Arsip Kategori: Marketing

Pemasaran Sistem Operasi Linux 2


Bismillahirrahmanirrahim.

Setelah esai ini seri pertama yang berisi masalah-masalah pemasaran, sekarang waktunya saya tuliskan kesalahan-kesalahan umum pemasaran. Untuk membahas solusi, itu tersendiri pada esai berikutnya. Saya asumsikan Anda telah menerima bagaimana saja masalah-masalah umum pemasaran Linux. Maka insya Allah Anda akan mudah memahami esai kedua ini. Sebelum masuk ke mana-mana, saya utarakan dulu satu kutipan yang sangat cocok untuk pemasaran Linux.

People_Ignore_Design_that_Ingnores_People_Frank_Chimero

People ignore design that ignores people. Terjemahan bebasnya orang acuh tak acuh dengan desain yang acuh tak acuh kepada orang. Atau, bisa diterjemahkan orang mengabaikan desain yang mengabaikan orang. Saya dapat gambar ini dari Google Plus grup desain beberapa hari lalu yang saat itu juga saya langsung simpan untuk esai serial ini. Anda yang jeli akan mudah menangkap maksud kutipan ini pada esai ini.

Kesalahan Umum Pemasaran 1

Menyombongkan diri di hadapan newbie/master. Sombong itu kriterianya dua saja: menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Bagaimana bisa ini saya katakan kesalahan? Tentu karena sebab inilah calon pengguna Linux menjadi enggan menggunakan Linux. Ini contohnya.

  1. Menyatakan bahwa FOSS adalah yang paling baik, walau tidak dengan kata-kata. Bahkan saya temukan di Indonesia ini ada yang menyatakannya sebagai agama TI terbaik. Wal’iyyadzubillah.
  2. Merendahkan (dengan cara apa pun) newbie yang bertanya.
  3. Merendahkan pengguna Windows dengan menyatakan mereka adalah pemalas di hadapan newbie.
  4. Merendahkan newbie yang mengeluhkan kerusakan sistemnya karena dia tidak tahu, dengan alasan dasar bodoh atau dasar orang Indonesia atau dasar orang yang tidak membaca atau pernyataan yang senada.
  5. Menggugurkan kemanfaatan software selain FOSS (walaupun sama gratisnya) di hadapan newbie. Baik dengan cara mengolok-olok (FUD) kepada aplikasinya maupun orang yang menggunakannya atau membanggakan diri yang tidak memakai selain FOSS.
  6. Menantang para master baik dengan ucapan atau perbuatan di hadapan umum. Parahnya, ketika ditanya hal dasar dia tidak tahu. Aneh dan lucu banget, tetapi saya pernah menjumpai yang seperti ini. Yang melakukannya biasanya anak-anak kecil yang belum bisa menempatkan dirinya. Jelas-jelas salah.

Jika Anda masih juga penasaran mengapa bisa terjadi kesombongan di pemasaran, maka jawabannya sederhana saja: memang setiap orang yang memahami sistem itu keren. Sebagian orang tertarik untuk disebut keren dengan cara memahami sistem lalu mereka tampakkan di muka umum kalau mereka bisa. Ini lho saya bisa gini, ini lho saya bisa gitu. Padahal disimpan saja sudah cukup. Kalau ada orang yang butuh, di situ baru dikeluarkan seperlunya saja tanpa keinginan untuk dipuji. Sudah cukuplah.

Counter Attack 

Sebenarnya sederhana sekali untuk membuktikan ini adalah kesombongan yakni melontarkan pertanyaan yang berlawanan.

  1. Apa niat Anda untuk menjawab/membantu setiap orang yang bertanya di forum? Kalau karena Allah, maka saya lanjutkan ke pertanyaan 2. Tetapi kalau bukan, apalagi kalau memang tujuan Anda menjawab pertanyaan di forum adalah pujian orang, agar Anda dilihat orang, agar Anda disukai orang, maka cukup sampai pertanyaan 1 ini saja.
  2. Kalau memang Anda melakukan itu karena Allah, di manakah letak kesulitan untuk memahami orang yang bertanya? Kalau jawaban Anda “ngapain mahami orang? Udah gak jaman, Gan!“, maka saya jawab “Lalu mengapa Anda menjawab pertanyaan di forum? Mengapa Anda tidak keluar saja dari forum?”. Kalau jawaban Anda “saya tidak menyadari dan tidak habis pikir mengapa ini salah” maka jawaban saya adalah “silakan baca dulu laman ini http://asysyariah.com/membantu-kebutuhan-seorang-muslim/, semoga Anda mendapatkan pahalanya yang besar apalagi sebentar lagi Ramadhan datang”.
  3. Kalau 2 poin di atas tidak masuk kepada pribadi Anda, maka saya tanyakan juga: “menurut Anda, adakah orang akan mau membeli suatu produk jika cara marketing-nya demikian?”. Jika jawaban Anda tidak, maka saya tidak melanjutkan. Namun jika jawabannya ya, maka bagaimana nurani dan akal sehat Anda bisa beranggapan demikian?

Kesalahan Umum Pemasaran 2

Kasar kepada newbie. Sebenarnya terlalu jelaslah bagi siapa saja yang punya akal. Sejelas matahari di siang bolong. Aneh sekali kalau ada orang bilang “hm, saya masih ragu” ketika ditanya “apakah matahari sedang bersinar terik sekarang? ” saat siang hari. Sama anehnya dengan orang yang meragukan bahwa ini kesalahan.

  1. Menghardik (dengan cara apa pun) newbie yang menanyakan soal apa nama driver yang terinstal di distro yang kita bikin. Marketing macam apa itu?
  2. Menyuruh googling untuk setiap newbie yang bertanya, dengan cara yang menyakitkan hati penanya. Sebenarnya perintah googling itu sendiri, sudah sangat tidak pantas untuk marketing. Bayangkan, andai Apple Genius (kalau nggak tahu, kebangetan) menyuruh googling untuk setiap pelanggan Apple yang datang kepada mereka. Sono gugling dulu, baru ke sini! Marketing macam apa itu? Kalaupun harus menyuruh googling, seharusnya bisa dengan cara yang sopan dan lemah lembut. Dan harus tahu siapa yang dihadapi. Misalnya orang kayak saya yang blognya isinya Linux semua, ya bolehlah disuruh googling sendiri karena memang sehari-harinya dengan Linux. Namun kalau disamaratakan untuk segala jenis penanya, segala jenis newbie, maka dzalim (tidak pada tempatnya) dan salah. Bayangkan saja seandainya ada seorang ustadz yang kebetulan bertanya di komunitas soal Linux, lalu dijawab: “kamu ini malas sekali, sih? Googling dulu sanah!“. Memangnya siapa kita? Sayangnya, yang seperti ini terus menerus terjadi. Makanya saya katakan seperti orang ditanya ini matahari sedang terik atau tidak. Saya terpaksa mengarahkan poin 2 ini kepada solusi (mestinya nanti dulu) karena urgent.

Counter Attack

Sama persis dengan Counter Attack pada Kesalahan Umum Pemasaran 1. Tambahan satu hal:

Kalau Anda katakan “lho, wajar dong, kami suruh googling? Kan support kami sudah gratis? Jangan bandingkan dengan dukungan teknis Apple atau Microsoft atau Red Hat yang berbayar!” atau yang senada dengannya, maka saya jawab “itulah sebab orang meninggalkan marketing Anda karena Anda tidak mau memahami mereka”. Satu jawaban lagi biar puas: “kalau Anda bilang gratis, kalau Anda bilang jangan bandingkan, maka mengapa Anda sanggah setiap newbie yang berpikir open source = gratis? Wong ujung-ujungnya Anda sendiri pas ditanya menjawab dengan kata gratis?  Dan mengapa Anda membangga-banggakan FOSS Anda kalau ‘jangan bandingkan’?”.

Semoga tepat sasaran.

Kesalahan Pemasaran 3

anim7

Memberi solusi tidak pada tempatnya. Ini sering diremehkan. Harusnya, kalau memang ingin memasarkan, maka kita bisa memberikan solusi yang tepat sasaran (walaupun ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di Linux). Dan ini mustahil tanpa memahami pengguna.

  1. Menyuruh gugling (dengan cara apa pun) untuk orang yang memang tidak bisa gugling. Lihat kondisi penanya. Kadang dia memang tidak bisa gugling. Entah karena tidak tahu kata kuncinya, pulsa, entah karena 0.facebook.com, DNS terblokir, dan kemungkinan lainnya. Orang yang belum paham Google, tidak bisa dipaksa. Harus diajari. Kalau mau menyuruh gugling itu lihat kondisi orangnya.
  2. Menganggap mudah instalasi modem USB di Linux. Ini sangat krusial karena kelemahan Linux itu sendiri yang berputar rekursif pada dirinya. Bayangkan. Linux mutlak butuh internet untuk instal dan update aplikasi. Namun untuk tersambung ke internet, pengguna wajib menginstal aplikasi modem. Sementara aplikasi modem itu sendiri tidak bisa diinstal kecuali ada internet. Mbulet, bukan? Sikap sebagian orang saat ditanya soal modem yang si penanya sendiri sudah mencobanya sampai berminggu-minggu, adalah memastikan bisa diinstal di Linux. Ini tidak sesuai dengan realitas yang dihadapi pengguna. Mengapa tidak jujur saja mengatakan modem ada 3 klasifikasi di Linux? Maka pantas kalau sikap meremehkan instalasi modem di Linux adalah salah dalam marketing. Kalau kita bersikap demikian, orang akan tertipu karena menganggap mudah eh ternyata susahnya luar biasa. Marketing tidak boleh ada unsur bohong. Maka dari itu muncullah blog ModemLinux untuk mengumpulkan daftar modem yang memang mudah (dan itu sedikit) dan mana yang memang susah (banyak).

Kesalahan Umum Pemasaran 4

Ketiadaan leadership. Inilah masalah terbesar yang seandainya solved, maka seluruh masalah sebelumnya dan yang saya tulis di esai pertama akan ikut solved. Segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu mutlak membutuhkan kepemimpinan yang terpusat. Sudah, tidak usah berdebat lagi. Kebaikan yang tidak dipimpin akan dikalahkan oleh kejahatan yang dipimpin dengan rapi. LIhat Android. Bagaimana bisa berhasil sampai dukungan vendor software-nya begitu? Bahkan sampai pengguna Windows semua suka Android (walau mereka tidak tahu Android = Linux)? Bahkan, semua developer berlomba-lomba untuk membuat aplikasi Android. Bahkan lagi, lihat vendor hardware di dunia. Mengarah ke Android tanpa perlu banyak struggle. Apakah jika hal yang sama terjadi pada Linux desktop (katakanlah Ubuntu), Anda senang? Jika iya, mengapa Anda masih belum mengakui perlunya leadership untuk distro Anda? Leadership adalah shortcut sempurna untuk memasarkan Linux.

Satu hal yang wajib saya ingatkan. Dalam pemasaran distro Linux di Indonesia, kita tidak boleh mencela pemerintah kita. Ingat hal ini: http://www.darussalaf.or.id/manhaj/hubungan-antara-rakyat-dan-pemerintah-dalam-pandangan-islam/. Leadership pemerintah adalah yang paling sempurna untuk memperbesar jumlah pengguna Linux di Indonesia, walau jumlah aplikasi Linux itu sedikit dan kualitasnya masih ada yang kalah. Benar, karena pemerintah punya kekuasaan, wibawa, dan dilihat orang. Namun kita tidak boleh mencela pemerintah (baik sendirian maupun di depan umum) karena mereka tidak melakukannya di Indonesia ini. Dan walau mereka menandatangani MOU dengan Microsoft.

Kesalahan Umum Pemasaran 5

Menganggap tidak ada masalah dengan Linux atau dengan HCI antara Linux dan pengguna. Inilah sebab utama yang melandasi terjadinya kesalahan-kesalahan di atas. Untuk bisa memasarkan Linux secara tepat, maka kita mesti tahu kalau ada kekurangan. Baik kekurangan di sisi pemasaran itu sendiri maupun di sisi teknis Linux-nya. Ini sama dengan Bugtrack/Bugzilla. Kalau sebuah software tidak diketahui bug-nya, maka tidak bisa diperbaiki/di-patch. Kalau sebuah marketing tidak diketahui kesalahannya, maka tidak akan bisa maju. Ini bug kita.

  1. Anda hanya belum terbiasa saja!” Ini kesalahan (jika dikatakan pada seluruh jenis pengguna) karena yang namanya pengguna itu multiverse. Ada pengguna dari kalangan berpendidikan formal, ada yang tidak. Ada pengguna yang dari kalangan usia muda sampai usia tua. Ada pengguna yang dari kalangan korporat, ada yang dari kalangan rumahan. Ada pengguna yang jarang memegang komputer, ada yang tidak. Macam-macam. Dan yang namanya kebiasaan itu tidak bisa dipaksakan. Tidak mungkin seorang menteri negara kita minta untuk mempelajari Linux beserta konfigurasinya. Tidak mungkin juga bapak-bapak yang waktunya habis untuk bekerja di ladang kita minta untuk membiasakan diri dengan Linux. Harusnya kita bisa melihat kondisi pengguna dan berikan langsung jawaban pertanyaan dia. Intinya, mempelajari suatu sistem adalah bukan kerjaan semua orang melainkan orang-orang tertentu saja. Tidak bisa diglobalkan.
  2. Menyarankan untuk mempelajari sistem lebih mendalam pada semua pengguna. Ini jelas tidak pada tempatnya. Seorang penulis buku motivasi tentu tidak mau disibukkan dengan sistem komputer. Bagaimana kalau ada seribu orang macam itu bertanya dan semuanya dijawab dengan jawaban yang sama? Maka ini bug dalam pemasaran.

HCI adalah Human-Computer Interaction. Saya ambilkan definisi Wikipedia ID:

Interaksi manusia dan komputer (bahasa Inggris: human–computer interaction, HCI) adalah disiplin ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan komputer yang meliputi perancangan, evaluasi, dan implementasi antarmuka pengguna komputer agar mudah digunakan oleh manusia.

Perhatikan, agar mudah digunakan oleh manusia.

Kesalahan Umum Pemasaran 6

Tidak menerima feedback dari pengguna. Yang namanya pemasaran itu pasti punya target. Dan si target pasti memiliki persepsi terhadap pemasaran kita. Kita, dalam memasarkan, atau jujur-jujuranlah branding,  pasti membutuhkan kontrol persepsi. Sedangkan kalau kita tidak bisa menghargai feedback dari pengguna kita, maka persepsi pengguna adalah buruk untuk pemasaran kita.

  1. Menolak setiap orang yang mengeluhkan kelemahan-kelemahan Linux (insya Allah akan datang esai khususnya). Bahkan menghardiknya (dengan cara apa pun). Mudahnya, kalau Anda tidak belajar di mana kelemahan Anda, bagaimana Anda bisa memperbaikinya?
  2. Memperumit (dengan cara apa pun) pengguna yang memberikan saran kepada distro yang kita buat atau kita pasarkan.
  3. Menganggap kritik terhadap Linux dari pengguna Linux sendiri adalah pesimisme. Kurang dalam wawasan kita kalau menganggap sebuah kritik dari pengguna Linux adalah pesimisme. Kritik itu penting untuk membangun suatu struktur yang kokoh. Andai kita sedang membangun rumah tapi miring. Sedangkan kita tidak sadar miringnya, lalu ada orang tahu miringnya dan dia mengkritik kita “Mas, bangunan sampean miring. Benerin, dong!”, bagaimana sikap kita? Ya berterima kasih, dong. Lain dengan sebagian orang yang marah atau sedih kalau Linux dikritik. Do not seek for praise, seek criticismdontseekpraise
  4. Membuat sistem feedback yang merepotkan pengguna. Nah, kalau ini, sudah mulai menjurus ke teknis. Lihatlah Bugzilla. Lihat juga milis developer Ubuntu. Bandingkan dengan blog Ubuntu Tweak. Mana kira-kira yang lebih mudah untuk pengguna menyampaikan keluhan/saran/kritik? Tentu jawabannya adalah blog. Entah mengapa developer suka sekali dengan yang namanya milis. Mengapa sih, untuk sekadar melakukan feature request di GIMP kita harus join milis developer-nya? Mengapa tidak dibuatkan satu blog saja yang khusus untuk pengguna melaporkan bug atau minta fitur baru? Buatlah sistem feedback yang ramah pengguna. Saya lebih senang dengan caranya developer IGOS Nusantara yang membebaskan feature request dari pengguna hanya dari fesbuk mereka. Wow, sangat dekat kepada pengguna apalagi di Indonesia. Jujur saja, meski tidak cocok dengan fesbuk, saya akui ini cara yang bagus. Mudah untuk pengguna, mudah juga untuk developer agar tahu mana yang perlu diperbaiki. Mengapa masih banyak developer yang kukuh dengan kerumitannya?

Paling jelek, kita semestinya menghargai feedback negatif dari pengguna. Jangan seperti sebagian developer yang marah kepada penggunanya yang melaporkan kesulitan di dalam penggunaan.

Garis Besar Esai Kedua

Kesalahan-kesalahan umum dalam pemasaran kita adalah:

  1. Sikap sombong atau pamer.
  2. Kasar.
  3. Solusi tidak pada tempatnya.
  4. Ketiadaan leadership.
  5. Menganggap tidak ada masalah HCI.
  6. Menolak feedback.

Penutup Esai Kedua

Sekiranya ini dulu. Mungkin kalau saya nemu lagi yang lain, saya akan tambahkan.

Rujukan

Iklan

Pemasaran Sistem Operasi Linux


Bismillahirrahmanirrahim.

Pagi ini saya membuat satu kategori baru berjudul Marketing. Sulit bagi saya untuk membuat satu kategori baru. Jadi kalau ada, maka itu sangat penting. Apa pentingnya marketing (pemasaran) dan apa pentingnya untuk Linux? Mengapa tidak pemasaran yang lain seperti barang atau jasa? Inilah bagian dari diri saya yakni bakat yang baru saja saya sadari terpendam dan menanti untuk saya gali sendiri. Dulu ketika pertama kali saya melihat laman pengembang Blankon, saya sebenarnya juga membaca adanya bagian pemasaran tetapi saya tidak meliriknya sama sekali dan merasa memang itu bukan bidang apalagi minat saya. Ternyata kenyataan hari ini kebalikan dari pikiran saya kala itu.

Tentang Esai Ini

Kembalinya hasrat saya menulis membuat saya berpikir lalu membuka dashboard. Saya ingin membuat kategori baru Marketing lalu menulis di dalam kategori itu semua pikiran saya mengapa kok begini dan mengapa kok begitu dalam menulis tentang Linux akhir-akhir ini (baca: marketing). Intinya, saya ingin menulis mengenai bagaimana strategi saya dalam memasarkan Linux mulai posting ini. Selain menambah jumlah posting, bisa jadi esai ini akan dipakai kelak di pengembangan OS lokal macam IGN dan Blankon. Semoga saya mendapat pahala dengannya. Pada esai ini, saya hanya akan bicara soal masalah-masalah pemasaran secara rinci sedangkan solusi dan lain-lain akan datang pada esai selanjutnya. Insya Allahu taala.

Mengapa Linux Butuh Pemasaran?

Pertanyaan ini jawabannya sama dengan pertanyaan “mengapa saya memasarkan Linux?” yakni karena Islam dan kaum muslimin. Lingkup batasan saya sederhana saja: cuma se-Indonesia. Luar negeri saya tidak peduli sama sekali. Permasalahan nomor satunya adalah pembajakan sistem operasi dan software di Indonesia. Ini hal buruk untuk kaum muslimin. Cara mengubahnya ada banyak. Salah satunya yang saya mampu insya Allah adalah memasarkan Linux. Pemasaran itu luas, termasuk pula memahamkan pengguna soal pembajakan, soal Linux itu sendiri, soal FOSS, dan banyak lagi. Jadi sebenarnya bukan masalah Linux, tetapi masalah berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin. Banyak saudara kita belum tahu. Jadi mengapa kita yang tahu tidak memberikan pelayanan terbaik agar mereka tahu dan mendapat ganti yang lebih baik? Dan kalau bisa untuk kaum muslimin, maka perintah berbuat baik secara umum untuk semua orang juga berlaku bagi saya dalam rangka Islam rahmatan lil ‘alamin. Kaum muslimin harus menjadi rahmat di manapun mereka berada. Maka dari itu saya memasarkan Linux.

Mengapa Harus Linux?

Coba katakan kepada saya satu OS yang legal (tidak ada syubhat dalam izin penggunaan), gratis, open source, memenuhi secara keseluruhan kebutuhan desktop dan server, antarmuka tampilannya sangat bervariasi, selain Linux. Ada? Jika ada, maka saya ingin mengunduhnya saat itu juga. Karena sifat Linux yang demikianlah saya ingin menjadikannya alternatif untuk pengguna komputer di Indonesia terutama untuk kaum muslimin.

Mengapa Melakukan Ini?

http://al-atsariyyah.com/keutamaan-memenuhi-kebutuhan-kaum-muslimin.html

Definisi Pemasaran

Supaya terarah, berikut saya nukilkan definisi pemasaran dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran):

Pemasaran (bahasa Inggrismarketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang ataujasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.

Pentingnya definisi ini adalah membatasi kita agar tidak keluar dari lingkup pemasaran yakni apa-apa saja yang dilakukan dalam pemasaran. Dalam hal ini, dari definisi Wikipedia dan halamannya, saya batasi pemasaran Linux pada tindakan-tindakan berikut:

  1. Mempromosikan.
  2. Memberikan dukungan teknis (baca: memberi solusi).
  3. Mengadakan barang.

Meski cuma tiga poin, tetapi ini luar biasa luas. Insya Allah akan saya jabarkan nanti. Yang penting ketahui dulu apa yang kita promosikan.

  1. Produk yang mau dipasarkan: Linux.
  2. Benarkah Linux itu produk? Ya.
  3. Barang atau jasa? Barang, tepatnya barang tak berwujud.
  4. Apa alasannya? Dia adalah OS yang Microsoft Windows pun juga merupakan OS. Sama-sama produk walau sebagian orang mengingkari Linux adalah produk. Kita marketer jadi kita menganggap Linux sebagai produk. 

Target Pemasaran

Pengguna komputer di Indonesia secara umum. Siapa mereka? Tentu kaum mayoritas yakni mereka yang tidak memahami sistem secara mendalam. Berbeda dengan Anda dan saya yang kebetulan memang sering ngoprek dan sudah hafal ratusan perintah bash. Ini termasuk ayah, ibu, adik, kakak, tetangga, nenek, murid SMA, bahkan istri dan orang-orang terdekat kita. Yang paling penting, semua dari mereka pasti menggunakan sistem operasi Windows sebelum mengenal yang lain. Intinya, kita akan memasarkan Linux kepada semua pengguna Windows di Indonesia. Ini harus ditekankan dahulu sebelum beranjak jauh.

Tujuan Pemasaran

Tujuan beda dengan target. Kalau target itu maksudnya khithab, orang atau objek yang dipasari. Targetnya adalah pengguna Windows sedangkan tujuannya sebagai berikut.

  1. Pengguna mengetahui Linux secara detail dan kita selaku pemasar menyediakan semua permintaan pengguna dari segi OS maupun software aplikasi.
  2. Pemasar bisa menjelaskan secara detail apa itu Linux, desainnya, promosinya, iklan-iklannya, bisa berkomunikasi dengan pengguna, sampai bagaimana Linux bisa digunakan langsung oleh pengguna.
  3. Mengenal dan memahami pengguna sedemikian rupa sehingga cocok dengannya dan Linux dapat tersampaikan dengan baik kepadanya.

Tujuan yang paling penting dan harus diutamakan adalah poin nomor 3 ini. Poin 3 inilah kekurangan kita semua dan inilah yang sedang saya usahakan untuk angkat dengan esai-esai saya. Semoga Allah menjadikan niat saya ikhlas.

Siapa Pihak Pemasar?

  1. Developer Linux termasuk Canonical, Novell, Red Hat, YPLI, LIPI, dan lain-lain.
  2. Komunitas pengguna sampai Anda dan saya.
  3. Perusahaan yang berbisnis dengan Linux semacam InfoLINUX, Linux Format, Google, Github, Inc., Samsung, dan lain-lain.
  4. Institusi yang berurusan dengan Linux semacam UI, UGM, Gunadarma, dan lain-lain.

Jadi, kalau Anda adalah salah satunya, atau dobel, dan melakukan salah satu tindakan pemasaran Linux, maka Anda adalah pemasar Linux. Dalam tulisan ini, saya akan banyak menyinggung pemasar nomor 2.

Pemikiran Paling Mendasar

Memudahkan pengguna. Linux yang kita sebarkan harus memudahkan pengguna dan bukan sebaliknya. Ini pemikiran mendasar saya yang saya terapkan di setiap promosi saya. Kenyataan berkata Linux memang rumit tetapi apa usaha kita untuk menyederhanakannya. That’s the main point. Jika Linux tidak memudahkan pengguna, maka upaya menolong sesama muslim dan semua orang dalam hal ini tidak tercapai. Ini tidak saya inginkan. Maka dari itu, esai ini nanti isinya berkutat pada hal kemudahan untuk pengguna. Pengguna harus diistimewakan dan dinomorsatukan. Dan pengguna tidak boleh disalahkan atas ketidaktahuan/ketidakbiasaan/ketidakbisaan/kebingungan mereka. Ini harus dicamkan.

Perbedaan Pemasaran Kita dengan Mereka

  1. Kita tidak menjual Linux dan FOSS. Mereka menjual OS dan software mereka.
  2. Kita tidak selalu berafiliasi dengan dana. Mereka selalu mengaitkan segalanya dengan dana.
  3. Pengguna selalu kita anggap sebagai pengguna (oleh karenanya kita sering semena-mena kepada mereka). Pengguna selalu mereka anggap sebagai konsumen.

Itulah perbedaan antara pemasaran kita dengan mereka. Kalau ingin menyaingi mereka (dan selalu kita tampak ingin menyaingi mereka), maka ambil cara mereka dalam poin 3. Istimewakanlah pengguna dan nomor satukan mereka. Jangan pernah remehkan poin 3 ini. Oleh karena kita sadar pengguna = konsumen, maka otomatis kita = produsen. Maka kita adalah >< mereka dari sisi sama-sama produsen dan sama-sama marketer. Maka carilah strategi pemasaran yang sama dengan mereka atau lebih baik. Nah, dalam esai ini, saya memilih opsi pertama saja. Sesuai dengan saya yang masih belajar.

Masalah-Masalah Pemasaran

Baik, masuk ke inti esai ini. Agar pemasaran merata dan mengena, maka masalah-masalah pemasaran harus diselesaikan. Sebelum itu, masalah-masalah pemasaran harus disadari keberadaannya dan diidentifikasi dahulu. Apa saja masalah-masalah pemasaran itu? Saya coba klasifikasikan jadi 4 dulu.

  1. Ketidaktahuan akan adanya masalah dalam pemasaran. Jangan remehkan poin satu ini sedikit pun. Ini sumber dari segala sumber masalah pemasaran.
  2. Keterbatasan di sisi pengguna/target pemasaran dari 4 segi yaitu waktu, biaya, tenaga, dan daya otak. Saya tegaskan lagi, pengguna harus diistimewakan dan dinomorsatukan. Mengapa? Karena ini marketing.
  3. Keterbatasan di sisi pemasar dari banyak segi di antaranya ketersediaan dukungan teknis (technical support), jangka waktu dukungan, ketersediaan human touch, kepastian sikap pemasar, waktu pemasar, daya jangkau pemasar,
  4. Keterbatasan di sisi Linux itu sendiri dari sangat banyak segi. Di antaranya sudah saya tuliskan panjang lebar di posting sebelumnya. Sebagiannya adalah ketiadaan sistem backup aplikasi yang sudah diinstal dan ketiadaan sistem instalasi single offline installer. Linux mewajibkan internet maka dari itu ini masalah terbesar Linux untuk dipasarkan di Indonesia.

Sementara itu dulu. Saya ingin esai pertama ini membahas khusus masalah-masalah ini dulu sampai habis.

Masalah Pemasaran Pertama

Pemasar (marketer)  tidak sadar akan adanya masalah. Ada macam-macam bentuk ketidaksadaran pemasar. Di antaranya tidak sadar akan keterbatasan pengguna, tidak sadar akan kelemahan-kelemahan Linux itu sendiri, dan tidak sadar akan keterbatasan dirinya sendiri. Apa akibatnya? Banyak orang lari dari menggunakan Linux dan bahkan ada yang lari dari komunitas karena masalah pertama ini. Dampak terburuk adalah yang dimiliki oleh masalah ketidaktahuan ini. Oleh karena itu, saya meletakkannya di posisi satu. Saya coba breakdown apa saja masalahnya.

Masalah yang paling umum adalah sering marketer tidak menyadari dirinya sedang melakukan marketing. Sering kita tidak sadar bahwa diri kita sedang melakukan pemasaran Linux. Sering kita tidak menyadari kekuatan lawan marketing kita yakni Microsoft dan Apple. Sering kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan adalah menentang dominasi Microsoft Windows di Indonesia.

Contohnya

Saya berikan skenario agar mengena kepada setiap pribadi.

  1. Kita mempromosikan Linux kepada orang-orang awam yang mereka semua menggunakan Windows.
  2. Lalu mereka bingung dengan Linux karena harus menghafal sekian banyak perintah.
  3. Lalu kita mengejek mereka karena ketidakbisaan mereka dengan alasan: Anda hanya belum terbiasa saja. Tentu dengan sejuta alasan lainnya.

Permasalahannya

Siapa Anda? Siapa saya? Pengguna Linux adalah minoritas. Anda ini sedang melakukan marketing. Kalau cara marketing Anda seperti ini, maka tidak mungkin ada orang mau menggunakan Linux. Menurut akhlak ya jelek, menurut adab jelek, menurut norma masyarakat juga tidak sopan. Bahkan akal sehat pun tidak bisa menerima adanya orang mau memasarkan produk kok malah mengejek penggunanya. Terang-terangan pula di hadapan publik (sering demikian). Siapa Anda? Anda harus menyadari bahwa Anda hanyalah minoritas yang berusaha melawan arus Microsoft Windows. Anda tidak bisa membodoh-bodohkan pengguna Windows hanya soal mereka tidak terbiasa. Anda harus sadar kalau Anda sedang melawan Microsoft, Anda harus sadar siapa Microsoft. Mereka punya kekuatan yang besar bahkan bisa mencengkeram negara. Anda bisa apa? Makanya, marketing ini harus memiliki strategi dan tidak asal bicara.  Insya Allah akan datang solusi untuk masalah-masalah ini.

Masalah Pemasaran Kedua

Masalah yang juga besar dan yang terbesar dibanding 2 masalah sesudahnya adalah keterbatasan pengguna. Pemasar harus sadar bahwa pengguna itu terbatas. Keterbatasan pengguna itu bertingkat-tingkat bukan hanya satu tingkat saja. Ini akan panjang. Saya di sini akan batasi klasifikasi keterbatasan pengguna menjadi 4 besar saja yakni waktu, biaya, tenaga, dan daya otak. Tenang, pembahasan seperti apa pun tidak pernah lolos dari 4 hal ini. Saya akan breakdown sedikit.

Pertama: Waktu

Ini yang saya tunggu sejak lama untuk sampaikan kepada Anda. Saya ingin mengutip kalimat bagus dari seorang ahli Linux senior di Indonesia yang bernama Taufan Lubis. Saya dapat kalimat ini dari balasan surel beliau setelah saya bertanya. Ini sangat bagus untuk Anda:

Linux itu susah diterapkan kecuali orang itu iseng dan banyak waktu, memang materi sekolah atau kuliah atau memang senang linux.

agar kita semua sadar letak permasalahan promosi kita. Kalimat ini saya ambil dari paragraf ketiga surel balasan beliau yang pertama. Agar Anda tahu, Pak Taufan ini pemilik blog Linux Indonesia yang hits blognya lebih dari satu juta. Mungkin di Indonesia blog macam ini satu-satunya. Untuk keseluruhan surel-surel kami, Anda bisa mengunduh salinannya di sini (hanya 20 KB).

Pengguna di Indonesia kebanyakannya tidak memiliki waktu untuk melayani distraksi bersama OS. Mereka inginnya just work OS. Pengguna yang senang ngoprek OS hanya segelintir saja. Maka mereka mesti dipahami. Mereka akan enggan menggunakan Linux karena waktu. Karena itu pahamilah jika ada banyak pengguna yang tidak mau meluangkan waktunya untuk menggunakan Linux. Jika Anda sadar akan hal ini, maka tanpa membaca esai saya selanjutnya, Anda bisa membuat solusi-solusi untuk hal ini sendiri. Mungkin dengan membuat software atau yang lain.
Kedua: Biaya

Jangan pernah heran apalagi sampai marah-marah kalau orang yang Anda pasari meninggalkan Linux dan mengejeknya karena dia merasa Linux boros bandwidth untuk update, untuk instal aplikasi, untuk reinstall aplikasi, dan untuk menyelesaikan masalah-masalah. Memangnya Anda hidup di mana? Anda hidup di Indonesia yang semua manusia tahu ini negara berkembang. Banyak warganya miskin dan tidak ada uang untuk mengurusi OS. Justru mestinya OS menghasilkan uang untuk warga tersebut. Anda harus tahu kondisi target Anda sebelum memasarkan.
Ketiga: Tenaga

Jangan heran juga kalau banyak orang akan menyerah menggunakan Linux karena tenaga mereka yang terbatas. Bayangkan saja seorang awam harus bolak-balik ke warnet untuk sekadar update atau instal wvdial, atau untuk melihat komputer temannya, atau harus berulang kali melakukan konfigurasi yang sebenarnya tidak perlu kalau ada otomasi, dan lain-lain. Tidak semua orang seperti kita yang powerful untuk ngoprek, powerful untuk menatap monitor, dan lain-lain. Malah lebih banyak lagi orang seperti ayah-ayah kita, ibu-ibu kita, dan lain-lain. Tidak mungkin mereka diharuskan untuk senantiasa melakukan konfigurasi.
Keempat: Daya otak

Ini yang paling penting untuk diperhatikan. Daya otak setiap orang itu terbatas. Artinya, ada batasan-batasan psikis seseorang untuk berpikir lama. Setiap orang memiliki batas lelah dalam berpikir. Inilah yang sering dilewatkan oleh pemasar-pemasar kita. Kenyataan bahwa target kita adalah terbatas dari segi daya otaknya. Terbatas ini maksudnya terbatas dalam segi mengingat, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Apa saja sih, penguras daya otak yang pantas dinobatkan sebagai masalah di sini?

  1. Kesederhanaan nama distro.
  2. Kesederhanaan nomor versi.
  3. Kesederhanaan jadwal rilis.
  4. Konsistensi user experience design dari satu versi ke versi lainnya.

Ini global dulu. Insya Allah penjabarannya akan datang nanti. Pokoknya harus dicamkan masalah-masalah ini adalah sangat penting dalam marketing, yakni dari segi branding-nya. Contoh paling gampang? Bandingkanlah skema penomoran versi CorelDRAW dengan Inkscape. CorelDRAW 7 dengan Inkscape 0.48.3. Berapa angka untuk satu versi? CorelDRAW jelas lebih sederhana oleh karena itu lebih gampang diingat oleh pengguna dan karenanya kita mengakuinya memiliki strategi marketing yang lebih baik. Sampai sini akan mulai menarik apalagi nanti kita akan menjabarkan masalah-masalah daya otak ini.

Masalah Pemasaran Keempat

Inilah sebuah kesadaran yang mengilhami beberapa esai saya sebelumnya yang isinya penuh bocoran kekurangan-kekurangan Linux. Kalau ingin membaca keseluruhannya, Anda bisa merujuk lagi ke laman berikut.

Dan kritik saya dalam Bahasa Inggris,

http://linuxdreambox.wordpress.com/2012/10/21/what-kind-of-application-packaging/

Sebagai informasi, andai kita anggap semua masalah di Linux sudah selesai, maka tautan terakhir inilah satu-satunya masalah paling besar yang menjadi beban pikiran akhir-akhir ini. Inilah kelemahan Linux terbesar yang membuatnya sangat tidak sesuai untuk kondisi pengguna Indonesia. Ini masalah, dan ini serius. Sering sekali saya temukan pemasar kita guyon dalam masalah tautan terakhir ini. Padahal khithab pemasarannya jelas-jelas orang Indonesia. Tanda yang terang bahwa pemasar kita belum mengerti strategi  pemasaran yang baik. Bagaimana solusinya? Sebagian sudah saya jabarkan dalam tautan-tautan yang saya sebut. Namun akan saya ulang dan saya kumpulkan jadi satu dalam satu posting, insya Allah. Karena permasalahan tautan terakhir ini sangat krusial dan membutuhkan energi besar developer untuk mewujudkannya. Sedikit bocoran, andai saja permasalahan tautan terakhir ini terselesaikan dan berhasil dipromosikan, maka orang Indonesia akan berduyun-duyun ingin menggunakan Linux. Dari mana saya bisa beranggapan demikian? Nanti insya Allah saya jabarkan.

Intinya, ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh Linux. Kekurangan yang ada itulah yang membuatnya tidak diterima dan tidak akan diterima oleh orang Indonesia. Energi nuklir pun percuma untuk promosi selama ini tidak diatasi. Ini yang pemasar harus sadari betul-betul lalu diadakan solusi, bukan malah menyalahkan pengguna karena ada Pemikiran Paling Mendasar di atas.

Garis Besar Esai Pertama

Bisa dianggap sebagai kesimpulan kecil. Berikut ringkasnya.

  1. Kita mempromosikan Linux berarti kita adalah marketer.
  2. Kita mempromosikan Linux berarti kita menentang dominasi bisnis Microsoft dan Apple baik diakui maupun tidak.
  3. Kalau kita menentang Microsoft dan Apple, berarti secara otomatis kita masuk ke ranah bisnis sistem operasi walau tidak kita menjual Linux/FOSS dan walau sebagian kita tidak mengakuinya.
  4. Kalau kita masuk ranah bisnis, maka cara promosi Linux kita juga harus disesuaikan dengan bisnis sebagaimana normalnya.
  5. Salah satu poin penting bisnis ini adalah mengistimewakan dan menomorsatukan pengguna.
  6. Kita menganggap pengguna sebagai konsumen yang tidak boleh disalahkan apalagi diejek karena ketidaktahuan/ketidakbisaan/ketidakbiasaan mereka.
  7. Tanpa kesadaran marketing ini maka niat kita untuk mempromosikan Linux kepada pengguna komputer Indonesia tidak tercapai atau sia-sia belaka.

Penutup Esai Pertama

Esai ini saya tulis sejak 19 Juni kemarin dan baru terselesaikan sekarang. Saya harap bisa menyusun esai-esai berikutnya yang berisi jabaran contoh-contoh kesalahan umum dalam pemasaran kita kemudian solusi-solusi pemasaran serta janji saya pada esai ini. Saya harap Anda puas dengan esai pertama ini dan siap membuat solusi sebelum esai kedua. Saya mohon maaaf jika ada kesalahan. Semoga esai ini bermanfaat.