Bagaimana Menulis Artikel Linux yang Komprehensif


Bismillahirrahmanirrahim.

openofficeorg3.0-writer1Bagi saya, kendala utama persebaran Linux di Indonesia adalah lack of tutorial (kekurangan panduan). Maka solusinya adalah menulis. Saya melakukan “provokasi” pada beberapa pengguna Linux di komunitas untuk menulis artikel. Cara saya adalah menunjukkan satu artikel spesifik lalu mengajak untuk turut menulis artikel serupa. Tentu, saya harus sumbut. Saya harus memfasilitasi mereka yang saya “provokasi”. Maka saya tuliskan tutorial menulis tutorial yang sederhana kemarin. Namun sebagai penulis, saya pun ingin memberikan panduan yang lebih menyeluruh. Tulisan ini adalah catatan kepenulisan saya, bagaimana saya sendiri menulis tutorial sampai hari ini. Ini langkah-langkah yang saya tempuh untuk membuat sebuah artikel panduan Linux berbahasa Indonesia baik di Teknoplasma atau di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.

1. Selayang Pandang

Anda akan melihat apa-apa yang harus diperhatikan dalam menulis satu artikel Linux yang komprehensif. Tulisan ini memfokuskan Anda untuk menulis artikel yang bersih, rapi, dan mudah dibaca orang lain.

2. Kebutuhan Dasar

  1. Niat. Saya berniat mencari ridha Allah.
  2. Punya malu. Saya tergolong orang yang malu berat untuk menyingkat kata-kata. Saya malu salah ketik. Bahkan dalam SMS pun saya tidak menyingkat (jika Anda pernah membaca SMS dari saya). Saya menganggap kepatuhan terhadap budaya menyingkat kata-kata adalah sebuah kelemahan. Sejujurnya, ini berawal dari kecintaan saya terhadap membaca. Saya membaca dokumentasi KDE (saat awal menggunakan Linux), artikel dari pengguna Linux Barat, dan percakapan orang Barat soal Linux. Ketika saya membaca tulisan-tulisan orang Indonesia (terutama diskusinya), saya malu. Sekarang rasa malu itu bertambah setelah saya tahu bangsa Arab (bangsanya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) alangkah sangat menghormati bahasa dan telah dikenal keindahan bahasanya di seluruh dunia. Oleh karena itu, saya menolak patuh. Ini yang nomor satu tercetak di benak ketika saya mulai menuang kata-kata. Jika ingin menulis artikel bagus, paling minimalnya buang jauh-jauh budaya SMS. Lalu, Anda harus mulai memerhatikan tata bahasa saat ini juga. Ini kunci kemudahan artikel Anda untuk dibaca.
  3. Hobi membaca. Saya tergolong orang yang senang membaca. Ini adalah modal terbesar saya dalam menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis kalau tidak pernah membaca?
  4. Kesadaran bahwa Linux itu sulit. Saya harus sadar dulu bahwa Linux banyak kekurangan, paling utamanya sulit digunakan untuk pemula. Jika sudah tahu Linux itu sulit, maka saya tinggal mengusahakan bagaimana caranya biar mudah. Ini berkebalikan dengan sebagian pandangan orang bahwa Linux sudah mudah secara total sehingga menghasilkan asal jawab kepada newbie, asal menyalahkan newbie (dengan tuduhan tidak mau membaca/mencoba), asal hujat kepada newbie yang tidak tahu apa-apa, atau menimbulkan api permusuhan karena fanatisme buta. Saya menganggap hal itu sebagai gak sumbut dan sesuatu yang bodoh. Saya berpikir begini “kalau memang Linux itu mudah, harusnya tidak perlu ada blog modemlinux.wordpress.com”. Sebaliknya, dengan kesadaran bahwa Linux memang sulit, justru saya dapat berinovasi dengan membuat tulisan dan aplikasi. Jika saya patuh saja, maka saya tidak akan pernah menulis dan tidak akan pernah membuat aplikasi.
  5. Kesadaran bahwa para pemula di Indonesia butuh bimbingan dengan sebaik-baiknya. Saya selalu menganggap newbie yang datang di komunitas sebagai diri saya sendiri ketika pertama mengenal Linux. Saya juga menganggap bahwa yang namanya newbie itu akan selalu ada sampai akhir waktu kelak. Saya termasuk orang yang tidak senang menyuruh googling. Saya punya pikiran begini “kalau kamu mau Indonesia menggunakan Linux, kamu harus tanggung jawab. Kamu harus ajari masyarakat walau dari hal terkecil”. Dengan cara itulah —alhamdulillah— saya bisa menulis.
  6. Kesadaran bahwa tutorial Linux berbahasa Indonesia jumlahnya sangat kurang. Oleh karena itu, saya menerjemahkan tutorial atau menulis tutorial berbahasa Indonesia. Memang banyak artikel Linux, tetapi berbahasa Inggris sedangkan saya hidup di Indonesia. Saya punya pikiran begini “kalau kamu promosikan Linux di Indonesia, bimbing mereka dengan bahasa mereka. Bukan dengan Bahasa Inggris!”.
  7. Kesadaran bahwa keumuman tutorial yang beredar lack of screenshot (kekurangan skrinsot). Saya punya pikiran begini “seorang newbie itu lebih cepat memahami masalah jika dengan gambar”. Oleh karena itu, hampir semua artikel saya berisi banyak skrinsot.

Jangan heran, kebutuhan dasar untuk menulis artikel berkualitas memang banyak.

3. Jenis-Jenis Tulisan

  1. Tutorial.
  2. Review.
  3. Esai bebas.
  4. Kumpulan tautan.
  5. Album skrinsot.

4. Tulisan yang Terlaris

Percaya tidak percaya, ternyata justru kumpulan tautanlah jenis tulisan yang paling laris.

5. Yang Paling Dibutuhkan Pembaca

Saya urutkan jenis artikel berdasar tingkat kepentingannya. Urutan ini bisa salah bisa benar.

  1. Tutorial spesifik untuk suatu bidang khusus. Contohnya pemrograman Qt dan Terminal.
  2. Pengantar untuk suatu bidang khusus. Contohnya pemrograman C dan GUI.
  3. Kumpulan tautan untuk suatu bidang khusus. Contohnya PDF dan modem.
  4. Tutorial penggunaan dasar untuk suatu aplikasi. Contohnya Qt Creator.
  5. Ulasan suatu aplikasi tertentu dibandingkan aplikasi Windows serupa. Contohnya Kate vs Codevision AVR.

Semua jenis artikel saya beri contoh dari tulisan-tulisan saya sendiri. Saya sengaja melakukannya biar sumbut. Saya ngomong begini begitu, karena memang saya sendiri telah melakukannya dahulu.

6. Struktur Tulisan

Saya sampaikan kepada Anda satu kunci saya dalam menulis artikel yang luas dan padat. Kunci itu adalah menulis berdasarkan urutan tertentu. Apa urutan yang dimaksud? Perhatikan ini.

  1. Pembuka.
  2. Isi.
  3. Penutup.

Percaya tidak percaya, semua artikel saya tersusun dari 3 urutan ini. Hanya saja, terkadang saya modifikasi susunan tersebut menjadi demikian:

  1. Pembuka.
  2. Arah Tulisan Ini.
  3. Kode Program.
  4. Skrinsot.
  5. Hasil Program.
  6. Pembahasan.
  7. Referensi.

Struktur tulisan adalah jawaban untuk pertanyaan umum bagaimana membuat tulisan yang baik. Sebagai pembuka, saya biasa menulis langsung maksud tulisan. Lalu, untuk isi, saya pecah-pecah lagi sesuai jenis tulisan yang ingin dikerjakan. Terserah mau membuat penutup apa saja. Saya sendiri mengganti bagian penutup dengan Referensi. Namun kadang saya tetap memberi paragraf penutup sebelum bagian Referensi.

7. Persiapan Ketika Menulis

  1. Skrinsot.
  2. Riset.
  3. Percobaan.
  4. Unggahan.

Mengenai Skrinsot: skrinsot untuk tutorial Linux adalah sebuah kemestian. Walaupun tutorial itu bicara tentang Terminal. Mengapa? Karena audiences kita adalah para pemula. Para pemula itu tidak seperti pengguna berpengalaman. Mereka sulit membayangkan bagaimana bekerja dengan Terminal karena terbiasa dengan click and run. Nah, karena semua masalah Linux 99% (angka kasar) selalu diselesaikan dengan Terminal, maka biasakan mereka memakai Terminal dengan memperbanyak skrinsot. Yakinkan mereka kalau Terminal tidak sulit dengan skrinsot. Kalau Terminal saja begini, maka bagaimana lagi dengan GUI. Saya sengaja memajang skrinsot-skrinsot yang antarmukanya Unity atau Oxygen KDE agar tercetak kesan percaya diri di sisi pembaca. Mengapa? Karena pengguna Linux adalah minoritas. Dan karena untuk memperkenalkan Linux kepada masyarakat kita butuh standardisasi.

Mengenai Riset: Googling. Menulis satu artikel kadang adalah riset tersendiri untuk saya. Ukuran riset saya adalah skala kecil. Riset biaya pribadi dengan segala keterbatasan diri ini. Saya melakukannya dengan googling. Saya terbiasa mencari dahulu dengan Google tutorial sebanyak-banyaknya dalam 1 masalah lalu saya baca semua baru kemudian saya lakukan 1 hal di Linux. Sama juga dengan menulis. Saya kumpulkan dulu semua bahan sebanyak mungkin, go offline, saya pilah-pilah, lalu saya eksekusi yang paling baik. Ada beberapa artikel yang tidak selesai dalam 1 hari semisal Belajar Menggunakan KDE Edisi 4. Ada juga yang benar-benar butuh riset serius seperti Otodidak Versi 1 Dirilis. Saya ingin selalu menghadirkan tulisan yang paling berkualitas, rinci dan mendetail, dan sebisa mungkin lengkap rujukannya. Oleh karena itu, saya meyakini untuk beberapa jenis tulisan, kadang dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa terbit. Harus melalui riset dahulu. Lama di sini tentunya relatif, untuk saya, waktu 4 bulan untuk artikel KDE (Oktober — Januari) termasuk lama. Di dalam riset itu, saya melakukan hal-hal yang rumit (bagi saya sendiri) untuk memecahkan suatu permasalahan. Lalu permasalahan itu saya jadikan tulisan. Jangan dikira ini sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Jika Anda sekarang menulis artikel mengenai Kingsoft Office, membeberkan beberapa fitur beserta skrinsotnya, maka itu juga riset bagi saya.

Mengenai Percobaan: bagaimana cara Anda menulis artikel mengenai pemrograman? Hanya menulis begitu saja? Tentu tidak. Anda harus mencoba terlebih dahulu, membuat program dahulu, susah payah dahulu untuk bisa menulis tutorial pemrograman. Apalagi jika tulisan itu berseri. Riset dan percobaan selalu saya lakukan untuk tulisan macam Pemrograman Qt dan Qt Creator. Tidak tertutup untuk tulisan Android dan lain-lain.

Mengenai Unggahan: bagaimana jika Anda menemukan tutorial pemrograman yang menjelaskan pengantar, spesifikasi, kode sumber, skrinsot, analisis kode, kesimpulan, lalu kemudian menyertakan paket programnya untuk diunduh? Senang? Saya sendiri menjawab ya dan saya ingin pembaca merasakan kesenangan yang sama. Oleh karena itu, saya mengunggah paket kode sumber Qt saya walau sudah tercantum di dalam tulisan, supaya pembaca dapat langsung menerapkannya. Biar setiap tulisan saya menjadi MWE bagi mereka. Hanya itu? Saya senang jika punya PDF untuk dibaca offline dan saya pun ingin pembaca memperoleh kesenangan yang sama. Saya mengusahakan setiap posting penting memiliki versi PDF. Maka saya membuat versi PDF dengan Libreoffice maupun LaTeX lalu diunggah ke server WordPress. Saya usahakan selalu tercantum “…tersedia dalam PDF…” di banyak tulisan. Dan tentunya tidak hanya memrogram. Kadang kita mendesain. Maka saya pun mengunggah berkas SVG atau XCF (Inkscape dan GIMP) pada blog desain saya. Tujuannya sama, supaya pembaca dapat langsung menerapkannya. Untuk hal ini, tentulah saya harus punya server sendiri. Alhamdulillah semua itu terpenuhi dengan OFE bahkan saya masih punya Mediafire dan lain-lain.

8. Orisinalitas Tulisan

Saya pribadi membenci tulisan hasil menyalin punya orang. Saya tidak menyukai tulisan yang asal-asalan macam itu dan cenderung saya selalu mengabaikannya. Dan seumur hidup saya belum pernah satu kali pun melakukannya di blog-blog saya mulai era Restava sampai Teknoplasma. Tentunya di blog ini juga. Namun dalam masalah kepenulisan, ada pembagian kategori sebagai berikut.

  • Tulisan asli.
  • Tulisan terjemahan.

Ini agar tidak dikira selamanya kita harus menulis sendiri suatu topik dalam masalah Linux. Kadang justru menerjemahkan tulisan orang lain jalan terbaik. Sebagai contoh, ketika saya melihat di komunitas Mint ada artikel Tutorial Shell 5 Menit, saya langsung menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia. Ini saya lakukan karena mempertimbangkan susunan artikel yang bagus dan dalam sekali lihat orang bisa langsung memahami cara menggunakan Terminal, tidak seperti artikel-artikel biasanya. Ternyata benar, alhamdulillah ada saja orang yang terbantu dengan terjemahan ini. Hal ini juga berlaku untuk tulisan-tulisan yang lain semisal laman diskusi komunitas dalam hal IDE untuk LaTeX (jujur saya ingin menerjemahkannya juga), laman daftar aplikasi alternatif Windows di Linux, dan seterusnya. Jadi, Anda tidak harus selalu menulis sendiri. Anda juga bisa menerjemahkan artikel yang kiranya dibutuhkan masyarakat. Pilihkan artikel yang banyak pengguna memerlukannya.

9. Mood Mitos

Saya tidak memercayai keberadaan mood. Bagi saya, mood itu tidak ada. Mood hanyalah alasan orang belakangan yang diada-adakan untuk malas menulis. Dengan kepercayaan ini, saya jadi mudah menulis bahkan dalam keadaan yang sangat terbatas.

10. Penutup

Tulisan ini tidak membatasi gaya penulisan Anda. Setiap orang memiliki gaya tersendiri. Namun jika Anda termasuk orang yang baru memulai, semoga tulisan ini bisa jadi pengantar yang baik. Saya memohon maaf jika banyak kesalahan di sini dan tulisan ini tidak ditutup kemungkinannya untuk direvisi kelak.

18 thoughts on “Bagaimana Menulis Artikel Linux yang Komprehensif

  1. daenglinx

    om report yah link untuk kata modem baris ini perlu diperbaiki “Kumpulan tautan untuk suatu bidang khusus. Contohnya PDF dan modem.”

    itu aja om sisanya (y) dah sangat membangun artikelnya om :D

    Balas
  2. Renas Y

    Membaca tulisan mas Malsasa merupakan penyegaran bahasa bagi saya, ingin rasanya bisa menulis seperti anda. Tulisan anda memotivasi saya untuk belajar menulis lagi, sungguh Indah bahasa Indonesia yang baik dan benar, semoga suatu saat nanti saya memiliki tata bahasa sebaik mas Malsasa.

    Membaca tulisan anda seperti membaca karya seni. Indah di antara tata bahasa yang berantakan sekarang. Saya yakin menulisnya pun pasti memberi kepuasan tersendiri bagi mas Malsasa.. Zen like

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Benar, saya sangat senang jika bisa menulis dengan tata bahasa yang baik, Kang. Itu adalah kesenangan pribadi yang berharga sekali. Saat ini pun akang bisa menulis lebih baik daripada saya karena akang telah memiliki niat untuk itu.

      Senang sekali ada yang perhatian dengan bahasa seperti akang di tengah belantara salah tulis di dunia maya maupun nyata.

      Balas
  3. iwanefendi27

    Saya sudah baca semuanya, dan saya harap saya bisa menerapkannya di blog saya, terutama pada diiri saya sendiri dalam hal menulis. Terima kasih atas tulisan ini kang. Sangat bermanfaat.

    Balas
  4. Ping balik: Kumpulan Tulisan Saya Tentang Menulis Artikel Linux | RESTAVA

  5. salis

    Sejauh ini saya masih susah sekali untuk menulis dengan tata bahasa yang murni 100% baku. Pasti akan ada beberapa bagian dari tulisan saya yang saya sendiri ogah untuk membakukannya. Walaupun sebenarnya bisa, tapi feel-nya itu lho yang kurang mantap. Serasa bukan saya. Padahal sudah banyak yang ngomelin kebandelan saya ini.. ;)

    Tapi terlepas dari itu, saya suka sekali dengan tulisan Akang di blognya, berbobot banget. Baru mulai tadi malam saya ngoprek blognya kang Ade, rasanya akan jadi menu tiap hari, karena saya rasa apa yang akang tulis sangat berguna bagi newbie linux seperti saya ini.

    Balas
  6. Ping balik: Pentingnya Menulis Tutorial | RESTAVA

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s