Mengapa Android Berbeda


Bismillahirrahmanirrahim.

Esai ini membahas sisi keunggulan Linux Android di atas Linux desktop secara global. Rasa ingin tahu saya terhadap bagaimana metode paling efektif mempromosikan Linux desktop belumlah usai. Saya akan terus mencarinya. Salah satunya dengan cara para ahli SEO bekerja yakni melihat kepada lawan sekelas. Hal itu saya terapkan di dalam esai ini. Android satu kelas dengan Linux desktop yakni sama-sama Linux. Namun Android tampak lebih sukses di kalangan pengguna yang sama kelasnya yakni pengguna Windows secara umum. Semoga esai ini bermanfaat.

Prakata


  • Padahal sama-sama Linux-nya.
  • Padahal dia “anak baru”.

Permasalahan


  • Pengguna menganggap Android lebih user friendly daripada Linux desktop.
  • Pengguna lebih cepat terbiasa dengan Android daripada Linux desktop.
  • Vendor-vendor saling berlomba dengan sangat ramainya merilis aplikasi Android.
  • Sedangkan vendor-vendor yang sama tidak melakukan yang seperti itu untuk Linux desktop (macam Ubuntu).
  • Kelengkapan aplikasi untuk Android pada banyak titik akan membuat iri pengguna Linux desktop.

Mengapa?


Ada hal-hal penting yang menarik untuk dicatat.

Karena #1

  • Ukuran.
  • Secara umum, mobile platform jauh lebih terbatas cakupan kerjanya dibandingkan desktop platform. Desktop itu sangat luas lahannya. Jadi pengerjaannya secara umum pula lebih susah.
  • Development untuk mobile platform lebih mudah dan lebih singkat waktunya daripada untuk desktop platform.
  • Kurva belajar untuk sistem yang terbatas (Android), lebih rendah daripada sistem yang tidak terbatas (Linux desktop).
  • Jadi kalaupun vendor ada niat merilis aplikasinya untuk Linux desktop, mereka juga terhambat oleh keluasan platform desktop itu sendiri.
  • Jadi kalaupun pengguna belajar sungguh-sungguh dari nol membiasakan diri dengan Linux, maka Linux mobile Android akan senantiasa lebih cepat dikuasai daripada Linux desktop. Karena ukuran mereka.

Karena #2

  • Hardware.
  • NB: secara umum setiap pengguna akan melupakan hardware mereka yakni keharusan instalasi driver yang sesuai DAN optimasinya di dalam satu perangkat handheld.
  • Secara umum, seluruh pengguna mobile platform tidak pernah memikirkan driver. Sedangkan seluruh pengguna desktop platform akan senantiasa kebingungan dengan driver + optimasinya.
  • Secara total, semua pengguna mobile platform memperoleh OS sekaligus hardware-nya secara all in one dan telah teroptimasi secara pabrikan. Sebaliknya, semua pengguna Linux desktop mengalami kesusahan driver + optimasi hardware karena mereka harus menginstal OS mereka sendiri secara terpisah, melakukan instalasi driver sendiri, melakukan optimasi hardware sendiri.
  • Mobile platform demikian karena OS dipaket dalam hardware dan telah dioptimasi sejak dari pabriknya (teratur). Desktop platform demikian karena OS tidak dipaket dalam hardware dan tidak dioptimasi sejak dari pabriknya karena memang pabriknya tidak ada/masih terlalu sedikit (tidak teratur).
  • Mobile platform Android yang demikian berkonsekuensi dianggap mudah digunakan dan user friendly di bidang hardware karena pengguna tidak memikirkan lagi kerumitan driver dan optimasinya sejak awal pertama menggunakan. Desktop platform Linux yang demikian secara umum berkonsekuensi cenderung dianggap lebih sulit digunakan dan nilai user friendlyness-nya tidak sebesar mobile platform Android karena pengguna masih memikirkan kerumitan driver dan optimasinya sejak awal pertama digunakan.
  • Mobile platform Android demikian karena 2 hal paling besar: 1) nama besar Google 2) Open Handset Alliance.

Karena #3

  • Sistem manajemen paket.
  • Mobile platform Android menggunakan single offline installer secara resmi dan pengguna langsung memakainya sejak pertama menggunakan. Mobile platform Linux tidak menggunakan single offline installer dan tidak mendukungnya secara resmi dan pengguna harus mencari sendiri solusi single offline installer di setiap distro yang ada.
  • APK di Android adalah standar. APK bisa disimpan kembali setelah digunakan. APK bisa didistribusikan ulang dan installable. Tidak ada single offline installer resmi yang terstandardisasi di Linux desktop.
  • APK memotong sempurna rantai dependency resolving dan membuat dekat antara maksud instalasi dengan hasil instalasi di sisi pengguna. Sistem manajemen paket umumnya di Linux menggunakan dependency resolving yang cenderung menambah jumlah rantai kerja di antara maksud instalasi dan hasil instalasi.
  • APK memotong panjang waktu pengguna untuk menginstal suatu aplikasi.
  • APK memotong resource masa depan pengguna dengan kemampuannya untuk disimpan dan digunakan ulang.
  • APK memungkinkan pengguna untuk mengunduh paket tunggal untuk satu aplikasi dari tempat lain dan menginstalnya di Android tanpa dependency resolving dan tanpa kebutuhan internet di device. Sistem manajemen paket umumnya di Linux desktop tidak bisa melakukan itu.
  • .deb, .rpm, .tgz, .tar.xz, .tar.gz, .tar.bz2 bukanlah single offline installer. APK single offline installer.

Karena #4

  • Nama.
  • Android disokong oleh nama besar Google + semua anggota Open Handset Alliance.
  • Ulangan: hardware dan software didukung oleh mereka secara total. Contoh: SAMSUNG dengan handheld, Google dengan Android SDK, mereka semuanya dengan promosi raksasa ke seluruh dunia.
  • Nama besar uang besar. Mereka punya dana yang cukup untuk terus menyokong perkembangan Android dari sisi mana pun.
  • Karena ada nama, maka ada ekosistem yang cepat berkembang. Ada feedback. Ada development aplikasi dan riset lain yang terus berkembang untuk Android.
  • Karena ada nama, maka developer tertarik untuk mengembangkan aplikasinya di Android.
  • Karena ada nama, maka ada kontrol terpusat yang membuat segalanya menjadi teratur.
  • Linux desktop tidak seperti itu. Terutama masalah promosi.

Karena #5

  • Internet.
  • Jarak antara internet dan sistem.
  • Android dan internet berjarak nol karena Android telah termaktub di dalam handheld yang terkoneksi internet (GSM/4G) sejak awal dibeli/digunakan. Linux desktop dan internet berjarak lebih dari nol karena Linux desktop tidak termaktub langsung di dalam hardware yang terkoneksi internet sejak awal dibeli/digunakan.
  • Terdapat masalah anomali rekursivitas kerja di Linux desktop untuk pengguna device internet (modem USB dsb.) yakni program untuk menyambungkan mesin dengan internet itu belum diinstal, sedangkan instalasi programnya membutuhkan internet, sedangkan internetnya sendiri tidak diperoleh kecuali dengan software tersebut. Masalah semisal ini jamak terjadi di kenyataan masyarakat terutama di negara berkembang. Bisa hal ini diatasi dengan pengetahuan, tetapi sekali dijawab, maka semakin benarlah terdapat jarak antara internet dan sistem di Linux desktop dan nilainya bisa jadi lebih dari 1.
  • Kedekatan Android dengan internet ini menghapus keharusan pengguna untuk menghabiskan waktu mengonfigurasi manual sambungan internetnya. Sedangkan di Linux desktop, sebagian pengguna menghabiskan waktu 2 minggu hanya untuk mengoneksikan secara teknis modem USB dengan OS-nya ke internet. Sebagian lebih lama dari itu.
  • Ketiadaan keharusan konfigurasi perangkat internet ini membuat pengguna menganggap Android user friendly.

Karena #6

  • GUI.
  • Semua pekerjaan di Android dilakukan hanya dari GUI sejak awal pertama dan seterusnya. Tidak ada interaksi antara pengguna dengan sistemnya dilakukan dari konsol.
  • Tidak semua pekerjaan di Linux desktop dilakukan hanya dari GUI. Sangat banyak interaksi antara pengguna dan sistemnya dilakukan dari konsol sejak awal pertama dan cenderung seterusnya.
  • Walaupun Linux desktop mayor seperti Ubuntu, PCLinuxOS, openSUSE, dan semisalnya telah berusaha semaksimal mungkin menjadikan hukum asal OS-nya “seperti Android” yakni segalanya bisa dilakukan hanya dengan GUI, tetapi kenyataan tidak mengizinkan itu. Segala macam forum masih menunjukkan banyak pengguna harus menyelesaikan pekerjaannya melalui konsol.
  • Sifat Android yang GUI tersebut memotong waktu pengguna untuk mempelajari perintah-perintah dan akibatnya.
  • Sifat Linux desktop yang tidak 100% GUI tersebut menambah rantai antara maksud kerja dan hasil kerja di sisi pengguna.
  • Waktu yang hemat untuk menggunakan Android karena 100% GUI ini mengakibatkan pengguna menilainya sebagai user friendly.

Karena #7

  • Jumlah aplikasi.
  • Android telah memiliki ~800.000 aplikasi di Android Store per 2013 (berdasarkan http://techland.time.com/2013/04/16/ios-vs-android/).
  • Linux desktop sulit diketahui jumlah aplikasinya karena poin #4 dan #3 (tidak terbalik) di atas. Diketahui pun, jumlahnya sangat jauh dibandingkan Android. Total saat ini kurang dari 50.000 aplikasi resmi di repositori Ubuntu atau Debian. Misalnya dari sumber satu[1], dua[2], dan tiga[3] ini. Angka 50.000 itu sendiri seandainya terpenuhi, tidaklah mencerminkan jumlah sebenarnya aplikasi karena poin #3 di atas.
  • Jumlah aplikasi Linux desktop jauh di bawah Android karena poin #1.

Pascakata


Jika Anda tertarik juga membahas user friendlyness antara Android dan Linux desktop, dan meletakkan GUI di nomor satu, saya tidak seperti Anda. Jika Anda menanggapi esai ini secara khusus, maka sesungguhnya esai ini hanya membahas hal-hal yang umum. Esai ini masih terbuka untuk disunting sesegera mungkin.

Kesimpulan


Android unggul popularitas dan anggapan user friendlyness-nya di kalangan pengguna dibandingkan Linux desktop –secara umum– karena semua poin di atas.

Ditulis oleh bukan pengguna Android.

________

Iklan

11 thoughts on “Mengapa Android Berbeda

  1. mashudicastol

    ingat tutorial ini http://webkayq.blogspot.com/2014/09/cara-menjalankan-aplikasi-android-di-pc.html

    setelah mencoba itu, saya jadi mikir, kalau google berani meledakkan chrome OS dan Chromebook di pasarang, sama seperti mereka memasarkan Android di mobile device, berarti ada harapan vendor aplikasi populer di android melirik membuat chromeOS. dan itu juga berarti ada kemungkinan makin banyak aplikasi yang sama seperti di Android yang tersedia di chrome apps store. dan itu juga akan cukup memberi kita pengguna Linux Desktop pilihan aplikasi yang memiliki fungsi sama seperti di Android. Jadi, mungkin seperti konsep yang sudah dilakukan oleh Apple. bisa terjadi singkronisasi aplikasi antara Android dan Chrome OS. seperti pada Mac OS desktop dan iOS.

    namun sepertinya mimpi itu tidak akan cepat terwujud, mengingat dominasi komputer desktop masih pada Windows, ..

    bagaimana menurut akang2 disini tentang pendapat saya di atas?

    Balas
  2. Moch Choyrul Anam

    Betul kata kang Ade, Saya sendiri memakai Android berbeda sekali dengan Linux yang versi desktop padahal sama-sama Linux, khususnya aplikasi yang ada di Android saya kira cukup lengkap semua aplikasi yang di butuhkan sudah tersedia di google play dan juga sangat mudah sekali menggunakan Android.
    Terima kasih kang Ade, Anda pintar sekali dalam hal menulis.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Wala, cuma segini doang tulisan saya, Kang. Lihatlah kenyataan ini. Lihat persaksian akang. Lalu, saya yang tidak punya Android, handheldnya, dan bahkan tidak menggunakannya saja menilainya user friendly. Lalu bagaimana orang lain?

      Satu hal yang unik, sistem manajemen paket Android memungkinkan aplikasi terinstal untuk di-backup. Dan itu tersedia di Play Store. Bagaimana dengan distro Linux pada umumnya?

      Saya tidak pintar menulis. Saya hanya menulis apa adanya.

      Balas
  3. D. Prameswara

    Mantap sekali Bang Ade, dan saya sepakat.

    Sebagus apapun suatu OS, penentunya adalah user. Sayangnya User tidak perduli dengan OS, mereka hanya peduli dengan aplikasinya. Dan jumlah aplikasi di Linux masih kalah jauh dengan Windows. Untuk dapat menuju kesana, Linux hanya butuh sebuah Killer App. Dan Ini yang dulu terjadi di Windows. Microsoft dengan Office Suitenya adalah sebuah killer app yang membuat User tidak bisa lepas darinya. Linux butuh yang seperti ini.

    Linux dari awal tidak dirancang untuk user biasa, Jadi jika ada yang bilang Linux itu sulit, ada benarnya juga. Untungnya, saat ini Linux dengan macam-macam distronya sudah mulai bisa menghilangkan problem ini.

    Dan tentu saja problem Hardware support. Yang paling krusial adalah printer.

    Balas
  4. usman_

    Ikut diskusi kang, tapi maaf tidak rapi :

    #1 Ukuran
    – Dengan kesimpulan tersebut maka seharusnya Windows Phone sangat populer, melebihi Windows desktop.
    Tapi ternyata Windows Phone tidak populer. Berarti ukuran tidak menentukan?

    #2 Hardware
    – Ternyata komputer/laptop dari Apple yg hardware+softwarenya sudah dioptimasi sejak dari pabriknya, masih kalah populer dengan Windows PC.
    – Padahal banyak yang harus menginstall sendiri OS dan driver Windows. Sedangkan Apple OSX tinggal pakai. Mungkin karena harganya mahal?

    #3 Sistem Manajemen Paket
    – Setahu saya offline install itu tidak di dukung resmi oleh Google, melainkan menggunakan aplikasi pihak ketiga supaya bisa menyimpan APK dari play store.
    – Single installer memang mempermudah pengguna offline. Namun pengguna online lebih praktis memakai ‘Appstore’.
    – Pengguna online tidak memikirkan dependency karena sudah serba otomatis.
    – deb, rpm, dsb juga bisa disimpan kembali & didistribusikan ulang supaya tidak re-download (/var/cache/apt/archives). Tapi memang tidak sesimpel single installer.

    #4 Nama #5 Internet
    – Wajar saja jika developer aplikasi & pembuat hardware mensupport produk yang dinilai bisa mendatangkan untung.
    – Menurut saya, pembuat aplikasi & hardware mensupport Android bukan semata-mata karena nama besar Google.
    – Karena disupport pembuat hardware tentu saja kompatibilitas OS nya lebih baik.

    #6 GUI
    – Sepertinya memang jika serba GUI maka akan dianggap user friendly.
    – Tapi saya tidak menemukan contoh sesuatu yg bisa dikerjakan lewat GUI Android namun harus dikerjakan lewat konsol di desktop Linux.
    – Memakai konsol juga bukan berarti lebih lama.
    – Misal ‘sudo apt-get install gimp inkscape blender’ lebih cepat daripada ‘klik menu > klik Appstore > cari gimp > klik install > cari blender.. dst’,
    jauh lebih cepat daripada ‘klik menu > klik browser > buka website gimp > klik download > nunggu download > klik install.. dst’

    #7 Jumlah Aplikasi
    – Banyak aplikasi serupa juga bisa menambah jumlah, misal jika ada 500 developer membuat aplikasi “to do list” dengan fungsi yg mirip, tetap saja di hitung 500 aplikasi.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Subhanallah. Blog khusus MP3 Bahasa Arab dari Al Ustadz Muhammad. Jazakallahu khayran, Akh. Na’am, ana juga merasa sulit menemukan situs yang berisi MP3 berkategori yang rapi. Adanya malah sururi. Punya antum ini bagus, Akh. Fokus.

      Balas

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s