The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear


Bismillahirrahmanirrahim.

Lama sekali rasanya saya tidak menulis esai kritik. Esai ini saya tujukan untuk diri saya sendiri dan sebagian pengguna Linux muda yang terlalu bersemangat. Inti esai ini adalah ajakan untuk menghentikan sikap membangga-banggakan apa yang kita miliki di depan orang lain terutama pengguna Windows. Esai ini mengajak Anda untuk mengakui bahwa setiap proses belajar membutuhkan waktu. Saya ingin membentuk esai ini to the point dan serealistis mungkin. Semoga esai ini bermanfaat.

Isi Esai Ini

  1. Sedikit Mengenai “The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear
  2. Apa Itu Mendengar?
  3. Masalah Kita
  4. Ironi Kita
  5. Akar Solusi
  6. Solusi
  7. Yang Ingin Saya Katakan
  8. Apa Manfaat Diam?
  9. Apa Ruginya Tidak Diam?
  10. Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?
  11. Penutup
  12. Bacaan

1. Sedikit Mengenai “The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear

Ini adalah kutipan slogan dari distro ternama Backtrack Linux dan Kali Linux. Terjemahan bebas slogan ini dalam Bahasa Indonesia adalah

Semakin Anda diam, semakin banyak yang bisa Anda dengar

Slogan ini kurang lebih memiliki makna metafora demikian. Anda akan mampu mengindra lebih banyak jika Anda lebih banyak diam. Orang yang “berisik”, selalu menyuarakan opini dan argumennya sendiri, tetapi jarang diam untuk mengevaluasi kenyataan dan jarang pula mengetahui pasti pendapat mereka benar atau salah. Jadi jika Anda pribadi yang mampu diam untuk mendengar lebih banyak, maka Anda akan mampu melihat lebih banyak detail dari kenyataan. Sumber terjemahan metafora ini adalah https://answers.yahoo.com/question/index?qid=20100307195415AA4aDyJ. Slogan Backtrack ini adalah jiwa esai ini.

2. Apa Itu Mendengar?

Mendengar adalah

  1. Mendengar itu sendiri.
  2. Membaca.
  3. Mengamati.
  4. Menguji.

Mendengar itu proses memasukkan informasi ke dalam diri. Mendengar adalah kias metafora di dalam slogan The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear untuk proses belajar. Mendengar adalah belajar itu sendiri. Mendengar itu proses yang sangat penting, karena mustahil Anda hidup tanpa belajar.

3. Masalah Kita

Sebagian dari kita dan termasuk saya sendiri, pernah mengalami kebanggaan yang berlebihan. Kita melakukan kesalahan-kesalahan. Inilah masalah kita. Berikut ini daftar kecilnya.

  1. Dengan lantang menyatakan tidak butuh Windows kepada publik, dalam keadaan sedikit pengalaman dengan Linux dan tidak punya proof of concept dari diri sendiri.
  2. Mengatakan Linux lebih baik daripada Windows kepada publik, dalam keadaan tidak punya proof of concept dari diri sendiri.
  3. Dengan lantang memaksa orang lain untuk segera migrasi ke Linux, tanpa melihat dulu kondisi orang itu.
  4. Dengan lantang tanpa malu bertanya hal-hal yang sudah tersedia jawabannya (dan bisa diakses dengan gampang), dalam keadaan dirinya sedang memakai distro seperti Backtrack.
  5. Dengan lantang menyuruh-nyuruh para senior (atau memberi saran dengan nada memaksa) Linux untuk mengubah hal-hal fundamental, dalam keadaan tidak tahu siapa dirinya sendiri.
  6. Dengan lantang menyatakan suatu kesimpulan pribadi kepada publik kemudian salah total, dalam keadaan dirinya sendiri kurang eksperimen.
  7. Dengan semangat tinggi mengharap pertanyaannya dijawab, kemudian kecewa dengan sikap komunitas, dalam keadaan dirinya sendiri tidak pernah membaca aturan bertanya.
  8. Dengan semangat tinggi melakukan atau mengatakan sesuatu, tanpa memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.
  9. Dengan lantang menyuarakan hacking di jalan yang salah, dan turut menjadi sebab salah kaprahnya media massa dalam membentuk opini hacking yang salah total.
  10. Dengan lantang bersuara tanpa malu sedikit pun memakai kalimat semisal “hei, aku bisa hacker” atau “situs anu sudah aku hacker kemarin” atau “situs anu sudah di-hacker oleh si anu”, dalam keadaan tidak mau belajar bahasa.

Inti dari semua masalah di atas sama saja: kecenderungan menganggap kejayaan bisa diraih tanpa usaha. Dan ini diakibatkan karena tidak mau sengaja diam untuk mendengar.

Penjelasan I: saya sebutkan masalah-masalah di atas karena memang ini penting dibahas. Masalah 1, 2, dan 3 adalah masalah klasik yang terjadi biasanya pada anak-anak muda. Hal ini sangat berhubungan dengan sikap tidak mau mendengar, terutama membaca siapa saja dan bagaimana kiprah para pendahulunya menyosialisasikan Linux di Indonesia. Karena baru mengenal bagusnya legalitas dan baru sadar manfaatnya FOSS, semangat kita tersulut mempromosikan Linux ke mana pun. Namun sekadar semangat itu tak cukup. Pada dasarnya, semua pengguna Windows itu tidak senang kita bicara macam itu di depan mereka. Mereka itu lebih bisa menerima Linux jika kita punya budi pekerti dan proof of concept yang baik. Tanpa kehalusan perangai dan proof of concept, usaha seperti apa pun akan terhenti sia-sia. Tidak percaya? Silakan coba.

Penjelasan II: masalah 4 sampai 8 adalah masalah sikap kita di dalam komunitas. Aturan paling dasar dari setiap komunitas Linux adalah bacalah. Jika Anda tidak mau membaca, maka tolong jangan berharap pertanyaan Anda akan dijawab. Lebih parah lagi, kalau kebetulan Anda tipe orang pada masalah 5. Mungkin sedetik setelah Anda mengirim permintaan, Anda langsung dijawab dengan pesan “troll”. Jika Anda memang niat belajar Linux, bacalah. Baca peraturan, baca cara bertanya, kuasai etika dulu sebelum Anda bergaul. Baca FAQ, baca dokumentasi resmi, baca manual, baca help. Selesaikan masalah Anda sendiri. Barulah tanya jika Anda sudah merasa semua usaha maksimal. Jika masalah selesai, kembalilah untuk memberi kabar dan tulislah dokumentasinya. Ini adalah jalan terbaik dalam belajar Linux. Jika Anda terus menerus tidak mau membaca, kemudian tetap saja membuat kesalahan yang sama, maka tidak berlebihan kiranya kalau ada yang mengatakan “Anda bangga dengan kebodohan Anda sendiri”.

Penjelasan III: hacking itu bukan sesuatu yang murahan. Ini bukan sesuatu yang ditekuni 1 tahun mahir. Ini adalah sekumpulan tindakan yang menghasilkan sistem operasi GNU, kernel Linux, distribusi Slackware, sistem jaringan komputer yang bernama internet, perangkat lunak yang bernama git, teknologi clustering, dan lain-lain. Anda tidak mengerti? Maka belajarlah. Diam dan mendengarlah. Diam yang panjang, belajar terus. Lakukan proof of concept, jangan banyak bicara. Jika Anda terus menerus dikontrol oleh media massa dalam definisi hacking yang serba salah, dan Anda terbawa arus vandalisme dalam hal ini, maka tidak berlebihan kiranya kalau ada yang mengatakan “Anda bangga dengan kebodohan Anda sendiri”. Jika Anda terus menerus menyuarakan hacking tanpa memiliki motivasi untuk belajar sendiri dan mengatasi keterbatasan, maka cukup kiranya itu membuktikan Anda tidak pantas mengucapkannya.

4. Ironi Kita

Ironi itu lebih besar dari masalah. Dan hal ini akan kita rasakan kelak, kalau berbangga diri. Apalagi jika tanpa proof of concept. Apa saja ironi kita? Usaha kita akan ironis jika kita sendiri

  1. Tidak tahu apa itu source code. Misalnya, tahu kalau Gedit itu open source software tetapi tidak tahu di mana bisa memperoleh source code-nya dan lebih buruk lagi kalau tidak tahu apa itu source code.
  2. Tidak mampu memodifikasi source code. Sangat ironis jika ada pemuda yang menjelek-jelekkan madzhab proprietari dan membanggakan open source di depan khalayak, dalam keadaan dia sendiri tidak mampu memodifikasi suatu source code bahkan tidak pernah melakukannya.
  3. Tidak mampu melakukan kompilasi terhadap source code. Ini termasuk tidak mampu melakukan kompilasi program dari kode sumber, apalagi jika tidak mampu menyelesaikan masalah dependensi sederhana di Backtrack (yang notabene sudah package, bukan source code lagi).
  4. Tidak memiliki niat dan usaha sedikit pun untuk membantu pengembangan open source software, baik dari segi teknis (pemrograman dan seninya) maupun nonteknis (finansial dan pemasarannya).
  5. Tidak mampu menjelaskan apa itu open source (dan free software) secara sederhana kepada orang lain.

Sebagaimana di dalam sastra, setiap ironi bisa berkembang menjadi tragedi. Seluruh ironi di atas pun bisa berubah menjadi tragedi apabila si pelaku sama sekali tidak mau belajar. Tragedi menjadi sempurna jika si pelaku masih juga memiliki sikap orang bodoh yaitu “sudah salah, tidak merasa dirinya salah, malah menyalahkan orang lain“. Ingatlah, kita semua akan sangat malu jika ada masyarakat yang berteriak kepada kita “katanya kamu open source, kok source code aja kamu kagak ngerti, sih?“.

5. Akar Solusi

Orang yang ingin memetik buah harus terlebih dulu menanam pohonnya.

6. Solusi

The quieter you become, the more you are able to hear.

7. Yang Ingin Saya Katakan

  1. Kita harus banyak-banyak diam untuk mendengar.
  2. Kita kalau ingin belajar Linux, jangan mengharapkan apa pun yang instan.
  3. Belajar adalah proses, dan setiap proses butuh waktu.
  4. Mendengar adalah membaca, mendengar adalah proses belajar yang paling dasar, jadi diamlah untuk mendengar lebih banyak.
  5. Kita harus menyadari bahwa sumber daya di sekitar kita sifatnya terbatas, maka berusahalah untuk mengatasi keterbatasan itu sendiri semaksimal mungkin.
  6. Kita tidak perlu terlalu lantang bicara soal Linux kepada publik (yang masih juga seperti ini), dalam keadaan kita tidak punya proof of concept dari diri sendiri.
  7. Jika kita belum bisa menggunakan Linux dengan baik, maka kita jangan memaksa ( atau menyarankan dengan nada memaksa) orang lain menggunakan.
  8. Jika kita ingin mendalami penetration testing secara benar, maka kita harus mendengarkan realitas untuk menyelesaikan semua masalah sendiri.
  9. Kita jangan bermudah-mudahan atau terlalu cepat membuat kesimpulan.
  10. Sadari bahwa untuk menguasai Windows saja, kita sendiri butuh waktu yang banyak.
  11. Hanya menggunakan Backtrack semata tidak membuat seseorang menjadi hacker.
  12. Jangan salah menilai para pakar. Mereka seringkali tampak diam —bahkan kadang Anda menangkap kesan tidak mengerti apa-apa dari mereka— karena mereka diam untuk mendengar. Mereka lebih tua daripada Anda dari segi usia dan kematangan teknik.
  13. Jika Anda baru kenal Linux atau baru masuk ke dalam komunitas FOSS, ikuti bimbingan pakar yang ada di sana. Jangan membuat keributan apalagi —karena ketidaktahuan— berani mengusir admin.

Berapa banyak pengguna Backtrack dan Kali yang mau mendengarkan slogannya sendiri? Saya tidak sedang menyinggung orang. Namun khusus untuk kali ini, kalau ada yang tersinggung, semoga itu termasuk ketersinggungan yang positif.

8. Apa Manfaat Diam?

Diam (quiet) adalah sikap yang bagus. Manfaat diam saya sebutkan sebagai berikut.

  1. Anda memiliki lebih banyak waktu untuk mendengar.
  2. Anda memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir.
  3. Anda memiliki lebih banyak waktu untuk uji coba.
  4. Anda memiliki lebih banyak waktu untuk proof of concept.
  5. Anda bisa fokus.
  6. Setelah semua hal di atas, Anda punya waktu untuk membuat kesimpulan.

9. Apa Ruginya Tidak Diam?

Jika kita tidak bisa diam, dan tidak memperbanyaknya, maka ada akibat-akibat besar yang menanti. Di antaranya sebagai berikut.

  1. Jika Anda terlalu lantang, kelak jika orang tahu celah-celah Anda, mereka akan menghabisi Anda dengan hujatan yang belum tentu Anda mampu menanggungnya.
  2. Jika Anda memaksa orang menggunakan Linux, kelak jika orang tahu Anda sendiri melakukan pelanggaran legalitas (jika Anda melakukannya), mereka akan balik memaksa kita meninggalkan Linux (dan FOSS lainnya) dengan lebih lantang.
  3. Jika Anda mengolok-olok madzhab proprietari dengan lantang kepada publik apalagi tanpa punya proof of concept, masyarakat Windows akan balik memandang rendah kepada madzhab FOSS dan mungkin berbalik menutup diri dari kita selamanya.
  4. Jika Anda terlalu banyak bicara, jumlah beban proof of concept Anda bertambah sementara Anda makin kehilangan waktu untuk mengerjakannya.
  5. Jika Anda membuat kesimpulan sekenanya di sebuah forum, dalam keadaan Anda salah dan para senior sedang melihat Anda, Anda akan ditanyai habis-habisan sampai Anda tidak mampu bicara lagi.
  6. Jika Anda sombong, kelak orang akan merendahkan dan menertawakan Anda. 

10. Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?

Apa lagi selain belajar? Mulailah segala-galanya dari dasar. Mulai dari hal-hal kecil. Lakukan terus menerus.

  1. Jika Anda baru mengenal Linux, pelajarilah sistem manajemen paket pada distro Anda. Anda akan senantiasa menggunakan (dan menghadapi masalah) dengannya. Diam, jangan banyak mengeluh.
  2. Jika Anda baru mengenal penetration testing, mulailah segalanya dari security awareness. Be quiet, glow in the dark.
  3. Jika Anda baru memulai, pahamilah bahwa penguasaan tidak bisa diraih tanpa pemahaman konsep.
  4. Pahamilah bahwa secara umum, penguasaan terhadap bidang apa saja di dunia ini membutuhkan waktu sekitar 10 tahun.
  5. Jika Anda ingin memperkenalkan FOSS kepada masyarakat (baik dari madzhab Linux maupun BSD), maka diamlah dan perbanyaklah proof of concept yang brilian. Miliki dasar yang kuat supaya Anda mampu melakukannya.
  6. Jika Anda ingin memperkenalkan FOSS kepada masyarakat, tulislah tulisan-tulisan yang mengantarkan masyarakat awam kepada pemahaman konsep (sebagai proof of concept) dari segi legalitas maupun segi teknis pemanfaatan FOSS itu sendiri.
  7. Jika Anda ingin memperkenalkan FOSS kepada masyarakat, buatlah sebuah software FOSS yang bermanfaat (sebagai proof of concept) bagi masyarakat luas.
  8. Jika Anda ingin berkontribusi, pilihlah satu induk proyek FOSS (misalnya Ubuntu) dan fokuslah bekerja di sana.
  9. Anda tidak akan mampu melakukan semua itu tanpa diam mendengar.

Jangan sombong jika kelak Anda benar-benar meraihnya.

11. Penutup

Jika Anda membaca sampai bagian ini, saya harap Anda mendapatkan awal yang baik untuk belajar Linux. Pesan terakhir saya adalah jika Anda newbie, maka berperilakulah layaknya newbie. Jangan berperilaku layaknya orang yang pantas melakukan audit keamanan jaringan. Berikut ini saya lampirkan pranala esai-esai kritik yang pernah saya tulis. Memang salah satu tujuan penulisan esai ini adalah mengumpulkan mereka semua dalam 1 tulisan. Semoga esai ini bermanfaat.

  1. https://malsasa.wordpress.com/2012/11/02/kalau-linux-mau-maju/
  2. https://malsasa.wordpress.com/2012/11/13/permohonan-saya-untuk-komunitas-linux-indonesia/
  3. https://malsasa.wordpress.com/2012/11/27/apa-yang-sebenarnya-pengguna-butuhkan/
  4. https://malsasa.wordpress.com/2013/04/13/mengapa-otodidak-dibuat-12/
  5. https://malsasa.wordpress.com/2013/06/01/menyoal-kebebasan/
  6. https://malsasa.wordpress.com/2013/06/02/memusuhi-distraksi/
  7. https://malsasa.wordpress.com/2013/06/21/pemasaran-sistem-operasi-linux/
  8. https://malsasa.wordpress.com/2013/06/27/pemasaran-sistem-operasi-linux-2/
  9. https://malsasa.wordpress.com/2014/02/22/indonesia-masih-dalam-masa-transisi/

12. Bacaan

  1. http://catb.org/esr/faqs/hacker-howto.html
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Security_awareness

21 thoughts on “The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear

  1. suciptoblog

    Artikel yang sangat bagus sekali, masih banyak newbie bertingkah seolah2 profesional, dan akhirnya di bully.

    Salut buat kang malsasa dengan artikel artikelnya yang kritis. :)

    Balas
  2. Walid Umar

    sangat mengena dan inspiratif kang malsasa…
    hal yang dibicarakan diatas adalah fitrah manusia dari pencipta
    kita diberikan 2 telinga dan 2 mata,… dibanding mulut kita hnya 1….kenapa ???
    “Tidak ada sesuatupun yang diciptakan Pencipta yang sia-sia (cacat)”…semuanya pasti ada alasannya,…

    kita disuru lebih bnyk untuk membaca dan mendengar, dibandingkan berbicara :)

    Balas
  3. noveri22

    Semakin Anda diam, semakin banyak yang bisa Anda dengar, seperti kata pepatah diam itu emas
    kalo membaca penjelasan 1 saya akui saya dulu pernah melakukan kesalahan yang sama tapi setelah itu saya sadar mempromosikan linux seperti mempromosikan barang dagangan ke konsumen, jangan memaksa dan jangan pernah menyinggung perasaan orang lain, karna kalo kita melakukan 2 hal itu bukannya tertarik dengan apa yang kita promosikan justru malah akan berdampak sebaliknya dan malah akan lebih buruk.
    oh iya numpan naro link ya :D
    http://noveriblog.wordpress.com/2014/06/11/install-icon-numix-circle-di-ubuntu-12-04-14-04-dan-linux-mint/
    http://noveriblog.wordpress.com/2014/06/09/saran-saat-pertama-kali-install-ubuntudistro-linux/

    Balas
  4. Fadlun Akbar

    Assalamu’alaikum kang Malsasa. Alhamdulillah, senang rasanya ketika membaca essai ini. Senang karena menjadi pengingat dan penegur buat diri sendiri. Ketika saya ingin membuat sebuah tulisan seperti tutorial, ada ketakutan yang dirasakan. Takut karena proof of concept yang masih kurang, belum ada apa-apanya. Sa sependapat bahwa menguasai sebuah bidang membutuhkan waktu yang lama, baik itu pengalaman yang diperoleh dari pendidikan formal maupun pendidikan formal yang disertasi otodidak yang intensif. Semoga dengan tulisan ini kita sadar bahwa waktu sangatlah berharga dan waktu hidup kita ini singkat. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan waktu itu untuk belajar, mengkaji, dan mengimplementasikannya ke masyarakat. Terima kasih Kang atas tulisan yang bermanfaat ini.

    Balas
  5. haviedz_miftah

    setelah membaca essai ini rasanya saya seperti ditampar, tapi saya merasa senang, jadi ingat kata-kata guru waktu dulu “tirulah padi, semakin berisi akan semakin merunduk”.
    terimakasih,… ^_^

    Balas
  6. heruhtl

    Ilham akan datang kepada mereka yang bersikap menerima, dan akan berlalu dari mereka yang menolak. Yang datang kepada manusia bukan hanya ilham, namun juga interferensi (pengaruh). Ada beda antara ilham terhadap interferensi. Dan, menjadi opsi bagi manusia, apakah lebih menerima ilham ataukah lebih menerima interferensi. Namun pada hakekatnya bahwa antara ilham dan interferensi adalah sama-sama model sinyal yang masuk kepada input diri manusia.

    Manusia memiliki input (mata, telinga, perasaan pada kulit). Manusia memiliki output (mulut untuk berlisan, tangan untuk menulis, tangan untuk bekerja, kaki untuk melangkah + meninggalkan jejak, diri untuk meninggalkan bayangan (reputasi)). Manusia juga punya sistem pengolah sinyal (logika, hati, jiwa).

    Antara input, pengolah, dan outputnya, maka manusia dapat memilih opsi:

    1. akankah menerima input yang buruk lalu meneruskannya (atau bahkan menambahkan kadar buruknya)
    2. akankah menerima input yang buruk namun menghapusnya dari dirinya atau setidaknya dapat meredamnya supaya tidak diteruskan menjadi derivasi output
    3. akankah menerima input yang baik namun kemudian membiaskannya menjadi output yang buruk
    4. akankah menerima input yang baik namun hanya cukup merahasiakannya
    5. akankah merenima input yang baik lalu meneruskannya atau bahkan menambahkan kadar kebaikannya menuju output

    Terkait dengan lisan dan tulisan, ataupun derivasi lainnya seperti hasil karya fisik (mesin-mesin semisal), maka sebagai sinyal output hendaklah sinyal yang minim distorsi (cacat/korup) dan aliasing (pemalsuan pola).

    Balas
  7. Ping balik: Kumpulan Esai Kritik Saya | RESTAVA

  8. Ping balik: Kumpulan Tulisan Saya Tentang Menulis Artikel Linux | RESTAVA

  9. Ping balik: Cara Bertanya yang Salah | RESTAVA

  10. alfaalkaafkaaf

    Artikelnya bagus buat pelajaran diri mas. Saya mau meluruskan saja. sepengetahuan saya arti dari “quiet” itu “tenang” sedangkan “diam” itu “silent”

    antara tenang dan diam memiliki arti yang hampir berbeda. Kalau orang diam tidak selalu tenang. namun orang tenang tidak selalu dalam keadaan diam. sehingga kalo diartikan secara jelek-jelek-an “semakin kau tenang, semakin kau mudah untuk mendengar”

    Menurut saya, makna dari slogan tersebut lebih luas daripada sekedar diam dari konteks “Masalah Kita” dan “Ironi Kita” yang mas bahas.

    – Cewek kalo ngambek biasanya diam kan? tapi dia mau ngga dengerin penjelasan kita? ngga juga kan
    – Orang ngelamun diam kan? tapi dia nyambung ga kalo dengerin kita ngomong? ngga juga kan

    Konteks tenang yang dimaksud adalah:
    – Bijaksana
    – Kepala dingin
    – Berpikir sebelum bertindak
    – Banyak usaha
    – Diam (opsional)

    maaf kalo ada kata yang ngga enak. saya dukung blog sampean. Semoga bisa menjadi koreksi yang bermanfaat.

    Balas
  11. Ping balik: Pentingnya Menulis Tutorial | RESTAVA

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s