Dimulainya Proyek Buku Kolaborasi Berbahasa Indonesia Melalui Telegram


Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini adalah catatan pribadi saya atas munculnya proyek-proyek buku elektronik kolaborasi yang berbahasa Indonesia yang dikerjakan melalui jaringan Telegram di internet. Ciri proyek-proyek yang saya maksud ini adalah dikerjakan dengan standar format ODF (OpenDocument Format) dan program LibreOffice untuk salah satu topik spesifik free software oleh banyak orang. Proyek ini tidak menggunakan standar Microsoft OOXML, tidak menggunakan Microsoft Office (atau proprietary software lain). Proyek-proyek ini saya sebut dengan istilah proyek buku kolaborasi. Tren proyek buku kolaborasi ini dimulai tahun 2016 ini ditandai dengan mulai maraknya jaringan dan free software baru bernama Telegram.

Asal Muasal

Kemunculan pertama proyek buku kolaborasi berasal dari ide saya untuk memasyarakatkan ODF di Indonesia. Catatan, pemasyarakatan ODF akan membawa kepada pemasyarakatan free software pula (mis. LibreOffice). Salah satu aspek penting ide ini adalah pandangan bahwa panduan-panduan teks untuk LibreOffice itu sendiri, untuk GNU/Linux, untuk free software, harus tersedia dalam Bahasa Indonesia. Karena panduan itu tidak ada, maka harus dibuat sendiri. Saya paham betul ide ini sangat bersifat ideal (atau utopis) sehingga dibutuhkan fasilitas yang mencukupi untuk melaksanakannya.

Proyek Buku Perdana, Inkscape

Ketika saya mulai menggunakan jaringan dan free software Telegram dan kemudian menyadari inilah fasilitas yang saya butuhkan untuk mewujudkan ide itu saya memulai (seperti biasa) sebuah proyek yang saya namakan Buku Panduan Inkscape Pemula di IRC #ubuntu-indonesia. Singkat cerita, waktu berselang dan saya bawa proyek ini ke Telegram. Tidak disangka, ide saya ini (tentu, saya telah mengekspresikan ide dalam .odt yang nyata) disambut banyak orang baik di IRC maupun Telegram. Singkat cerita lagi, proyek ini selesai hanya dalam 22 hari dengan hasilnya sebuah buku berformat digital (odt & pdf) setebal 55 halaman yang memuat 10 bab panduan penggunaan Inkscape dalam Bahasa Indonesia. Penulis buku ini berjumlah 8 orang. Buku ini dipublikasikan pertama kali 9 Maret 2016. Inilah buku pertama dalam Bahasa Indonesia yang dibuat dengan LibreOffice secara kolaboratif melalui jaringan Telegram.

Proyek Buku Kedua, LibreOffice

Sesuai dengan pernyataan saya, ide saya adalah memasyarakatkan ODF (dan LibreOffice). Proyek buku kolaborasi perdana hanya batu loncatan pertama untuk ide saya itu. Selepas saya rampung publikasikan buku perdana, orang-orang mulai menilai positif ide dan pembuktian ide ini. Tidak hanya di media sosial tempat buku itu saya publikasikan, tetapi juga di IRC dan di Telegram sendiri. Animo mereka terhadap publikasi buku ini sangat besar. Aktivitas sharing dari masyarakat terhadap publikasi ini sangat tampak. Inilah efek massal yang saya inginkan dari proyek perdana. Dengan bermodalkan efek massal positif ini, saya mulai proyek yang sebenarnya, proyek buku kedua yang bertopik LibreOffice itu sendiri.

Perbedaan dari proyek pertama, proyek kedua ini saya serahkan koordinasinya kepada orang lain. Judul buku proyek kedua ini adalah Mari Mengenal LibreOffice. Persamaan dari proyek pertama adalah proyek kedua ini berasal dari ide saya, template odt yang saya buat, dan lisensi yang saya tetapkan. Bahkan kovernya sendiri sama dengan Buku Panduan Inkscape Pemula. Saya melakukan manajemen proyek seperti koordinasi dan lain-lain melalui koordinator proyek kedua ini dari PM. Pendek kata, saya masih koordinator tetapi dari balik layar. Saya berkontribusi satu bab untuk buku kedua ini.

Bagaimana hasilnya proyek kedua? Sukses besar. Buku ini dipublikasikan pada 21 April 2016. Singkat cerita, animo masyarakat ketika buku ini dipublikasikan juga besar. Aktivitas sharing terhadap buku ini besar. Bahkan 4 bulan setelah buku ini diterbitkan, ketika akhirnya koordinator memublikasikan di blognya posting unduhan untuk Mari Mengenal LibreOffice, animonya masih besar sekali.

Trik Psikologis

Senjata untuk mencapai tujuan proyek pertama dan kedua adalah sejumlah trik yang saya set sejak awal. Di antara trik itu adalah saya sengaja mengecilkan batas jumlah halaman pada proyek perdana. Saya set pertama kali sekitar 10 halaman. Apa gunanya? Gunanya adalah membuat orang berpikir “proyek ini gampang”. Ini penting sekali. Karena waktu orang berbeda-beda, begitu pun kuota internet, kesempatan, semangat, motivasi, dan level kerajinannya. Kecilnya target jumlah halaman membuat orang cepat memenuhi target, sekali target dipenuhi, saya naikkan angkanya dua kali lipat. Ketika target kedua terpenuhi, saya naikkan lagi hingga menjadi jumlah yang Anda lihat saat ini.

Trik kedua adalah membesarkan jangka waktu pengerjaan (deadline). Saya sengaja memberikan batas waktu pengiriman artikel sebesar 2 bulan. Itu terlalu banyak sebetulnya, dan saya sendiri tahu itu. Namun dengan angka 2 bulan, ini membuat orang berpikir “proyek ini gampang”. Karena saya sadar betul waktu orang berbeda-beda. Hasilnya? Sesuai dengan yang saya perkirakan, proyek selesai duluan jauh dari waktu yang ditetapkan. Sebabnya adalah karena para kontributor merasa kurang lebih “proyek ini tidak mengganggu waktu saya”.

Trik ketiga adalah membuat aturan kerja yang jelas. Saya menetapkan aturan menulis di dalam odt yang itu terbaca dengan mudah bagi setiap kontributor. Kenapa ini perlu ada? Sekali lagi, karena waktu orang berbeda-beda. Orang butuh poin-poin deskripsi kerja yang pasti supaya mereka dapat langsung mengerjakan tugas mereka. Dengan demikian waktu mereka tidak diganggu. Satu hal lagi, bahwa proyek lebih cepat selesai jika kontributor mengerjakan satu hal dan mengerjakannya dengan baik (Anda kenal prinsip ini, bukan?).

Trik keempat adalah mengecilkan panjang minimal artikel. Saya menentukan minimal panjang sebuah artikel setengah halaman. Kenapa? Karena dengan ini orang berpikir “proyek ini gampang”. Saya paham bahwa sekali saja seseorang menulis, mayoritasnya mereka akan melampaui setengah halaman. Jika mereka sudah melewati batas itu, artinya mereka telah berkontribusi, dan artinya sekali lagi bahwa proyek ini gampang. Itu terjadi pada semua penulis baik di proyek pertama atau kedua. Bahkan ada yang menulis sepanjang 3 halaman.

Fasilitas Hebat

Ide saya untuk menyosialisasikan ODF (dan LibreOffice) adalah ide lawas. Hanya saja saya tidak memiliki suatu fasilitas publik yang mudah untuk unggah-unduh-bagikan sambil chatting. Ketika saya dengar Telegram muncul, saya mulai mengingat kembali ide tersebut. Pembuktiannya? Sukses. Fasilitas Telegram berupa kemudahan unggah data apa pun, berapa pun besarnya (1.5 GB), search data yang sudah pernah diunggah, unduh dengan mudah, dan bagikan data yang sudah diunggah ke lain tempat, itulah power yang kami gunakan untuk mengerjakan proyek buku kolaborasi. Power terbesar Telegram ada pada kebebasannya (lisensi GNU GPL v3) dan Telegram tersedia di GNU/Linux, tidak seperti WhatsApp (proprietary software) yang tidak memberikan versi GNU/Linux.

Bagaimana bentuk pengerjaan buku kolaborasi? Bentuknya adalah proses unggah, unduh, edit, unggah lagi, edit lagi, yang dilakukan banyak orang. Saya paham metode ini bukan metode pengembangan software yang umum (yang biasanya menggunakan SCM), tetapi saya sengaja menggiring proyek ke arah sana demi mewujudkan ide saya menyosialisasikan ODF dan LibreOffice. Jika saya memaksa menggunakan fasilitas semacam GitHub, para pemula kesulitan, dan pengerjaan bisa jadi tidak secepat sekarang. Ide saya ini didukung penuh oleh fasilitas Telegram. Beruntung pula tersedia versi GNU/Linux sehingga orang bisa kerjakan naskah sambil chatting dan unggah data.

Proyek Selanjutnya

Saat proyek pertama (Inkscape) sedang berlangsung, sudah ada kontributor yang mengatakan ingin diadakan proyek kedua untuk Inkscape. Kontributor ini akhirnya menjadi koordinator untuk proyek buku Inkscape kedua, sebagai lanjutan yang pertama. Karena sudah saya rencanakan di awal, buku pertama adalah buku perkenalan, buku kedua buku tutorial. Saat ini (15 Agustus 2016) proyek buku Inkscape kedua itu masih berlangsung.

Di samping itu, singkat cerita koordinator proyek buku LibreOffice menemukan jalan free software pada saat pengerjaan. Koordinator ini ingin melanjutkan proyek, dengan mengadakan proyek buku LibreOffice kedua yang lebih tebal dari proyek sebelumnya. Jadilah proyek buku LibreOffice kedua diumumkan dan saat ini ia sedang berlangsung.

Tak terduga, di sela-sela pembahasan GNU R (pembahasan OOT sebetulnya) di grup GimpScape ID di Telegram, saya melihat kesempatan memunculkan proyek buku baru. Saya langsung memberikan usul untuk didirikannya satu grup baru. Jadilah didirikan sebuah grup baru bernama Belajar GNU R Indonesia pada tanggal 13 Agustus 2016. Saya menyadari potensi kemunculan grup ini, oleh sebab itu ketika OOT berlangsung saya sudah langsung menyebutkan ‘GNU R’ bukan ‘R saja’. Saya senang sekali nama grup itu mengandung nama GNU. Lebih senang lagi karena ternyata grup ini serius menyambut ide saya untuk membuat buku kolaborasi. Saya unggah templat odt dari proyek sebelumnya ke grup ini dan disetujui untuk dipakai sebagai dasar penulisan. Buku itu sementara ini berjudul Mari Mengenal GNU R. Saya sudah membuat desain kover bukunya dengan Scribus sebagai kontribusi pertama.

Proyek Sampingan

Tentu saja saya sempat mengadakan proyek-proyek sampingan di luar proyek buku Inkscape dan LibreOffice, jauh sebelum munculnya proyek buku GNU R. Proyek itu di antaranya pertama berjudul Daftar Laptop Kompatibel GNU/Linux dan kedua Perbandingan Aplikasi Platform Windows & GNU. Yang pertama ini sempat saya sebut “Ragnarok Project” karena akan tidak ada ending-nya. Yang kedua terpengaruh pembuatan naskah buku saya. Keduanya saat ini berstatus terhenti (namun masih tetap dapat diakses) karena saya sibuk mengerjakan yang lain.

Grup

Grup pertama yang muncul adalah Belajar GNU/Linux Indonesia. Saya yang meminta kepada founder untuk diberi nama ‘GNU/Linux’ begitu. Grup ini disebut juga BGLI. Grup kedua yang murni didirikan untuk mengerjakan proyek LibreOffice adalah Belajar LibreOffice Indonesia. Grup ini disebut juga BLOI. Saya yang menyarankan kepada founder melalui PM untuk mendirikan grup ini. Grup yang ketiga adalah Belajar GNU R Indonesia. Seperti saya jelaskan sebelumnya, saya mengusulkan untuk mendirikannya di sebuah sesi OOT di grup GimpScape ID. Adapun grup-grup lain di sekitaran grup yang tiga di atas adalah GimpScape ID, Penulis GNU/Linux Indonesia, dan GNU/Linux Indonesia. Grup-grup ini disinggahi juga oleh warga dari ketiga grup proyek tadi. Lihat namanya, ada GNU di sana, suatu pertanda free software awareness sudah dimiliki oleh founder-nya. Artinya lagi, diharapkan kolaborasi free software akan lebih mudah terjadi di grup semacam itu. Adapun alamat grup-grup itu adalah:

Buku “Mari Mengenal LibreOffice” Karya Komunitas


Bismillahirrahmanirrahim.

Inilah buku kolaborasi kedua yang dikerjakan dan terbit setelah yang pertama. Melanjutkan yang pertama, buku ini tetap dikerjakan dengan menggunakan standar format OpenDocument Format dan free software LibreOffice. Dengan adanya buku kolaborasi kedua ini muncul dan menguat budaya mengerjakan proyek buku di jaringan Telegram. Semoga buku ini bermanfaat.

Workspace 1_049

Alamat Unduhan

Informasi Detail

Buku “Panduan Inkscape Pemula” Karya Komunitas


Bismillahirrahmanirahim.

Inilah buku elektronik pertama yang dikerjakan secara kolaborasi dengan LibreOffice dan standar format OpenDocument Format melalui IRC dan Telegram untuk Inkscape dalam Bahasa Indonesia.

skrinsot-buku-panduan-inkscape-pemula

Alamat Unduhan

Informasi Detail

Situs BengkelUbuntu.org Hadir Kembali


Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan ini saya mengumumkan bahwa situs http://bengkelubuntu.org sudah bisa dipergunakan kembali seperti biasa. Beberapa pekan lalu situs ini sempat nonaktif. Dengan bantuan dari Adi Perdana Hosting http://adiperdana.com, situs ini kembali hidup. Adapun mengenai pemaketan alldeb untuk Ubuntu 16.04 Xenial Xerus direncanakan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Terima kasih kepada Adi Perdana Hosting.

bakar-iso-pcbsd52

Mencoba Sistem Operasi gNewSense GNU/Linux


Bismillahirrahmanirrahim.

Saya menginstal gNewSense 3.0 Parkes pada 23 Maret 2016 lalu. Saya mendapati sejumlah kesan di antaranya (1) Parkes dibangun dari Debian 6.0 Squeeze; (2) versi paket-paket di dalamnya sangat lawas (GNU coreutils 8.5, kernel Linux 2.6, GNOME 2.30, OpenOffice.org 3.2.1, Iceweasel 3.5); (3) punya mirror repositori di Indonesia (Universitas Indonesia); (4) komponen repositorinya terdiri dari main saja tanpa contrib tanpa non-free.

Dari segi subjektif sebagai pengguna biasa, saya terkejut karena bisa berjumpa kembali dengan dua perangkat lunak favorit saya dahulu, yaitu OpenOffice.org dan GNOME 2, pada tahun 2016 ini. Jika ada orang lain memfavoritkan perangkat lunak yang sama, dia akan sama terkejutnya dengan saya jika mencoba gNewSense Parkes. Dari segi teknikal, saya juga terkejut betapa lawasnya versi-versi paket Parkes. Perintah apt-cache policy menginformasikan sejumlah paket kepada saya dan semuanya versi sangat lawas. Sebagian dilaporkan olehnya tidak tersedia di repositori gNewSense (dimaklumi, karena gNewSense memang tidak menyertakan firefox). Sisi positifnya, Parkes ini berjalan sangat mulus di laptop ASUS X44C tahun 2011 saya. WLAN, VGA, Audio Device dideteksi sempurna. Saya bisa browsing melalui wifi dan bisa mendengarkan OGG dengan gNewSense Parkes. Percobaan ini adalah bagian dari pembuktian kepada diri sendiri bahwa menggunakan sistem operasi GNU/Linux yang 100% free software tidak merugikan komputasi saya sama sekali.

Untuk memahami alasan seseorang menggunakan gNewSense, baca www.gnu.org.

Bagaimana Komunitas Free Software Bekerja


Bismillahirrahmanirrahim.

Copyright © 2016 Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Tulisan ini tersedia dalam PDF dan ODT.

Tulisan ini ditujukan untuk memetakan komunitas free software secara umum sehingga masyarakat awam mengenal garis besar cara bekerjanya. Di antara masalah free software sulit diterima di masyarakat adalah tidak diketahuinya peta komunitas free software itu sendiri dengan jelas, sehingga tidak ada pegangan yang mantap bagi masyarakat untuk masuk. Masalah tersebut bisa diselesaikan salah satunya dengan tulisan semacam ini. Tujuan yang diharapkan adalah masyarakat mengenal secara umum metode komunikasi serta metode gotong royong yang terjadi di komunitas free software di seluruh dunia. Pengaruh yang diinginkan adalah masyarakat memperoleh pegangan untuk bisa berkontribusi kepada komunitas free software secara lebih terarah. Tulisan ini tidak ditujukan sebagai buku yang komprehensif, tetapi sebatas “pembukaan” untuk memperkenalkan saja serta untuk memancing minat menulis para penulis lain di dalam topik yang sama. Tulisan ini adalah lanjutan dari seri tulisan Bahaya Paten Software, Antara Penamaan “GNU/Linux” dan “Linux”, Memperkenalkan Free Software, Apa Itu GNU/Linux, Apa Itu Free Software, Apa Itu Proprietary Software, dan Apa Itu GNU. Semoga tulisan ini bermanfaat. Baca lebih lanjut

Apa Itu GNU


Bismillahirrahmanirrahim.

Copyright © 2016 Ade Malsasa Akbar <teknoloid@gmail.com>

Tulisan ini tersedia dalam PDF dan ODT.

Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan pengertian sistem operasi GNU dengan singkat dan akurat. Tulisan ini dibuat karena ketidakpuasan terhadap tulisan-tulisan berbahasa Indonesia dalam topik yang sama di internet. Tulisan ini adalah bagian dari seri tulisan Bahaya Paten Software, Antara Penamaan “GNU/Linux” dan “Linux”, Memperkenalkan Free Software, Apa Itu GNU/Linux, Apa Itu Free Software, dan Apa Itu Proprietary Software. Semoga tulisan ini bermanfaat. Baca lebih lanjut