Menanti Distro Tanpa Sudo


Seperti yang saya isyaratkan di esai saya sebelumnya, saya ada esai baru. Esai itu berjudul Menanti “Distro Tanpa Sudo”. Esai ini bicara mengenai inspirasi. Jadi, saya katakan dulu kalau inspirasi judul esai ini datang dari esai sebelumnya itu. Hehehe. Mbulet, ya? Pokoknya saya membayangkan suatu saat ada yang membuang sudo dari Linux.

Intinya, di sela-sela keseharian saya, terbersit di benak pertanyaan bagaimana kalau sudo dibuang saja? Saya bukan tipe orang kebanyakan. Tak masalah bagi saya memikirkan sesuatu yang itu bakal ditentang banyak orang :) Ya, dengan pemikiran ini, bisa jadi Linux akan lemah keamanannya. Linux akan jadi selemah Windows. Tapi benak saya menyangkal dengan kalimat meski tanpa sudo, Linux masih lebih aman daripada Windows. Ini seperti membandingkan pendekar pedang dengan orang yang tidak bisa bela diri. Pendekar pedang meski kehilangan pedang, dia masih bisa bela diri yang lain. Walau tanpa pedang. Tapi orang biasa, bisa apa dia? Itulah kira-kira perbandingannya.

Tapi saya membayangkan kalau sudo dibuang. Seharusnya instalasi aplikasi akan jauh lebih sederhana. Seharusnya pengguna awam tidak perlu memegang terminal. Wow.

Tentu, yang saya bayangkan bukanlah Ubuntu dirombak langsung sudo dibuang. Tidak. Yang saya bayangkan, akan ada satu distro coba-coba yang membuang sudo. Jadi tidak ada root. Bahkan bisa dibilang masuk itu sudah root. Kalau benar ada kelak yang membuatnya, saya bersedia mendukung. Nah, jika ada yang tidak setuju, saya persilakan. Tapi jangan iri lho ya kalau kelak distro tanpa sudo itu bakal mengalahkan distro yang tidak setuju :D Hehehe. Yah, meski saya sendiri lebih suka kalau distro-distro itu diperkecil jumlahnya.

Saya yakin masih ada generasi brilian yang akan menyambut ide macam ini. Yah, meski kini orang malah bersedia nge-root (Andoid) dan mau susah payah dekat sistem sudo. Tak mengapa, toh masih terlalu banyak user yang tidak suka konsol. Saya yakin suatu saat ini akan terjadi. Tunggu saja :D

22 thoughts on “Menanti Distro Tanpa Sudo

    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Hahaha, saya memang senang memikirkan masa depan Linux, Kang. Entah ke arah mirip atau jauh dari Windows :)

      Yang penting ada orang baru yang mau menggunakan OS legal, itu sudah senang sekali saya :D

      Terima kasih. Alangkah senang saya menerima komentarmu :D

      Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Silakan, Saudaraku. Kita bebas memilih pakau GUI atau terminal. Saya, untuk sisi promosi Linux, punya ide agar membuang sisi yang dibenci pengguna dari Linux. Hanya ide ;)

      Terima kasih banyak.

      Balas
      1. arhsa

        Saya ada niat menggunakan Debian. Rasanya mengejar Ubuntu yang berlari cepat setiap enam bulan dengan fitur yang juga berubah membuat kaki komputer jadul saya lelah dan semakin tertatih melangkah. Upgrade mesin bukan solusi indah sedangkan upgrade hardware tidak cukup murah. Apakah Anda ada masukan tentang Debian? Saya sudah pegang iso image CD instaler Squeze.

      2. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

        @arhsa: Bagus, Kang. Ini kali baru ada orang yang pakai bahasa syair dalam berkomentar di posting saya :)

        Saya sama sekali tidak pakai Debian. Pernah hanya coba sekali, itu pun Live USB. Saya kira terlampau besar ukuran installer-nya. Namun kata teman-teman, Debian lebih stabil. Kalau akang cari kestabilan, itu baru saya sarankan pakai Debian :)

        Barakallahu fiikum :)

  1. iyan

    g pake sudo gpp kok, jangan dijarkan aja, kalou mau instal di ubuntu pake aja ubuntu software center g pake sudo, cuma tanya password. Pake gdebi juga g nulis sudo.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Selamat datang, Kang! Sudah saya nantikan komentator untuk posting ini ;)

      Iya, saya menanti itu. Maksud saya ya termasuk tanpa masukin password juga :D Kangen rasanya, sudah lama nggak pakai Gdebi.

      Terima kasih banyak, Kang. Sayang akang tidak cantumkan alamat blog. Kalau ada, insya Allah saya kunjungi.

      Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Terima kasih telah datang, Pak Hund. Saya senang menerima komentar bapak. Saya gembira sekali hari ini (Jumat 4 Januari 2013) saya menerima lebih dari 10 komentar. Alhamdulillah.

      Iya, Pak. Sebelum merilis posting ini, saya tanya dulu via sms kepada beberapa warga FUI. Saya tanya mengenai SuperOS. Dan saya tak peduli lagi andai sudah ada distro tanpa sudo itu sebelum saya rilis posting ini :)

      Saya pernah memakai Puppy. Bukan untuk kebutuhan OS, tetapi untuk menulis tutorial. Alhamdulillah, cukup laris. Dan itu membahagiakan saya :)

      Terima kasih, Pak Hund… Saya senang banyak pemerhati Linux sukarela datang ke blog saya ;)

      Balas
  2. Rizal Muttaqin

    Saya rasa GNU/Linux harus meniru apa yang dilakukan oleh Mac OS, pengalaman saya menggunakan OS X Lion (sepertinya versi sebelumnya juga sama) bahwa aplikasi dipaketkan dalam berkas terkompresi *.dmg dan untuk memasangnya pengguna cukup mengklik ganda kemudian menyeretnya ke folder Applications. Tapi, bukan itu yang pointnya. Di Mac, aplikasi yang kiranya kurang esensial, dalam artian aplikasi tidak menembus langsung ke ‘daleman’ tubuh sistem operasi itu, tidak memerlukan sandi sama sekali. Sebagai contoh saya pasang Mozilla Firefox, LibreOffice dan VLC itu tidak perlu memasukkan sandi sama sekali. Sementara untuk memasang pustaka NTFS (ntfs-3g untuk yang gratis atau Tuxera NTFS untuk yang berbayar — modus tulis ke NTFS tidak disertakan secara bawaan), pengguna harus memasukkan dulu sandi sistem (sandi pengguna pertama, sama seperti Ubuntu) untuk memasangnya.

    Kemudian, saya rasa GNU/Linux itu perlu menurunkan paranoidnya, masa mau terkoneksi ke jaringan nirkabel saja dengan pengguna kedua, harus memasukkan sandi pengguna pertama? Atau mau akses perangkat modem harus pake sandi juga?

    Saya membayangkan kalau metode ini diterapkan pada GNU/Linux Lebih jauh, metode paket perangkat lunak seperti itu (*.dmg) juga perlu ditiru.Karena memang sistem lumbung terpusat ini walaupun memang sangat manjur untuk menghemat ruang penyimpanan diska keras (dengan menggunakan pustaka yang sama untuk banyak aplikasi), sistem ini cukup dilematis kalau mau diterapkan di Indonesia. Mengapa? Karena kecepatan Internet kita yang masih lambat. Saya pernah menemukan salah satu distro GNU/Linux yang merevolusi hierarki sistem berkasnya menjadi mirip seperti UNIX/Mac OS, namanya Gobolinux –walaupun sekarang sedang tidak aktif lagi, yang meng’gunduk’an folder sesuai isinya, kalau isinya binary, pustaka aplikasi ya ditaruh di folder Applications, kalau isinya berkas pribadi pengguna ya ditaruh di folder Users, tidak ada lagi /usr/bin, /bin, /sbin, /usr/sbin, dst yang akhirnya mirip Windows juga. Entah apa tujuan pastinya, yang saya harapkan sih menuju ke sistem paket tersebut. Dengan begitu, akhirnya, pengguna awam lebih terbantu dengan adanya installer-installer binary seperti yang sudah akrab kita temui pada microsoft Windows.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Tahukah engkau, Mas Rizal?

      Pemikiranmu sama denganku.

      Dan apa yang saya katakan ini sudah tertuang dalam esai saya Permohonan Untuk Komunitas Linux Indonesia. Saya tahu ada yang harus dicontoh dari Mac OS untuk Linux. Saya kira semua kita sudah tahu itu. Namun yang jadi masalah adalah kemampuan kita, untuk menerima realita. Ternyata, setelah saya rilis esai itu ke seluruh komunitas, ada satu komunitas yang menolak dengan sangat keras (kalau tidak boleh dikata “tidak beradab”) padahal itu hanya ide. Terbukti, kita tidak lepas dari sikap antikritik dan tidak lepas dari sikap tidak bisa menerima kenyataan.

      Apa yang Anda katakan semuanya saya setujui. Karena saya kira memang ada yang harus berubah di Linux. Saya setuju dengan ide .dmg Anda ini, bahkan sebelum saya membacanya. Terima kasih. Sungguh tambahan yang berharga buat saya.

      Saya pun sudah tahu mengenai Gobolinux dan sistem foldernya. Bukan dari pengguna Linux semacam kita, tetapi dari orang yang membenci Linux dengan judul posting Gua Benci Linux. Saya bukan tipe-tipe orang yang marah kalau dikritik, alhamdulillah. Dan saya yakin Anda pun demikian, dari sikap Anda yang tidak antiMac. Saya senang.

      Memang Linux harus berubah, dan saya kira, cenderung kepada apa yang Anda sebutkan. Terima kasih banyak :)

      Balas
  3. Ping balik: Menanti Distro Tanpa Sudo | Balikpapan Linux

  4. Ping balik: Pemasaran Sistem Operasi Linux | Ade Malsasa Akbar

  5. Nourman Hajar

    Menurut saya sih, sudo TIDAK BOLEH dan TIDAK BISA dibuang begitu saja. Lalu? Solusinya? Ini bisa diatasi dengan adanya sistem groups di Linux. Di laptop Arch saya yang tercinta ini (lebay), saya bisa langsung menjalankan command “reboot” (dengan user biasa) tanpa sudo kok, berkat adanya sistem groups tersebut :D

    Dikutip dari ArchWiki: “Users may be grouped together into a “group,” and users may choose to join an existing group to utilize the privileged access it grants.”

    Simpel, bukan?

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Terima kasih akang telah berkomentar di sini. Posting ini termasuk posting lawas banget yang saya sudah tidak mendukung lagi idenya. Posting ini sudah saya tinggalkan. Namun, dia tetap ada di sini sebagai catatan sejarah semata.

      Saya tidak tahu mengenai Puppy Linux.

      Balas

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s