Indonesia Masih dalam Masa Transisi


Bismillahirrahmanirrahim.

Jika Anda ingin Indonesia menggunakan GNU/Linux, maka banyak-banyaklah bersabar. Banyak-banyaklah memaklumi. Anda akan menjumpai banyak halangan. Karena masyarakat Indonesia berada dalam masa transisi dari Windows ke GNU/Linux. Esai ini ditulis sebagai pengingat untuk hal-hal yang perlu dimaklumi untuk mencapainya.

Kata kunci: gnu/linux, foss, masyarakat, indonesia, ilmu komputer

Daftar Isi

1  Pendahuluan

1.1  Siapa Penulis Esai Ini?

Penulis adalah seorang pengguna GNU/Linux di Indonesia. Penulis senang jika masyarakat meninggalkan OS bajakan. Penulis senang jika masyarakat menggunakan OS legal (termasuk GNU/Linux).

1.2  Siapa Pembaca Esai Ini?

Pembaca esai ini adalah pengguna GNU/Linux yang ingin masyarakat Indonesia menggunakan GNU/Linux. Pembaca harus condong kepada penggunaan perangkat lunak legal, harus tidak senang dengan yang sebaliknya. Pembaca diharap memiliki naluri belajar otodidak.

1.3  Bagaimana Membaca Esai Ini?

  1. Anda harus sepakat bahwa masyarakat Indonesia harus menggunakan perangkat lunak legal (gratis ataupun tidak).
  2. Anda harus mengenal keadaan umum pengguna GNU/Linux di Indonesia.
  3. Anda harus sepakat untuk mengajari masyarakat sesuai kemampuan.

Jika Anda tidak memenuhi ketiganya, maka tinggalkan esai ini.

1.4  Apa Titik Berat Esai Ini?

Dorongan kepada Anda yang sedang bersemangat mempromosikan GNU/Linux di Indonesia untuk memaklumi kekurangan-kekurangan masyarakat, agar tujuan masyarakat Indonesia menggunakan GNU/Linux tercapai. Esai ini menekankan kepada Anda bahwa menggunakan GNU/Linux sendiri sudah berat bagi masyarakat, maka janganlah diperparah dengan sikap yang salah terhadap masyarakat.

Tujuan paling awal ditulisnya esai ini sebenarnya untuk memprovokasi komunitas supaya menulis. Yang penulis maksudkan dengan esai ini hanyalah mengajak Anda untuk menulis tutorial yang Anda mampu dalam bidang GNU/Linux, demi memperbanyak panduan dalam Bahasa Indonesia untuk masyarakat. Penulis meyakini kesulitan nomor 1 masyarakat ada pada ketidaktahuan dan meyakini pula obatnya adalah dengan menyediakan panduan dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, esai ini diharapkan menjadi inspirasi bagi Anda yang sudah atau yang belum menulis. Seiring perkembangan penulisan, esai ini melebar mencakup juga sikap yang semestinya dimiliki untuk mendidik masyarakat agar mampu menggunakan GNU/Linux.

1.5  Apa yang Istimewa dari Esai Ini?

Esai ini mengajak Anda untuk bersama-sama memaklumi bahwa Indonesia benar-benar masih berada dalam masa transisi. Sehingga mustahil menuntut kesempurnaan masyarakat dalam waktu singkat (10 tahun ke depan). Esai ini mengajak Anda bersabar dan memaklumi pengguna. Lebih jauh, esai ini juga mengajak Anda memaklumi keadaan Indonesia saat ini sebagai sebuah proses. Karena berada dalam proses, maka masyarakat memiliki banyak kekurangan mulai dokumentasi GNU/Linux berbahasa Indonesia yang kurang lengkap1, tutorial berbahasa Indonesia yang sangat sedikit2, infrastruktur pendukung GNU/Linux (semacam http://apt-web.ntb.linux.or.id3) yang belum banyak ada4, ketidakmampuan berbahasa Inggris, dan lain-lain. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan banyak guru, dokumentasi berbahasa Indonesia, infrastruktur pendukung, dan lain sebagainya. Kalau ingin masyarakat menggunakan GNU/Linux, maka Anda harus mengajari masyarakat mulai dari hal terkecil. Esai ini diadakan sebagai panduan untuk mewujudkannya.

2  Inti

Esai ini hanyalah wujud usaha mendukung masyarakat untuk menggunakan GNU/Linux5. Esai ini hanya akan berisi baris-baris pertanyaan dan jawaban. Setiap poin berisi judul, satu pertanyaan, dan satu jawaban. Esai ini dibuat agar mirip dengan FAQ6 supaya mudah dibaca. Berikut inilah poin demi poin inti esai Indonesia Masih dalam Masa Transisi.

2.1  Pengguna yang Bodoh I

Pertanyaan: bagaimana jika ada pengguna bertanya sesuatu yang sebenarnya sudah ada di Google?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Anda pasti akan banyak menemukan yang seperti ini. Karena banyak rakyat Indonesia tidak kenal Google. Dan hampir semua masyarakat yang bertanya itu tidak mengerti apa kata kuncinya. Maka ajari. Minimal beri mereka tautan untuk melakukan pencarian dengan benar seperti Googling Pun Butuh Kemampuan. Penulis senang melakukan googling kemudian menjawab pertanyaan itu dengan terlebih dahulu menyatakan “…setelah mencari dengan kata kunci XYZ, saya memperoleh solusi KLM…” lalu penulis bubuhkan pesan “…Anda bisa menyelesaikan masalah yang lain dengan cara googling ini..”. Biasanya, setelah itu mereka berterima kasih. Maka lakukan cara ini jika Anda punya banyak waktu. Lebih canggih lagi, Anda bisa meluangkan sedikit waktu untuk menulis panduan googling sebagaimana penulis contohkan di atas. Lebih canggih lagi, Anda bisa meluangkan waktu untuk menciptakan aplikasi yang mendidik pengguna untuk melakukan googling7 (tentu bila Anda memiliki kepandaian pemrograman). Dengan begini, pengguna yang bodoh akan menjadi pintar. Mereka sangat butuh start (ignition). Minimal dia tahu dulu bagaimana mencari hal-hal teknis dengan Google. Anda jangan mengira semua orang itu kenal Google, walaupun Google itu lebih terkenal dari matahari.

2.2  Pengguna yang Bodoh II

Pertanyaan: bagaimana jika ada pengguna membuat pertanyaan yang terlalu global seperti “bagaimana instal modem di ubuntu”?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Mereka tidak tahu cara bertanya. Maka ajari. Minimal, arahkan mereka untuk membaca panduan bertanya yang baik. Lebih baik lagi jika Anda berikan contoh bertanya yang baik, entah dalam jawaban ataupun Anda benar-benar membuat pertanyaan. Lebih baik lagi jika Anda termasuk orang yang memiliki dana besar, untuk membuat suatu sayembara berhadiah bagi siapa saja yang bisa bertanya atau menjawab dengan baik di komunitas. Anda jangan mengira semua orang Indonesia sanggup membuat pertanyaan yang baik. Banyak orang perlu diajari menulis atau bertanya dengan baik. Maka banyak-banyaklah mengajari.

2.3  Pengguna yang Bodoh III

Pertanyaan: bagaimana jika ada pengguna membuat judul yang buruk seperti “toloong!”?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Anda akan lebih sering lagi menemukan hal demikian. Ini tanda kemampuan berbahasa yang rendah. Maka wajar kalau forum-forum di Indonesia berisi tulisan-tulisan yang amburadul8 dari pengguna yang demikian. Penulisan judul yang tidak informatif ini akibatnya. Masyarakat perlu pelajaran bahasa, utamanya membaca dan menulis. Maka ajari. Beri mereka pendidikan sampai bisa menulis judul yang sesuai isi pertanyaannya. Contoh:

  • Tegur melalui PM yang berisi koreksi terhadap judul dan suruh mereka mengubahnya. Ini yang paling baik.
  • Beri contoh dengan senantiasa menulis judul yang informatif.
  • Tulis komentar yang mendidiknya untuk menulis judul dengan baik.

Anda akan senantiasa melihat kesalahan-kesalahan masyarakat walau sudah disediakan FAQ dan cara bertanya yang baik. Selama tidak ada pengajaran, maka masyarakat akan senantiasa seperti itu. Maka teruslah mengajari.

2.4  Cara Memandang Pengguna

Pertanyaan: bagaimana saya harus memandang pengguna?

Jawaban: pandanglah pengguna seperti ibu dan ayah Anda. Maka Anda akan senang hati memaklumi keadaan mereka. Atau, jika Anda tidak bisa, pandanglah pengguna seperti diri Anda yang dulu. Diri Anda ketika belum tahu apa-apa soal GNU/Linux.

2.5  Jenis-Jenis Pengguna

Pertanyaan: apakah ada klasifikasi pengguna? Perlukah?

Jawaban: belum. Sangat diperlukan. Penting sekali diketahui bahwa pengguna itu bertingkat-tingkat kemampuannya. Ini diketahui supaya tidak salah memberikan pengajaran (sebagaimana yang baru berjalan sudah diminta berlari9). Berikut ini penulis klasifikasikan pengguna jadi 5 tingkatan. Klasifikasi ini tidak bersifat pasti.

  • Pengguna Awam Tingkat I
  • Pengguna Awam Tingkat II
  • Pengguna Pemula
  • Pengguna Menengah
  • Pengguna Ahli

Pengguna awam tingkat I itu orang yang belum menggunakan GNU/Linux dan tidak punya gambaran di benaknya dan pengalaman dengan Windows pun minim. Seringkali tidak bisa diharapkan untuk menggunakan GNU/Linux karena faktor usia atau telah terspesialisasi di bidang selain ilmu komputer.

Pengguna awam tingkat II itu orang yang belum menggunakan GNU/Linux tetapi sudah punya gambaran di benaknya dan ada pengalaman dengan Windows. Pengguna jenis inilah yang biasa disebut newbie di komunitas. Pengguna jenis inilah yang masuk ke dalam komunitas untuk bertanya cara instalasi GNU/Linux. Bimbingan untuk pengguna jenis ini adalah dengan diajari secara pengalaman dan dibimbing agar dapat membaca tutorial.

Pengguna pemula itu orang yang sudah menggunakan GNU/Linux tetapi kurang pengetahuannya sehingga sering menanyakan hal-hal remeh. Bimbingan untuk pengguna tingkatan ini paling banyak sekaligus paling sulit dibanding yang lain. Tingkatan ini belum mampu melakukan pengaturan walau sudah ada tutorial atau dokumentasi. Tingkatan inilah yang paling banyak di Indonesia.

Pengguna menengah itu orang yang sudah menggunakan GNU/Linux juga, memiliki pengalaman selama >1 tahun, tetapi tidak menguasai sistemnya secara menyeluruh. Tingkatan ini sudah mampu melakukan apa saja asalkan ada tutorial atau dokumentasinya. Bimbingan untuk tingkatan ini seringkali cukup dengan tutorial saja atau ditunjukkan referensi. Tingkatan ini memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang lebih baik dari 3 tingkatan sebelumnya.

Pengguna ahli itu orang yang sudah menguasai GNU/Linux, berpengalaman selama >= 10 tahun, bisa melakukan apa saja walaupun tanpa tutorial. Tingkatan ini biasanya mendirikan komunitas atau sesekali ikut menjawab pertanyaan pengguna. Tingkatan ini mampu menyelesaikan masalahnya sendirian. Tingkatan ini selalu menjadi spesialis dalam satu bidang tertentu.

2.6  Senior Lain Menjawab dengan Jawaban Bodoh

Pertanyaan: bagaimana jika ada senior lain menjawab pertanyaan semacam “apa itu Linux” dengan jawaban “bodoh” seperti “Linux itu seperti Windows tapi gratis”, padahal saya akan menjawab “Linux itu kernel dan seterusnya”?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Indonesia masih dalam masa transisi. Maka jawaban-jawaban yang tampaknya bodoh macam ini akan banyak. Mari ingat kembali kenyataan berikut.

  • Jumlah orang yang paham sistem vs yang cuma semacam “klik ini klik itu”
  • Jumlah orang yang kenal Windows (pernah ubah registry) vs yang tidak
  • Jumlah orang yang tahu Windows itu OS vs yang tidak
  • Jumlah orang yang tahu ada sistem operasi selain Windows vs yang tidak
  • Jumlah orang yang butuh low level access ke kernel vs yang cuma pakai
  • Terakhir, jumlah orang yang tahu GNU/Linux vs yang tidak

Maka dengan memaklumi bahwa Indonesia masih dalam masa transisi beserta kenyataan di atas, kita akan sadar bahwa keliru menjawab pertanyaan Pengguna Awam Tingkatan I & II dan sebagian besar Pengguna Pemula dengan jawaban teknikal. Pendekatan jawaban senior yang tampak bodoh di atas justru yang benar dan tepat. Berikut ini logika sederhananya.

  • Jika kita ingin orang menggunakan Linux, dalam keadaan dia tidak tahu, maka yang paling tepat adalah pendekatan asosiasi yakni menghubungkan nama Linux dengan nama sekaligus kegunaan Windows.

Dengan begitu, otomatis di benak mereka tergambar Linux itu untuk ini dan ini. Berbeda dengan praduga awal. Jika pengguna yang seperti demikian langsung dijawab dengan jawaban teknikal, mereka tidak langsung memahaminya. Start mereka akan berat. Ini penghalang untuk memasuki GNU/Linux bagi masyarakat Indonesia. Maka semestinya digunakan pendekatan senior yang tampak bodoh di atas. Hal penting di sini adalah jawaban diberikan sesuai keadaan pengguna bukan sesuai keadaan penjawab.

2.7  Pengguna Memberitakan Aplikasi Baru

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna menulis posting tentang XDMAN (Xtreme Download Manager) sebagai ganti IDM di GNU/Linux sedangkan saya dan senior lain familiar dengan wget? Bagaimana dengan permasalahan serupa?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Contoh XDMAN sangat manjur untuk memublikasikan GNU/Linux karena masyarakat memerlukan yang seperti ini. Buka Google, cari web yang mengulas XDMAN maka Anda lihat web macam Kaskus10 pun punya tulisan khusus XDMAN. Ini bukti masyarakat memerlukannya. Maka ini jadi senjata tambahan buat Anda. Hal ini juga berlaku untuk aplikasi-aplikasi lain yang mungkin belum dirilis saat esai ini ditulis. Maka dukunglah pengguna dengan teknologi baru walau Anda telah mapan dengan teknologi lama.

2.8  Kesalahan Adab dan Etika Kepada Pribadi Anda

Pertanyaan: bagaimana jika ada pemula komputer bertanya kepada saya selaku senior dengan bahasa (yang tidak sopan) layaknya teman sendiri?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Sedikit orang kenal milis11 dan sedikit lagi yang pernah membaca etika milis. Jika mereka tidak tahu, maka ajari. Beri mereka arahan awal karena mereka orang yang tidak mengerti dari mana memulai. Beri contoh mereka dengan jawaban-jawaban Anda yang sopan dan elegan. Itu cara paling efektif untuk mengajari pengguna.

2.9  Mengulang Pertanyaan yang Sama

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna menanyakan sesuatu yang sudah pernah diselesaikan semisal “bagaimana menginstal driver ATI Radeon”? 

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Banyak orang tidak mengenal komputer, lebih banyak lagi yang tidak mengenal FAQ, dan lebih banyak lagi yang tidak tahu bahwa seseorang bisa cerdas hanya dengan membaca FAQ. Maka ajari. Minimal, berikan link jawaban tetapi jangan lupa bubuhkan pesan agar membaca FAQ dahulu sebelum bertanya. Atau lebih canggih lagi, buat sebuah dokumen yang berisi daftar [SOLVED]12 yang bisa diakses dari mana saja. Atau setingkat lebih canggih lagi, buat sebuah web yang berisi kumpulan sumber daya dalam 1 masalah secara khusus semisal http://modemlinux.wordpress.com yang dibuat untuk masalah modem di Indonesia. Akhirnya, jika ada pengguna yang bertanya kembali, cukup beri satulink.

2.10  Mengulang Permintaan yang Sama

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna meminta sesuatu yang sudah berulang kali dibagikan atau diminta seperti “buku panduan remastering”?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Anda akan banyak menemukan hal semacam ini juga sebagaimana pada bagian (2.9).

Pengulangan permintaan adalah bukti titik berat kebutuhan masyarakat. Ini justru keuntungan bagi Anda. Anda bisa memilih dari sekian banyak bidang yang paling dibutuhkan masyarakat untuk menyediakan solusinya. Misalkan tutorial yang paling banyak diminta masyarakat adalah pengaturan Squid. Maka Anda bisa menyambut ini dengan menulis bukunya. Atau, bisa juga memakai cara penulis yakni meletakkan URL-URL tutorial yang banyak diminta masyarakat di dalam KNotes13. Kalau ada permintaan yang terulang kembali, penulis cukup buka KNotes lalu menyalinkan URL yang diminta.

2.11  Meminta Rekomendasi Distro Terbaik

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna meminta rekomendasi distro?

Jawaban: di sinilah letak pentingnya kesadaran Indonesia masih dalam masa transisi. Di sini pula Anda akan diuji. Kaidah dasar di sini adalah yang penting mereka mau menggunakansoftware legal dulu. Maka, ada dua hal penting yang harus Anda lakukan sebagai berikut.

  • Rekomendasikan Ubuntu. Mengapa? Karena masyarakat Indonesia butuh standardisasi untuk GNU/Linux awal mereka. Standardisasi ini perlu massa yang besar. Maka karena Ubuntu adalah distro yang paling banyak jumlah penggunanya di Indonesia, rekomendasikan. Lupakan sejenak ego yang ada untuk mengarahkan mereka kepada distro kelas teknisi semacam Slackware dan Archlinux (lebih-lebih lagi Gentoo14). Lupakan sampai seluruh proses transisi Indonesia usai. Jangan membuat rekomendasi yang berbeda-beda sehingga malah membuat lari. Demi hal ini, lupakan sejenak ego dan rekomendasikan Ubuntu.
  • “Choose one, master it!” Katakan itu kepadanya. Suruh pengguna untuk memilih 1 distro saja lalu menguasainya. Suruh pengguna untuk fokus. Hal ini jauh lebih baik daripada memaksakan diri memakai banyak distro sekaligus. Mengapa? Karena distraksi itu memiliki banyak risiko mulai dari kehilangan waktu, uang, sampai data. Satu distro saja itu sudah berat bagi pengguna, apalagi lebih. Maka jika terjadi hal yang buruk ketika pengguna memakai banyak distro sekaligus (multibooting), ada kemungkinan mereka akan berhenti menggunakan GNU/Linux. Seperti yang Anda ketahui, hal semacam ini cukup sering terjadi dan ini salah satu hal terburuk. Maka fokus pada 1 distro adalah satu-satunya jalan. Ini adalah jalan terbaik untuk mendukung transisi masyarakat Indonesia.

Penulis memperhitungkan Ubuntu sebagai rekomendasi karena nasihat salah seorang bapak GNU/Linux Indonesia15 dan karena jumlah tutorial Ubuntu dalam Bahasa Indonesia paling banyak dibanding distro lain. Alasan jumlah tutorial ini adalah alasan terkuat penulis untuk merekomendasikan Ubuntu. Anda mesti memahami bahwa setiap orang yang meminta rekomendasi biasanya Pengguna Awam Tingkat II, sementara tingkatan ini yang terbanyak di Indonesia. Maka pilihkan yang termudah supaya dia bisa beradaptasi dahulu. Kira-kira butuh 5 tahun bagi seorang pengguna untuk mapan menggunakan GNU/Linux. Persoalan memakai distro lain, maka penulis sama sekali tidak membatasinya. Pengguna bebas memilih openSUSE, Fedora, bahkan LFS sekalipun. Penulis pun tidak membatasi Anda untuk menggunakannya. Namun karena ini masalah rekomendasi, karena Indonesia masih dalam masa transisi, maka rekomendasikan 1 distro saja yaitu Ubuntu.

Penulis juga tidak merekomendasikan Linux Mint16 karena jumlah tutorial berbahasa Indonesia yang ada masih sedikit dibanding Ubuntu. Walaupun Linux Mint = Ubuntu, tetapi judul-judul tutorial yang ada terbanyak dipegang oleh Ubuntu dan jika dipaksakan maka menambah distraksi (utamanya untuk Pengguna Awam Tingkat II dan Pemula). Sekali lagi, penulis menekankan standardisasi yang rata untuk pengguna. Anggaplah ini sebagai ignition bagi mereka. Setelah nanti mereka menggunakan Ubuntu selancar Windows (sudah mapan), silakan ajak mereka menggunakan distro lain. Indonesia butuh ignition, dan karena masih dalam masa transisi, maka ignition terbaik17 untuk mereka adalah Ubuntu.

2.12  Mengalami Kehilangan Data

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna datang untuk melaporkan bahwa mereka kehilangan data setelah instalasi sistem operasi tertentu?

Jawaban: ini bisa diatasi dari 2 sisi. Sisi pertama, dengan mencegah. Sebelum pengguna melakukan instalasi atau kegiatan yang dapat membahayakan sistem menurut pengalaman Anda, maka yang pertama harus Anda katakan adalah backup18. Yang kedua, Anda harus katakan bahwa pengguna harus menanggung sendiri risiko yang terjadi. Yang ketiga, jelaskan kepadanya cara melakukan kegiatan yang ditanyakan tersebut dengan rinci. Sampai di sini, minimal Anda telah kehilangan tanggung jawab untuk memperbaiki sistem pengguna jika benar terjadi kerusakan. Sisi kedua, dengan memberikan semangat dan perangkat lunak data recovery yang canggih semacam Testdisk19. Atau, ingatkan pengguna supaya segera dilakukanrestore20 andaikata backup sudah dilakukan sebelumnya.

2.13  Meminta Dual Boot

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna meminta bantuan dual boot 21padahal saya ingin mereka single boot selamanya?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Bahasa kasarnya adalah “biarlah dual boot dulu, yang penting mereka mau menggunakan OS legal”. Jika memungkinkan untuk dual boot, maka anjurkanlah. Secara default, pengguna hanya memanfaatkan komputer untuk bekerja. Sehingga sebuah kewajaran jika mereka sangat melindungi isi komputernya. Biarkanlah seluruh pengguna melakukan dual boot, bahkan untuk 20 tahun ke depan. Jangan memaksa mereka untuk menghapus Windows22 karena justru paksaan itulah penghalang terbesar mereka menggunakan GNU/Linux. Indonesia butuh dual boot. Mereka butuh banyak sumber daya seperti internet atau data penting yang hanya dapat ditangani oleh Windows. Oleh karena itu, biarkanlah dulu mereka dual boot. Biarkanlah mereka mengenal GNU/Linux melalui dual boot. Pada gilirannya nanti, mereka akan segera memiliki kemampuan memilih. Untuk mencapainya, maka dibutuhkan waktu yang panjang. Dengan begini, tidak perlu ada perang urat syaraf dan berkuranglah risiko kehilangan data. Anda tidak perlu cemburu dengan banyaknya pengguna yang belum mampu single boot seperti Anda.

2.14  Pengguna Tidak 100% Menggunakan FOSS

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna ingin menginstal Wine untuk aplikasi Windows atau ingin menggunakan perangkat lunak proprietari23 atau perangkat lunak lain menggantikan perangkat lunak sumber terbuka yang telah ada (padahal saya ingin mereka 100% menggunakan FOSS24)?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Pendekatan kasarnya adalah “biar mereka gunakan Wine25 asalkan tetap pakai GNU/Linux”. Anda tidak berhak melarang pengguna untuk mengemulasikan aplikasi dengan menggunakan FOSS. Biarkan mereka menginstal Google Sketchup di Linux melalui Wine, sebagaimana aplikasi Windows lainnya. Kaidah dasar di sini adalah kebutuhan setiap pengguna komputer itu berbeda. Setiap pengguna berhak memilih perangkat lunaknya sendiri dan tidak boleh ada pembatasan dari siapa pun (baik secara terang-terangan atau hanya sindiran). Maka, penggunaan Wine untuk aplikasi Windows adalah sangat baik untuk pengguna demikian pula proprietari semisal Sublime Text. Hal ini perlu didukung karena ini penting untuk membuat kesan GNU/Linux ramah pengguna. Sebagai tambahan, jika Anda melarang pengguna untuk menggunakan Wine, maka ada konsekuensi buruk yang terjadi sebagai berikut.

  • Manfaat dari perangkat lunak Windows menjadi tidak bisa diambil. Padahal bayangkan saja kalau mahir menggunakan Sketchup di GNU/Linux. Dan masih terlalu banyak freewareproduktif lain26 yang bermanfaat. Yang jadi patokan bukan ketersediaan kode sumbernya tetapi cukup legal atau tidaknya.
  • Wine menjadi tidak berguna sama sekali (lalu untuk apa dia diciptakan?).
  • GNU/Linux kehilangan salah satu fitur terbaiknya yakni bisa menjalankan perangkat lunak Windows.

Maka jangan terburu-buru meninggalkan pengguna yang memerlukan bantuan dalam masalah ini. Justru dukung mereka untuk produktif dengan perangkat lunak tersebut. Lalu biar masyarakat tergerak menggunakan juga. Begitu cara memanfaatkan keadaan.

2.15  Pengguna Tidak Bisa Membaca Dokumen Berbahasa Inggris

Pertanyaan: bagaimana jika ada pengguna GNU/Linux yang tidak mampu membaca tulisan dalam Bahasa Inggris (padahal semua dokumentasinya tersedia lengkap dalam bahasa tersebut)?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Sadarilah bahwa Bahasa Inggris bukan bahasa kita. Maka akan sangat banyak pengguna yang bertanya kepada Anda karena tidak memahami apa kata kuncinya dalam Bahasa Inggris. Adapun penyelesaiannya adalah dengan jalan menerjemahkan. Ada 2 pilihan penerjemahan. Yang pertama, terjemahkan secara live saat dia bertanya. Carikan jawabannya lalu terjemahkan untuknya tetapi jangan lupa untuk mengarahkannya kepada Google Translate. Yang kedua, sedikit lebih canggih lagi, terjemahkan satu artikel yang Anda nilai paling bagus untuk pemula dan berikan link-nya setiap ada pertanyaan yang sama. Contoh untuk pilihan kedua ini adalah Tutorial Shell Dasar 5 Menit. Tutorial terjemahan yang seperti ini akan banyak diperlukan untuk bidang-bidang khusus yang memerlukan keahlian mendalam. Oleh karena itu, jika Anda mampu, lakukanlah.

2.16  Pengguna Tidak Menghargai Terjemahan Anda

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna di Indonesia sama sekali tidak mau menggunakan antarmuka grafis perangkat lunak yang sudah susah payah saya terjemahkan seluruhnya ke dalam Bahasa Indonesia (saya mengerjakannya di Transifex27 maupun Launchpad28)?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Indonesia sedang dalam masa transisi. Anda berhak menerjemahkan segala antarmuka perangkat lunak dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Namun Anda tidak berhak mengendalikan pengguna untuk menggunakan terjemahan Anda. Perlu diketahui, setiap pengguna membutuhkan standardisasi untuk User Experience (UX). Sedangkan bahasa adalah elemen paling krusial dalam UX yang tidak bisa ditawar-tawar. Perubahan dalam segi bahasa adalah masalah yang sangat besar. Sehingga untuk memigrasikan pengguna dari antarmuka Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia membutuhkan waktu yang lama. Lebih lama daripada migrasi Windows ke GNU/Linux itu sendiri.

Bahasa sama sekali bukan perkara remeh. Bayangkan saja Anda menjalankan shell29 tanpa bahasa apa pun. Apa yang bisa Anda lakukan? Sama halnya dengan pengguna. Jadi, sudah menjadi hak pengguna untuk menggunakan antarmuka berbahasa Inggris karena UX mereka terbangun sejak masih anak-anak. Semua pengguna di Indonesia akrab dengan kata-kata asing semacam copypastecutprint, dan sebagainya. Anda tidak bisa dengan mudah mengubah kebiasaan tersebut menjadi salin, tempel, potong, cetak, dan seterusnya kecuali pengguna memang sudah dididik untuk menggunakan bahasa tersebut semenjak awal atau secara khusus untuk memigrasikan bahasa. Permasalahan paling rumit adalah Anda akan berhadapan dengan jumlah pengguna yang teramat besar dalam hal ini.

Penulis sendiri memilih antarmuka berbahasa Inggris walaupun penulis sanggup dan senang menggunakan antarmuka berbahasa Indonesia. Mengapa? Karena penulis merasa pekerjaan lebih cepat selesai dengan antarmuka tersebut. Penulis tahu ada banyak string yang masih kosong pada banyak perangkat lunak semacam Shutter, Evince, Y PPA Manager, dan lain sebagainya. Karena kekurangan inilah, antarmuka jadi terlihat kurang rapi. Maka jalan terbaik adalah menggunakan bahasa antarmuka asli yakni Bahasa Inggris. Berikut ini penulis sebutkan beberapa kerugian menggunakan bahasa terjemahan yang bukan bahasa asli perangkat lunak.

  • Bahasa Inggris pada seluruh string pada satu perangkat lunak harus diterjemahkan secara lengkap, tidak boleh ada yang tidak diterjemahkan. Sedangkan untuk 1 perangkat lunak saja (misalnya Shutter) ada ribuan string yang menanti untuk diterjemahkan. Terlebih lagi, ada puluhan ribu perangkat lunak yang belum memiliki terjemahan Bahasa Indonesia. Sampai di sini saja jelas sudah betapa berat permasalahan bahasa ini.
  • Jika bahasa antarmuka telah diterjemahkan seluruhnya ke dalam Bahasa Indonesia, maka masih tersisa Help dari perangkat lunak yang bersangkutan menanti untuk diterjemahkan. Help terpisah dari antarmuka dan setiap Help biasanya memiliki ratusan bahkan ribuan halaman berbahasa Inggris hanya untuk cara penggunaan. Ambil contoh Help milik Netbeans. Sayangnya, seluruh perangkat lunak memiliki Help sehingga jumlah total objek penerjemahan meningkat berkali lipat.
  • Jika Help pun sudah diterjemahkan seluruhnya, maka masih tersisa sesuatu yang disukai banyak orang yaitu update. Jika ada suatu update dari upstream untuk antarmuka dan help, maka slot kosong akan bertambah dengan sendirinya, menanti untuk diterjemahkan lagi. Dengan total string dalam 1 perangkat lunak, dikalikan jumlah perangkat lunak yang tersedia di repositori resmi maupun PPA, ditambah jumlah Help dikalikan jumlah perangkat lunak, maka betapa luar biasa besarnya jumlah update yang harus diterjemahkan seandainya setiap perangkat lunak merilis 1 string baru saja. Lihatlah, bahasa sama sekali bukan perkara remeh.

Dengan melihat contoh kerugian di atas, tampaklah bahwa masalah penerjemahan ini sangat besar. Namun, apa yang bisa Anda lakukan dengannya? Berikut ini beberapa solusinya.

  • Terjemahkanlah perangkat lunak terpopuler. Beberapa pengguna kawakan telah berusaha menerjemahkan Mozilla Firefox dengan sangat baik30 ke dalam Bahasa Indonesia. Penulis menilai langkah ini cerdas karena mereka langsung memilih perangkat lunak yang jelas digunakan oleh orang banyak. Secara otomatis, terjemahan akan langsung digunakan dan UX akan terbentuk dengan sendirinya. Anda bisa meniru langkah mereka untuk fokus pada perangkat lunak populer semacam Nautilus atau Dolphin. Untuk bisa melakukan ini, Anda harus memiliki jiwa marketer yakni tahu betul perangkat lunak mana yang paling banyak dipakai oleh pasar.
  • Gunakan kekuasaan Anda. Penerjemahan yang memerlukan sumber daya begitu besar pada paparan di atas akan terasa ringan jika dikerjakan secara gotong royong. Maka, jika Anda seorang manajer, Anda bisa mengajak sekian banyak junior menerjemahkan.

Janganlah Anda kaget jika sedikit pengguna peduli dengan terjemahan Anda dan lebih sedikit lagi yang terlibat. Maka bersabar adalah jalan paling baik. Lakukan saja dengan ikhlas, mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, sekarang juga.

2.17  Pengguna Mengkritik Keras Suatu Sistem

Pertanyaan: bagaimana jika pengguna menganggap jelek KDE (padahal saya menyukainya), demikian pula untuk perangkat lunak semacam LibreOffice atau GIMP?

Jawaban: bersabarlah dan maklumilah. Jika Anda ditanya, apakah sistem Anda sempurna, maka apa jawaban Anda? Tentunya tidak. Lebih jauh lagi, jika ditanya apakah Anda developer inti sistem yang bersangkutan? Jika jawabannya juga tidak, maka lebih-lebih lagi Anda harus bersabar. Developer saja mau dikritik (baca: bug report dan feature request).

Kritik terhadap FOSS itu sangat penting demi kemajuannya sendiri. FOSS untuk desktop, dalam bidang desain grafis dan sains, belum menandingi perangkat lunak non-FOSS. Sedangkan pengguna di Indonesia, kebanyakannya adalah pegiat di antara dua bidang ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah fokus kepada salah satu FOSS yang ada untuk memperbanyak karya dan tutorialnya. Contohnya seperti web-web berikut:

Maka pilihlah salah satu jalan berikut untuk menghadapinya:

  • Fokus memperbanyak karya dan tutorial untuk 1 FOSS.
  • Fokus mengirim patch untuk 1 FOSS yang banyak dikritik.
  • Fokus menciptakan FOSS baru31 yang lebih baik daripada yang banyak dikritik.
  • Jawablah pengguna yang mengkritik dengan arahan untuk bersabar, sebagaimana Anda juga.

Poin pertama dan keempat dikhususkan untuk pengguna murni. Poin kedua dan ketiga untuk pengguna yang mampu memrogram. Jika Anda pengguna, maka buatlah sebuah blog yang tematik seperti contoh di atas. Dipandang dari segi pengguna, maka masyarakat membutuhkan banyak sekali tutorial dalam Bahasa Indonesia untuk macam-macam FOSS yang ada. Dipandang dari segi developer, masyarakat Indonesia yang sudah sanggup memrogram perlu memperbanyak perangkat lunak GNU/ Linux karena masyarakat Indonesia yang selainnya membutuhkannya.

Penulis memberikan contoh blog tematik apa yang bisa Anda dirikan untuk segi pandangan pertama (pengguna). Anda bisa membuat blog dengan fokus kepada salah satu FOSS ini:

  1. LibreOffice (mewakili perangkat lunak office GNU/Linux),
  2. KDE (bagaimana menggunakan desktop di GNU/Linux),
  3. Wine (bagaimana memakai perangkat lunak Windows di GNU/Linux),
  4. GIMP (bagaimana desain grafis profesional di GNU/Linux),
  5. LaTeX (bagaimana penyusunan skripsi dengan GNU/Linux),
  6. Scilab atau Octave (gantinya Matlab di GNU/Linux),
  7. KicadgEDAavrdude (mewakili elektronika dan embedded system GNU/Linux).

Penulis memandang perlunya ada blog khusus yang fokus kepada tiap-tiap FOSS yang paling banyak digunakan masyarakat. Paling diutamakan adalah LibreOffice. Maka jika Anda menguasai salah satunya, dirikanlah blog tematik khusus FOSS tersebut. Perbanyak tutorialnya. Lalu jika ada pengguna yang mengkritik lagi, paling tidak Anda bisa memberikan linkkepada blog tersebut. Inilah cara memintarkan masyarakat.

Penulis memberikan pula contoh ide untuk perangkat lunak yang patut diadakan bagi masyarakat.

  • Aplikasi pendidikan aqidah dan akhlaq untuk anak,
  • Maktabah Syamilah versi GNU/Linux,
  • Download Manager,
  • Proxy Manager (GUI),
  • Aplikasi pelatihan GNU/Linux,
  • Aplikasi bisnis UKM,
  • Aplikasi pelatihan cara menggunakan komputer untuk orang awam,
  • Aplikasi KBBI32,
  • Aplikasi peta jalan raya Indonesia,
  • GUI Switcher,
  • Personal Cash Manager,
  • Simple Accounting System.

Jika Anda memerhatikan, maka akan tampak bahwa ide-ide yang disebutkan di atas belum terealisasikan atau setidaknya belum banyak diadakan oleh masyarakat. Paling utama untuk platform GNU/ Linux. Maka inilah jalan yang tepat untuk menunjang transisi masyarakat.

2.18  Bagaimana Mempromosikan Aplikasi Kepada Masyarakat?

Pertanyaan: saya menciptakan aplikasi open source yang sangat diperlukan masyarakat tetapi sulit membuat masyarakat menggunakannya. Bagaimana cara promosinya?

Jawaban: penulis tawarkan solusi yang sudah dijawab oleh kedudukan Anda sendiri selaku senior. Terlebih lagi, jika Anda termasuk senior lintas komunitas. Solusi itu hanyalah PM.

  1. Apa Anda lintas komunitas? Apa Anda punya akun di semua forum? Apa Anda setiap hari bisa melihat panel “Warga yang baru bergabung” di forum-forum? PM mereka satu per satu dengan bahasa yang sopan. Istimewa untuk Anda yang memilih forum, selalu sertakanlah gambar (skrinsot) di tiap PM Anda. Ini sangat manjur untuk tipe aplikasi pendidikan semacam Otodidak. Mengapa? Karena setiap warga yang baru bergabung bisa dipastikan 99% semuanya newbie. Sehingga pasti disambut dengan baik oleh mereka karena menyangkut kemaslahatannya dan karena ada gambarnya. Unggah gambar di WordPress Anda lalu masukkan URL-nya ke dalam kode BBCode PM Anda. Dengan ini, otomatis setiap Anda salin-tempel PM, gambar akan selalu ikut dikirim. Jangan remehkan gambar (skrinsot) karena justru karena inilah banyak pengguna mau mengunduh aplikasi Anda.
  2. Apa Anda menciptakan aplikasi untuk nonpemula (misalnya ERP)? Baca daftar nama warga forum satu per satu dimulai dari yang terawal gabung. PM mereka dengan bahasa yang sopan mengenai aplikasi Anda.
  3. Untuk kedua solusi di atas, gunakanlah KNotes untuk menyimpan kode JCode/BBCode/HTML dari posting PM Anda. Cukup sekali menulis lalu Anda bisa salin-tempel berulang kali untuk orang yang berbeda-beda.
  4. Solusi-solusi ini telah diterapkan oleh penulis sendiri dan Anda bisa melakukannya tidak dalam satu hari selesai. Penulis melakukannya sewaktu-waktu perlu.

Jangan gunakan solusi-solusi ini untuk kegiatan spamming. Demi memperjelas solusi penulis berikut ini contoh BBCode penulis untuk aplikasi Otodidak yang penulis PM-kan kepada warga-warga baru di Forum Ubuntu Indonesia:

Bismillahirrahmanirrahim.
Untuk akang yang baru bergabung dan ingin belajar Linux dasar, silakan gunakan aplikasi Otodidak untuk belajar Linux:
http://ubuntu-indonesia.com/forums/ubbthreads.php/topics/136297/1
[img]http://malsasa.files.wordpress.com/2013/02/pemula−1.png[/img]
Bisa juga diberikan untuk kerabat yang baru belajar Linux. Semoga bermanfaat.

Kalimat di atas sudah penulis atur agar tidak ada kesan menggurui untuk warga baru yang ternyata masuk tingkatan menengah bahkan ahli, agar tidak ada kesan promosi atau iklan, dan menjaga kesopanan kepada penerima.

3  Kesimpulan

  1. Bersabarlah menghadapi transisi masyarakat.
  2. Ajarilah masyarakat menggunakan GNU/Linux dengan sebaik-baiknya dan secara terus menerus.
  3. Kumpulkan yang terpisah, yakni satukan materi yang terpisah-pisah tetapi masih satu bidang menjadi satu blog atau tulisan GNU/Linux yang spesifik. Misalnya blog khusus Libreoffice. Menulislah secara konsisten, dan berikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
  4. Tulislah sebaik mungkin panduan-panduan mengenai GNU/Linux dalam Bahasa Indonesia.
  5. Perbanyak panduan GNU/Linux yang bermutu dalam Bahasa Indonesia.

4  Penutup

Sekali lagi, Indonesia masih dalam masa transisi. Anda tidak dapat memaksa seluruh masyarakat untuk menggunakan GNU/Linux. Sekali lagi, Anda tidak dapat memaksa seluruh masyarakat untuk menggunakan GNU/Linux. Bagaimana bisa Anda menginginkan masyarakat menggunakan GNU/Linux jika mereka tidak tahu cara menggunakannya? Maka satu hal yang pasti, tulislah tutorial untuk masyarakat. Mulailah memfokuskan diri untuk menulis. Tulislah panduan-panduan penggunaan salah satu FOSS yang Anda kuasai. Biarkan masyarakat menemukan panduan Anda dari Google agar mereka semakin percaya diri. Jika Anda tidak mampu menulis, maka jadilah pemaaf dan bersikaplah ramah terhadap para penanya di komunitas.

Tulisan ini murni pendapat pribadi penulis. Tulisan ini sifatnya hanya saran. Pasti terdapat kesalahan dan oleh karena itu penulis meminta maaf sebesar-besarnya kepada Anda. Jika Anda tidak sepakat dengan tulisan ini, maka tulis esai yang lebih baik.

5  Tentang Dokumen Ini

Dokumen versi web ini mulai ditulis pada 24 Oktober 2013. Dokumen ini ditulis dengan LaTeX dengan antarmuka Gummi (kemudian Texmaker sejak sejak 29 Desember 2013) di atas Ubuntu 12.04. Dokumen ini diubah dari LaTeX menjadi HTML dengan bantuan Hevea. Dokumen ini tidak ditutup kemungkinannya untuk direvisi pada masa mendatang. Jika penulis membuat kesalahan dalam dokumen ini, maka penulis memohon maaf sebesar-besarnya.

6  Ucapan Terima Kasih

Terima kasih penulis sampaikan kepada Akang Ridwan Fajar, Akang Ridlo Widyanto, dan akang-akang lain yang tidak bisa saya sebut namanya. Terima kasih Anda telah mengoreksi esai ini. Terima kasih atas kontribusi Anda yang demikian besar hingga tulisan ini dirilis.

7  Tentang Penulis

Penulis adalah seorang warga Forum Ubuntu Indonesia dan pemilik blog https://malsasa.wordpress.com. Penulis menyediakan buku-buku gratis panduan belajar Linux untuk pemula33. Penulis mendukung penggunaan perangkat lunak legal terutama FOSS di Indonesia. Penulis dapat dihubungi melalui SMS di nomor 0896 7923 7257.


1
Dokumentasi berbahasa Indonesia itu penting sekali karena masyarakat Indonesia berbahasa Indonesia. Ini lebih penting dari antarmuka pengguna berbahasa Indonesia
2
Tutorial terbanyak tersedia dalam Bahasa Inggris. Nomor dua, tutorial terbanyak tersedia dalam Bahasa Indonesia tetapi berbasis Ubuntu. Contoh mudahnya tutorial instalasi modem. Distro lain, belum. Gunakanlah Google untuk mengetahuinya.
3
apt-web adalah sebuah perangkat lunak berbasis web ciptaan Fajran Iman Rusadi yang fungsinya mirip dengan Softpedia.com untuk Windows, yakni menyediakan installer komplet untuk aplikasi-aplikasi Ubuntu. Installer yang diunduh dari apt-web bisa diinstal di Ubuntu secara offline, sama seperti instalasi aplikasi di Windows. apt-web ini sangat memudahkan pengguna Ubuntu yang tidak punya koneksi internet langsung untuk menginstal aplikasi. Sisi kekurangan infrastrukturnya adalah apt-web belum ada untuk distro populer keluarga Ubuntu (DEB) macam Linux Mint, ZorinOS, elementaryOS serta disto berbasis non-apt semacam IGOS (RPM) dan Manjaro (tar.xz). Hal ini menghambat pengguna baru dalam menginstal aplikasi karena GNU/Linux mewajibkan adanya koneksi internet langsung untuk itu.
4
Selain apt-web, masih banyak infrastruktur lain yang sangat bermanfaat untuk msyarakat semisal openSUSE Build Service (https://build.opensuse.org), SUSE Studio (http://susestudio.com), Launchpad (https://launchpad.net), OpenVim (http://openvim.com), dan lain-lain.
5
Utamanya memang GNU/Linux, tetapi FreeBSD sekeluarga dan Windows yang legal tetap direkomendasikan oleh penulis. Jika disebut nama sistem operasi, itu berarti penulis maksudkan beserta seluruh aplikasinya. Misalnya, jika Windows Anda legal maka Microsoft Office-nya juga harus legal. Penulis juga tidak membatasi sistem operasi baru semacam ReactOS.
6
Frequently Asked Question (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan). FAQ adalah dokumen yang selalu ada di setiap komunitas komputer. Tujuannya supaya menghemat waktu kedua belah pihak, baik yang ditanya maupun yang bertanya.
7
Manfaat adanya aplikasi pelatihan untuk pengguna selain memintarkan rakyat Indonesia juga memperbanyak jumlah aplikasi buatan masyarakat Indonesia.
8
am.bu.ra.dul [a cak] centang perenang; berantakan; porak-poranda: para penghuni di sekitar tempat itu hanya mampu diam dan kesal, tanpa dapat berbuat apa-apa menyaksikan keadaan yg – (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III (2005))
9
Hal ini sering terjadi di komunitas.
10
http://kask.us/g8CvzSIAPh
11
Mailing List atau juga dikenal sebagai grup e-mail. Contohnya tanyajawab@linux.or.id.
12
[SOLVED] adalah tag yang wajib dibubuhkan pada judul jika pertanyaan sudah terselesaikan.
13
KNotes adalah aplikasi bawaan KDE untuk menulis catatan yang bisa ditambah dan diakses kapan saja dari system tray.
14
Gentoo adalah disto kelas berat yang instalasinya saja bisa memakan waktu 1 minggu.
15
Rahmad M Samik Ibrahim mengatakan dalam presentasinya tahun 2004 “Samakan dengan teman anda!” pada halaman 13. Beliau juga menegaskan alasan memilih distro yang sama dengan teman Anda (mayoritas pengguna) yaitu “Mudah bertanya/konsultasi”. Beliau menegaskan pula “JANGAN memilih yang “KATANYA BAGUS”. Presentasi tersebut masih bisa dibaca di http://rms46.vlsm.org/1/99.pdf.
16
Penulis memberikan rekomendasi Ubuntu secara global. Jika Anda mengetahui ada masalah pada pengguna yang menghalanginya, maka barulah direkomendasikan Linux Mint, PCLinuxOS, atau distro lain yang bisa meredam penghalang tersebut. Jika pengguna justru bisa menggunakan GNU/Linux dengan baik di distro selain Ubuntu, maka di situ rekomendasi penulis tidak lagi berlaku.
17
Alasan lain yang setara kuatnya masalah rekomendasi Ubuntu adalah persoalan internet masyarakat. Kebanyakan pengguna komputer Indonesia tidak memiliki sambungan internet langsung, sedangkan GNU/Linux selalu meminta internet untuk instalasi aplikasi. Ubuntu memiliki massa yang besar sehingga punya metode-metode instalasi aplikasi offline yang banyak. Di Indonesia, Ubuntu didukung oleh teknologi apt-web buatan Fajran Iman Rusadi sehingga masyarakat bisa menginstal aplikasi secara offline dan ini sudah terbukti. Selain itu, Ubuntu masih punya metode lain yang lebih pasti dan lebih mudah untuk itu yakni dengan perintah spesial apt-get. Ia sudah tersedia di dalam Ubuntu itu sendiri. Selengkapnya bisa Anda baca di https://malsasa.wordpress.com/2014/01/27/panduan-ringkas-apt-get/.
18
Backup adalah kegiatan membuat cadangan data dengan cara copy-paste ke partisi lain. Backup kadang berrmakna hasil kegiatan copy-paste itu sendiri.
19
http://www.cgsecurity.org/wiki/TestDisk Partition Recovery and File Undelete
20
Restore adalah kegiatan mengembalikan data yang sudah di-backup ke tempatnya semula setelah terjadi kerusakan sistem. Ini adalah prosedur paling penting dalam menyelamatkan data.
21
Dual boot adalah kondisi adanya 2 sistem operasi dalam 1 komputer. Biasanya pengguna melakukannya antara Windows dan GNU/Linux. Jika ada 3 sistem operasi, maka namanya menjadi triple boot. Dan seterusnya.
22
Dengan catatan, jika ia legal.
23
Dengan catatan, jika ia legal.
24
Free/Open Source Software.
25
Dengan catatan, program yang diemulasikan adalah legal.
26
Cek majalah komputer untuk mengetahuinya.
27
http://transifex.com
28
http://translations.launchpad.net
29
Shell adalah program penerjemah perintah kepada sistem operasi. Shell adalah program pengguna paling penting dalam sistem operasi. Contoh shell populer adalah Microsoft Command Prompt, sh, tcsh, ksh, bash, dan zsh.
30
https://localize.mozilla.org/id/
31
Bukan distribusi GNU/Linux baru.
32
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
33
https://malsasa.wordpress.com/pdf

21 thoughts on “Indonesia Masih dalam Masa Transisi

    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Versi PDF sudah ada sebelum versi web sebetulnya, Kang. Karena memang tulisan ini asalnya dibuat di Gummi. Maaf, saya mungkin akang perbaiki beberapa sisi versi webnya sampai puas dulu sebelum versi PDF bisa hadir, Kang. Terima kasih banyak atas saran akang.

      Balas
      1. Rudi's Novianto

        wah begitu ternyata.. yasudah kang baiklah saya tunggu rilis versi pdfnya aja ya kang.. solanya seneng aja baca yang pdfnya kang.. :)
        terimakasih banyak sebelumnya kang buat penjelasannya..

    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Iya, saya sengaja membuat tulisan yang panjang. Tulisan ini dimulai +/- 5 bulan lalu danharus mencakup banyak sisi transisi. Dan tulisan ini yang mencambuk saya sendiri dalam seluruh tulisan sejak Oktober 2013 kemarin. Kalau turut menjadi cambuk buat akang, semoga itu bermanfaat.

      Balas
      1. Dio Affriza

        Kalau boleh saya request, akang tolong buatkan cara packaging dan memasukkan program buatan sendiri ke software-centre. Saya sudah googling, tapi masih belum meemuka hasil yang relevan. Terimakasih sebelumnya kang.

      2. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

        Kalau pemaketan Debian, sudah. Kalau memasukkan aplikasi ke dalam program Software Center, tidak mungkin. Yang mungkin memasukkan aplikasi kita ke repositori resmi Ubuntu. Kita harus mendaftar sebagai developer (coba cari di developer.ubuntu.com atau tanya langsung ke kanalnya) lalu mengunggah source code ke sana lalu putuskan mau berbayar apa gratis. Begitu.

        Adapun pemaketannya: https://malsasa.wordpress.com/2013/12/25/panduan-pemaketan-debian-termudah-disertai-contoh/.

  1. Khoirul Islam (@kho_is)

    Tulisan yang sangat menarik dan berbobot. Jika diperkenankan memberi usulan, saya ingin mengusulkan kalau Blog ini diberi Widget Share ke Sosial Media (Facebook, Twitter, dll) agar memudahkan tersebarnya tulisan ini dan semakin banyak yang membaca maka akan semakin banyak yang sadar akan makna tersirat dari tulisan ini.
    Sekian dan terima kasih

    Balas
  2. Ping balik: Pentingnya Sebuah Tutorial Bagi Seorang Pemula | Ade Malsasa Akbar

  3. Ping balik: The Quieter You Become, The More You Are Able To Hear | Ade Malsasa Akbar

  4. Ping balik: Kumpulan Esai Kritik Saya | RESTAVA

  5. Ping balik: Kumpulan Tulisan Saya Tentang Menulis Artikel Linux | RESTAVA

  6. Ping balik: Bedakan Proses dengan Hasil | RESTAVA

  7. Ping balik: Pentingnya Menulis Tutorial | RESTAVA

  8. Ping balik: Pentingnya Sebuah Tutorial Bagi Seorang Pemula |

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s