Membuat Server File Sharing/Mirror Sendiri 20 GB (Bisa Direct Link, SSH, FTP, dan Web Hosting)

Bismillahirrahmanirrahim.

Ingin memiliki Mediafire Anda sendiri yang bisa dikontrol sekehendak Anda? Gratis, ukuran penyimpanan besar, bandwidth besar, bisa direct link, bisa membuat folder, bisa me-mirror server lain, bisa mengunduh berkas dari server lain, bisa FTP, ada shell-nya (termasuk perintah wget), dan bisa juga difungsikan sebagai hosting web Anda?  Dan jika Anda bingung dengan paparan teknis di atas, maka gampangnya: maukah Anda memiliki sendiri fasilitas server untuk backup/sharing data Anda sendiri atau membantu orang lain dengan me-mirror berkas seperti ISO/ebook/program dari server lain? Jika iya, maka Anda bisa membuatnya sendiri dengan sangat mudah. Mendaftarlah gratis di http://2freehosting.com. Saya sudah mendaftar dan jadilah server mirror saya http://otodidak.freeserver.me.

Perkenalan Singkat

Sebelum beranjak ke teknis, saya tunjukkan dulu apa manfaat membuat server ini dari pengalaman saya dengan server otodidak.freeserver.me (OFE):

ofe-iso-mirror7

  1. saya bisa membantu orang lain agar mereka bisa mengunduh aplikasi portabel Linux dengan sekali klik atau dengan IDM, secara gratis lagi bebas. Server OFE didedikasikan untuk itu (awalnya) -> contohnya laman utama OFE;
  2. saya bisa membantu orang agar dia bisa mengunduh ISO dengan IDM dari server saya. Karena tidak sopan mengunduh dari server komunitas dengan IDM, maka saya buatkan saja server pribadi yang saya bebaskan pengunduhnya untuk memakai IDM -> contohnya http://otodidak.freeserver.me/iso/
  3. saya bisa membantu orang bersama tutorial yang saya tulis, dengan dukungan aplikasi/berkas lain yang tersebut dalam tutorial itu sehingga direct download untuk pembaca (tidak usah ada iklan/klik tambahan) -> contohnya http://otodidak.freeserver.me/tarball/;
  4. saya bisa membantu orang lain agar mereka bisa mengunduh buku-buku gratis dengan IDM dari server saya. Caranya ya saya suruh saja server OFE untuk mengunduh ke server lain yang ada bukunya ATAU saya sendiri yang mengunggah ke sana lewat FTP (pakai FIlezilla) -> contohnya http://otodidak.freeserver.me/teks/;
  5. untuk diri saya sendiri, saya bisa menyimpan software buatan saya di sana dan memberikannya kepada orang yang saya tanya soal software tersebut. Contohnya -> http://otodidak.freeserver.me/tarball/proyek_qt_creator/.

Harapan saya yang belum tercapai adalah menjadikan server ini sebagai mirror kecil dari http://ilmoe.com, sebuah server yang isinya penuh mp3 rekaman kajian Islam ilmiyyah ustadz dan masyayikh ahlus sunnah. Semoga apa yang saya tulis ini dapat Anda manfaatkan untuk kebaikan. Jangan gunakan cara ini untuk hal-hal maksiat.

Kecepatan Unduh Server Ini Gila!

server-tfh-cepat-300MBps

Lihat? Ini skrinsot saat saya me-mirror server PortableLinuxApps.org. Kecepatannya 268 MB/s. Bukan KB/s, tetapi MB/s.

Membuat Mirror Satu ISO dari Server Kambing

  1. Masuk CPanel -> Advanced -> SSH Client.
  2. cd public_html
  3. wget -c http://kambing.ui.ac.id/iso/fedora/17/Fedora/i386/iso/Fedora-17-i386-DVD.iso (tergantung ingin me-mirror berkas apa asal Anda tahu URL-nya).
  4. Tunggu sampai selesai. Cepat, kok.

Ini mirror yang berhasil saya buat.

ofe-iso-mirror

Membuat Mirror MP3 Kajian dari Ilmoe.com (Kecil-Kecilan)

Saya ingin sebetulnya bisa sempurna menggunakan wget untuk mengunduh secara semau saya apa pun yang saya pilih dari server http://ilmoe.com maupun http://ilmoe.net. Ternyata hal ini tidak mudah walau saya sudah mengikuti tutorial terbaik di Indonesia ini: http://www.master.web.id/mwmag/issue/04/content/hack-wget/hack-wget.html. Demi mempersingkat waktu, saya akhirnya menyerah dengan membuat mirror kecil-kecilan dulu. Caranya:

  1. Dapatkan dahulu URL yang ingin di-mirror dari server ilmoe (boleh server mana saja) misalnya ini: http://statics.ilmoe.com//kajian/fiqh/Tata_Cara_Shalat/Cara_Sholat_Rasulullah_AlUstadzLuqmanBaabduh_1.mp3.
  2. Sebaiknya buat sebuah folder baru khusus mp3 di folder public_html pada server kita. Misal kita beri nama mp3: mkdir mp3
  3. wget -c http://statics.ilmoe.com//kajian/fiqh/Tata_Cara_Shalat/Cara_Sholat_Rasulullah_AlUstadzLuqmanBaabduh_1.mp3
  4. Tunggu sebentar, maka satu buah mp3 dari ilmoe sudah ditransfer ke dalam server kita, pada folder mp3/. Alhamdulillah.
  5. Cara membagikannya ke orang lain adalah kopi alamat server kita yang ada nama foldernya. Karena tadi kita beri nama foldernya mp3, maka alamatnya http://otodidak.freeserver.me/mp3. Berikan alamat ini ke teman yang membutuhkan. Atau bisa langsung ke mp3-nya dengan klik kanan pada link pada halaman tersebut, lalu berikan. Nanti alamatnya akan jadi seperti ini: http://otodidak.freeserver.me/mp3/Cara_Sholat_Rasulullah_AlUstadzLuqmanBaabduh_1.mp3. Alhamdulillah, kita telah memiliki sendiri mirror ilmoe.com. Semoga kita mendapat pahala yang besar dari apa yang kita usahakan ini.

ofe-iso-mirror6

Menjadikan Server Ini Backup Data Kita

Terlepas dari reliable atau tidak, yang penting bisa dipakai. Gunakan FTP client semisal Filezilla untuk mengunggah data kita ke server. Pokoknya Anda harus tahu username dan password-nya. Ada kok, di halaman login 2freehosting. Ini saya contohkan mengunggah buku panduan Debian:

1. Pilih data lalu klik kanan > Upload.

ofe-iso-mirror4

2. Proses mengunggah. Pastikan diunggah ke folder yang tepat. Semenara saya punya 4 subfolder utama yakni teks, tarball, iso, dan mp3 saja. Yang saya pakai di sini folder teks karena ini PDF.
ofe-iso-mirror3

3. Hasil unggahan.

ofe-iso-mirror5

4. Kalau ingin memberikan tautan unduhnya, cukup klik kanan > Copy URL to clipboard. Maka jadinya nanti seperti ini ftp://u861838735@otodidak.freeserver.me/public_html/teks/debian/Bab%205%20Linux%20Shell.pdf. Ubah setiap URL yang dikopi dari Filezilla ini menjadi begini http://otodidak.freeserver.me/teks/debian/Bab%205%20Linux%20Shell.pdf yakni hilangkan public_html dan ubah ftp menjadi http. Kalau tidak diubah begini, orang tidak bisa mengunduhnya. Insya Allah gampang. Atau dengan cara kunjungi foldernya melalui browser lalu Copy Link dari klik kanan. Mudah sekali.

Rangkuman

Pokoknya, dengan memiliki server ini, kita bisa:

  1. Berbuat baik untuk diri sendiri lebih-lebih orang lain.
  2. Me-mirror server lain.
  3. Menggunakannya sebagai server unduhan (leecher) dari berkas yang berasal dari server yang tidak bisa diunduh pakai IDM/semisalnya, agar jadi bisa diunduh pakai IDM/semisalnya.
  4. Menggunakannya sebagai tempat backup.
  5. Menggunakannya untuk keperluan file sharing seperlu kita.
  6. Belajar bagaimana mengurus server sendiri melalui ssh.
  7. Belajar wget dan opsi-opsinya terutama kalau ingin praktikkan laman Masterweb di atas.

Pertanyaan? Keluhan?

Silakan tuliskan di kolom komentar. Semoga ini bermanfaat.

Cara Instal JRE untuk Berbagai Distro Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Menanggapi saran yang baik dari seorang teman bernama alisoftware, saya putuskan untuk membuat posting tersendiri mengenai cara instalasi Java Runtime Environment (JRE) di berbagai distro. Mengapa? Demi memudahkan pengguna yang ingin menggunakan Otodidak. Aplikasi Otodidak dibuat dengan Java sehingga selalu membutuhkan JRE kalau kita ingin menjalankannya. Anda tidak memerlukan JDK kalau hanya ingin menjalankan Otodidak, karena JDK itu lebih besar dan khusus untuk programer. Oh iya, tidak hanya Otodidak. Dengan menginstal JRE satu kali, kita sudah dapat menjalankan aplikasi-aplikasi Java lainnya tanpa kesulitan. Berikut caranya.

Secara Global

Semua OS termasuk Windows dan Mac OS, bisa mengunduh JRE secara manual dari http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/index.html. Biasanya berkasnya berukuran 50 MB ke atas. Dan nama berkasnya biasanya seperti ini: jre-7u21-linux-i586.rpm. Ambil yang i586 untuk komputer 32 bit atau yang x64 untuk komputer 64 bit.

Secara Khusus

Tutorial ini saya berikan dalam wujud perintah-perintah Terminal agar mudah ditulis. Setiap kesulitan dapat langsung didiskusikan melalui komentar.

Ubuntu

sudo apt-get install default-jre

Fedora

rpm -ivh jre-7u21-linux-i586.rpm

openSUSE

Unduh berkas JRE dengan format .bin saja biar mudah instalasinya.

  1. chmod +x jre-6u29-linux-x64-rpm.bin
  2. ./jre-6u29-linux-x64-rpm.bin

Arch

pacman -S jre7-openjdk

Rujukan Penting

Qt Creator – Pemrograman Aplikasi GUI di Linux

Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan ini tidak lain ingin memaparkan bagaimana membuat aplikasi GUI dasar dengan mudah menggunakan Qt Creator. Aplikasinya sederhana, hanya menunjukkan fungsi dasar tombol dan label (untuk gambar). Jika tombol pertama diklik, maka gambar A muncul. Jika tombol kedua diklik, maka gambar B muncul. Hanya itu saja sudah cukup untuk memahami cara pakai 2 dasar terpenting memrogram dengan Qt Creator yakni signal dan slot. Tutorial ini dibuat di Linux dan aplikasinya untuk Linux.

SATU :: Menyiapkan Proyek

1. Buka Qt Creator dan buat proyek baru. Pilih Qt Widget Project > Qt GUI Application. Selalu pilih ini untuk proyek yang akan datang.qtproject

2. Beri nama Double karena kita hanya akan membuat program dengan 2 tombol. Selanjutnya Next.

qtproject2

3. Next terus sampai pada bagian Class Information, berikan nama Double pada Main Class maka semuanya akan mengikuti secara otomatis.

qtproject3

4. Finish, maka tampilan Qt Creator Anda akan seperti ini.

qtproject4

5. Perhatikan, dalam proyek ini Anda 5 berkas penting secara otomatis:

                        • Double.pro (berkas proyek Qt Creator yang bisa dipakai di OS mana pun)
                        • double.cpp (berkas kode inti tempat signal dan slot dituliskan)
                        • double.h (berkas header)
                        • double.ui (berkas GUI)
                        • main.cpp (berkas berisi fungsi yang selalu ada dalam semua program C/C++ yakni main())

Selalu seperti ini jika Anda membuat proyek GUI baru.

DUA :: Sedikit Pengaturan Qt Creator

Klik pada ikon Filter Tree > Simplify Tree. Maka kerumitan folder yang tadinya begini:

 qtproject5  qtproject7

menjadi sederhana begini:

qtproject6

TIGA :: Membuat Aplikasi

1. Buka double.ui ini adalah berkas XML yang mengatur GUI. Kalau diklik, maka GUI Builder milik Qt Creator akan langsung muncul. Di sini letak enaknya memrogram dengan Qt Creator. Bisa drag and drop dan jadi GUI langsung seperti di Microsoft Visual Basic. Cari elemen GUI bernama Push Button. Tempelkan dua biji. Di bawahnya, tempelkan Label. Jadinya seperti ini.

qtproject8

2. Buang teks asli dari Label sehingga kosong. Lalu ganti teks Push Button dengan SATU dan DUA. Lihat ini. Pastikan Label masih terpilih.

qtproject9

3. Berikan nama objek untuk Label ini pada Property Panel di samping kanan. Di situ, di bagian atas sendiri ada QObject, di bawahnya pas ada objectName. Pas di situ, ganti tulisan label dengan Gambar. Ingat-ingat nama objek ini.

qtproject10

4. Sekarang ganti juga nama objek dari tombol SATU dan DUA menjadi SATU dan DUA.

5. Sekarang klik kanan tombol SATU > Go To Slot. Di sinilah Anda akan berjumpa 2 inti Qt Creator, signal dan slot. Lihat jendela yang muncul. Yang ada di situ semuanya adalah signal. Apa itu signal? Anggap saja sekarang, signal = nama fungsi ketika terjadi sesuatu pada tombol SATU. Kebetulan yang harus kita pilih adalah signal bernama clicked(). Anda tidak usah perhatikan kolom sebelah kanan. Tekan OK saja.

qtproject11

5. Hasil dari signal terpilih adalah slot, yakni satu fungsi baru yang kosong pada berkas double.cpp. Perhatikan, Anda sedang menyunting double.cpp. Dan perhatikan pula, nama objek SATU menjadi nama fungsinya. Apa sih, yang sedang kita kerjakan ini? Intinya, kita membuat jalan (signal) bagi tombol SATU, agar jika diklik (clicked), dia mengganti isi (slot) dari objek Gambar. Anda hanya akan fokus pada fungsi kosong ini.

qtproject12

6. Karena akan butuh dua buah berkas gambar (JPG/PNG), maka kita impor gambar dulu sebelum menuliskan kodenya ke dalam slot void Double::on_SATU_Clicked() yang baru jadi. Ini caranya mengimpor gambar. Klik kanan proyek kita > Add New > Qt > Qt Resource File. Ini akan membuat sebuah berkas baru berformat .qrc dalam proyek kita. Beri nama citra (karena tadi sudah ada nama Gambar), dan alamat foldernya sudah biarkan saja default pada proyek kita.

qtproject13

qtproject14

7. Tampilan Qt Creator Anda akan seperti demikian. Ini sebenarnya Qt Creator sedang menyunting isi dari citra.qrc yang baru saja dibuat.

qtproject158. Klik Add > Add Prefix. Pasti hasilnya /new/prefix1. Sekarang Klik Add > Add Files. Pilih gambar apa saja dari sistem Anda. Kalau ada peringatan, oke-oke saja. Yang penting nanti harus ada 2 gambar seperti ini. Ingat nama berkas gambarnya.

qtproject16

9. Kembali ke double.cpp. Isikan kode C++ berikut pada slot yang sudah dibuat.

QImage bingkai;
bingkai.load(":/new/prefix/desktopfungsional-3a.jpg");
ui->Gambar->setPixmap(QPixmap::fromImage(bingkai));

PENTING! Ubah nama berkas gambar Anda sesuai berkasnya. Misalnya satu.png, maka ganti desktopfungsional-3a.jpg dengan satu.png. Saya hanya memberi contoh global.

10. Lakukan hal yang sama dari poin 5 agar tombol DUA juga memiliki fungsi untuk memanggil gambar pada Label. Pokoknya bedakan gambar untuk SATU dengan yang untuk DUA.

11. Jika sudah, maka keseluruhan kode double.cpp Anda akan menjadi seperti ini.

qtproject17

12. Sudah cukup. Sekarang klik tombol segitiga hijau (Run | Ctrl+R). Program Anda akan berjalan. Dia pasti bisa ganti gambar setiap klik tombol. Sampai sini, program Anda sudah berhasil. Selamat, aplikasi pertama Anda baru saja tercipta!

qtproject18

qtproject19

EMPAT :: Publikasi

Anda ingin agar aplikasi buatan Anda ini digunakan orang lain? Mudah. Lakukan saja Build maka sebuah eksekutabel (mirip EXE) akan tercipta dan ini bisa Anda jalankan di Linux lainnya. Klik saja tombol palu (Ctrl+B). Maka pada folder QtProject kita, akan muncul folder baru bernama Double-build-desktop-Qt_4_8_1_in_PATH__System__Release. Dalam Ubuntu saya, folder ini berada di /home/master/Publik/QtProject. Ya, berdampingan dengan folder Double dan bukan di dalam Double. Buka folder ini dan Anda pasti temukan satu berkas bernama Double. Coba jalankan. Pasti aplikasi Anda muncul. Pindahkan saja berkas Double ini ke Ubuntu teman Anda dan jalankan. Berkas lainnya abaikan saja. Selamat, Anda telah berhasil membuat aplikasi selayaknya aplikasi buatan para programer!

qtproject20

qtproject21

PERINGATAN

Saya menduga build yang dilakukan Qt Creator pada kondisi default-nya adalah dynamic linking yang artinya aplikasi buatan Anda ini tidak mandiri di komputer orang lain. Dia tidak bisa sendirian sebagaimana EXE di Windows sehingga butuh suatu pustaka tambahan yang mesti diinstal duluan di komputer lain sebelum dia dijalankan. Pustaka itu adalah Qt. Ini sebabnya aplikasi buatan kita ini bisa berjalan mulus di sesama Ubuntu (karena Ubuntu prainstal sudah ada Qt-nya). Lakukan perintah ldd Double untuk mengetahui apa saja pustaka yang diperlukan oleh aplikasi Anda ini. Puaskan rasa ingin tahu Anda.

Penutup

Saya butuh fokus. Ketika menulis ini, sungguh rasanya saya bebas dari distraksi yang lama mengekang saya untuk menulis soal Qt. Alhamdulillah. Saya harap ini cocok untuk membuka pintu Anda memrogram Qt atau membuat aplikasi GUI di Linux. Semoga ini bermanfaat.

Memusuhi Distraksi!

Sudah lama tidak menulis bebas. Sebenarnya sesaat setelah esai Menyoal Kebebasan diterbitkan, saya ingin langsung menulis esai ini. Namun saya lupa apa yang mau ditulis. Baru jam 00.24 ini saya ingat. Ya, saya harus menulis tentang distraksi. Tentang satu kata yang menggugah selera berpikir saya semenjak saya tahu ada kata ini dalam Bahasa Inggris. Kapan? Sejak 4 bulan lalu saya mengunjungi laman ini: http://blog.sudobits.com/2012/07/14/distraction-free-writing-applicationstools-for-ubuntu-12-04/. Saya sangat tergugah dan bersemangat gara-gara tahu kata distraksi ini. Akhirnya saya ke sana kemari cari artinya sampai tersasar di Wikipedia dan memperoleh buku berbahasa Indonesia yang membahas distraksi secara psikologis. Luar biasa dampaknya!

Apa itu Distraksi?

Saya menganggap distraksi adalah pengalih perhatian. Perusak fokus. Penarik hati kepada sesuatu yang tidak perlu. Itu definisi distraksi versi saya. Ada versi Wikipedia yang demikian:

Distraction is the divided attention of an individual or group from the chosen object of attention onto the source of distraction. Distraction is caused by: the lack of ability to pay attention; lack of interest in the object of attention; or the great intensity, novelty or attractiveness of something other than the object of attention. Distractions come from both external sources, and internal sources.

Kalau diterjemahkan bebas:

Distraksi adalah perhatian yang terbagi dari sebuah atau kelompok objek yang dipilih untuk diperhatikan kepada sumber dari distraksi. Distraksi disebabkan oleh: lemahnya kemampuan untuk memerhatikan; lemahnya ketertarikan terhadap objek yang diperhatikan; atau intensitas yang kuat, keunikan, atau keelokan dari sesuatu yang lain daripada objek yang diperhatikan. Distraksi datang baik dari sumber luar dan sumber dalam.

Ide Tulisan Ini

Saya asing membaca judul “distraction free” pada posting Sudobits tersebut. Saat itu muncul di benak saya “Apa itu distraksi? Mengapa orang-orang sudah lebih dulu menyadarinya? Dan mengapa sampai dibela-bela membuat software-nya segala? Ah, pasti distraction free ini sesuatu yang sangat penting dilihat dari respon programernya“. Ternyata terjawab secara visual dengan skrinsot di bawahnya. Luar biasa. Ternyata distraction free yang dimaksud adalah bebas dari distraksi dalam menulis. Layar dihalau oleh satu warna saja, semua tombol hilang, hanya ada teks. Oh, luar biasa. Ternyata itulah langkah menghilangkan distraksi yang diimplementasikan programer ke dalam aplikasinya. Akhirnya saya paham maksudnya. Agar pengguna fokus pada bidangnya.

Ada Apa dengan Distraksi?

Distraksi adalah musuh setiap pelajar. Musuh setiap penulis. Musuh setiap programer. Musuh setiap packager. Musuh setiap maintainer. Dan pokoknya musuh bagi setiap orang yang ingin fokus, meski mereka tidak tahu bahwa mereka butuh fokus. Distraksi adalah segala aspek gangguan yang mengalihkan perhatian kita kala berkonsentrasi.

Yang saya mau bahas dalam esai ini adalah distraksi di dalam bidang:

  1. Linux (desktop)
  2. Kehidupan sehari-hari

Kejelekan Distraksi

Distraksi mengakibatkan:

  1. kerjaan Anda tidak kunjung selesai,
  2. waktu terbuang,
  3. tenaga terbuang,
  4. Anda menjadi pelupa,
  5. kemampuan konsentrasi Anda menurun,
  6. sebuah sistem bekerja tidak semestinya,
  7. Anda mendapat nilai jelek di sekolah,
  8. Anda terjangkit sifat plin-plan.

SATU :: Distraksi di Linux (Desktop)

Ada apa dengan Linux dan distraksi? Saya akhirnya menemukan satu hal yang menarik mengenai jawaban. Ya, mengenai bagaimana dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial soal Linux (desktop).

  • Mengapa Linux tidak disukai? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa Linux dihindari oleh banyak pengguna komputer? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Mengapa pengguna awam bingung dengan Linux? Karena terlalu banyak distraksi.
  • Apa contoh distraksi di Linux? Terminal, konfigurasi teknis, jumlah distro, jumlah varian destop dalam satu distro, kecepatan rilis distro, dependensi paket, dan komunitas yang sebagiannya tidak mengerti cara menjawab pertanyaan orang.
  • Apa alasan orang kembali kepada Windows setelah menggunakan Linux? Karena orang menghindari distraksi.

Cantik sekali pengetahuan tentang distraksi ini. Sekali tahu, saya langsung bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut. Alhamdulillah, sekarang jadi mudah sekali menjawabnya.  Nah, bagi yang belum paham, mungkin bertanya: “…apa alasan Anda menyatakan hal-hal tersebut sebagai distraksi?” Maka mudah menjawabnya: karena pengguna hanya butuh fungsionalitas sebuah OS (baca: fokus). Maka dari itu Anda akan sering sekali melihat marketing…this x just work..“. Ya, mereka yang marketing dengan dua kata just work memahami bahwa pengguna butuh OS yang langsung kerja, pengguna tidak butuh distraksi. Yah, walaupun yang marketing sendiri paham OS dia tidak betul-betul just work. Namun dua kata just work inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh pengguna. Oleh karena itu janganlah Anda heran jika ada pengguna baru yang beralih pandang dari Ubuntu ke Linux Mint. Alasannya adalah mencari OS yang just work. Dia menghindari distraksi.

Oleh karena itu juga,

  • janganlah Anda heran atau malah marah-marah kalau orang meninggalkan Linux. Ya, meninggalkan OS yang Anda sukai dan Anda promosikan ke mana-mana.
  • Janganlah Anda heran betapa pengguna Windows sangat protektif dengan sistem mereka, yakni dengan meminta cara instalasi lewat WUBI kepada Anda.
  • Janganlah Anda heran juga jika banyak pengguna Linux dan Windows, bahkan developer Linux, menggunakan Mac OS X. Sebuah OS yang dinilai paling less distraction alias the most just work OS di dunia ini.
  • Dan jangan heran pula apalagi sampai menyindir orang sana-sini jika orang meninggalkan OS racikan Anda jika OS tersebut tidaklah lebih less distraction daripada Windows atau OS lainnya.

Mengapa OS Harus Less Distraction?

Jawaban yang sama dengan mengapa saya pakai keterangan (desktop) di atas. Jawabannya adalah semua pengguna OS di Indonesia adalah pengguna OS desktop. Maka, kalau mau memberikan OS alternatif kepada mereka, OS tersebut harus dibuat lebih less distraction dibandingkan OS yang banyak dipakai pengguna OS desktop (baca: Windows). Tidak pada tempatnya jika memberikan solusi alternatif dengan OS yang bukan untuk desktop, yang aslinya dibuat untuk server, yang distraksi ala servernya masih tersisa. Jika suatu OS memiliki terlalu banyak distraksi, maka tujuan asli pengguna memakai OS tersebut tidak tercapai. Hasilnya di antaranya:

  • Menghapus OS tersebut.
  • Menggantinya dengan Windows.
  • Beralih ke Mac OS X meskipun harus mengeluarkan uang banyak.

Lebih Jauh Soal Distraksi Linux

Bagaimana menjelaskan jawabannya? Apakah kita jawab begitu saja lalu kita biarkan? Tidak. Ini penjelasannya.

  • Kondisi dasar psikis pengguna: ingin komputernya berfungsi semestinya. Yakni bisa mengetik, mendengar suara, memutar video, internetan, dan membaca teks. Kita batasi dahulu pada 5 hal ini.
  • Kaidah dasar 1: pengguna tidak pernah butuh OS, mereka hanya butuh aplikasi.
  • Kaidah dasar 2: pengguna menggunakan 1 OS dalam 1 komputer.
  • Kondisi lapangan: semua pengguna komputer Indonesia membeli komputer dengan prainstal Windows beserta aplikasi lengkap di dalamnya. Artinya, OS sudah diinstalkan oleh orang lain dan dia just work saja dengan OS yang ada (dia menyebutnya: komputer).
  • Kondisi pengguna Linux tahap 1: dia harus menginstal OS-nya sendiri. Masalah sudah timbul. Kenyataannya, pengguna sudah bingung kala melihat halaman unduh ISO Linux yang bejibun banyak berkas teknis. Ketika ingin menginstal, dia masih harus tanya bagaimana menggunakan ISO yang akan diunduh. Lalu masih harus bingung memilih media instalasi: CD/DVD/FDD/HDD. Lihat saja banyak orang tanya soal menginstal Linux dari flash disk drive (FDD). Dari sini sudah terlihat sekali alangkah banyak distraksinya. Ingat, sebagian besar pengguna tidak suka hal-hal teknis apalagi instalasi OS. Mereka jenis pengguna yang memiliki kekhawatiran besar. Mereka lebih senang menyerahkan masalah teknis pada ahlinya.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 2: dia harus menyelesaikan instalasinya. Ingat, bagian ini sungguh terpisah dari tahap 1. Karena semua pengguna pada awal menggunakan Linux selalu dual boot, atau menggunakan WUBI minimalnya, maka dia ada kemungkinan besar gagal dalam instalasinya. Gagal instal ini macam-macam. Yang paling parah seluruh data pada semua partisi hilang termasuk skripsi dan data RT/RW (sudah terjadi di hadapan saya dan orangnya langsung bersedih hati). Yang tidak seberapa paling-paling Windows dia tidak bisa booting, atau si Linux dia yang gagal booting. Pada kondisi gagal, dia pasti mencari bantuan. Kondisi bertambah buruk saat dia bertanya di internet dan dijawab oleh orang-orang yang tidak tahu cara menjawab. Dia merasa dipermainkan atau paling tidak merasa diejek. Tidak usah menyangkalnya, terjadi di hadapan saya juga. Lihat, distraksi semakin bertambah. Padahal belum menggunakan.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 3: setelah instalasi berhasil (bagaimana pun caranya), dia harus melakukan konfigurasi. Ini pasti terjadi (pengecualian untuk saya yang *beruntung* tidak pakai instal driver apa-apa). Kenyataannya, sangat banyak pengguna yang punya hardware mahal, eh setelah instal Linux hardware dia tidak dikenali. Harus internetan dulu. Internetan tidak segampang yang kita kira (baca: tidak segampang di Windows) karena modem AC682/CE682 yang dimilikinya jelas tidak bisa internetan di Linux tanpa konfigurasi. Dan konfigurasi tak mungkin diketahui tanpa internet. Masalah yang rekursif, bukan? Akhirnya dia tetap berusaha memecahkan masalah dengan warnet. Akhirnya dia bolak-balik ke warnet jika gagal. Anggap saja berhasil, belum tentu dia bisa dapatkan OS yang just work sendirian. Entah masalah kodek, masalah upgrade, masalah internetnya, masalah tampilan yang tiba-tiba hilang, masalah GRUB error, dan lain sebagainya. Perhatikan, tahap ini termasuk yang sangat berat karena distraksinya keterlaluan kalau misalnya dia gagal di modemnya dan tidak ada solusi eksternal. Distraksi semakin menjadi.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 4: setelah dia dapatkan destop yang just work, masih ada Terminal yang harus dia pakai setiap hari. Baca kondisi dasar psikis pengguna kembali di atas. Apalagi setelah dia coba sendiri mengunduh tarball dan dia kompilasi sendiri. Sangat membingungkan dan bikin waktu terbuang. Apa? Dependency hells! Ini distraksi besar. Ini membuat Linux tidak cocok digunakan orang yang bukan teknikal, orang yang tidak coba-coba.
  • Kondisi pengguna Linux tahap 5: setelah dia bisa menggunakan Linux, dan sudah merasa nyaman, dia bingung dengan jadwal upgrade yang kelewat canggih: 6 bulan sekali. Upgrade pun meragukan: berhasil dengan baik atau malah error? Distraksi masih bertambah.
  • Di luar 5 kondisi tersebut: pengguna masih didistraksikan oleh pilihan 300 lebih jumlah Linux yang ada. Masih ditambah distraksi oleh jumlah varian dalam 1 rilis distro. Misalnya ada Mint Debian Edition, Mint Cinnamon, Mint Mate, Mint KDE, Mint XFCE, itu semua dikalikan 2 dengan jenis arsitekturnya. Betapa banyak yang harus dihafal oleh pengguna untuk sekadar ingin OS saja. Jelas bahwa distraksinya terlalu banyak?

Oh iya, jika ada pengguna yang lolos dari keenam tahap distraksi ini, maka dia survive menjadi pengguna Linux. Namun itu tidak menjamin dia akan betah dengan Linux. Jangan sombong. Sang pencipta GNOME, sang hacker yang sesungguhnya (bukan yang abal-abal seperti di Indonesia), telah berhenti menggunakan Linux untuk beralih total ke Mac. Siapa dia? Ya, dialah Miguel de Icaza. Tidak tanggung-tanggung, ini orang pencipta GNOME. Destop yang Anda sekarang pakai itu. Destop yang oleh Ubuntu dimodifikasi menjadi Unity, oleh Mint jadi Cinnamon dan MATE, oleh Zorin menjadi Zorin DE. Pemahaman sistem dia tidak sebanding dengan newbie seperti kita, apalagi kemampuan pemrogramannya. Orang seperti dia saja tidak tahan dengan distraksinya Linux. Tidak bisa disalahkan, itu sudah hak dia mutlak. Dan itu malah menjadi pertanda besar sekali bahwa Linux masih belum sempurna. Linux (desktop) haus penyederhanaan dan fokus.

Mungkinkah Lepas…

…dari distraksi? Tidak bisa. Distraksi tidak dapat dibuang 100%. Distraksi hanya bisa dikurangi. Windows pun memiliki banyak distraksi. Namun Linux memilikinya lebih banyak, setidaknya hingga hari ini. Sampai kapan pun Linux tidak mungkin menjadi mainstream jika distraksinya tidak dipangkas hingga menjadi lebih kecil dibanding lawannya. Terlihat, bukan? Dengan wawasan tentang distraksi, ekspresi yang sulit macam ini akan mudah dilakukan.

Windows vs Linux

Bagaimana menjawab setiap header Windows vs Linux di dunia maya? Dan setiap pertanyaan pemula yang sama? Bagaimana agar objektif? Tawaran saya sederhana sekali. Bandingkan saja distraksinya. Mana yang lebih banyak, maka itu yang kalah. Yang sedikit distraksinya, maka itu yang menang. Itulah OS yang bakal dipilih oleh pengguna.

Haruskah Distraksi Dikurangi dari Linux? Bisakah?

Ya. Jawabannya tegas: ya. Jika kita ingin di masa depan teman dan adik kita semua menikmati Linux juga. Dan itu bisa dilakukan selama para developer sadar Linux ada kekurangan. Maka tulisan semacam ini atau yang lebih baik harus ada dan dibiarkan berkembang. Tidaklah mungkin  ayah dan ibu kita menggunakan Linux jika distraksinya masih juga seperti sekarang. Linux harus disederhanakan dan dibuang distraksi-distraksinya jauh-jauh.

Apa contohnya? Android. Tidakkah Anda yang mempromosikan Linux ke mana-mana cemburu dengan kesuksesan Android? Tidakkah Anda berusaha mencari sebab kesuksesannya? Di antaranya adalah Android mengurangi distraksi Linux dengan sangat ekstrem. Satu bukti nyatanya adalah APK. Nikmat sekali bukan, instalasi aplikasi hanya dari satu buah berkas saja? Seperti EXE? Lantas mengapa ini tidak juga ditiru oleh pemilik Linux desktop? Mengapa-oh-mengapa, ini hanyalah satu contoh. Yang lainnya bisa Anda pikirkan sendiri. Yang jelas, di dunia Linux sekalipun, distraksi adalah musuh. Camkan, distraksi adalah musuh!

DUA :: Distraksi di Kehidupan Sehari-Hari

Seringkah Anda merasa bahwa kerjaan Anda tidak kunjung selesai? Penyebab paling besarnya adalah distraksi. Entah sumber distraksinya adalah teman Anda yang mengajak bercanda, entah anak Anda lucu, entah apa lagi. Banyak sekali distraksi dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita lalai dari tujuan. Karena kehidupan sehari-hari itu luas, maka saya batasi hanya pada 3 hal ini:

  • Orang yang sederhana
  • Orang yang fokus
  • Orang yang to the point

karena sebenarnya inti pada poin distraksi kedua ini adalah kekaguman. Seperti pendapat saya dulu: Anda baru bisa memahami kehebatan orang ketika Anda sudah sehebat dia atau minimal Anda tahu pasti letak kehebatannya.

Mengenai Orang yang Sederhana

Baik dalam harta, dalam kuasa, dan dalam bicara. Sungguh luar biasa orang yang sederhana itu. Orang yang sederhana betul-betul biasanya paham bahwa harta, kuasa, dan banyak bicara adalah distraksi. Orang yang sederhana itu tidaklah banyak bicara. Namun yang dia lakukan luar biasa. Orang yang sederhana itu tidak mempermasalahkan dirinya jikalau dia tidak berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak memasukkan harta ke dalam hatinya kala dia berlimpah harta. Orang yang sederhana itu tidak neka-neka kelakuannya. Cukup berjalan pada garisnya. Orang yang sederhana itu sungguh orang yang berilmu. Saya ingat kutipan dari Willibrordus Surendra bahwa kekuatan sebuah puisi terletak pada kesederhanaannya. Wow, simplicity is everywhere! Bahkan orang dan sastra pun akan baik jika sederhana. To be simple is difficult.

Mengenai Orang yang Fokus

Susah menjadi orang yang fokus. Apalagi bagi seorang otodidak. Distraksi di mana-mana. Ingin belajar ini, ingin belajar itu, besok ada bahasa pemrograman baru pengen, ada software baru pengen, dan lain-lain. Sayangnya realitas berkata bahwa orang yang bersinar selalu orang yang fokus. Orang yang menjadi ahli dalam satu bidang dan pikiran dia tidak bercabang. Sulit untuk menjadi orang seperti itu. Akan tetapi mau tidak mau kita akan menuju ke sana. Tidaklah mungkin menjadi seorang generalis, karena Anda hanya bisa ada di satu tempat dalam satu waktu. Sedangkan orang yang fokus telah mengalahkan distraksinya. Luar biasa orang-orang yang fokus.

Mengenai Orang yang To The Point

Barangkali kita tak suka orang yang demikian. Akan tetapi, renungkan kembali. Seringkali justru karenanya motivasi kita bangkit. Karena orang macam ini berusaha menghilangkan distraksi dari orang lain. Sebenarnya orang yang to the point adalah model dari orang sederhana. Cuma, di sini saya eksklusifkan. Tidak hanya pada orang lain. Orang yang to the point bisa langsung mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Namanya juga to the point. Dan orang macam ini sedikit jumlahnya. Kebanyakan orang terkalahkan oleh distraksi. Entah karena dia ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin main-main. Luar biasa sulit. Sungguh luar biasa orang yang to the point.

Kesimpulan

Sederhana saja. Esai ini hanya nasihat.

  1. Distraksi adalah musuh.
  2. Jadilah orang yang memusuhi distraksi.
  3. Jadilah orang yang memusuhi distraksi bagi orang lain.
  4. Mari membuang distraksi-distraksi di Linux (desktop).

Semoga bermanfaat.

Menyoal Kebebasan

Bismillahirrahmanirrahim.

Semenjak awal Otodidak dibuat hingga selesainya Behind The Scene, saya terus berada dalam ruang vakum. Saya berhenti menulis. Sekarang perasaan ingin menulis itu terus menggedor. Lalu jadilah esai ringkas ini. Esai ini dimulai dari pertemuan saya dengan sekian peristiwa di komunitas yang menyandarkan dirinya dengan sesuatu bernama kebebasan. Kebebasan dalam software. Dan mereka –sepertinya– bangga dengan kebebasan itu. Saya ingin menulis tentang itu. Berdasarkan apa yang saya miliki sekarang.

  1. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas membeli hardware? Jika hardware yang dibeli ternyata oh ternyata tidak kompatibel dengan OS yang disandarkan pada kebebasan?
  2. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas mengubah tampilan OS-nya menjadi mirip OS lain, yang secara user experience dia butuhkan? Jika setiap ada pengguna ingin tampilan seperti OS lain, dia diejek?
  3. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak bebas menjalankan aplikasi OS lain di atas compatibility layer? Jika setiap ada pengguna mau melakukan itu, dia diejek juga? Padahal compatibility layer-nya sendiri juga software bebas yang diakui oleh orang-orang itu sebagai bagian dari kebebasan?
  4. Apalah artinya kebebasan jika pengguna tidak mendapatkan kemudahan seperti yang dia peroleh di OS lainnya? Jika melakukan instalasi aplikasi saja harus tersambung internet, yang notabene bukan barang bebas di Indonesia? Jika pada akhirnya berbagi installer aplikasi menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan?

Itulah empat hal yang saya temukan berulang-ulang secara rekursif di mana-mana. Saya punya akun di hampir semua komunitas kebebasan itu.

Lalu di mana kebebasan itu?

Perlu waktu bagi kita untuk menjawabnya bersama, karena permasalah ini rumit. Permasalahan ini sama dengan pola dependensi paket-paket saat prajurit seperti apt/zypper/pacman beraksi. Inilah realitas yang kita hadapi di Indonesia ini. Inilah poin-poin yang kita lemah di dalamnya. Inilah security holes yang mesti kita tambal. Mulai dari diri kita, dari hal-hal kecil ini, hari ini juga.

Menyoal Kebebasan 1

Saya dapatkan ini dari peristiwa modem dan VGA. Menginstal OS kebebasan tetapi dia tidak bebas memperoleh fitur dari hardware yang dia miliki. OS itu untuk hardware, agar manfaatnya dapat diambil oleh pemiliknya. Namun justru dengan OS kebebasan ini, si pemilik tidak merasakan manfaat dari modem atau VGA yang dia punya.

Modem: tidak bisa cek pulsa, tidak bisa sms, tidak bisa telepon, mau konek saja butuh internet lainnya, mau konek saja harus setting secara manual ala teknisi UNIX, mau konek saja tidak sederhana (sederhana=sedikit gerak untuk mencapai 1 tujuan). Padahal manfaat dari modem adalah yang paling penting bagi pengguna, yakni internet. Ini bukan kebebasan.

VGA: glitch, watermark, clipping, font rendering jelek, performa kurang, layar error,  padahal VGA-nya mahal lagi canggih. VGA semahal itu jadi tidak berguna dan seakan menjadi mesin rongsokan saja. Lalu di mana kebebasannya? Apalagi jika yang namanya penggerak proprietary dianggap sesuatu yang kontra-kebebasan, padahal pengguna tidak butuh istilah itu. Pengguna hanya butuh VGA dia berjalan dengan semestinya dan bisa di-tweak dengan bebas.

Apa hanya dua benda ini? Tidak. Pikirkan lagi perangkat wifi Broadcom dan teman-temannya. Berapa banyak pengguna yang bertanya soal wifi-nya, padahal OS kebebasan itu selalu butuh internet? Bagaimana dia bisa instal aplikasi pendukung jika internetnya saja tidak jalan di laptop dia? Dan mengunduh satu paket berarti juga harus tahu+mengunduh paket lain yang menjadi dependensinya? Inikah kebebasan? Bukan. Dan karena ada pesan dari salah seorang pengguna komputer yang berkata seperti ini: “ngapain pakai OS kebebasan kalau ujung-ujungnya beli VGA mahal-mahal nggak fungsi?“, saya terinspirasi untuk menyusun esai ini. Ini belum masuk ke hardware lainnya.

Di manakah kebebasan? Kebebasan yang kita umbar sana-sini, kita gembar-gemborkan, dan bahkan tanpa sadar sebagian kita memujinya hampir tanpa henti. Sudah pantaskah sikap kita itu?

Menyoal Kebebasan 2

  1. Apa kesalahan seorang pengguna jika dia ingin OS kebebasan yang dia miliki tampilannya diubah menjadi seperti OS lain? Tidak ada.
  2. Lalu mengapa masih ada ejekan terhadap permintaan/pertanyaan yang demikian di forum-forum? Karena sikap kita yang tidak tepat, atau saya katakan: kita bersikap tanpa mengetahui permasalahan. Salah satu bentuknya, ya, fanatisme.
  3. Lebih jauh, apa salahnya seorang pengguna yang memanfaatkan fasilitas Feature Request dalam wiki, meminta agar user experience design milik OS yang punya wiki dibuat sedemikian mirip dengan OS lain? Tidak ada.
  4. Lalu mengapa sampai ada ejekan terhadap pengguna tersebut? Bukankah dia sudah memberikan kepedulian terhadap OS yang punya wiki? Jawabannya mirip-mirip saja.

Jika ini terjadi pada orang-orang yang baru tahu OS kebebasan tersebut, dan baru memilikinya di laptop mereka, maka ini bukan kebebasan. Si pengejek mengingkari slogan kebebasan yang dia anut sendiri. Dia menjadikannya kosong dan sirna seperti buih di lautan. Lalu di manakah kebebasan?

Menyoal Kebebasan 3

  1. Apakah salah pengguna yang ingin menjalankan aplikasi OS lain semacam Microsoft Office di atas compatibility layer? Tidak.
  2. Apakah compatibility layer-nya adalah software bajakan? Tidak juga.
  3. Apakah compatibility layer-nya bukan software bebas? Tidak sama sekali. Dia software bebas. Dia bagian dari kebebasan.
  4. Lalu mengapa masih ada ejekan terhadap setiap pengguna baru yang membutuhkan compatibility layer tersebut? Lalu bertanya masalah software lain yang diinstal ke dalamnya? Jawabannya sama: sikap kita tidak tepat atau kita bersikap tanpa mengetahui permasalahan.

Itukah yang dinamakan kebebasan? Tidak.

Menyoal Kebebasan 4

  1. Apakah pengguna harus selalu terhubung ke internet setiap ingin menginstal aplikasi? Tidak.
  2. Kenyataannya? Sebaliknya.
  3. Efek buruknya? Boros bandwidth dengan amat sangat. Di sisi pengguna, ini dinamakan repot. Tidak ada mekanisme backup per aplikasi yang bisa disebarkan ke OS di mesin yang lain, sebagaimana sistem EXE di OS yang katanya tidak ada kebebasannya sama sekali.

Inikah kebebasan? Tidak.

Seharusnya Kebebasan 1-2-3-4

  1. Seharusnya pengguna bebas dari kekhawatiran akan tidak kompatibelnya hardware yang dia miliki.
  2. Seharusnya pengguna bebas untuk mengubah tampilan OS dia sebagaimana dia butuhkan, dan bebas mendapatkan jawaban bagaimana cara melakukannya.
  3. Seharusnya pengguna bebas memakai compatibility layer (tentu selama software targetnya legal) dan bebas mendapatkan jawaban bagaimana cara melakukannya.
  4. Seharusnya pengguna bebas memperoleh kemudahan dan kesederhanaan penggunaan suatu OS serta memperoleh kemudahan dan kesederhanaan juga dalam membagikan aplikasi yang sudah dia unduh.

Itulah kebebasan yang saya ingin sampaikan dalam esai ini. Kebebasan yang saya ingin dijaminkan kepada setiap pengguna yang ada, lebih dari atau minimal setara dengan kebebasan ala kita biasanya yang sering kita pertunjukkan pada dunia. Mengapa? Karena inti dari segala revolusi OS, segala macam promosi OS, segala macam marketing aplikasi apa pun, adalah pengguna. Pengguna adalah raja dan segala-galanya bagi marketing ini. Dan karena saya hidup di Indonesia. Saya mendukung pengguna awam dan pemula di Indonesia!

Mengapa-oh-mengapa?

Dua hal. Pertama, saya bayangkan nanti akan ada pertanyaan semacam “Mengapa Anda menulis ini?” maka saya siapkan jawabannya:

  1. Saya sedang ingin menulis.
  2. Saya tidak suka dengan keadaan yang saya temukan. Saya hendak mengubahnya.
  3. Saya ingin OS kebebasan mendapatkan tempat yang selayaknya di tangan-tangan pengguna komputer di seluruh Indonesia, agar mereka semua menikmati kebahagiaan dan manfaat besar yang sama seperti saya sekarang yang juga menggunakannya.

Kedua, saya bayangkan ada pertanyaan “Mengapa tidak dimulai dengan 0?” maka jawabannya:

  1. Saya orang Indonesia.
  2. Saya berpola pikir orang Indonesia.

Realitas?

OS kebebasan kita masih jauh dari empat poin kebebasan ini. Tentulah kebebasan versi saya yang subjektif, yang kecil lagi ringkih pemahamannya. Akan tetapi silakan direnungkan. Mau lari ke mana lagi kalau tidak kepada (minimal) keempat hal ini? Realitas yang ada sungguh masih jauh dari harapan.

Sikap kita? Seringkali kita terlalu cepat senang dan puas dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Kita mungkin merasa teknologi kitalah yang paling hebat. Bahkan merasa bahwa sistem kebebasan ini adalah yang terbaik. Pikirkan kembali, ATM yang ada di sekitar kita menggunakan OS tidak bebas. Sekian banyak BUMN kalau membuka lowongan kerja, akan tampak membutuhkan ahli pada software yang tidak bebas. Pikirkan lagi, rekaman kajian yang ada di http://ilmoe.com itu disediakan dalam mp3, format yang kita kata tidak bebas, akan tetapi telah bermanfaat sangat besarnya kepada sekian banyak kaum muslimin di Indonesia. Pikirkan kembali. Kita tidaklah sempurna.

Realitas yang paling nyata adalah perjuangan masih panjang. Terlalu cepat untuk bersantai. Terlalu murah untuk menyerah. Dan realitas senantiasa kontra-permainan. Realitas selalu mendepak kita dari main-main.

Solusi?

Mungkin bagian yang paling Anda sukai adalah ini. Bagian ini ada agar jangan sampai dikira OS kebebasan tidak memiliki kemanfaatan. Ada kemanfaatannya, bahkan bisa menjadi yang terbesar. Dan saya adalah salah satu anak muda yang dididik dengan paradigma: selalu ada solusi. Siapa yang mendidik? Ya, komunitas kebebasan itu. Ini saya tunjukkan beberapa solusi yang saya temukan dan saya bahagia kala menemukannya.

  • Open Source Driver yang sangat mengagumkan -> bagaimana tidak? Kala sebuah hardware dibuat dengan diskriminasi terhadap OS kebebasan (drivernya tidak dibuat), maka sebagian orang membuatkan drivernya untuk OS kebebasan ini. Ini membuat baterai, beberapa sound card, beberapa VGA dan periferal lain berfungsi di OS kebebasan padahal aslinya mustahil. Ini sangat mengagumkan. Siapa saja yang kagum dengan anak tanpa tangan lalu bisa menulis akan kagum juga, sama seperti saya.
  • Kernel Linux yang luar biasa fleksibel dan boleh dikata ajaib -> bagaimana tidak ajaib kala saya tidak menginstal driver apa pun di mesin komputer ASUS X44C saya ini namun segalanya bekerja dengan lancar? Dan bagaimana tidak ajaib kala modem Huawei EC1261-2 saya langsung dikenali dan konek internet tanpa instal driver dan software apa pun? Bahkan di Windows pun tidak sampai sepraktis itu.
  • Tampilan yang banyak pilihannya -> Compiz, KWin, Mutter, Emerald, Awesome, Openbox, DWM, dan lain-lain dari sisi pengolah tampilan jendela. KDE, GNOME, XFCE, LXDE, Enlightenment, RazorQt, Manokwari, Pantheon, dari sisi pengatur keseluruhan tampilan OS. Sekian ribu tema yang tersedia di macam-macam web siap diunduh gratis untuk mengubah tampilan. Belum termasuk pernak-pernik macam Conky yang betul-betul indah, Dock seperti Cairo Dock dan AWN, *let/Widget yang jadi default di DE besar macam KDE dan Cinnamon, serta banyak lagi hal yang menjadi permen-mata bagi tampilan OS. Dan sungguh telah tersedia peralatan beserta manualnya, untuk mengubah total tampilan OS kebebasan kita ini menjadi OS lain. Sesuai dengan user experience betulan.
  • Compatibility layer terbaik di dunia yang bernama Wine, menjadikan OS kebebasan kita mendekati sempurna kala si OS sanggup menjalankan aplikasinya sendiri tetapi juga sanggup menjalankan aplikasi yang bukan miliknya, secara baik. Ini semestinya mustahil, akan tetapi sungguh inilah satu daya tarik terbesar OS kebebasan kita. Bagaimana tidak ajaib?
  • Adanya solusi luar biasa bernama Mintbackup dari Linux Mint yang mampu melakukan backup aplikasi yang sudah diunduh/diinstal, dengan kebebasan di sisi pengguna untuk memilih mana yang mau di-backup. Bagian yang saya tebalkan dan garis bawahi adalah yang terpenting. Lalu bisa di-restore kapan saja pengguna butuh. Bahkan Windows pun (sepengetahuan saya) tidak bisa seperti itu. Sayangnya banyak distribusi di luar Mint seakan kurang peduli terhadap solusi brilian ini sehingga software ini hanya tersedia untuk Mint. Yang lain? Meski tidak sempurna 100%, tidak sepraktis EXE/MSI/DMG, tetapi ada Keryx, apt-web, apt-id, apt-offline, alldeb-maker, alldeb-user, PortableLinuxApps.orgSynaptic script, offline repository in DVD, Zeroinstall, dan lain-lain.

Dan masih sisa sekian banyak solusi bermanfaat yang sudah dirasa manfaatnya oleh banyak pengguna. Akhirnya tidak hanya paradigma selalu ada solusi, melainkan juga solusi itu banyak. Meski begitu, masih teramat luas ladang solusi yang bisa kita garap. Masih sangat lebar kesempatan kita untuk berkarya. Masih sangat besar kesempatan kita untuk membantu orang lain dengan pengetahuan komputer yang kita miliki. Janganlah kita meremehkan hal ini.

Ide dari Mana?

Ya, dari manakah ide untuk menulis esai ini? Sederhana saja. Saya membaca laman ini: http://www.wikivs.com/wiki/Apple_Innovation_vs_Microsoft_Innovation dan paragraf awalnya sangat berkesan buat saya. Ternyata Microsoft sudah menyadari kesusahan-kesusahan seperti yang kita alami jauh hari sebelum kita menikmati GUI yang seperti OS kebebasan kita sekarang. Mereka melobi perusahaan-perusahaan hardware agar dibuatkan driver untuk OS mereka (baca: mereka membela kompatibilitas/kebebasan 1). Hasilnya jelaslah kini OS mereka dipakai oleh semua pengguna komputer destop, dan semua vendor hardware kini tidak usah diminta oleh Microsoft lagi melainkan merekalah yang berinisiatif membuat driver untuk Microsoft. Inilah hal krusial yang tak terpikirkan oleh saya, dan saya yakin banyak teman juga belum tahu mengenai hal ini. Padahal inilah yang terpenting. Di OS kebebasan kita, siapa yang bakal melakukan lobi ini? Ini butuh dana besar. Atau butuh keajaiban. Dari sinilah idenya.

Kesimpulan

  1. Berhenti mengejek pengguna baru, apalagi yang awam.
  2. Software hanya wasilah, bukan tujuan.
  3. Mulailah mengadakan solusi-solusi untuk masalah yang muncul, minimal bagi diri sendiri.
  4. Bersikap atau bertindak dengan didahului berpikir dan pertimbangan matang adalah yang terbaik.

Penutup

Ya, software hanya wasilah. Dia bukan tujuan. Maka dari itu gunakan software sesuai keperluan. Tidak perlu bersikap berlebihan. Selama legal, pakai saja. Buat apa membebani diri lalu membebani orang lain? Sampai sini saya puas sekali. Akhirnya saya menulis esai setelah lama. Terima kasih dari saya untuk asatidzah ahlus sunnah di Indonesia yang memberikan saya ilmu dan inspirasi yang sangat kuat untuk menulis esai ini. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Googling Pun Butuh Kemampuan

Bismillahirrahmanirrahim.

Kadang kita lupa bahwa butuh ilmu untuk mencari di Google. Dan dengan kelupaan ini kita menyusahkan pengguna baru. Jangan sampai hal ini terjadi kembali. Caranya adalah dengan memahamkan bagaimana cara mencari dengan Google (googling) dengan baik kepada para pemula. Ingat, googling itu tidak segampang yang kita kira dan kebanyakan pengguna pemula tidak mengerti bagaimana cara googling yang baik bahkan tidak tahu kata kuncinya. Tulisan ini didedikasikan untuk setiap pengguna komputer baik menggunakan Linux, Windows, maupun Mac OS X.

Dasar-dasar Google

1) belajar linux dasar filetype:pdf = mengeluarkan segala hasil belajar linux dasar, tetapi hanya PDF yang ditampilkan (paling sering saya pakai)belajargoogling
2) belajar gimp OR belajar photoshop = mengeluarkan segala hasil yang salah satunya berisi belajar gimp atau berisi belajar photoshop

belajargoogling1
3) belajar ubuntu AND opensuse = mengeluarkan segala hasil yang dalam 1 hasil ada 2 kata ubuntu dan opensuse BERSAMAAN,

belajargoogling2
4) “instal modem smartfren ce682 ubuntu” = mengeluarkan segala hasil yang TEPAT SAMA PERSIS dengan yang ada dalam kutipanbelajargoogling3
5) allintitle:panduan resmi ubuntu = mengeluarkan segala hasil yang dalam judulnya, ada kata setelah :
belajargoogling4
6) allinurl:panduan resmi ubuntu = mengeluarkan segala hasil yang DALAM URL-nya ada kata setelah :belajargoogling5

Lebih Jauh Menggunakan Google

1) Jika menemukan error di Terminal Linux

belajargoogling6

maka cukup kopi paste pesan error-nya ke Google, keluar jawabannya. Ingat, kopi tepat pada pesan error-nya. Sama halnya jika Anda temukan error di Terminal milik Mac OS X atau di Command Prompt/Powershell Windows.

2) Jika ingin melakukan sesuatu di Linux tetapi tidak tahu kata caranya, misalnya ingin memutar mp3 di Ubuntu untuk http://ilmoe.com, maka cukup gunakan kata kunci umumnya: mp3 ubuntu

belajargoogling7

memang kalau ingin belajar komputer, khususnya Linux, kita harus sedikit-sedikit tahu Bahasa Inggris. Pakai kamus saja. Hal ini juga berlaku untuk Mac OS X dan Windows.

3) Jika ingin melakukan hal yang sifatnya intermediate di Linux, maka gunakan kata kunci yang intermediate pula. Semisal ingin melakukan binding ulang tombol keyboard, maka gunakan sedikit logika bahasa untuk membahasainggriskan secara teknis: keyboard button remapping linux. 

belajargoogling8

Tidak menutup kemungkinan saya akan menambah isi posting ini. Maaf jika ada kesalahan. Dan semoga bermanfaat.

Otodidak Behind The Scene #1 – Panduan Lengkap Membuat Aplikasi GUI dengan Netbeans Khusus untuk Pemula dan Orang Awam

otodidak-behind-the-scene-cover-1

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, saya telah menyelesaikan Otodidak Behind The Scene #1. Sementara ada gangguan koneksi, saya hanya bisa mengunggah versi PDF. Insya Allah setelahnya saya akan tulis lengkap postingnya di sini di samping juga tautan unduh PDF. Ukuran PDF ini 3 MB.

Unduh PDF Otodidak Behind The Scene #1.