna itu terbatas. Keterbatasan pengguna itu bertingkat-tingkat bukan hanya satu tingkat saja. Ini akan panjang. Saya di sini akan batasi klasifikasi keterbatasan pengguna menjadi 4 besar saja yakni waktu, biaya, tenaga, dan daya otak. Tenang, pembahasan seperti apa pun tidak pernah lolos dari 4 hal ini. Saya akan breakdown sedikit.

Pertama: Waktu

Ini yang saya tunggu sejak lama untuk sampaikan kepada Anda. Saya ingin mengutip kalimat bagus dari seorang ahli Linux senior di Indonesia yang bernama Taufan Lubis. Saya dapat kalimat ini dari balasan surel beliau setelah saya bertanya. Ini sangat bagus untuk Anda:

Linux itu susah diterapkan kecuali orang itu iseng dan banyak waktu, memang materi sekolah atau kuliah atau memang senang linux.

agar kita semua sadar letak permasalahan promosi kita. Kalimat ini saya ambil dari paragraf ketiga surel balasan beliau yang pertama. Agar Anda tahu, Pak Taufan ini pemilik blog Linux Indonesia yang hits blognya lebih dari satu juta. Mungkin di Indonesia blog macam ini satu-satunya. Untuk keseluruhan surel-surel kami, Anda bisa mengunduh salinannya di sini (hanya 20 KB).

Pengguna di Indonesia kebanyakannya tidak memiliki waktu untuk melayani distraksi bersama OS. Mereka inginnya just work OS. Pengguna yang senang ngoprek OS hanya segelintir saja. Maka mereka mesti dipahami. Mereka akan enggan menggunakan Linux karena waktu. Karena itu pahamilah jika ada banyak pengguna yang tidak mau meluangkan waktunya untuk menggunakan Linux. Jika Anda sadar akan hal ini, maka tanpa membaca esai saya selanjutnya, Anda bisa membuat solusi-solusi untuk hal ini sendiri. Mungkin dengan membuat software atau yang lain.
Kedua: Biaya

Jangan pernah heran apalagi sampai marah-marah kalau orang yang Anda pasari meninggalkan Linux dan mengejeknya karena dia merasa Linux boros bandwidth untuk update, untuk instal aplikasi, untuk reinstall aplikasi, dan untuk menyelesaikan masalah-masalah. Memangnya Anda hidup di mana? Anda hidup di Indonesia yang semua manusia tahu ini negara berkembang. Banyak warganya miskin dan tidak ada uang untuk mengurusi OS. Justru mestinya OS menghasilkan uang untuk warga tersebut. Anda harus tahu kondisi target Anda sebelum memasarkan.
Ketiga: Tenaga

Jangan heran juga kalau banyak orang akan menyerah menggunakan Linux karena tenaga mereka yang terbatas. Bayangkan saja seorang awam harus bolak-balik ke warnet untuk sekadar update atau instal wvdial, atau untuk melihat komputer temannya, atau harus berulang kali melakukan konfigurasi yang sebenarnya tidak perlu kalau ada otomasi, dan lain-lain. Tidak semua orang seperti kita yang powerful untuk ngoprek, powerful untuk menatap monitor, dan lain-lain. Malah lebih banyak lagi orang seperti ayah-ayah kita, ibu-ibu kita, dan lain-lain. Tidak mungkin mereka diharuskan untuk senantiasa melakukan konfigurasi.
Keempat: Daya otak

Ini yang paling penting untuk diperhatikan. Daya otak setiap orang itu terbatas. Artinya, ada batasan-batasan psikis seseorang untuk berpikir lama. Setiap orang memiliki batas lelah dalam berpikir. Inilah yang sering dilewatkan oleh pemasar-pemasar kita. Kenyataan bahwa target kita adalah terbatas dari segi daya otaknya. Terbatas ini maksudnya terbatas dalam segi mengingat, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Apa saja sih, penguras daya otak yang pantas dinobatkan sebagai masalah di sini?

  1. Kesederhanaan nama distro.
  2. Kesederhanaan nomor versi.
  3. Kesederhanaan jadwal rilis.
  4. Konsistensi user experience design dari satu versi ke versi lainnya.

Ini global dulu. Insya Allah penjabarannya akan datang nanti. Pokoknya harus dicamkan masalah-masalah ini adalah sangat penting dalam marketing, yakni dari segi branding-nya. Contoh paling gampang? Bandingkanlah skema penomoran versi CorelDRAW dengan Inkscape. CorelDRAW 7 dengan Inkscape 0.48.3. Berapa angka untuk satu versi? CorelDRAW jelas lebih sederhana oleh karena itu lebih gampang diingat oleh pengguna dan karenanya kita mengakuinya memiliki strategi marketing yang lebih baik. Sampai sini akan mulai menarik apalagi nanti kita akan menjabarkan masalah-masalah daya otak ini.

Masalah Pemasaran Keempat

Inilah sebuah kesadaran yang mengilhami beberapa esai saya sebelumnya yang isinya penuh bocoran kekurangan-kekurangan Linux. Kalau ingin membaca keseluruhannya, Anda bisa merujuk lagi ke laman berikut.

Dan kritik saya dalam Bahasa Inggris,

http://linuxdreambox.wordpress.com/2012/10/21/what-kind-of-application-packaging/

Sebagai informasi, andai kita anggap semua masalah di Linux sudah selesai, maka tautan terakhir inilah satu-satunya masalah paling besar yang menjadi beban pikiran akhir-akhir ini. Inilah kelemahan Linux terbesar yang membuatnya sangat tidak sesuai untuk kondisi pengguna Indonesia. Ini masalah, dan ini serius. Sering sekali saya temukan pemasar kita guyon dalam masalah tautan terakhir ini. Padahal khithab pemasarannya jelas-jelas orang Indonesia. Tanda yang terang bahwa pemasar kita belum mengerti strategi  pemasaran yang baik. Bagaimana solusinya? Sebagian sudah saya jabarkan dalam tautan-tautan yang saya sebut. Namun akan saya ulang dan saya kumpulkan jadi satu dalam satu posting, insya Allah. Karena permasalahan tautan terakhir ini sangat krusial dan membutuhkan energi besar developer untuk mewujudkannya. Sedikit bocoran, andai saja permasalahan tautan terakhir ini terselesaikan dan berhasil dipromosikan, maka orang Indonesia akan berduyun-duyun ingin menggunakan Linux. Dari mana saya bisa beranggapan demikian? Nanti insya Allah saya jabarkan.

Intinya, ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh Linux. Kekurangan yang ada itulah yang membuatnya tidak diterima dan tidak akan diterima oleh orang Indonesia. Energi nuklir pun percuma untuk promosi selama ini tidak diatasi. Ini yang pemasar harus sadari betul-betul lalu diadakan solusi, bukan malah menyalahkan pengguna karena ada Pemikiran Paling Mendasar di atas.

Garis Besar Esai Pertama

Bisa dianggap sebagai kesimpulan kecil. Berikut ringkasnya.

  1. Kita mempromosikan Linux berarti kita adalah marketer.
  2. Kita mempromosikan Linux berarti kita menentang dominasi bisnis Microsoft dan Apple baik diakui maupun tidak.
  3. Kalau kita menentang Microsoft dan Apple, berarti secara otomatis kita masuk ke ranah bisnis sistem operasi walau tidak kita menjual Linux/FOSS dan walau sebagian kita tidak mengakuinya.
  4. Kalau kita masuk ranah bisnis, maka cara promosi Linux kita juga harus disesuaikan dengan bisnis sebagaimana normalnya.
  5. Salah satu poin penting bisnis ini adalah mengistimewakan dan menomorsatukan pengguna.
  6. Kita menganggap pengguna sebagai konsumen yang tidak boleh disalahkan apalagi diejek karena ketidaktahuan/ketidakbisaan/ketidakbiasaan mereka.
  7. Tanpa kesadaran marketing ini maka niat kita untuk mempromosikan Linux kepada pengguna komputer Indonesia tidak tercapai atau sia-sia belaka.

Penutup Esai Pertama

Esai ini saya tulis sejak 19 Juni kemarin dan baru terselesaikan sekarang. Saya harap bisa menyusun esai-esai berikutnya yang berisi jabaran contoh-contoh kesalahan umum dalam pemasaran kita kemudian solusi-solusi pemasaran serta janji saya pada esai ini. Saya harap Anda puas dengan esai pertama ini dan siap membuat solusi sebelum esai kedua. Saya mohon maaaf jika ada kesalahan. Semoga esai ini bermanfaat.

Iklan

25 thoughts on “Pemasaran Sistem Operasi Linux

  1. sokhibi

    Esai yang bagus

    Saya jadi ingat waktu pertama kali menjadi ujung tombak memasarkan produk dari bintang tujuh E******S, dimana-mana ditolak dengan berbagai alasannya, katanya takut mabok, takut ngantuk dan lain-lain, jangankan disuruh beli dikasih aja pada gak mau, karena waktu itu produk semacam itu belum ada (masih jarang) tapi karena marketingnya bagus akhirnya diterima juga, bahkan para kompetitor ikutan membuat produk sejenis hingga sekarang sudah gak terhitung lagi produk sejenis

    Oh ya, salah satu kelemahan komunitas Open Source di Indonesia saya menulisnya pada tautan berikut => http://imgos-belajarlinux.blogspot.com/2013/06/mengapa-buku-tik-berbasis-open-source.html

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Untuk masalah marketing, maka kita mesti sadar kalau marketing sebuah OS adalah hal yang sangat besar karena berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat umum, Pak. Karenanya, strategi marketingnya harus benar-benar matang.

      Dan ini bakalan gagal kalau tanpa leadership. Contoh suksesnya ya produk bapak itu dan Google dengan Androidnya.

      Tenang saja, Pak. Perlahan tapi pasti.

      Balas
  2. Dicky M. Pramanta

    saya setuju dengan esai ini, karena saya sendiri mengalami hal ini dan pernah melakukan sendiri. tapi sekarang saya sudah “agak” sadar karena kadang khilaf :|
    memang diperlukan beberapa metode2 untuk menarik orang menggunakan open source, seperti saaat tenang corel dan inkscape. saya menawarkan mereka, dana mereka bertanya apa sih keuntungannya. saya jawab, dengan menggunakan sesuau yang legal, karya kalian akan lebih dihargai, barokah, semakin banyak penggunaan format *.svg dalam pembuatan web. dan alhamdulillah mereka menerima hal tersebut
    kesimpulannya memang perlu ada strategi dalam memasarkan linux itu sendiri, kita harus jeli melihat kebutuhan dari orang2 yang akan ditawarkan, jadi meraka tidak malah ilfill dengan pengguna linux itu sendiri

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Oh, Dicky M Pramanta ini lautbiru, toh? Yap, langkah marketing akang bisa diterima dan harus dikembangkan lagi. Saya ambil langkah marketing akang karena seumur hidup baru ini saya dapat ide begini. Terima kasih banyak, lautbiru.

      Satu poin yang akan saya angkat insya Allah nanti adalah leadership. Satu hal mutlak yang harus ada tetapi hilang di FOSS.

      Akang benar saat mengatakan melihat kebutuhan target. Dan itulah yang dilakukan oleh seluruh perusahaan besar yang sukses seperti Microsoft dan Apple. Ahem, jangan lupa juga, Google. Terima kasih, Kang.

      Balas
  3. Dio Affriza

    Oke, tambahan. Target pemasaran tentu layaknya seperti sepeda motor, karena BBM setiap tahun naik maka produsen berlomba-lomba membuat sepeda-motor irit, dan kalau tidak demikian pasti ditinggal oleh pengguna, karena itu perkembangan perlu mengikuti zaman. Tentu saja sekarang butuh sekali OS dengan irit-data, karena semakin canggih semakin hari ukuran kompilasi semakin besar, butuh paket-paket/installer tunggal seperti Android dengan APKnya, bahkan HDD pun semakin dibuat besar kapasitasnya, kita harus efisien waktu, terutama package-manager Debian dan RPM yang tidak bisa menginstall secara paralel, hanya bisa memasang 1 aplikasi dalam satu waktu padahal processor makin canggih dan RAM makin besar kapasitasnya, pasti linux kalau begini terus pasti ketinggalan zaman. Distro mestinya berbenah. Ayo dukung gerakan perubahan Linuxer! :P

    Maaf topiknya BBM mulu, abis lagi hot :v :gubrak:

    Balas
      1. recv

        kalau menurut saya, kompetitor utama Linux bukan Windows (original), tapi windows bajakan (berikut aplikasinya).
        peluang 50-50 untuk memilih antara Linux dengan Windows (original). Fair untuk membandingkan keduanya, karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan yang kompetitif.
        tapi, lain halnya dengan windows bajakan.

      2. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

        Bagus itu, Kang. Namun tidak bisa dibandingkan Windows ori dengan Linux. Dengan yang bajakan saja kalah (soal desktop) apalagi dengan yang asli.

        Di sini, batasan omongan saya adalah Islam. Saya memandangnya hanya sebatas fasilitas yang bermanfaat untuk kaum muslimin di Indonesia ini. Maka dari itu titik berat omongan saya di mana-mana adalah UX. Nah, silakan akang utarakan pesan-pesan yang lain jika masih ada yang ingin disampaikan.

      3. recv

        hanya menambahkan sebuah kutipan marketing yang pernah saya tahu;
        Jangan memasarkan suatu produk yang kita tidak bisa menunjukkan keunggulannya dibanding produk lain (kompetitor). Tak akan menarik konsumen.

        Menunjukkan keunggulan Linux atas Windows original itu mudah.
        Menunjukkan keunggulan Linux atas windows bajakan, ini yang belum semua orang tahu (atau mau tahu).

      4. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

        Bagus itu. Ini benar-benar mengarah ke marketing betulan. Kalau masalah Windows bajakan atau asli, itu adalah urusan negara. Yang paling penting di sisi saya adalah membongkar potensi Linux untuk pengguna.

        Contoh marketing saya adalah Otodidak. Dasar pemikirannya adalah pengguna tidak pernah butuh OS, pengguna hanya butuh software. Nah, bagaimana dengan pendapat akang?

        Oya, kutipan akang saya simpan. Benar-benar masuk akal. Terima kasih.

  4. nozami

    bagus mas tulisannya setuju .
    saya pertamanya juga merasakan males pake linux soalnya harus serba konek internet .
    kaena kurang kerjaan dan lagi banyak waktu (liburan) makanya saya tetap mengotak atik linux hha

    Balas
  5. M.Dede

    Jadi ingat waktu ikut memayarakatakan Linux dengan Event-envent IT di Kepri tahun 2008- Know , setiap bulan kita ngadain Edukasi ke Sekolah-sekolah , tentang HAK CIPTA , kita demokan Produk-Produk OpenSource , tanpa Meng-underestimatekan Os dari Microsoft . saya pikir itu termasuk marketing di level akar rumput *Masyarakat* , tidak mudah memang merubah mindset masyaratak soal HAK CIPTA , namun tujuan utama kita bukan untuk bisnis memang , tujuan utamanya adalah mesosialisaikan soal HAK CIPTA , dan Linux Sebagai Solusinya :-)

    Balas
  6. Ping balik: Gratis tapi harus bayar??? (linux) | Tiktoknet

  7. Ping balik: Gratis tapi harus bayar??? (linux)

  8. Ping balik: The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear | Ade Malsasa Akbar

  9. Ping balik: Kumpulan Esai Kritik Saya | RESTAVA

  10. Muhammad Matori

    KETIKA MEMBELI LAPTOP BARU..DI TOKO KOMPUTER.. (dibaca sampai selesai)
    biasanya yang saya lihat..
    karyawan toko : laptopnya mau di install windows apa mas? windows 7 atau 8?
    pemilik laptop baru : windows 8 aja mas..

    “karena inilah.. mungkin.. masyarakat indonesia lebih mengenal windows dibandingkan linux..”

    COBA KALAU BEDA SEPERTI INI
    karyawan toko : laptopnya mau di install distro linux apa mas? ubuntu,debian,linuxmint.. dll
    pemilik laptop baru : linuxmint aja mas (hanya contoh)
    “kalau model seperti ini… pasti linux bisa menyaingi windows seperti android yg bisa menyaingi iphone dan windows phone dan blackberry”

    — > hnya sebuah cerita

    Balas
  11. Ping balik: Gratis tapi harus bayar??? (linux)

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s