Panduan Memilih Distro Linux untuk Pemula


Isi tulisan ini:

– Distro apa yang terbaik untuk Anda?
– Mengapa memilih?
– Adakah sanggahan?
– Apakah harus menghapus Windows?
– Adakah nasihat dari para ahli Linux?
– Disklaimer

————-> Unduh tulisan ini: Panduan Memilih Distro

Distro apa yang terbaik untuk Anda?

Ubuntu. Jika Anda memutuskan untuk belajar Linux, maka mulailah dengan mengunduh ISO Ubuntu. Unduhlah Ubuntu 12.04 untuk era saat ini jika hardware Anda memiliki RAM 2 GB. Ukuran RAM kurang dari itu, gunakan versi sebelumnya. ISO Ubuntu dapat Anda peroleh dari http://kambing.ui.ac.id/iso/ubuntu/releases/. Unduh yang ada tulisannya i386 kalau komputer Anda 32 bit atau amd64 kalau komputer Anda 64 bit, tidak peduli prosesornya merek apa. Untuk ISO Ubuntu sebelum era 12.04, ukurannya sekitar 600 MB, muat dibakar ke dalam CD. Namun ukuran ISO Ubuntu saat ini dan seterusnya 700 MB lebih, tidak muat dimasukkan ke dalam CD. Maka dari itu, untuk menginstal Ubuntu, pakai media flash disk saja. Jadi, ISO Ubuntu dibakar ke dalam flash disk bukan ke DVD. Ini jauh lebih hemat dan praktis. Bakar ISO Ubuntu ke flash disk dengan memakai aplikasi Unetbootin.

Mengapa memilih?

Karena pengguna hanya membutuhkan satu OS saja. Satu OS yang mencukupi kebutuhan mereka. Mengapa? Karena di Indonesia ini pengguna tidak pernah butuh OS, mereka hanya butuh aplikasi. Oleh karena itu, pengguna harus fokus, fokus pada aplikasi bukan pada OS-nya. Ubuntu memenuhi hal ini. Begini, jumlah distro Linux di dunia ada 300++ dan tidak mungkin calon pengguna memilah satu per satu semuanya. Maka posisi saya di sini adalah mengarahkan Anda ke jalan paling mudah. Dan dalam pertimbangan saya, seorang pengguna harus dimudahkan dalam mencari bantuan kalau terjadi error. Solusinya, pengguna harus memakai OS yang juga dipakai teman-temannya, dalam arti lain pengguna harus memakai OS yang umum. Gunakanlah distro yang paling banyak dipakai di Indonesia. Ubuntu memenuhi kriteria ini, jadi pantas jika Anda memilih Ubuntu. Jangan gunakan distro yang sedikit penggunanya, yang tidak umum, pakailah yang umum. Mengapa? Karena Anda baru mengenal Linux. Di sini akan saya jelaskan poin per poin alasan rincinya.

– Waktu: lebih hemat waktu jika Anda memperoleh rekomendasi dari seseorang mengenai distro paling cocok, dan hemat waktu untuk TIDAK MERABA-RABA SENDIRI. Jangan buang waktu Anda untuk mesin, cukup gunakan Ubuntu. Waktu sisanya bisa Anda gunakan untuk mengikuti atau mendengar kajian. Mengurus keluarga juga lebih penting.
– Biaya: jika Anda coba-coba, maka Anda harus mengunduh banyak ISO. Pasti uang untuk internet bertambah. Jangan buang-buang uang, cukup unduh 1 ISO dan pakai. Gunakan uang Anda untuk urusan yang lebih penting.
– Tenaga: jika Anda coba-coba, maka Anda harus kehilangan fokus untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih penting semisal mengerjakan PR atau mengurus anak. Hematlah tenaga Anda dengan menggunakan Ubuntu.
– Daya otak: jika Anda coba-coba, Anda akan seperti saya dahulu yang harus melakukan kompilasi manual hanya untuk sebuah aplikasi. Sudah lama, gagal pula. Ini tidak pantas dipegang oleh pengguna akhir, harusnya ini tugas developer. Ini akan membuat pusing pengguna akhir. Daya otak itu terbatas, gunakan untuk bekerja dengan aplikasi Anda, jangan untuk kompilasi manual dan segala konfigurasi manual. Masalah lainnya juga, dengan banyaknya pengguna Ubuntu di Indonesia, maka panduan Ubuntu dalam Bahasa Indonesia juga banyak dan paling banyak dibanding distro lain. Ini yang paling penting. Karena daya otak bisa terkuras untuk memahami panduan dalam Bahasa Inggris yang sudah menghabiskan waktu, belum tentu Anda mengerti. Hematlah daya otak Anda untuk fokus ke aplikasi, jangan fokus ke OS. Ubuntu memang tidak bersih dari konfigurasi manual, tetapi dengan banyaknya panduan berbahasa Indonesia, maka Ubuntu jelas lebih mudah dan lebih hemat daya otak. Ini juga alasan kenapa penting memilih distro yang dipakai banyak orang.

Sanggahan

– Semua distro bagus, bebas pilih yang mana.
Sanggahan -> pengguna butuh rekomendasi dan kepastian, bukan sekadar petunjuk global. Pilih Ubuntu saja. Jangan jadi orang yang plin-plan.

– Pakai Slackware saja kalau pengguna memang ingin belajar (dengan nada bercanda)
Sanggahan -> pengguna dari Windows butuh yang praktis, bukan yang manual. Slackware tidak hemat waktu. Ubuntu memang tidak lebih praktis dari Windows secara total, tetapi Ubuntu jauh lebih praktis dibanding Slackware (dan distro kompilasi manual lain semisal Gentoo). Indonesia bukan negara kaya internet, jangan disamakan dengan Amerika.

– Pakai distro lokal saja.
Sanggahan -> apakah distro lokal itu memiliki repo pihak ketiga seperti PPA? Memiliki dukungan komunitas yang lebih besar dari Ubuntu? Memiliki komunitas yang ramah dalam menjawab pertanyaan? Apakah kelebihan distro lokal itu hanya pada teknologinya (sedangkan user friendly-nya tidak)? Apakah distro lokal itu membebaskan/memberikan freedom pada pengguna untuk just use no coding atau tidak? Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya tidak memakainya. Pakailah Ubuntu.

– Anda harus bersedia belajar ekstrakeras untuk menggunakan Linux.
Sanggahan -> siapa butuh OS? Siapa mau belajar OS lama-lama? OS dibuat untuk pengguna agar mudah, bukan agar belajar lagi. Pengguna butuh aplikasi bukan OS. OS hanyalah tambahan yang harus ada agar pengguna akhir nyaman memakai aplikasi mereka. Jadi sarankanlah (jika Anda memang niat mengajak orang pakai Linux) menggunakan OS Linux yang less stress untuk pengguna akhir. Memang Ubuntu tidak bersih dari stress tetapi Ubuntu yang paling less stress daripada distro yang lain. Pakai Ubuntu.

Apakah harus menghapus Windows?

Tidak. Anda bisa melakukan dual boot. Ini maksudnya menginstal Ubuntu di partisi selain C: dan ketika booting nanti, Anda akan memilih masuk ke OS yang mana. Jadi ada 2 OS di komputer Anda nanti, Windows dan Ubuntu. Siapkan dahulu di Windows sebuah partisi kosong dan formatlah ke filesystem FAT. Nanti saat menginstal Ubuntu, arahkan agar diinstal ke partisi itu. Untuk lebih jelasnya, cari di Google: instal ubuntu dual boot dengan windows 7. Ini sedikit pengetahuan mengenai dual boot:

– Dual boot tidak membuat komputer Anda lamban. OS tidak sama dengan aplikasi. Hanya 1 OS yang berjalan di komputer Anda dalam 1 waktu. Jadi, ketika Ubuntu menyala, Windows mati. Dan sebaliknya.
– Dual boot OS tidak saling memengaruhi satu sama lain. Jadi, Ubuntu yang diinstal di partisi lain itu tidak akan mengganggu Windows. Dan sebaliknya. Malah, Windows tidak bisa membaca partisi Ubuntu. Virus yang menjangkiti Windows Anda tidak akan bisa masuk ke Ubuntu.
– Dual boot memungkinkan Anda untuk berganti OS dengan cara restart. Cukup restart komputer Anda, lalu pilih OS pada pemilih OS warna ungu, tekan Enter untuk masuk.
– Anda bisa membaca partisi Windows Anda dari Ubuntu bahkan bisa menulis data ke dalamnya.

Tidak perlu menghapus Windows.

Apa nasihat dari para ahli Linux?

Salah satu pioner Linux Indonesia yang juga pembawa internet untuk pertama kali ke Indonesia -Pak Rahmat M Samik Ibrahim- mengatakan dalam presentasi beliau:

– Samakan dengan teman anda!
– Mudah bertanya/konsultasi
– JANGAN memilih yang ”KATANYA BAGUS”
– Punya akses upgrade?

Beliau adalah ahli Linux. Nasihat beliau penting untuk kita perhatikan. Lagipula, beliau sudah memakai internet sebelum orang Indonesia memakainya. Saya mengikuti nasihat beliau dan alhamdulillah lancar menggunakan Linux. Presentasi beliau ini dapat Anda miliki dengan mengunduh: http://rms46.vlsm.org/1/99.pdf.

Disklaimer

– Saya menulis ini karena saya memang didorong untuk memudahkan urusan orang lain dan dilarang mempersulit di dalam agama saya. Tulisan ini semata-mata untuk tujuan itu bukan demi fanatisme kepada salah satu madzhab FOSS.
– Saya bukan nasionalis dan tidak menulis untuk nasionalisme. Saya juga bukan pluralis dan tidak mau mendukung keduanya.
– Banyaknya pengguna pemula yang kebingungan memulai dari mana tidak bisa disamakan kondisinya dengan mereka yang sudah bertahun-tahun menggunakan Linux. Tidak juga disamakan dengan mereka yang punya banyak waktu luang atau yang memang senang ngoprek. Tidak semua orang suka ngoprek. Tulisan ini bukan untuk pengguna intermediate apalagi pengguna expert. Tulisan ini hanya untuk pemula (termasuk ayah, ibu, paman, bibi, tetangga, dan teman-teman saya).
– Jika Anda tidak suka dengan Ubuntu dan tulisan ini, silakan buat blog sendiri dan tulis tulisan macam ini menurut distro Anda sendiri.
– Tulisan ini bertujuan untuk memudahkan. Jika masih tersisa kesulitan, maka saya meminta maaf. Silakan berdiskusi dengan saya secara langsung lewat blog ini bila ada masalah.

Penutup

Tidak ada tulisan yang tak cacat. Silakan kritik saya jika ada kesalahan dalam tulisan ini. Saya berterima kasih sebesar-besarnya. Untuk para pemula, semoga tulisan mini ini menjadi dasar pijakan yang pas untuk Anda semua. Semoga memudahkan.

54 thoughts on “Panduan Memilih Distro Linux untuk Pemula

  1. ejamjpadle

    saya bukan ahli linux dan entah kenapa, mungkin karena saya punya banyak waktu senggang, saya lebih suka mencoba berbagai jenis distro, tentu didual boot dengan distro utama, dan saya senang dengan itu. Mungkin saya coba-coba distro bukan untuk belajar, tetapi bersenang-senang, hehehe

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Iya, itu hak akang. Tentu saya senang juga dengan hal itu. Namun untuk pengguna akhir, yang semacam ayah saya, tentulah harus disesuaikan kondisinya :D

      Terima kasih telah mampir, Kang. Baru kali ini saya tahu blog akang.

      Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      WOW! PAK AMRINZ! Selamat datang, Pak! Satu kehormatan bapak datang ke blog ini. Iya, tinggal menunggu distro lain untuk seperti itu, Pak. Kuncinya adalah leadership (menurut saya).

      Terima kasih, Pak!

      Balas
  2. nn

    Saya rasa RAM 1 GB sudah cukup memadai (2 GB kesannya terlalu besar).
    Dan untuk pengguna dengan RAM kurang dari itu, sebaiknya ditambahkan alternatif ke varian Ubuntu yang lebih ringan, yaitu Xubuntu atau Lubuntu. Karena Ubuntu versi lama yang hemat RAM adalah pada masa Gnome2, dan semuanya sudah habis masa support (kecuali Ubuntu 10.04 LTS versi Server).
    Saya rasa mendapatkan bantuan untuk Lubuntu atau Xubuntu akan lebih mudah daripada Ubuntu versi lama.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Wow, terima kasih, Kang! Akang benar. Namun demi memastikan saja saya patok 2 GB. SOalnya saya pernah lihat ada teman 1 GB, pakai Ubuntu era sekarang, dia komplain cukup lambat. Makanya saya patok segitu.

      Nah, posting saya global. Baru pada sesi komentar bisa dirinci kalau ada halangan macam itu. Bisa diarahkan ke distro selain Ubuntu. Namun di sesi komentar saja.

      Dan apa yang akang katakan benar. Saya pun merekomendasikan Xubuntu. Saya berterima kasih banyak atas antusiasme, energi, dan waktu akang. Walau saya tak kenal akang :D

      Balas
  3. drew

    wahh saya setuju sekali , buat dapet distro yg cocok memang kyknya harus bayak coba :)
    rekomendasi saja tidak cukup , karena bagus & nyaman itu relatif
    duall boot memang solusi buat yg baru migrasi seperti saya.. tanpa sadar saya lupa kapan terakhir buka windows di PC pribadi :D

    Balas
      1. Kempuz

        Saya baru beberapa hari ini belajar linux. Maksud hati sih ingin mencoba-coba (kalo sempet semuanya). Mungkin sifat turunan dari Ayah n Ibu saya. Kedua beliau paling suka mencoba apa saja (baik dan halal tentunya), sampai kedua beliau meninggal……Kok jadi curhat ya.. Tp terimakasih betul atas petunjuknya. Saya nyari artikel ini hanya untuk cari tahu dari mana saya harus mulai..Wassalaamu’alaikum akhi..

      2. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

        Wa’alaikumussalam, yaa Akhii. Na’am, ana pun memiliki sifat coba-coba itu. Bahkan cenderung ekstrem hingga sering mengorbankan hal penting dalam kehidupan nyata ana. Semoga antum tidak sampai begitu. Semoga kedua orang tua antum dirahmati oleh Allah dan memilki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

  4. noveri22

    tulisan ini bikin inspirasi saya buat nulis blog muncul buat mengulas rekomendasi beberapa distro buat pemula, keren :D

    Balas
      1. noveri22

        sebenernya bukan bikin blog baru cuma mau bikin halaman baru diblog saya yg khusus buat mengulas distro-distro buat pemula cuma tadi komennya ada yg kurang, maaf kalo komen saya aga membingungkan buat mas malsasa :D

    1. arhsa

      Betul, betul, betul. Dan yang banyak pilihannya adalah Linux Mint, Bang. Cantik-cantik; Adda, Barbara/Bea/Bianca, Cassandra/Celena, Daryna, Elysa, Felicia, Gloria, Helena, Isadora, Julia, Katya, Lisa, Maya, Nadia. Saya Kenalan mulai dari Julia dan langsung jatuh hati, bertahan sama Maya.

      Tidak lupa sambil melihara hewan-hewan lucu dari Ubuntu. Awalnya dapa kiriman Interpid Ibex, lalu kepincut sama Lucid Lynk dan bertahan memelihara Natty Narwhal, tapi karena tidak punya kolam besar, mungkin nanti mau ditukar tambah sama Raring Ringtail, mudah-mudahan ada dana buat beli kandangnya hehehe…

      Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      @rotyyu: itu untuk kalangan intermediate, Kang. Saya sendiri suka coba distro baru. Namun untuk orang seperti ayah dan ibu saya, tentu tidak bisa dibegitukan.

      @pdft
      Itu yang saya tunggu, Kang. Namun bagaimana saya nanti tahu tulisan akang? Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar, Akang berdua.

      :D

      Balas
  5. arhsa

    Kalau menurut saya Mas Malsasa, untuk pemula yang tidak mau repot dan maunya tinggal pake, Linux Mint adalah distro yang pas. Adapun yang mau mengenal Linuk lebih dekat Ubuntu adalah pilihan terbaik.

    Tulisan diatas mengena kepada saya yang senang mencoba berbagai distro. Sekarang saja sedang mendownload Snow Linux, kemarin baru beres download dan test PC BSD di virtualbox, (maklum, dulu sempat mencoba FREE BSD dan hanya bengong disuguhi teks putih didepan layar hitam hehehe…)

    Paling tidak, tidak akan merasa penasaran kalau sudah mencoba 30 distro yang ada di list Distrowatch. Kalau ada yang bertanya tentang Linux sudah ada sedikit jawaban tentang rasa beberapa distro Linux yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.

    Namun, entah mengapa, sampai saai ini, saya tidak berani mendownload dan mencoba Slackware. Padahal, tampang Patrick Volkerding tidak se angker Richard Stalman. Mungkin itu bentuk penghormatan saya terhada para master, dan sesuai dengan anjuran Mas Malsasa cukuplah Ubuntu (plus Linux Mint) kemudian fokus pada aplikasi.

    ‘Alla kulli hal, tulisannya sangat bermanfaat untuk kami para pemula. Jazakallaohu khoiron ya akhi.

    Jangan lupa Otodidak behind the scene-nya tetap ditunggu kehadirannya.

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Bagus, Kang. Afwan baru bisa balas. Tadi sedang fokus soalnya.

      Saya adalah salah satu pengagum Mint di Indonesia ini meski saya tidak memakainya. Saya ada akun di komunitasnya dan di forumnya. Saya senang sekali ada distro yang membuat aplikasinya sendiri (Cinnamon, Caja, Mate, dkk.) yang itu adalah sama dengan konsep saya. Fokus pada aplikasi. Inovasi macam ini yang senantiasa saya rindukan.

      Kelebihan Mint lain yang saya akui adalah dia kompatibel dengan PPA milik Ubuntu (lagi-lagi saya ngomong aplikasi) dan repo Ubuntu resminya. Sudah punya repo sendiri, eh masih punya tambahan repo Ubuntu resmi dan PPA. Akhirnya meski pakai Mint, pengguna tetap bisa memakai aplikasi milik pengguna Ubuntu. Mint lebih luas, bukan?

      Namun saya tidak anjurkan. Karena saya memegang nasihat Pak Ibam, gunakanlah distro teman-teman Anda. Saya fokus pada waktu-waktu kaum muslimin. Biar pakai Ubuntu dulu apa pun yang terjadi. Karena masyarakatnya paling luas. Dan saya tahu kalau musik itu tidak boleh, jadi setiap saya dengar alasan orang minta Mint karena codec (baca: nyetel musik instan) maka langsung saya abaikan. Kecuali dia minta Mint karena ingin memutar rekaman kajian, itu akan saya pertimbangkan. Saya ingin betul pengguna memperoleh rekomendasi paling hemat waktu. Dan itu ada pada Ubuntu.

      Masalah dunia, akan baik kalau disikapi dengan bijak. Saya tidak main-main dengan Linux. Saya hanya berharap ini akan mendatangkan kebaikan untuk kaum muslimin dan seluruh pengguna komputer umumnya.

      FURTHER

      Ada 2 kondisi yang saya kecualikan:

      1) Pengguna sudah satu tahun lebih menggunakan Ubuntu
      2) Pengguna memang kukuh butuh selain Ubuntu (kondisi antum)

      itu baru saya anjurkan pakai Mint. Dan masalah distro yang akan menarik bagi orang yang serius ingin mengenal sistem, maka saya anjurkan untuk memakai Gentoo, Archlinux, atau Slackware. Bagi ana, mayoritas pengguna komputer adalah yang paling butuh diperhatikan.

      Insya Allah dalam waktu dekat ini Otodidak Behind The Scene akan ana terbitkan. Jazakumullahu khairan atas antusiasme dan waktu antum.

      Balas
  6. arhsa

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Kunjungan Malam.
    Menyambung silaturrahim.
    Laporan, pemula sudah memilih satu distro yang sesuai dengan kebutuhan.
    mohon masukan dan dukungan, laporan selesai.
    من دل على خير فله مثل أجر فاعله

    بارك الله فيكم وجزاكم الله خيرا

    Balas
  7. Ping balik: Linux Mint 14 Nadia, Resmi di Instal | Goresan Pena

  8. Ping balik: Distro Linux Terbaik Dimata Pengguna Awam Bag 1 | distropepes

  9. Andika

    Klw ane Lbih recommend ke Linux Mint Bang, cz tampilan yg familiar + sistem ringan + aplikasi pre-instal ckup lengkap + pngenalan hardware ckup baik + turunan ubuntu jdi klw ada msalah tinggal nanya ama pngguna ubuntu aja…
    Ane nginstal Mint ckup Mint udah ga prlu nginstal apa” Lgi cz utk kprluan newbie udah trpenuhi smua…

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Apakah pertimbangan itu dilandasi pertimbangan yang panjang dan matang untuk kaum muslimin? Kalau tidak, maka tetap saya merekomendasikan Ubuntu.

      Jangan meremehkan user experience di sini.

      Balas
  10. Nasrul A. Gifari

    Subhanalloh, tulisannya bagus kang.
    Dulu saat pertama migrasi ke linux saya coba nge install ubuntu (waktu itu ubuntu 11.04). Alhamdulillah itu sangat membantu, soalnya komunitas di forumnya banyak. Jadi kalau ada masalah, tidak bingung lagi.
    Tapi sekarang, karena penasaran ingin coba sesuatu yang lain. akhirnya saya coba IGN D9

    Balas
  11. Breygas Andara

    assalamualaikum.
    saya baru beberapa bulan pindah ke linux, pertama saya instal ubuntu raring ringtail, banyak kendala yg saya dapat salah satunya wireless card yang terdetect dan menangkap sinyal namun tidak bisa masuk webpage manapun. trus saya coba pakai linux mint maya dengan asumsi bahwa problem nya adalah di ubuntu-nya. tapi di linux mint tetap keluar problem yg sama.
    akhirnya saya posting di beberapa forum dan saya ingat pada waktu itu saya posting di forum (ubuntu/linux mint? lupa) akang malsasa lah yg membantu saya pada waktu itu :)

    setelah fix saya kembali pakai ubuntu, tapi di ubuntu ini saya kaya kurang sreg gimana gitu kang. kalau di ibaratkan pacaran nih kaya ngga ada chemistrinya gitu haha.
    alih-alih saya lepas dari ubuntu terus instal fedora sampai sekarang kang. entah kenapa saya lebih mengerti command-command terminal di fedora daripada di ubuntu kang.

    dan tentang pernyataan di atas yg “samakan dengan teman anda” sayang sekali saya tinggal di daerah jadi sepertinya dari semua teman-teman saya cuma saya yg pakai linux kang hehe.
    mohon maaf kalau ada salah-salah kata kang, saya cuma bermaksud share pengalaman saya :)

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

      Yup, soal “samakan dengan teman Anda” di atas, maksudnya adalah samakan dengan mayoritas pengguna di negara Anda. Perinciannya sudah langsung ditera pada kalimat berkutnya “mudah bertanya/konsultasi”. Namun, ada kondisi khusus ketika pengguna sanggup menggunakan distro lain yang seluruh masalah hardware terpecahkan dengannya. Nah, kondisi akang ini masuk kategori khusus tersebut. Saya senang, tentu saja. Dan saya mendukung penuh akang untuk menggunakan Fedora. Jangan pernah menyerah ya, Kang!

      Akang boleh berbagi pengalaman Linux di sini, senangnya saya. Namun, ada yang saya harus coret dari komentar akang di atas. Lain kali diperbaiki, ya?

      Balas
  12. Samir Hasan

    Salaam :D
    maap nih bang. ane mau tanya , netbook ane kan os nya windows, terus ane pgen dualboot ama os linux
    , kalo dibuat dualboot apa kita harus menginstall driver pada os linux nya atau secara otomatis driver nya udah terinstall bersama os nya ?

    mohon maap kalo bahasa nya membingungkan :D
    dan terima kasih banyak atas panduan memilih distro linux nya :)

    Salaam :)

    Balas
    1. Ade Malsasa Akbar Penulis Tulisan

      Pertama kali yang perlu diperhatikan, Linux dan Windows itu berbeda amat sangat. Jadi, driver Linux juga berbeda amat sangat dengan Windows. Demikian pula metode instalasi drivernya.

      JAWABAN: benar tebakan pertama akang. Kita harus menginstal driver pada OS Linux.

      TAMBAHAN: saya sendiri menginstal Ubuntu Precise tanpa menginstal driver karena seluruh driver sudah ada di dalam Ubuntu. Hasilnya? Semua hardware OK. Hal ini bisa berbeda pada hardware akang.

      Jika ada yang kurang jelas, silakan akang bertanya kembali. Barakallahu fiikum.

      Balas
  13. Ping balik: Mulai Belajar Linux | RESTAVA

Dilarang menggunakan emotikon

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s